*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
“Setiap sesuatu
memiliki titik keseimbangan, termasuk babu dan tubuhmu yang gendut itu,” kata
Ki Robek, setelah muridnya berhasil menaklukkan batang bambu yang diberdirikan
tanpa ditancap.
“Iya, Guru. Tapi...
bagaimana dengan jawaban Guru tentang rencanaku menjadi perampok budiman?”
tanya Rugi Sabuntel.
“Sebagai seorang
pendekar, kau harus memiliki pendirian yang tegas, apalagi kau seorang lelaki.
Jangan sampai kau menjadi orang yang gamang, mudah berubah pendirian hanya
karena kulitmu lecet sedikit atau hanya karena jatuh hati kepada istri
orang....”
“Tidak, Guru. Aku
tidak jatuh hati kepada istri Demang. Sumpah dipatuk ayam jika aku jatuh hati
kepada Nyai Demang!” pekik Rugi Sabuntel cepat membantah.
“Aku tidak menuduhmu
jatuh hati kepada istri Demang,” kata Ki Robek.
Rugi Sabuntel
langsung terdiam. Ia sadar bahwa reaksinya cukup berlebihan.
“Maksudku itu, jika
kau sudah memilih jalan, kau harus teguh. Jika kau bertekad merampok orang kaya
yang jahat, berarti kau jangan sekali pun merampok orang kaya yang tidak jahat.
Jika kau bertekad harta rampokan itu hanya untuk orang miskin yang teraniaya,
berarti benar-benar harus tepat sasaran. Jangan sekali pun kau mencicipi uang
perampokan itu setengah kepeng pun, apa pun alasannya. Jadi syarat pertama
adalah keteguhan pendirian,” kata Ki Robek memberi wejangan.
“Iya, Guru. Aku pasti
kuat pendirian, sekuat badanku,” kata Rugi Sabuntel.
“Yang kedua. Jangan
pernah seorang diri. Kau harus memiliki teman. Seekor harimau tetap akan
tumbang jika dikeroyok oleh ribuan semut. Berbuat baik bukan berarti kau akan
selalu beruntung,” kata Ki Robek lagi.
“Baik, Guru,” ucap
Rugi Sabuntel.
“Yang ketiga. Dalam
merampok, jangan tunjukkan wajahmu dan jangan tinggalkan barang bukti. Jika
seseorang meyakini kau adalah perampoknya hanya karena tubuh yang mirip, tapi
jika tidak melihat wajah, kau berhak membantah dan melawan. Intinya, jangan
sampai ada saksi dan barang bukti.”
“Baik, Guru.”
“Keempat dan kelima
nanti kau akan mengetahui dengan sendirinya.”
“Iya, Guru,” ucap
Rugi Sabuntel. Karena poin-poin gurunya sudah berakhir, Rugi pun bertanya,
“Apakah Guru tahu tentang Cincin Mata Pelangi?”
“Tahu.”
“Kau tahu, Guru?”
sebut ulang Rugi Sabuntel senang dan seakan tidak percaya.
“Aku tahu,” tegas Ki
Robek.
“Hahaha!” tawa Rugi
Sabuntel begitu gembira, membuat gurunya heran dan memandang curiga.
Apalagi tiba-tiba
Rugi Sabuntel menghamburkan diri memeluk gurunya, sampai-sampai Ki Robek
kewalahan dipeluk orang gendut dan besar itu.
“Apa-apaan kau,
Rugi?! Lepaskan aku! Apakah kau mau memperkosaku?” pekik Ki Robek sambil
meronta.
Buru-buru Rugi
Sabuntel melepaskan pelukannya.
“Hahaha!” tawa Rugi
Sabuntel sambil melepaskan gurunya.
“Ada apa dengan
Cincin Mata Pelangi? Kau ingin memlikinya?” tanya Ki Robek jadi serius.
“Yang terpenting Guru
ceritakan lebih dulu tentang cincin itu,” kata Rugi Sabuntel begitu
bersemangat.
“Tidak. Besok saja!” tandas
Ki Robek.
Ki Robek bangkit dari
duduknya dan hendak meninggalkan Rugi Sabuntel yang begitu berharap.
“Eh eh, Guru!” pekik
Rugi Sabuntel terkejut melihat tindakan gurunya.
Buru-buru Rugi
Sabuntel bergerak berlutut sambil memeluk satu kaki gurunya.
“Aku mohon, Guru!
Guru harus menceritakan kepadaku sekarang juga!” kata Rugi Sabuntel memelas
dengan wajah dibuat semenderita mungkin.
“Apa-apaan kau,
Rugi?”
Ki Robek tidak bisa
berjalan karena satu kakinya dipeluk kuat oleh Rugi Sabuntel.
“Aku mohon, Guru.
Guru harus cerita tentang Cincin Mata Pelangi kepadaku. Jika menunggu besok,
aku akan terlanjur gila. Aku janji, setelah Guru cerita, aku akan pergi
membelikan Guru sambal kunyit Mak Gendong, yang ulekannya pakai jurus Sepuluh Gelombang
Kanan, Sepuluh Gelombang Kiri. Mau ya, Guru?”
“Baiklah. Tapi kau harus
pergi membelikanku sambal kunyit ditambah makanannya.” Ki Robek akhirnya
mengalah.
“Iya, Guru. Pasti,
pasti akan aku belikan. Jika perlu, Mak Gendong pun bisa aku bawa ke mari,
Guru.”
“Yang aku suka sambal
kunyitnya, bukan Mak Gendong-nya.”
“Hahaha!” tawa
terbahak Rugi Sabuntel.
“Tapi lepaskan
kakiku!”
“I-i-iya, Guru.
Hehehe!”
Rugi Sabuntel segera
melepaskan kaki Ki Robek. Gurunya itu kembali duduk di kursi. Sang murid pun
kembali memperbaiki duduknya dan menyodorkan wajah antusiasnya.
“Bagaimana, Guru?
Bagaimana?”
“Cincin Mata Pelangi
adalah milik Penombak Samudera, seorang prompak laut yang melegenda. Setahuku
Penombak Samudera sudah mati beberapa tahun yang lalu. Namun, tidak banyak yang
tahu tentang kematiannya,” kisah Ki Robek.
“Jika Penombak
Samudera sudah mati, lalu siapa yang mewarisi cincin itu, Guru?”
“Seorang perompak
laut biasanya menyimpan harta bendanya di suatu tempat yang sangat rahasia.
Jika tidak, cincin itu dibawa mati. Berarti ada di jari tangannya.”
“Tapi di mana
mayatnya dikubur?”
“Pasti di pulau
kekuasaannya. Di Pulau Taring Cumi.”
“Apakah aku boleh
pergi mencarinya, Guru?”
“Penombak Samudera
merebut cincin itu dari Raja Kerajaan Sluput.”
“Berarti cincin itu
milik sah Raja Kerajaan Sluput.”
“Kerajaan Sluput
sudah hancur, rajanya pun sudah mati. Jadi cincin itu barang bebas.”
“Berarti aku boleh
memilikinya jika mendapatkannya, Guru?”
“Kau simpulkan
sendiri,” jawab Ki Robek yang membuat muridnya tersenyum. “Untuk apa kau ingin
memilikinya?”
“Untuk aku berikan
kepada seorang gadis. Hehehe!”
“Jadi, kau ingin
menjadi perampok budiman atau pergi ke Pulau Taring Cumi untuk mencari Cincin
Mata Pelangi demi perempuan?” tanya Ki Robek.
Sebelum Rugi Sabuntel
menjawab, Ki Robek sudah mengingatkan.
“Ingat syarat
pertama. Jangan sampai karena urusan wanita, kau sudah berpaling sebelum
menjadi perampok.”
“Hahaha!” Sang murid
justru tertawa.
Rugi Sabuntel jadi menggaruk hidungnya yang tidak gatal. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar