*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Tiga belas tahun
kemudian.
Rugi Sabuntel sudah menjadi seorang pendekar perkasa.
Ketampanan wajahnya masih masuk rata-rata, dalam arti tidak jelek dan juga tiga
tampan banget. Dia berdada bidang berotot, berlengan kekar, berbetis keras,
tetapi masih berperut gendut.
Uniknya, meski sudah menjadi pendekar pilih tanding,
tetapi Rugi Sabuntel tetap bekerja di gudang jagung milik Demang Segara Gara,
demi menafkahi dirinya, ibunya dan kakeknya.
Orang yang memimpin dan memandori gudang besar
tersebut lebih sering adalah Nyai Demang. Demang sendiri hanya turun sesekali
mengontrol keadaan gudang karena dia sendiri punya bisnis luar kademangan yang
lebih prioritas dan utama.
“Rugi!” panggil Nyai Demang pada suatu ketika.
Suaranya kencang dan bening tanpa zat pewarna. Konon katanya, Nyai Demang adalah
seorang sinden kadipaten sebelum menikah.
Meski sudah punya momongan berusia gadis, Nyai Demang
adalah wanita yang menjaga tubuh dalam perawatan yang mahal. Jangan heran jika
kecantikannya luar biasa dengan wajah dan fisik seperti masih gadis. Saking
mahalnya anggaran pesonanya, Nyai Demang selalu harum mewangi meski berkeringat
saat sedang mengatur kerja para buruh gudang jagungnya.
Dia pun menjadi idola dan pujaan para buruhnya, karena
hampir setiap hari mereka bertemu. Tidak ada kata jemu jika melihat kecantikan
Nyai Demang.
“Iya, Nyai Demang!” sahut Rugi Sabuntel. Dia lalu
berlari kecil datang kepada Nyai Demang.
Setibanya di hadapan Nyai Demang yang cantik menggoda
tapi pantang digoda.
“Ada apa, Nyai?” tanya Rugi Sabuntel sambil berdiri
dengan punggung agak melengkung, menunduk merendah di hadapan sang majikan.
“Bawa tiga karung ini ke samping kusir!” perintah Nyai
Demang.
“Siap, Nyai.”
Rugi Sabuntel lalu mengangkat satu karung ke bahu
kanannya.
Nyai Demang yang cantik dan masih usia produktif itu
terlihat terpesona melihat otot kekar Rugi Sabuntel, tapi tidak dengan
perutnya.
“Perkasa sekali kau, Rugi,” puji Nyai Demang sembari
tersenyum kepada Rugi. Dia memang pantang digoda, tetapi tidak pantang
menggoda.
“Demi masa depan, Nyai Demang,” ucap Rugi Sabuntel
sembari tersenyum pula. Bagaimanapun juga, dia senang dipuji oleh majikannya, apalagi
majikannya cantik.
Rugi Sabuntel kembali menaikkan satu karung ke atas
karung yang sudah ada dibahunya.
“Biar aku bantu pegangi,” kata Nyai Demang.
“Jangan aku yang dipegangi, Nyai Demang. Karungnya
yang dipegangi agar tidak jatuh. Kalau aku yang dipegang, nanti aku yang
jatuh,” kata Rugi Sabuntel yang merasa pinggang berlemaknya dipegangi oleh sang
nyai.
“Jatuh ke mana?” tanya Nyai Demang dengan senyum yang
samar dan tatapan membelai jantung Rugi Sabuntel.
“Ke hati, Nyai Demang,” jawab Rugi Sabuntel sembari
tersenyum lebar.
“Hihihi!” tawa Nyai Demang bernada genit.
Dengan menggunakan tangan kiri, Rugi Sabuntel
mengangkat satu karung jagung lagi dan melemparnya ke atas panggulan dua karung
di bahu kanannya. Jadi ganjil tiga karung yang dipikul oleh Rugi Sabuntel.
“Hati-hati, Rugi. Itu berat,” kata Nyai Demang sambil
kembali memegangi lengan sang pendekar.
“Hahaha! Jika ditambah mengangkat tubuh Nyai, aku juga
masih sanggup, Nyai,” goda Rugi Sabuntel. Maklum dia sekarang sudah dewasa.
“Hihihi!” tawa renyah Nyai Demang lagi.
“Tapi, tanganku jangan dipegangi, aku tidak bisa
jalan, Nyai,” kata Rugi Sabuntel.
“Oh iya. Hihihi!” ucap Nyai Demang pura-pura baru
tersadar, lalu tertawa genit lagi.
Rugi Sabuntel lalu membawa panggulannya ke tempat
kereta kuda Nyai Demang parkir.
“Yang lain, rapi-rapikan, jangan sampai berserakan.
Setelah itu datang kepadaku untuk mengambil upah kalian!” teriak Nyai Demang
kepada para pekerja lainnya di gudang jagung itu.
“Baik, Nyai!” teriak banyak lelaki dari tempat
kerjanya masing-masing.
Sementara itu, Rugi Sabuntel tiba di dekat kereta kuda
yang berbilik.
“Kang Buntet, bantu turunkan!” kata Rugi Sabuntel
kepada kusir kereta yang sedang duduk sambil makan kacang kedelai.
“Baik,” jawab Buntet lalu lebih dulu melemparkan
beberapa biji kacang kedelai ke dalam mulutnya.
Lelaki kurus itu lalu membantu Rugi Sabuntel
menurunkan karung dari panggulan Rugi.
Saat sedang menurunkan bebannya, Rugi Sabuntel
terkejut karena melihat ada sepasang mata yang sedang memandanginya dari dalam
bilik kereta kuda.
Pertemuan pandangan dengan mata wanita di dalam bilik
kereta kuda membuat jantung Rugi Sabuntel tersentak, lalu berdebar dan darahnya
berdesir, seperti aliran air selang pemadam kebakaran.
“Eh, mata cantik siapa itu?” tanya Rugi Sabuntel lirih
kepada dirinya sendiri.
Lalu dia pun bertanya kepada Buntet sambil sesekali
melirik kepada celah pintu bilik kereta.
“Di dalam kereta siapa, Kang?” tanya Rugi kepada si
sopir.
“Oh, itu putri Demang,” jawab Buntet yang didengar
oleh wanita di dalam bilik kereta.
“Oooh,” desah Rugi Sabuntel.
Tiba-tiba Nyai Demang berteriak dari jauh sembari
memandang ke arah keretanya.
“Campaniii! Ke mari, bantu Ibu!”
Tidak ada yang menyahut. Namun, setelah teriakan itu, pintu
bilik kereta kuda dibuka dari dalam dan keluarlah seorang gadis cantik yang
kecantikannya menyaingi Nyai Demang, tetapi dia jauh lebih muda.
Kemunculan gadis itu
dari dalam kereta membuat Rugi
Sabuntel terpana dengan mulut ternganga. Untung mulut Rugi Sabuntel sedang
kering dan tempat itu steril dari lalat.
Gadis berkulit putih bersih dan berkebaya cokelat muda
itu tersenyum manis kepada Rugi Sabuntel yang berkeringat. Rugi berkeringat
bukan karena melihat si gadis, tapi karena usai bekerja.
“Permisi, Kakang,” ucap gadis itu kepada Rugi
Sabuntel.
“Eh, iya. Mari, mari,” ucap Rugi Sabuntel kikuk, tapi
bahagia di dalam hati.
Campani berjalan segera mendatangi ibunya.
“Cantiknya setan, Kang,” ucap Rugi Sabuntel.
Rugi Sabuntel berkata kepada Buntet, tetapi
pandangannya mengikuti kepergian Campani, sampai terpaku memandangi bokongnya
yang bergerak-gerak.
“Kok setan, Rugi?” tanya Buntet.
“Eh, maksudku itu, putri Demang itu terlalu cantik.”
“Jangan jatuh hati kepadanya, saingannya berat-berat.
Sampai-sampai adipati dan putranya yang datang melamar.”
“Maksud Kang Buntet, Adipati mengantar putranya
melamar Campani?”
“Bukan, tapi masing-masing melamar untuk dirinya. Anak
dan bapaknya bersaing.”
“Hah! Anak bapak? Bukannya Adipati sudah punya istri?”
“Sudah. Istrinya sudah tiga. Katanya untuk yang
keempat dan yang terakhir.”
“Wadduh. Rakus juga,” ucap Rugi Sabuntel terkejut.
“Namanya juga lelaki. Jika di dunia ini ada seribu
wanita cantik, seribu juga ingin dinikahi. Hahaha!”
“Lalu, lamaran siapa yang diterima?”
“Dari lima lelaki yang melamar, belum ada satu pun
yang diterima. Gusti Demang memberi syarat berat.”
“Apa syaratnya?”
“Cincin Mata Pelangi.”
“Cincin apa itu?”
“Aku tidak tahu pasti. Tapi katanya, itu cincin milik
Penombak Samudera. Syarat itu membuat semua pelamar bingung karena mereka tidak
tahu di mana harus mencari cincinnya, tapi Gusti Demang tidak mau mengubah
syaratnya,” jelas Buntet.
Tiba-tiba ada teriakan dari gudang jagung.
“Rugi! Upahan!” teriak seorang pekerja lelaki lain
yang seumuran dengan Rugi Sabuntel. Lelaki itu adalah Blikik, mantan musuh Rugi
Sabuntel di masa kecil.
Rugi Sabuntel menengok ke arah gudang. Tampak para
buruh gudang jagung sudah antre penuh semangat.
“Iya!” teriak Rugi Sabuntel menyahut. Dia lalu
berjalan meninggalkan Buntet dan dua kuda keretanya. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar