PKK9: Ajak Calon Istri Kedua


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

“Wahai, Mak Gendong pujaan perutku!” kata Rugi Sabuntel seperti orang yang bersyair.

Rugi Sabuntel tahu-tahu muncul di jendela kedai, tepat di depan hidung Mak Gendong yang sedang mengulek sambal kunyit dengan jurus Sepuluh Gelombang Kanan, Sepuluh Gelombang Kiri.

“Tolol monyet!” pekik Mak Gendong terkejut.

“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel kencang.

“Den Pendekar, buat Emak tergendong-gendong saja,” ucap Mak Gendong. Lalu katanya ketus tapi menggoda, “Jangan merayu jika tidak mau mencumbuku.”

“Hahaha! Setidaknya Mak Gendong bisa senang tergendong-gendong jika aku memuja,” kata Rugi Sabuntel masih tertawa.

“Hihihi!” tawa Mak Gendong senang. “Loooh, hari ini bukan hari upahan di gudang jagung, kenapa mau minta makannya sore?”

“Bukan buatku, Mak, tapi buat Guru. Bungkuskan aku empat, Mak.”

“Memangnya guru Den Pendekar ada empat orang?” tanya Mak Gendong.

“Hanya Ki Robek seorang, Mak.”

“Ki Robek juga makannya banyak?” tanya Mak Gendong.

“Guru makannya hanya satu, yang tiga lagi jatahku. Aku mau makan bersama Guru di hutan,” kata Rugi Sabuntel.

Tepat pada saat itu, Blikik lewat bersama sesama pekerja gudang jagung. Mereka baru pulang dari gudang.

“Rugi!” panggil Blikik.

Rugi Sabuntel segera menengok. Ia segera tersenyum sambil melambaikan tangan kepada reklan-rekan seprofesinya. Blikik berlari datang dan meninggalkan rekan-rekan yang bersamanya.

“Kau ditanyakan oleh Nyai Demang!” ujar Blikik.

Seketika wajah cantik Nyai Demang tergambar di benak Rugi Sabuntel.

“Kau jawab apa?” tanya Rugi Sabuntel.

“Aku jawab, kau sedang latihan untuk ikut pertandingan Duel Pendekar Butogilo,” jawab Blikik.

“Kenapa kau dusta?”

“Tidak mungkin aku menjawab jujur jika kau ingin menjadip!”

Rugi Sabuntel cepat menjepit bibir Blikik dengan jari tangannya, bukan dengan bibirnya. Dia segera menarik Blikik pergi ke meja kosong di atas aliran irigasi.

“Lalu apa tanggapan Nyai Demang?” tanya Rugi Sabuntel.                   

“Nyai Demang justru gembira dan akan datang menonton kau berlaga,” jawab Blikik.

Rugi Sabuntel terbeliak melototi Blikik sebagai tanda marahnya, tapi marah sayang.

“Bagaimana aku akan berlaga, sedangkan aku tidak ikut mendaftar?” tanya Rugi Sabuntel.

“Jika demikian, mendaftarlah. Jika tidak, dan aku ketahuan membohongi Nyi Demang, Nyai Demang akan memotongku,” kata Blikik.

“Apamu yang akan dipotong?” tanya Rugi Sabuntel.

“Buntutku!” jawab Blikik serius.

“Kau bukan monyet yang punya buntut,” kata Rugi Sabuntel.

“Buntut depanku!” jawab Blikik dengan berbisik.

“Hahaha!” Itu membuat Rugi Sabuntel tertawa setelah kesal dengan ulah sahabat terdekatnya itu.

“Bagaimana aku tidak bergairah jika ketika mengancam seperti itu, Nyai Demang berbisik di telingaku?” kata Blikik setengah mengeluh.

“Lalu kepada siapa kau lampiaskan gairahmu?”

“Yang jelas bukan kepada Nyai Demang.”

“Ya ya ya, aku mengerti. Hahaha!” ucap Rugi Sabuntel lalu tertawa pendek. Lalu terkanya, “Pasti dengan Boneng Wong.”

“Kau pikir aku singkong makan singkong?!” bentak Blikik sewot.

“Hahaha!” Rugi Sabuntel semakin tertawa.

“Kau harus ikut mendaftar di Duel Pendekar Butogilo. Kau pasti tahu, Nyai Demang tidak pernah main-main jika sudah sampai mengancam dengan gaya seperti itu,” tandas Blikik.

“Baiklah, tapi kau yang harus pergi mendaftarkan namaku kepada Demang. Sebab, besok aku akan pergi ke Kademangan Buto Cangkem,” kata Rugi Sabuntel.

“Untuk apa?”

“Kau urus sendiri saja tugasmu!” ketus Rugi Sabuntel.

“Baiklah,” ucap Blikik patuh.

“Jadi, kau pasti mendapat tugas lebih dari Nyai Demang?” terka Rugi Sabuntel.

“Hahaha! Karena kau tidak ada, Nyai Demang terpaksa menyuruhku ke sana-sini. Lumayan dapat upah lebih nantinya.”

“Jadi kau tidak usah mengeluh.”

“Tapi tetap saja sikapnya tidak semesra dan segenit jika dia menyuruhmu. Padahal, untuk urusan ketampanan, aku lebih tampan daripada kau.

“Mungkin Nyai Demang tahu, kau buaya lelaki tukang kawin.”

“Hehehe!”

Mak Gendong datang membawa bungkusan pesanan Rugi Sabuntel.

“Pesanan Den Pendekar Rugi siap digondol,” kata Mak Gendong sembari tersenyum manis.

“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel.

Setelah mereka bertiga berpisah, Blikik pulang sebentar ke rumahnya untuk bebersih dan ganti pakaian.

Setelah tampil ganteng, ....

“Kakang mau ke mana? Ganteng dan wangi sore-sore seperti ini,” tanya Safilem, istri Blikik yang cantik berdahi lebar dan beralis panjang natural.

“Mau ke arena duel di Desa Buangbiang,” jawab Blikik.

“Kakang mau ikut bertarung?” tanya Safilem dengan raut cemas.

“Tidak.”

“Lalu untuk apa ke sana jika tidak mau bertarung?” cecar Safilem.

“Mendaftar.”

“Mendaftar bertarung?” kejar Safilem.

“Iya.”

“Jangan, Kakang. Aku belum mau menjadi janda bunga!” kata Safilem sambil memegangi lengan kekar suaminya.

“Aku juga belum mau menggantikanmu dengan istri arwah gentayangan,” kata Blikik. “Aku mau mendaftar buat Rugi.”

“Oooh,” monyong Safilem. “Coba cerita sejak awal.”

“Hmmm. Kau saja yang terlalu curiga,” gerutu Blikik.

“Kalau Kakang berangkat sore begini, berarti Kakang akan bermalam?” tanya Safilem.

“Tidak. Aku akan meminjam pedati untuk pergi ke Desa Buangbiang,” jawab Blikik. “Aku berangkat, Sayangku.”

“Hati-hati, Kakang. Ingat, besok pagi harus bekerja lagi,” kata Safilem mengingatkan.

“Iya,” jawab Blikik sambil tersenyum palsu, karena hatinya sedikit dongkol mendapat soal-soal investigasi. Tapi.... “Mmmuah!”

Blikik lalu memegang tengkuk istrinya dan mendekatkan wajahnya. Dia memberikan kecupan di telinga kanan istrinya, membuat istrinya menggelinjang karena geli. Namun, itulah yang membuat istrinya suka, dicium di telinga.

Maka Blikik pun dilepas dengan senyuman sang istri.

Dari rumah, Blikik berjalan kaki pergi ke suatu tempat yang cukup jauh dari rumahnya.

Dia mendatangi sebuah rumah sederhana tapi berpekarangan cukup luas. Di pekarangan terlihat seorang lelaki bertelanjang dada sedang mempasak bagian bak pedati yang tidak berbinatang. Lelaki itu berusia sekitar separuh abad lebih sebelas tahun.

“Salam datang, Ki Banting!” ucap Blikik memberi salam kepada lelaki tersebut.

“Mari datang!” jawab lelaki yang disebut Ki Banting oleh Blikik. Dia lalu menengok melihat, “Eh, kau, Nak Blikik. Mari silakan!”

“Tidak usah, Ki. Aku hanya ingin meminjam pedati jika diperkenankan,” kata Blikik.

“Oh, boleh. Untuk calon menantu, tentu saja boleh. Hahaha! Tapi, mau ke mana, Nak?” kata Ki Banting.

“Mau mengajak Citayam jalan-jalan ke Desa Buangbiang, Ki,” jawab Blikik lembut dengan gestur yang penuh kesantunan, maklum di depan calon mertua.

“Oh, tapi pulangnya jangan begitu larut,” kata Ki Banting.

“Iya, Ki.”

“Citayaaam!” teriak Ki Banting sambil memandang ke arah pintu rumah yang terbuka.

“Iya, Ayah!” sahut satu suara perempuan dari dalam rumah.

Suara wanita itu terdengar merdu di telinga Blikik, membuat pemuda beristri itu tersenyum sembari turut memandang ke arah pintu rumah.

“Calon suamimu mengajakmu jalan-jalan!” teriak Ki Banting lagi.

Setelah itu tidak ada sahutan lagi dari dalam, tetapi justru muncullah sesosok gadis cantik bertubuh padat nan sekal. Rambutnya terurai natural sepanjang punggung.

Tersenyum lebarlah Blikik dengan perasaan bahagia melihat wajah dan sosok calon istri keduanya.

“Kakang Blikik!” sebut Citayam dengan rona wajah berseri-seri bertemu dengan calon suaminya, yang katanya sedang menabung untuk biaya pernikahan. (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar