*Rudi Adalah Cintaku*
Seperti pawai geng
motor, meski hanya tiga motor dengan hitungan orang berjumlah enam kepala. Yang
membuat ngeri bagi orang yang melihatnya adalah golok-golok terhunus yang
mereka genggam.
Warga desa nelayan
yang belum tahu atau mendengar ada kejadian buruk yang membuat marah, jelas
jadi terkejut dan bertanya-tanya. Ketika warga desa nelayan mengenali bahwa
pembawa golok itu adalah Haji Suharja dan para karyawannya, maka mereka segera
mengikuti dengan berlari, karena kemungkinan besar tujuannya adalah rumah Haji
Suharja.
Jika Tahang dan Rusli
langsung menuju ke kontrakan yang disewa Dendi di mana dia melecehkan Vina
Seruni, maka Suharja Gendara dan Ambo Dalle langsung menuju ke rumahnya.
Di rumah besar itu
ternyata sudah ramai orang berkerumun di pintu dan teras. Bagi warga yang tidak
mendapat slot di ambang pintu, maka mereka melihat ke dalam rumah lewat jendela
kaca.
Suara motor yang
datang membuat orang banyak segera menengok untuk mengetahui siapa yang datang.
“Bubar semua! Bubar!”
teriak Suharja sambil mengangkat goloknya, memberi ancaman kepada warga yang
kebanyakan wanita dan anak-anak.
“Aaa! Aaa! Aaa!”
jerit warga ketakutan karena melihat Suharja seperti setan yang sedang
kesetanan.
Dalam waktu singkat,
teras rumah itu bersih dari warga. Mereka bergeser berkumpul di halaman karena
menjaga jarak. Mereka khawatir jika Suharja tiba-tiba mengejar mereka tanpa
alasan yang jelas.
Sementara itu, suara
tangis terdengar di dalam rumah. Mereka yang ada di dalam adalah keluarga dan
kerabat dekat saja.
“Mana Vina? Mana?!”
teriak Suharja marah sambil berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
Ketika dia masuk, dia
sudah bisa melihat Vina yang habis menangis di dalam pelukan ibunya yang masih
menangis.
“Benar Dendi perkosa
kamu, hah?!” tanya Suharja sangar sambil datang dan mencengkeram kepala
putrinya, agar sang putri fokus menatapnya.
Cara datang Suharja
yang menghunus golok jelas membuat was-was keluarga yang kebanyakan adalah
wanita.
Melihat ayahnya
datang seperti orang gila marah, membuat Vivi Milenia semakin takut dan
menangis kejer.
“Bapaaak! Bapaaak!
Huuu …!” jerit Vivi histeris di dekat pintu dapur.
Melihat itu, Marawe
cepat berlari dan memeluk Vivi untuk menenangkannya.
“Suharja! Jangan
bikin takut anakmu!” hardik Marawe.
“Jawab, Vina! Benar,
kamu diperkosa Dendi?!” bentak Suharja sambil mengguncangkan kepala Vina yang
masih dalam genggamannya. Ia tidak mengindahkan hardikan saudaranya.
“Iya, Pak,” jawab
Vina lirih sambil mengangguk pelan.
Suharja mendorong
lepas kepala Vina, membuat gadis itu kemudian menangis lagi.
“Cari anak binatang
itu! Potong tongkolnya kalau tertangkap!” teriak Suharja marah sambil berjalan
garang kembali keluar ke teras.
“Bapak! Jangan bunuh
orang!” teriak Sunirah histeris sambil terus menangis. Sejak tadi dia sudah
lemas dan hanya bisa meratapi nasib anaknya.
Suharja berhenti
sejenak sambil menatap tajam dengan mata yang merah kepada warga yang
berkerumun di halaman rumahnya hingga di luar pagar.
“Kalian senang
melihat ke-malu-an keluargaku?!” teriak Suharja kepada warga. Lalu teriaknya
sambil mengacungkan goloknya, “Bubar semua! Bubar kalian!”
Ancaman dari orang
yang mungkin sedang gelap mata jelas adalah perkara berbahaya. Maka itu, warga
segera membubarkan diri karena takut.
Sebuah sepeda motor
yang membonceng Haji Daeng Tanri tiba dan langsung masuk ke halaman.
Suharja segera maju
menghampiri ayah dari pacar putrinya itu.
“Hancur kehormatanku,
Daeng. Sudah tidak pantas anakku mengikat hati dengan Keluarga Tanri. Sudah
hitam mukaku. Lebih baik Daeng tidak melihat aib di rumah ini,” kata Suharja
yang tampak menghormati Daeng Tanri.
“Jangan langsung
ambil keputusan besar di waktu kamu marah, Ji. Bisa kita bicarakan di saat
kepala kita sudah dingin,” kata Daeng Tanri lembut dengan suara bass-nya. Ia
memang lebih tua daripada Suharja.
“Saya harus tangkap
Dendi, Daeng,” kata Suharja lalu pergi naik di boncengan sepeda motor Ambo
Dalle. Mereka bergegas pergi menuju ke kontrakan.
Sementara Daeng Tanri
berjalan menuju ke rumah.
“Daeng Haji!” pekik
Vina sambil bangkit dan berlari memeluk kaki Daeng Tanri. Sambil menangis yang
kembali meledak, ia berkata, “Maafkan Vina, Daeng Haji. Huuu …!”
“Jangan begitu, Nak,”
sergah Daeng Haji sambil menuntun Vina agar berdiri dan tidak memeluk kakinya.
Namun, Vina
bersikeras tidak mau bangun dan terus memeluk kaki Daeng Tanri.
“Saya sudah
mengkhianati Daeng Haji dan Rudi. Maafkan Vinaaa. Huuu …!”
“Iya, iya, Daeng
maafkan. Bangun dulu, tenangkan perasaanmu, Nak,” kata Daeng Tanri.
Sunirah datang kepada
anaknya dengan turut menangis pula.
“Sudah, Nak. Ayo
bangun!” bujuk Sunirah pula sambil berusaha mengangkat lengan putrinya.
“Tenangkan dirimu.
Istighfar, Nak. Rudi pasti akan memaafkan kamu,” kata Daeng Tanri.
Vina sangat dekat dan
hormat kepada ayah kekasihnya itu. Ia bahkan lebih akrab dengan Daeng Tanri
dibandingkan ayahnya sendiri, Suharja. Maka, ketika dia melihat sosok Daeng
Tanri, rasa bersalah yang sangat dalam seketika merasuki dirinya.
Namun, dia yakin
bahwa Rudi tidak akan memaafkannya. Ketika dia sekedar teleponan dengan Jamal
saja, Rudi sudah cemburu buta, bagaimana jadinya jika Rudi tahu bahwa Dendi
telah menggagahi dirinya.
Sementara itu di sisi
lain.
Ketika Tahang, Rusli,
Obba Gantra tiba di kontrakan, di sana mereka mendapati Aziz dan beberapa warga
lelaki sedang mengeluarkan semua barang-barang milik Dendi yang ada di dalam
kontrakan. Bahkan komputer dan beberapa alat elektronik sudah berserakan di
depan kontrakan dalam kondisi telah rusak.
“Mana Dendi? Mana
orang brengsek itu?” tanya Obba Gantra sambil turun dari sepeda motor dengan
menghunus golok.
“Sudah kabur. Tidak
tahu ke mana,” jawab Zainuddin.
Memang, Aziz dan
beberapa lelaki yang marah mencoba mencari Dendi di kontrakan dan sekitarnya,
tetapi Dendi tidak ditemukan.
“Aziz, kamu punya
nomor hp-nya, kan?” tanya Tahang kepada Aziz.
“Punya,” jawab Aziz.
“Coba telepon!” suruh
Tahang.
Aziz lalu mengeluarkan
ponselnya untuk menelepon.
“Biar saya yang coba
cari di PT-nya,” kata Rusli kepada Tahang.
“Iya,” ucap Tahang
seraya mengangguk.
Rusli segera memutar
sepeda motornya dan pergi bersama Obba.
“Hp-nya dimatikan,”
kata Aziz.
“Kurang ajar sekali
anak setan itu!” maki Tahang sok gede, padahal usianya jauh lebih muda
dibandingkan Dendi.
Dari arah depan
datang motor yang dikendarai oleh Ambo Dalle dan Suharja.
“Belum ketemu anak
bajingan itu, Tahang?” tanya Suharja sebelum motor benar-benar berhenti di
dekat mereka.
“Belum, Ji. Rusli
sama Daeng Obba sedang pergi mencari ke PT-nya,” jawab Tahang.
“Bakar semua barang
Dendi!” perintah Suharja.
Sejumlah lelaki yang
telah berkumpul di tempat itu, segera bergerak mengeluarkan barang-barang milik
Dendi yang masih ada di dalam kontrakannya.
Suharja lalu
berteriak kepada orang banyak, “Siapa yang bisa membawa Dendi ke depan saya,
saya beri uang dua juta!”
Maka riuhlah warga
mendengar sayembara dadakan tersebut.
Maka hari itu, banyak
orang yang terlibat dalam pencarian terhadap Dendi. Suharja juga meminta
bantuan Pak RT mengerahkan warga untuk mencari keberadaan Dendi. Namun, Dendi
seperti hilang ditelan bumi. Yang membuat heran, padahal Dendi tidak memiliki
sepeda motor untuk kabur jauh.
Namun, setelah
dicari-cari ke berbagai tempat dan ditanya-tanya ke banyak orang, akhirnya
didapati satu kejelasan dari seorang teman dekat Dendi yang bernama Limbong.
“Tadi sebelum ramai-ramai, Dendi datang ke rumah saya pinjam motor. Katanya ada urusan darurat. Ya saya kasih pinjam. Tapi sampai sekarang motor saya belum dipulangkan. Hilang sudah motor saya,” kata Limbong lemas karena sudah yakin bahwa motornya dibawa kabur. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar