*Miliarder Ular Biru*
Sebuah sepeda motor merah berhenti di depan rumah kontrakan Radit. Pengendara motor seorang wanita berjaket merah gelap dan memakai rok pendek setengah paha. Jelas sekali paha yang menggoda iman.
Wanita muda itu hanya
menaikkan kaca helmnya ke atas, sehingga wajahnya yang sangat cantik terlihat
jelas.
Gadis itu memandang
suasana rumah yang sepi dan tertutup rapi. Gadis itu sudah pernah datang ke
rumah Radit. Dia tidak lain adalah Lidya, karyawan dari PT. Kucur Kilat, tempat
Radit berutang online.
“Yah, aku telat,”
ucap Lidya mengeluh.
Jika dia sudah tidak
melihat sendal dan sepeda motor di depan rumah, itu artinya Radit dan istrinya
sudah berangkat kerja.
“Cari Radit ya,
Mbak?” tanya seorang wanita separuh baya dari rumah tetangga di sebelah kanan. Biasanya
tetangga sebelah kanan itu baik dan peduli. Katanya.
“Iya, Bu,” jawab
Lidya.
“Sudah pada
berangkat. Radit berangkat lebih cepat karena mengantar istrinya pulang ke
rumah emaknya,” kata wanita yang memegang gayung warna pink, sepertinya dia
baru menyiram kembang di dalam halaman rumahnya.
Dia bernama Warsina
yang sempat menjadi saksi pertemuan pertama Lidya dengan Radit sekitar sebulan
yang lalu.
“Teman kerjanya Radit
ya?” terka Warsina, terkesan sok tahu.
“Bukan, Bu. Aku dari
perusahaan pinjaman online....”
Agak terbeliak
Warsina mendengar pengakuan Lidya.
“Aku mau mengingatkan
Pak Radit bahwa tagihannya bulan ini akan jatuh tempo. Kasihan kalau sampai
nunggak lagi, bungannya bisa numpuk,” lanjut Lidya seraya tersenyum.
Warsina yang sempat
terkejut, hanya bisa tersenyum getir.
“Enggak ditelepon
saja si Radit?” saran Warsina.
“Enggak, tugas aku
mengingatkan dengan ketemu muka. Kalau telepon ke pengutang, ada karyawan lain
yang punya tugas,” kata Lidya.
“Mendingan datang
saja ke istrinya, Mbak. Saya punya nomor hp-nya. Nanti Mbak tinggal hubungi
saja kalau mau ketemu muka,” saran Warsina.
“Oh iya, boleh deh,
Bu. Biar tugas aku juga selesai,” kata Lidya.
“Sebentar ya.”
Maka dapatlah Lidya
nomor hp Andini. Setelah mendapat nomor, Lidya langsung menelepon.
Ternyata, ketika
Lidya menelepon, Radit baru saja tiba di depan rumah orangtua Andini.
“Hallo? Assalamu
‘alaikum!” sapa Andini di saat sepeda motor sudah berhenti di halaman
rumah. Dia memilih tidak langsung turun, membuat Radit diam sambil menyimak
obrolan istrinya di belakangnya.
“Hah! Pinjol?” sebut
Andini terkejut dengan kening mengerut tebal.
Terhentak jantung
Radit mendengar ucapan Andini. Apalagi, ibu mertua yang muncul di saat yang
tidak tepat, jadi berhenti dan memandang serius kepada menantunya. Dia sempat
mendengar ucapan putrinya.
“Siapa yang pinjam online,
Mbak? Mbak pasti salah sambung!” kata Andini dengan nada agak meninggi.
Pada saat dia mendengar
jawaban dari seberang, kian terkejut wajah Andini. Secara sepihak dia memutus
sambungan telepon itu. Wajah cantiknya
menunjukkan kemarahan.
“Mas!” panggil Andini
menyentak sambil menepak agak kencang bahu Radit yang sudah berdebar-debar.
“Mas Radit punya utang pinjol?”
Belum lagi Radit
menyahut, Andini sudah lebih dulu bertanya menyudutkan. Nada pertanyaan Andini
terdengar marah.
Wajah Rukmah, ibu
Andini, juga menunjukkan ketidakramahan dalam memandang menantunya.
“Hanya sedikit, Din.
Itu juga untuk menutupi biaya pernikahan kita yang kurang,” jawab Radit lembut
sambil menengok kepada istrinya yang masih duduk di jok sepeda motor.
“Enggak pandang itu
banyak atau sedikit, Mas. Pinjol itu bahaya, tahu,” tandas Andini. “Apalagi Mas
Radit pinjam untuk biaya pernikahan kita, aku enggak mau. Dan yang lebih
membuat aku tidak suka, Mas Radit tidak pernah cerita ke aku kalau Mas itu
minjol.”
Dengan kesal dan
marah, Andini turun dari sepeda motor.
“Kamu apa-apaan sih,
Radit? Semua orang sudah tahu kalau pinjol itu rentenir berbahaya. Itu uang
haram, Dit. Ada ribanya!” kata Rukmah ikut mengomeli dan menyalahkan Radit.
Sakit hati dan
perasaan Radit dimarahi oleh mertuanya. Dia paling tidak suka dipermalukan di
depan umum.
Kemarahan ibu dan
anak itu memancing orang-orang di rumah dan tetangga jadi datang meninjau untuk
mencari tahu suara-suara yang terdengar marah-marah.
“Ada apa sih, Bu?”
tanya lelaki yang baru datang dari dalam rumah. Lelaki usia enam puluh tahun
itu bernama Sukri, ayah dari Andini.
“Ini, Radit, jadi
korban pinjol. Memancing bahaya saja. Malu kita kalau sampai orang-orang tahu
suami Andini ngutang di pinjol,” jawab Rukmah dengan nada sewot. Padahal
suaranya yang keras membuat warga sudah tahu.
“Aku itu hanya utang
sedikit. Masih bisa aku bayar,” kata Radit membela diri, nada suara dan mimik
wajahnya menunjukkan dia tidak suka disudutkan dan dimarahi di depan umum. Dia
merasa dipermalukan oleh istri dan mertuanya.
“Mas Radit, aku itu
sudah sering ingatkan sebelum kita nikah, jangan sampai kita bersentuhan sama
pinjol. Kenapa Mas masih lakukan? Pokoknya, aku enggak mau bersinggungan yang
namanya pinjaman online itu. Selama Mas Radit masih punya utang itu, aku
enggak mau ketemu Mas. Aku enggak mau anakku kena efek dosanya!” tegas Andini
yang terlihat serius marahnya.
Dengan membawa
kemarahannya, Andini berbalik pergi meninggalkan suaminya dan masuk ke dalam
rumah.
“Eh, Andini! Jangan
begitu!” teriak Radit sambil buru-buru turun dari motornya dan mengejar Andini.
“Eeeh!” pekik Rukmah
sambil menghadang langkah menantunya.
Radit terpaksa
berhenti.
“Bu, enggak perlu
sampai seperti itu dong. Aku ngutang demi pernikahan kami, aku juga bisa lunasi
utangku tanpa minta dibantu sama Andini atau Ibu,” debat Radit.
“Nak Radit, tahan
emosi,” kata Sukri sambil memegangi bahu menantunya dan menuntunnya agak
menjauh dari Rukmah.
“Iya, Pak. Tapi
reaksi Andini dan Ibu terlalu berlebihan ke aku,” kata Radit sambil menahan
kemarahannya.
“Yang perlu Nak Radit
tahu, kami sekeluarga trauma dengan pinjol,” ungkap Sukri.
Itu membuat Radit
agak mereda, tapi kerutkan kening.
“Maksud Bapak?” tanya
Radit.
“Adik ipar saya,
pernah terjerat pinjol. Karena tidak bisa bayar dan diteror, dan dipermalukan
oleh pihak pinjolnya, akhirnya bibinya Andini bunuh diri,” jelas Sukri.
“Hah!” Radit
benar-benar terkejut.
“Tidak usah cerita,
Pak!” sergah Rukmah kepada suaminya. Lalu katanya kepada Radit, “Nak Radit pokoknya
selesaikan urusan dengan pinjol itu sampai selesai. Setelah itu, baru Nak Radit
boleh bertemu lagi dengan Andini.”
Radit termenung
sejenak, dia sedang berpikir dan tidak habis pikir.
“Baik, Bu, Pak. Aku
akan selesaikan utang aku ke pinjol itu,” kata Radit akhirnya memutuskan. Dia
harus ambil keputusan cepat tapi bersifat sementara, pasalnya, dia harus segera
ke pabrik. Dia tidak mau datang terlambat lalu jadi masalah.
Kunci gudang dia yang
bawa. Kalau dia telat, semua anak buahnya ikut telat bekerja.
“Aku permisi dulu,
Bu, Pak!” pamit Radit lalu meminta tangan kedua mertuanya untuk dia cium. Meski
marah, tapi dia harus tetap menunjukkan rasa hormat kepada kedua mertuanya.
Setelah itu, Radit
memandang ke arah dalam ruang depan rumah. Dia melihat Andini tidak
memandangnya. Wanita cantik itu terlihat duduk dan sedang menangis tanpa suara.
Akhirnya Radit pergi
meninggalkan rumah mertuanya dengan pikiran yang kalut dan perasaan emosional.
(RH)


Udh gitu iklan pinjol itu membagongkan π π
BalasHapusMari kita berantas pinjol bersama-sama
HapusOm...Sarang Keongπ
BalasHapus