Kemarahan Andini, Bab5 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Sebuah sepeda motor merah berhenti di depan rumah kontrakan Radit. Pengendara motor seorang wanita berjaket merah gelap dan memakai rok pendek setengah paha. Jelas sekali paha yang menggoda iman.

Wanita muda itu hanya menaikkan kaca helmnya ke atas, sehingga wajahnya yang sangat cantik terlihat jelas.

Gadis itu memandang suasana rumah yang sepi dan tertutup rapi. Gadis itu sudah pernah datang ke rumah Radit. Dia tidak lain adalah Lidya, karyawan dari PT. Kucur Kilat, tempat Radit berutang online.

“Yah, aku telat,” ucap Lidya mengeluh.

Jika dia sudah tidak melihat sendal dan sepeda motor di depan rumah, itu artinya Radit dan istrinya sudah berangkat kerja.

“Cari Radit ya, Mbak?” tanya seorang wanita separuh baya dari rumah tetangga di sebelah kanan. Biasanya tetangga sebelah kanan itu baik dan peduli. Katanya.

“Iya, Bu,” jawab Lidya.

“Sudah pada berangkat. Radit berangkat lebih cepat karena mengantar istrinya pulang ke rumah emaknya,” kata wanita yang memegang gayung warna pink, sepertinya dia baru menyiram kembang di dalam halaman rumahnya.

Dia bernama Warsina yang sempat menjadi saksi pertemuan pertama Lidya dengan Radit sekitar sebulan yang lalu.

“Teman kerjanya Radit ya?” terka Warsina, terkesan sok tahu.

“Bukan, Bu. Aku dari perusahaan pinjaman online....”

Agak terbeliak Warsina mendengar pengakuan Lidya.

“Aku mau mengingatkan Pak Radit bahwa tagihannya bulan ini akan jatuh tempo. Kasihan kalau sampai nunggak lagi, bungannya bisa numpuk,” lanjut Lidya seraya tersenyum.

Warsina yang sempat terkejut, hanya bisa tersenyum getir.

“Enggak ditelepon saja si Radit?” saran Warsina.

“Enggak, tugas aku mengingatkan dengan ketemu muka. Kalau telepon ke pengutang, ada karyawan lain yang punya tugas,” kata Lidya.

“Mendingan datang saja ke istrinya, Mbak. Saya punya nomor hp-nya. Nanti Mbak tinggal hubungi saja kalau mau ketemu muka,” saran Warsina.

“Oh iya, boleh deh, Bu. Biar tugas aku juga selesai,” kata Lidya.

“Sebentar ya.”

Maka dapatlah Lidya nomor hp Andini. Setelah mendapat nomor, Lidya langsung menelepon.

Ternyata, ketika Lidya menelepon, Radit baru saja tiba di depan rumah orangtua Andini.

“Hallo? Assalamu ‘alaikum!” sapa Andini di saat sepeda motor sudah berhenti di halaman rumah. Dia memilih tidak langsung turun, membuat Radit diam sambil menyimak obrolan istrinya di belakangnya.

“Hah! Pinjol?” sebut Andini terkejut dengan kening mengerut tebal.

Terhentak jantung Radit mendengar ucapan Andini. Apalagi, ibu mertua yang muncul di saat yang tidak tepat, jadi berhenti dan memandang serius kepada menantunya. Dia sempat mendengar ucapan putrinya.

“Siapa yang pinjam online, Mbak? Mbak pasti salah sambung!” kata Andini dengan nada agak meninggi.

Pada saat dia mendengar jawaban dari seberang, kian terkejut wajah Andini. Secara sepihak dia memutus sambungan telepon itu.  Wajah cantiknya menunjukkan kemarahan.

“Mas!” panggil Andini menyentak sambil menepak agak kencang bahu Radit yang sudah berdebar-debar. “Mas Radit punya utang pinjol?”

Belum lagi Radit menyahut, Andini sudah lebih dulu bertanya menyudutkan. Nada pertanyaan Andini terdengar marah.

Wajah Rukmah, ibu Andini, juga menunjukkan ketidakramahan dalam memandang menantunya.

“Hanya sedikit, Din. Itu juga untuk menutupi biaya pernikahan kita yang kurang,” jawab Radit lembut sambil menengok kepada istrinya yang masih duduk di jok sepeda motor.

“Enggak pandang itu banyak atau sedikit, Mas. Pinjol itu bahaya, tahu,” tandas Andini. “Apalagi Mas Radit pinjam untuk biaya pernikahan kita, aku enggak mau. Dan yang lebih membuat aku tidak suka, Mas Radit tidak pernah cerita ke aku kalau Mas itu minjol.”

Dengan kesal dan marah, Andini turun dari sepeda motor.

“Kamu apa-apaan sih, Radit? Semua orang sudah tahu kalau pinjol itu rentenir berbahaya. Itu uang haram, Dit. Ada ribanya!” kata Rukmah ikut mengomeli dan menyalahkan Radit.

Sakit hati dan perasaan Radit dimarahi oleh mertuanya. Dia paling tidak suka dipermalukan di depan umum.

Kemarahan ibu dan anak itu memancing orang-orang di rumah dan tetangga jadi datang meninjau untuk mencari tahu suara-suara yang terdengar marah-marah.

“Ada apa sih, Bu?” tanya lelaki yang baru datang dari dalam rumah. Lelaki usia enam puluh tahun itu bernama Sukri, ayah dari Andini.

“Ini, Radit, jadi korban pinjol. Memancing bahaya saja. Malu kita kalau sampai orang-orang tahu suami Andini ngutang di pinjol,” jawab Rukmah dengan nada sewot. Padahal suaranya yang keras membuat warga sudah tahu.

“Aku itu hanya utang sedikit. Masih bisa aku bayar,” kata Radit membela diri, nada suara dan mimik wajahnya menunjukkan dia tidak suka disudutkan dan dimarahi di depan umum. Dia merasa dipermalukan oleh istri dan mertuanya.

“Mas Radit, aku itu sudah sering ingatkan sebelum kita nikah, jangan sampai kita bersentuhan sama pinjol. Kenapa Mas masih lakukan? Pokoknya, aku enggak mau bersinggungan yang namanya pinjaman online itu. Selama Mas Radit masih punya utang itu, aku enggak mau ketemu Mas. Aku enggak mau anakku kena efek dosanya!” tegas Andini yang terlihat serius marahnya.

Dengan membawa kemarahannya, Andini berbalik pergi meninggalkan suaminya dan masuk ke dalam rumah.

“Eh, Andini! Jangan begitu!” teriak Radit sambil buru-buru turun dari motornya dan mengejar Andini.

“Eeeh!” pekik Rukmah sambil menghadang langkah menantunya.

Radit terpaksa berhenti.

“Bu, enggak perlu sampai seperti itu dong. Aku ngutang demi pernikahan kami, aku juga bisa lunasi utangku tanpa minta dibantu sama Andini atau Ibu,” debat Radit.

“Nak Radit, tahan emosi,” kata Sukri sambil memegangi bahu menantunya dan menuntunnya agak menjauh dari Rukmah.

“Iya, Pak. Tapi reaksi Andini dan Ibu terlalu berlebihan ke aku,” kata Radit sambil menahan kemarahannya.

“Yang perlu Nak Radit tahu, kami sekeluarga trauma dengan pinjol,” ungkap Sukri.

Itu membuat Radit agak mereda, tapi kerutkan kening.

“Maksud Bapak?” tanya Radit.

“Adik ipar saya, pernah terjerat pinjol. Karena tidak bisa bayar dan diteror, dan dipermalukan oleh pihak pinjolnya, akhirnya bibinya Andini bunuh diri,” jelas Sukri.

“Hah!” Radit benar-benar terkejut.

“Tidak usah cerita, Pak!” sergah Rukmah kepada suaminya. Lalu katanya kepada Radit, “Nak Radit pokoknya selesaikan urusan dengan pinjol itu sampai selesai. Setelah itu, baru Nak Radit boleh bertemu lagi dengan Andini.”

Radit termenung sejenak, dia sedang berpikir dan tidak habis pikir.

“Baik, Bu, Pak. Aku akan selesaikan utang aku ke pinjol itu,” kata Radit akhirnya memutuskan. Dia harus ambil keputusan cepat tapi bersifat sementara, pasalnya, dia harus segera ke pabrik. Dia tidak mau datang terlambat lalu jadi masalah.

Kunci gudang dia yang bawa. Kalau dia telat, semua anak buahnya ikut telat bekerja.

“Aku permisi dulu, Bu, Pak!” pamit Radit lalu meminta tangan kedua mertuanya untuk dia cium. Meski marah, tapi dia harus tetap menunjukkan rasa hormat kepada kedua mertuanya.

Setelah itu, Radit memandang ke arah dalam ruang depan rumah. Dia melihat Andini tidak memandangnya. Wanita cantik itu terlihat duduk dan sedang menangis tanpa suara.

Akhirnya Radit pergi meninggalkan rumah mertuanya dengan pikiran yang kalut dan perasaan emosional. (RH)


Catatan: Novel di kategori Lambat adalah novel baru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar: