PKK 8: Petunjuk Ki Robek


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

“Setiap sesuatu memiliki titik keseimbangan, termasuk babu dan tubuhmu yang gendut itu,” kata Ki Robek, setelah muridnya berhasil menaklukkan batang bambu yang diberdirikan tanpa ditancap.

“Iya, Guru. Tapi... bagaimana dengan jawaban Guru tentang rencanaku menjadi perampok budiman?” tanya Rugi Sabuntel.

“Sebagai seorang pendekar, kau harus memiliki pendirian yang tegas, apalagi kau seorang lelaki. Jangan sampai kau menjadi orang yang gamang, mudah berubah pendirian hanya karena kulitmu lecet sedikit atau hanya karena jatuh hati kepada istri orang....”

“Tidak, Guru. Aku tidak jatuh hati kepada istri Demang. Sumpah dipatuk ayam jika aku jatuh hati kepada Nyai Demang!” pekik Rugi Sabuntel cepat membantah.

“Aku tidak menuduhmu jatuh hati kepada istri Demang,” kata Ki Robek.

Rugi Sabuntel langsung terdiam. Ia sadar bahwa reaksinya cukup berlebihan.

“Maksudku itu, jika kau sudah memilih jalan, kau harus teguh. Jika kau bertekad merampok orang kaya yang jahat, berarti kau jangan sekali pun merampok orang kaya yang tidak jahat. Jika kau bertekad harta rampokan itu hanya untuk orang miskin yang teraniaya, berarti benar-benar harus tepat sasaran. Jangan sekali pun kau mencicipi uang perampokan itu setengah kepeng pun, apa pun alasannya. Jadi syarat pertama adalah keteguhan pendirian,” kata Ki Robek memberi wejangan.

“Iya, Guru. Aku pasti kuat pendirian, sekuat badanku,” kata Rugi Sabuntel.

“Yang kedua. Jangan pernah seorang diri. Kau harus memiliki teman. Seekor harimau tetap akan tumbang jika dikeroyok oleh ribuan semut. Berbuat baik bukan berarti kau akan selalu beruntung,” kata Ki Robek lagi.

“Baik, Guru,” ucap Rugi Sabuntel.

“Yang ketiga. Dalam merampok, jangan tunjukkan wajahmu dan jangan tinggalkan barang bukti. Jika seseorang meyakini kau adalah perampoknya hanya karena tubuh yang mirip, tapi jika tidak melihat wajah, kau berhak membantah dan melawan. Intinya, jangan sampai ada saksi dan barang bukti.”

“Baik, Guru.”

“Keempat dan kelima nanti kau akan mengetahui dengan sendirinya.”

“Iya, Guru,” ucap Rugi Sabuntel. Karena poin-poin gurunya sudah berakhir, Rugi pun bertanya, “Apakah Guru tahu tentang Cincin Mata Pelangi?”

“Tahu.”

“Kau tahu, Guru?” sebut ulang Rugi Sabuntel senang dan seakan tidak percaya.

“Aku tahu,” tegas Ki Robek.

“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel begitu gembira, membuat gurunya heran dan memandang curiga.

Apalagi tiba-tiba Rugi Sabuntel menghamburkan diri memeluk gurunya, sampai-sampai Ki Robek kewalahan dipeluk orang gendut dan besar itu.

“Apa-apaan kau, Rugi?! Lepaskan aku! Apakah kau mau memperkosaku?” pekik Ki Robek sambil meronta.

Buru-buru Rugi Sabuntel melepaskan pelukannya.

“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel sambil melepaskan gurunya.

“Ada apa dengan Cincin Mata Pelangi? Kau ingin memlikinya?” tanya Ki Robek jadi serius.

“Yang terpenting Guru ceritakan lebih dulu tentang cincin itu,” kata Rugi Sabuntel begitu bersemangat.

“Tidak. Besok saja!” tandas Ki Robek.

Ki Robek bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan Rugi Sabuntel yang begitu berharap.

“Eh eh, Guru!” pekik Rugi Sabuntel terkejut melihat tindakan gurunya.

Buru-buru Rugi Sabuntel bergerak berlutut sambil memeluk satu kaki gurunya.

“Aku mohon, Guru! Guru harus menceritakan kepadaku sekarang juga!” kata Rugi Sabuntel memelas dengan wajah dibuat semenderita mungkin.

“Apa-apaan kau, Rugi?”

Ki Robek tidak bisa berjalan karena satu kakinya dipeluk kuat oleh Rugi Sabuntel.

“Aku mohon, Guru. Guru harus cerita tentang Cincin Mata Pelangi kepadaku. Jika menunggu besok, aku akan terlanjur gila. Aku janji, setelah Guru cerita, aku akan pergi membelikan Guru sambal kunyit Mak Gendong, yang ulekannya pakai jurus Sepuluh Gelombang Kanan, Sepuluh Gelombang Kiri. Mau ya, Guru?”

“Baiklah. Tapi kau harus pergi membelikanku sambal kunyit ditambah makanannya.” Ki Robek akhirnya mengalah.

“Iya, Guru. Pasti, pasti akan aku belikan. Jika perlu, Mak Gendong pun bisa aku bawa ke mari, Guru.”

“Yang aku suka sambal kunyitnya, bukan Mak Gendong-nya.”

“Hahaha!” tawa terbahak Rugi Sabuntel.

“Tapi lepaskan kakiku!”

“I-i-iya, Guru. Hehehe!”

Rugi Sabuntel segera melepaskan kaki Ki Robek. Gurunya itu kembali duduk di kursi. Sang murid pun kembali memperbaiki duduknya dan menyodorkan wajah antusiasnya.

“Bagaimana, Guru? Bagaimana?”

“Cincin Mata Pelangi adalah milik Penombak Samudera, seorang prompak laut yang melegenda. Setahuku Penombak Samudera sudah mati beberapa tahun yang lalu. Namun, tidak banyak yang tahu tentang kematiannya,” kisah Ki Robek.

“Jika Penombak Samudera sudah mati, lalu siapa yang mewarisi cincin itu, Guru?”

“Seorang perompak laut biasanya menyimpan harta bendanya di suatu tempat yang sangat rahasia. Jika tidak, cincin itu dibawa mati. Berarti ada di jari tangannya.”

“Tapi di mana mayatnya dikubur?”

“Pasti di pulau kekuasaannya. Di Pulau Taring Cumi.”

“Apakah aku boleh pergi mencarinya, Guru?”

“Penombak Samudera merebut cincin itu dari Raja Kerajaan Sluput.”

“Berarti cincin itu milik sah Raja Kerajaan Sluput.”

“Kerajaan Sluput sudah hancur, rajanya pun sudah mati. Jadi cincin itu barang bebas.”

“Berarti aku boleh memilikinya jika mendapatkannya, Guru?”

“Kau simpulkan sendiri,” jawab Ki Robek yang membuat muridnya tersenyum. “Untuk apa kau ingin memilikinya?”

“Untuk aku berikan kepada seorang gadis. Hehehe!”

“Jadi, kau ingin menjadi perampok budiman atau pergi ke Pulau Taring Cumi untuk mencari Cincin Mata Pelangi demi perempuan?” tanya Ki Robek.

Sebelum Rugi Sabuntel menjawab, Ki Robek sudah mengingatkan.

“Ingat syarat pertama. Jangan sampai karena urusan wanita, kau sudah berpaling sebelum menjadi perampok.”

“Hahaha!” Sang murid justru tertawa.

Rugi Sabuntel jadi menggaruk hidungnya yang tidak gatal. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar