*Petualangan Tina dan Ayu*
Salman Alfarisy kaget dengan keterkejutan kedua sahabat perempuannya itu. Dia tidak melihat kejadian ketika buku novel di tangan Tina melompat sendiri.
“Ke-ke-kenapa?” tanya
Salman dengan tatapan serius kepada Tina Cihuy dan Ayu Nostalgia.
“Bu-bu-bukunya lompat
sendiri,” jawab Tina ikut gagap karena takut, membuat suasana di ruang tamu itu
jadi tegang, mirip scene film horor “Beranak Dalam Sumur”.
“Waaah, nge-nge-ngeledek!”
tukas Salman sambil menunjuk Tina, membuat suasana tegangnya jadi ambyar.
“Bukan geledek, tapi
saya ketakutan, Sal. Kutunya lompat sendiri!” kilah Tina dengan mimik yang
serius ketakutan.
“Iya, Sal. Bukunya lompat
sendiri pas dibacain mantera!” timpal Ayu menguatkan Tina.
“Hahaha! Enggak pe-pe-percaya.
Sini saya buktikan!” kata Salman yang didahului dengan tawanya.
Ia lalu meraih buku
novel yang tergeletak di lantai. Ia buka halaman yang Tina tadi baca. Ia pun
membaca manteranya.
“Tung tung tung,
bolak balik bolak balik, nungging jungkir balik, ka buka buka, woi!”
Zerzzz! Zeroes!
Tiba-tiba dari dalam
buku keluar aliran listrik warna kuning tanpa putus, langsung menyetrum tubuh
ketiga remaja itu dan menyelimutinya dengan sinar kuning.
Kejap berikutnya,
tubuh ketiganya ditarik ke dalam buku, seiring dengan sosok sinar mereka
mengecil dengan cepat lalu menghilang ke dalam buku.
Buku novel “Pintu
Setan Kuning” kini tergeletak di atas buku yang sedang digambari oleh Salman
tadi.
“Tina, suara apa
itu?” tanya Musdahlifa sambil muncul dari ruang dalam.
Namun, ibu dari Tina
itu berhenti dan diam karena ketiga anak yang sedang belajar kelompok tidak ada
di ruangan itu.
“Loh, anak-anak ke
mana? Pergi kok enggak libang-libang?” tanya Musdahlifa kepada dirinya sendiri,
seperti artis sinetron berdialog sendiri. “Mana manakannya enggak dihabisin.”
Sementara itu, Tina,
Ayu dan Salman tiba-tiba muncul ke permukaan air sebuah kolam.
“Tolep…. Alep.… Saya
engep… bisep… berenep…!” teriak Ayu yang kata-katanya selalu tertutup oleh air,
sebab ia setengah mati berusaha untuk berenang.
“Salaman! Tolongin
Ayu, dia enggak bisa beranak!” teriak Tina cepat kepada Salman.
“Ce-ce-cepat! Nanti
te-te-tenggelam!” teriak Salman jadi terkejut dan panik.
Tina dan Salman cepat
berenang meraih baju Ayu, lalu ditarik berenang ke pinggir.
“Alhamdulillah,
solawat,” ucap Tina lega.
“Uhhuk uhhuk uhhuk!”
Ayu batuk air.
“Napas buatan, Sal!”
teriak Tina.
“Kamu kira saya
pingsan!” bentak Ayu.
“Hahahak!” tawa Tina dan
Salman terbahak.
“Eh, kita ada di mana
nih?” tanya Tina tersadar dengan sekitarnya.
“Kolam,” sahut Ayu.
“Tahu, tapi di mana?
Ini bukan di murah saya,” kata Tina sambil memandang ke sekitar dengan wajah
heran.
“Di mi-mi-mimpi
kali!” sahut Salman pula.
Plak!
“Aw!” pekik Salman
karena Ayu tiba-tiba menamparnya tanpa kasih sayang.
“Berarti bukan
mimpi,” kata Ayu.
“Setahu saya, di
Kalianda enggak ada kolom seperti ini,” kata Tina.
“Kalian pada merasa
gak sih? Ada sinar kuning, terus buku itu berubah besar sekali dan kita masuk,”
tanya Ayu mengingatkan. “Terus, tahu-tempe saya kelelep!”
“Iya.” Tina membenarkan.
“Ada hu-hu-hutan, ada
gu-gu-gunung, tapi gak ada orang. Ayo te-te-tebak, itu di mana?” kata Salman yang
justru main tebak-tebakan.
“Ya di sini!” jawab Tina
dan Ayu bersamaan.
“Hahahak!” tawa Salman.
“Kamu kira kita
setan?” hardik Ayu.
“Ma-ma-maksud saya,
se-se-se….”
“Setan?” terka Ayu
memotong.
“Selain kita!” tandas
Salman.
“Terus kita ada di
alam ketan?” tanya Tina.
“Alam setan, Tina!”
ralat Ayu. “Eh, kan judul bukunya Pintu Setan Kuning. Berarti di sini ada Setan
Kuning!”
“Jangan nakutin, Yu!”
hardik Tina seraya mengerenyit.
“Ki-ki-kita harus
jalan!” kata Salman.
“Iya, cari orang,”
dukung Ayu.
“Kalau ketekmu setan
bagaimana?” tanya Tina.
“Hahaha! Ke-ke-ketek!”
tawa Salman.
“Katanya kalau ketemu
setan, mau kamu kasih mie goreng,” kata Ayu meledek.
“Itu kan berjanda,”
kilah Tina.
“Bercanda, bukan
berjanda!” ralat Ayu. “Yuk kita cari orang, jangan mikir setan melulu. Saya
takut ada setan yang narik kaki saya dari dalam air.”
Serentak mereka
bertiga berlomba cepat-cepatan naik ke darat.
“Nyuruh orang jangan
parkirin setan, dia sendiri yang bikin ulah!” rutuk Tina.
“Hahaha! Ba-ba-baru
tahu ka-ka-kalau setan bisa diparkirin!” kata Salman seraya tertawa.
Memang bahagia jika
bersahabat dengan kedua gadis itu, selalu membuat tertawa. Pikir Salman.
Akhirnya, mereka
bertiga keluar dari kolam.
Kini mereka berjalan
di alam terbuka dalam kondisi basah kuyup. Angin yang berembus cukup sejuk
membuat mereka lumayan kedinginan. Tina dan Salman sampai memeluk dirinya
sendiri sambil berjalan. Berbeda dengan Ayu yang tampak tegar menghadapi
kedinginan.
Di arah utara ada
gunung, di barat ada hutan, di selatan ada bukit, dan di timur ada lautan luas
tanpa pantai, karena tepiannya adalah jurang karang.
“Ayo pi-pi-pilih, ma-ma-mau
ke mana? Ke hu-hu-hutan, ke gu-gu-gunung, ke bu-bu-bukit, atau ke la-la-laut?”
tanya Salman.
“Kalau ke hutan
ketemu macan, ke gunung enggak bisa turun, ke laut tenggelam, kita ke bukit saja!”
kata Ayu memilih, lengkap dengan dalihnya.
“Ke cubit aja, nanti
dari sana kita bisa lihat, di mana ada koran,” kata Tina.
“Ih, tumben Tina
pinter!” puji Ayu sambil mencubit kedua pipi sahabatnya itu.
“Memang saya printer.
Kalian saja yang tidak pera,” kata Tina seraya mencibir.
“Peka, Tina, bukan
pera. Dikira nasi, pera!” ralat Ayu.
“Hahaha! Di-di-dingin!”
ucap Salman.
“Dingin doang kamu
pakai ketawa, Sal,” kata Ayu.
“Ta-ta-tadi nge-nge-ngetawain
Ti-ti-ti….”
“Tikus?” terka Ayu
memotong.
“Ti-ti-tikuuus!”
teriak Salman, rada kesal karena disela. “Se-se-sekarang dingin.”
Ketiganya berjalan
menuju bukit sambil memeluk tubuhnya sendiri. Kini Ayu pun memeluk tubuhnya
karena dingin.
“Menurut teori, alam
itu terbalik dalam beberapa jenis. Ada alam manusia….”
“Terbagi, bukan
terbalik, Tina!” ralat Ayu.
“Iya, maksud saya itu.
Terbalik dalam beberapa jenis. Alam manusia, alam jin, alam melekat….”
“Alam malaikat!”
sergah Ayu meralat.
“Iya, itu maksud
saya. Alam apa lagi?” tanya Tina.
“Alam Bu-bu-budi
Kusuma!” jawab Salman menyebut nama seorang atlet badminton legenda Indonesia.
“Hahahak!” tawa Ayu
terbahak.
“Itu mah suaminya
Budi Susanti, Salaman,” ralat Tina, tapi juga salah.
“Hahahak…! Aduuuh,
ampun, Mak! Hahahak!” tawa Ayu semakin menjadi.
“Hahaha…!”
Tiba-tiba ada suara
tawa lelaki lain selain suara tawa Salman. Ketiga sahabat itu langsung terdiam,
berubah tegang.
“Si-si-siapa?” tanya Salman
dengan lirikan tegang yang tidak jelas ke mana arahnya.
“Setan Kuning ya?”
tanya Ayu pula. Suaranya gemetar.
“Setan atau handuk?”
tanya Tina. Sama, dia gemetar juga.
“Hahaha…!” tawa
seorang lelaki sambil bergerak keluar dari balik batang pohon di depan mereka.
“Setan Cebok!” pekik Tina
kaget.
“Cebol, Tina!” ralat
Ayu berteriak tegang.
“Se-se-separuh manuuu
sia!” kata Salman kaget pula.
“Hahahak…! Kalian
pasti anak-anak setan kesasar?” terka lelaki cebol berpakaian hijau daun itu.
“Kita manusia, bukan
setan. Setan jangan ngaku setan. Eh salah, setan jangan ngaku manusia!” bentak
Ayu galak.
“Iya, lihat saja.
Kali kita enggak melayang,” kata Tina.
“Kaki, bukan kali!”
ralat Ayu, seolah sedang memarahi Tina.
“Si-si-situ siapa?”
tanya Salman.
“Namaku Somali!”
jawab lelaki cebol itu bangga.
“Ooo, mamamu Somay!” kata
Tina sambil manggut sekali.
“Namamu, bukan mamamu!”
ralat Ayu.
“Iya, maksud saya
itu!” kata Tina sewot.
“Eit! Mamaku namanya
bukan Somay, jangan sok kenal,” kata Somali. “Eh kalian, dengarkan baik-baik.
Namaku Sooo Maaa Liii.”
“Sooo Maaa Liii, So-so-somat ma-ma-mandi di kali. Hahaha!” seloroh Salman. (RH)


Si cebol ini kan nanti yg ikut ke dunia sebelah
BalasHapusIya, ikut sekolah
HapusWiiih! Keren petualangannya masuk dalam buku. Kayak film-film dongeng bule
BalasHapustapi enggk nyontek lho kayak waktu ujian sekolah
Hapus