*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
“Wahai, Mak Gendong pujaan perutku!” kata Rugi Sabuntel seperti orang yang bersyair.
Rugi Sabuntel tahu-tahu muncul di jendela kedai, tepat
di depan hidung Mak Gendong yang sedang mengulek sambal kunyit dengan jurus
Sepuluh Gelombang Kanan, Sepuluh Gelombang Kiri.
“Tolol monyet!” pekik Mak Gendong terkejut.
“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel kencang.
“Den Pendekar, buat Emak tergendong-gendong saja,”
ucap Mak Gendong. Lalu katanya ketus tapi menggoda, “Jangan merayu jika tidak
mau mencumbuku.”
“Hahaha! Setidaknya Mak Gendong bisa senang
tergendong-gendong jika aku memuja,” kata Rugi Sabuntel masih tertawa.
“Hihihi!” tawa Mak Gendong senang. “Loooh, hari ini
bukan hari upahan di gudang jagung, kenapa mau minta makannya sore?”
“Bukan buatku, Mak, tapi buat Guru. Bungkuskan aku
empat, Mak.”
“Memangnya guru Den Pendekar ada empat orang?” tanya
Mak Gendong.
“Hanya Ki Robek seorang, Mak.”
“Ki Robek juga makannya banyak?” tanya Mak Gendong.
“Guru makannya hanya satu, yang tiga lagi jatahku. Aku
mau makan bersama Guru di hutan,” kata Rugi Sabuntel.
Tepat pada saat itu, Blikik lewat bersama sesama
pekerja gudang jagung. Mereka baru pulang dari gudang.
“Rugi!” panggil Blikik.
Rugi Sabuntel segera menengok. Ia segera tersenyum
sambil melambaikan tangan kepada reklan-rekan seprofesinya. Blikik berlari
datang dan meninggalkan rekan-rekan yang bersamanya.
“Kau ditanyakan oleh Nyai Demang!” ujar Blikik.
Seketika wajah cantik Nyai Demang tergambar di benak
Rugi Sabuntel.
“Kau jawab apa?” tanya Rugi Sabuntel.
“Aku jawab, kau sedang latihan untuk ikut pertandingan
Duel Pendekar Butogilo,” jawab Blikik.
“Kenapa kau dusta?”
“Tidak mungkin aku menjawab jujur jika kau ingin
menjadip!”
Rugi Sabuntel cepat menjepit bibir Blikik dengan jari
tangannya, bukan dengan bibirnya. Dia segera menarik Blikik pergi ke meja
kosong di atas aliran irigasi.
“Lalu apa tanggapan Nyai Demang?” tanya Rugi
Sabuntel.
“Nyai Demang justru gembira dan akan datang menonton
kau berlaga,” jawab Blikik.
Rugi Sabuntel terbeliak melototi Blikik sebagai tanda
marahnya, tapi marah sayang.
“Bagaimana aku akan berlaga, sedangkan aku tidak ikut
mendaftar?” tanya Rugi Sabuntel.
“Jika demikian, mendaftarlah. Jika tidak, dan aku
ketahuan membohongi Nyi Demang, Nyai Demang akan memotongku,” kata Blikik.
“Apamu yang akan dipotong?” tanya Rugi Sabuntel.
“Buntutku!” jawab Blikik serius.
“Kau bukan monyet yang punya buntut,” kata Rugi
Sabuntel.
“Buntut depanku!” jawab Blikik dengan berbisik.
“Hahaha!” Itu membuat Rugi Sabuntel tertawa setelah
kesal dengan ulah sahabat terdekatnya itu.
“Bagaimana aku tidak bergairah jika ketika mengancam
seperti itu, Nyai Demang berbisik di telingaku?” kata Blikik setengah mengeluh.
“Lalu kepada siapa kau lampiaskan gairahmu?”
“Yang jelas bukan kepada Nyai Demang.”
“Ya ya ya, aku mengerti. Hahaha!” ucap Rugi Sabuntel
lalu tertawa pendek. Lalu terkanya, “Pasti dengan Boneng Wong.”
“Kau pikir aku singkong makan singkong?!” bentak
Blikik sewot.
“Hahaha!” Rugi Sabuntel semakin tertawa.
“Kau harus ikut mendaftar di Duel Pendekar Butogilo.
Kau pasti tahu, Nyai Demang tidak pernah main-main jika sudah sampai mengancam
dengan gaya seperti itu,” tandas Blikik.
“Baiklah, tapi kau yang harus pergi mendaftarkan
namaku kepada Demang. Sebab, besok aku akan pergi ke Kademangan Buto Cangkem,”
kata Rugi Sabuntel.
“Untuk apa?”
“Kau urus sendiri saja tugasmu!” ketus Rugi Sabuntel.
“Baiklah,” ucap Blikik patuh.
“Jadi, kau pasti mendapat tugas lebih dari Nyai
Demang?” terka Rugi Sabuntel.
“Hahaha! Karena kau tidak ada, Nyai Demang terpaksa
menyuruhku ke sana-sini. Lumayan dapat upah lebih nantinya.”
“Jadi kau tidak usah mengeluh.”
“Tapi tetap saja sikapnya tidak semesra dan segenit
jika dia menyuruhmu. Padahal, untuk urusan ketampanan, aku lebih tampan
daripada kau.
“Mungkin Nyai Demang tahu, kau buaya lelaki tukang
kawin.”
“Hehehe!”
Mak Gendong datang membawa bungkusan pesanan Rugi
Sabuntel.
“Pesanan Den Pendekar Rugi siap digondol,” kata Mak
Gendong sembari tersenyum manis.
“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel.
Setelah mereka bertiga berpisah, Blikik pulang
sebentar ke rumahnya untuk bebersih dan ganti pakaian.
Setelah tampil ganteng, ....
“Kakang mau ke mana? Ganteng dan wangi sore-sore
seperti ini,” tanya Safilem, istri Blikik yang cantik berdahi lebar dan beralis
panjang natural.
“Mau ke arena duel di Desa Buangbiang,” jawab Blikik.
“Kakang mau ikut bertarung?” tanya Safilem dengan raut
cemas.
“Tidak.”
“Lalu untuk apa ke sana jika tidak mau bertarung?”
cecar Safilem.
“Mendaftar.”
“Mendaftar bertarung?” kejar Safilem.
“Iya.”
“Jangan, Kakang. Aku belum mau menjadi janda bunga!”
kata Safilem sambil memegangi lengan kekar suaminya.
“Aku juga belum mau menggantikanmu dengan istri arwah
gentayangan,” kata Blikik. “Aku mau mendaftar buat Rugi.”
“Oooh,” monyong Safilem. “Coba cerita sejak awal.”
“Hmmm. Kau saja yang terlalu curiga,” gerutu Blikik.
“Kalau Kakang berangkat sore begini, berarti Kakang
akan bermalam?” tanya Safilem.
“Tidak. Aku akan meminjam pedati untuk pergi ke Desa
Buangbiang,” jawab Blikik. “Aku berangkat, Sayangku.”
“Hati-hati, Kakang. Ingat, besok pagi harus bekerja
lagi,” kata Safilem mengingatkan.
“Iya,” jawab Blikik sambil tersenyum palsu, karena
hatinya sedikit dongkol mendapat soal-soal investigasi. Tapi.... “Mmmuah!”
Blikik lalu memegang tengkuk istrinya dan mendekatkan
wajahnya. Dia memberikan kecupan di telinga kanan istrinya, membuat istrinya
menggelinjang karena geli. Namun, itulah yang membuat istrinya suka, dicium di
telinga.
Maka Blikik pun dilepas dengan senyuman sang istri.
Dari rumah, Blikik berjalan kaki pergi ke suatu tempat
yang cukup jauh dari rumahnya.
Dia mendatangi sebuah rumah sederhana tapi
berpekarangan cukup luas. Di pekarangan terlihat seorang lelaki bertelanjang
dada sedang mempasak bagian bak pedati yang tidak berbinatang. Lelaki itu
berusia sekitar separuh abad lebih sebelas tahun.
“Salam datang, Ki Banting!” ucap Blikik memberi salam
kepada lelaki tersebut.
“Mari datang!” jawab lelaki yang disebut Ki Banting
oleh Blikik. Dia lalu menengok melihat, “Eh, kau, Nak Blikik. Mari silakan!”
“Tidak usah, Ki. Aku hanya ingin meminjam pedati jika
diperkenankan,” kata Blikik.
“Oh, boleh. Untuk calon menantu, tentu saja boleh.
Hahaha! Tapi, mau ke mana, Nak?” kata Ki Banting.
“Mau mengajak Citayam jalan-jalan ke Desa Buangbiang,
Ki,” jawab Blikik lembut dengan gestur yang penuh kesantunan, maklum di depan
calon mertua.
“Oh, tapi pulangnya jangan begitu larut,” kata Ki
Banting.
“Iya, Ki.”
“Citayaaam!” teriak Ki Banting sambil memandang ke
arah pintu rumah yang terbuka.
“Iya, Ayah!” sahut satu suara perempuan dari dalam
rumah.
Suara wanita itu terdengar merdu di telinga Blikik,
membuat pemuda beristri itu tersenyum sembari turut memandang ke arah pintu
rumah.
“Calon suamimu mengajakmu jalan-jalan!” teriak Ki
Banting lagi.
Setelah itu tidak ada sahutan lagi dari dalam, tetapi
justru muncullah sesosok gadis cantik bertubuh padat nan sekal. Rambutnya
terurai natural sepanjang punggung.
Tersenyum lebarlah Blikik dengan perasaan bahagia
melihat wajah dan sosok calon istri keduanya.
“Kakang Blikik!” sebut Citayam dengan rona wajah
berseri-seri bertemu dengan calon suaminya, yang katanya sedang menabung untuk biaya
pernikahan. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar