*Rudi Adalah Cintaku*
Bdak!
Aziz mendelik sambil menelan ludahnya yang tak semanis
jambu bol, ketika Haji Suharja meletakkan goloknya ke atas meja dengan setengah
melempar.
Aziz telah “diseret” ke ruang tamu rumah Haji Suharja
untuk disidang. Di ruangan itu, selain Haji Suharja, ada pula Pak RT Jaruddin, Haji
Goli, Obba Gantra, Haji Daeng Tanri, Marawe dan Murni.
Sementara di teras, berjaga Ambo Dalle, Tahang, Rusli,
dan Tawwa karyawan Daeng Tanri.
Suasana di luar sudah cenderung sepi. Warga sudah
bubar dan mempercayakan urusan Vina kepada keluarga besarnya.
Lalu di mana Vina? Jawabannya adalah Vina untuk
sementara disuruh masuk ke kamar dan ditemani oleh ibunya dalam kondisi berbagi
kesedihan.
“Saya diperkosa, Pak, tapi saya belum dimasuki!”
Itulah jawaban Vina ketika dia ditanya apakah dia
telah “dimasuki” atau belum.
Namun yang menjadi masalah, menurut bisikan Marawe
kepada Suharja, saat Vina dia temukan, Vina sudah bugil total alias buto dan
Dendi sendiri meninggalkan warisan celana dalam.
Karena keterangan Vina dan Marawe yang bertentangan,
maka Aziz pun harus diinterogasi selaku saksi utama.
“Aziz, jawab yang jujur. Vina diperkosa atau tidak?”
tanya Suharja dengan tatapan tajam kepada Aziz, seolah-olah dia bisa membaca
kejujuran atau kebohongan dari bola mata saja.
Mereka yang ada di ruangan itupun fokus kepada wajah
Aziz. Justru dia sekarang yang seolah-olah menjadi terdakwanya.
“Sebenarnya … saya yang bilang bahwa Vina diperkosa,
Ji. Walaupun yang saya lihat kayaknya enggak seperti itu ….”
“Jadi yang kamu lihat sebenarnya seperti apa
kejadiannya?” tanya Haji Suharja agak membentak.
“Begini sebenarnya, Ji. Ceritanya kan laptop saya ada
masalah. Eh iya, laptop saya mana ya, Ji?” Aziz malah bertanya setelah dia
teringat dengan laptopnya yang sempat dia lupakan.
“Udah cerita saja, Ziz. Laptop enggak akan jalan ke
mana-mana. Kalau laptop kamu hilang, Haji yang bayar,” kata Haji Daeng Tanri.
“Iya, Ji,” jawab Aziz sambil tersenyum asin. “Karena
laptop saya rusak, jadi pagi-pagi saya ke kontrakan Dendi. Ada orderan penting,
Ji. Pas saya sampai, pintu tertutup, terus ada sandal cewek, Ji. Awalnya saya
kira saudara perempuan Dendi lagi mengunjungi Dendi. Eh pas saya salam,
assalamu ‘alaikum! Yang jawab malah suara samar-samar desahan perempuan, Ji.
Saya langsung curiga si Dendi lagi mantap yahud sama perempuan di dalam. Saya
dorong pintunya. Astaghfirullaaah! Itu Vina sudah te el je, Ji. Cuma apamnya
yang ditutupi pakai baju, Ji. Si Dendi buru-buru pakai celana. Mungkin, pas
dengar saya salam, Dendi langsung berhenti. Kalau Vina diperkosa, pasti Vina
berontak, Ji. Berantem sama Rudi saja dia bisa melawan. Kalau seandainya dia
diperkosa, seharusnya Vina melawan, Ji. Enggak te el je begitu.”
“Apa itu te el je?” tanya Daeng Tanri yang istilah itu
sudah disebut beberapa kali, tetapi dia sendiri yang tidak mengerti.
“Te el je itu maksudnya telanjang, Ji,” jawab RT
Jaruddin.
“Lalu kenapa kamu bilang Vina diperkosa?” tanya
Suharja.
“Menjaga nama baik. Itu maksud saya, Ji. Coba kalau
saya bilang Vina sedang mantap sukses, bisa jadi aib besar bagi Vina dan
keluarga Haji Suharja. Kalau judulnya ‘Vina Diperkosa Dendi’, itu artinya Vina
hanyalah korban dan Dendi penjahatnya,” kilah Aziz yang sudah tidak setegang
tadi.
“Benar kata Aziz, Ji,” kata Marawe. “Aziz mencoba
melindungi nama baik Vina. Waktu saya ke kontrakan Dendi, saya lihat Vina
memang telanjang. Celana segitiganya sudah lepas, sama dengan celana segitiga
Dendi. Kalau sudah lepas sama lepas, apa iya itu perkosaan? Pertanyaannya,
apakah Vina sudah dimasuki atau belum.”
“Tapi, kalau memang Vina sudah dimasuki, seharusnya
ada tanda-tanda dari cara jalan Vina,” kata Haji Goli.
“Tapi Vina jalannya normal. Cuma dia terlalu sedih,”
kata Marawe.
“Kecuali kalau sebelumnya Vina sudah enggak gadis
lagi,” kata Haji Goli lagi.
Kali ini perkataan Haji Goli membuat Suharja memandang
melotot kepada pamannya itu.
“Kenapa kamu melihat ke saya, Suharja?” tanya Haji
Goli yang tidak suka dengan tatapan keponakannya itu. “Seharusnya kamu tanya ke
Rudi.”
“Kenapa bawa-bawa anak saya, Daeng Haji?” protes Daeng
Tanri.
“Semua orang di desa ini tahu, Tanri. Rudi dan Vina
pacaran sudah berapa tahun lamanya. Anak muda mana yang tahan godaan setan,”
ketus Haji Goli. Meski dia sudah terlalu sepuh, tapi otak dan lidahnya masih
lihai bersilat.
“Maaf, Daeng Haji. Tapi tidak begitu,” kata Daeng
Tanri dengan nada suara ditekan dan ekspresinya menunjukkan ketidaksukaan atas
tudingan tidak langsung Haji Goli.
Jika bukan orang tua yang sudah tua, mungkin Daeng
Tanri berani ribut saat itu juga.
“Saya bisa jamin bahwa Rudi tidak pernah memasuki
Vina. Saya selalu dan sangat berpesan kepada anakku itu agar menghargai
keperawanan suci seorang perempuan!” tegas Daeng Tanri.
“Lalu kenapa kamu tidak tangkap Dendi? Malah lari
kabur,” tanya Marawe.
“Begini, Mak. Waktu itu seperti suka sama suka, jadi
tidak mungkin saya campur garam ke kopi,” kilah Aziz. “Kalau saya tangkap Dendi
dan ternyata dia selingkuhan Vina, saya yang bisa dibenci seumur mati sama
Vina. Saya dan Vina, dan Rudi adalah sahabat. Saya tidak mau merusak hubungan
kita hanya karena suatu rahasia.”
“Marawe, panggil Vina!” perintah Suharja kepada adik
iparnya.
Marawe lalu bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar.
Tidak berapa lama. Marawe datang lagi. Kali ini
bersama Vina dan ibunya, Sunirah.
Vina disuruh duduk di kursi, tempat Obba Gantra tadi
duduk. Sementara Obba berdiri di ambang pintu.
“Jawab yang jujur, Vina. Sebenarnya kamu diperkosa
atau berbuat itu suka sama suka dengan Dendi?” tanya Suharja.
“Pak, Vina sudah jawab berulang kali dari tadi,” kata
Sunirah membela putrinya.
“Tapi Aziz yang pertama melihat kamu di dalam
kontrakan Dendi, dan barang bukti yang dilihat oleh bibimu, tidak menunjukkan
bahwa kamu sedang diperkosa. Jawab yang jujur, Vina!” teriak Suharja membentak
keras.
“Saya enggak ada hubungan apa-apa sama Dendi, Bapaaak!
Huuu …!” jawab Vina berteriak lalu menangis keras.
Namun, Suharja tidak peduli dengan tangisan putrinya
saat itu.
“Kalau kamu diperkosa, kenapa kamu tidak melawan,
Vina?!” Suharja bertanya dengan nada yang lebih keras, seakan-akan dia sedang
dibohongi oleh anaknya itu.
“Saya tidak tahu, Bapak. Saya tidak tahuuu! Kenapa
Bapak tidak percaya? Huuu …!” jawab Vina sambil menangis tersedu-sedu.
Sunirah segera memeluk putrinya dari samping kursi.
“Sudah, Pak. Sudah! Hiks hiks hiks!” ucap Sunirah
sambil menangis pula.
“Bagaimana saya bisa percaya kalau saksi dan bukti
tidak menunjukkan kamu diperkosa Dendi, tapi lebih kepada hubungan hina suka
sama suka?” kata Suharja.
“Kalau Bapak enggak mau percaya bahwa saya belum
dimasuki Dendi, saya bisa buktikan dengan Rudi malam ini juga. Biar Rudi
membuktikan bahwa saya sampai saat ini masih perawan. Saya yang merasakan kalau
seandainya keperawanan saya rusak!” kata Vina berteriak-teriak, mencoba melawan
dari tuduhan.
“Vina!” sebut satu suara lelaki yang seketika
mengejutkan Vina.
Vina dan semua orang cepat memandang ke ambang pintu.
Ternyata, di sana telah berdiri Rudi Handrak dengan wajah sedihnya.
“Ru-rudi,” ucap Vina lirih dan terbata, yang saat itu
merasa istana impiannya telah hancur berkeping-keping.
Saat itu juga Vina merasa telah menjadi seonggok kotoran yang begitu hina di depan mata pemuda tampan berkulit putih itu. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar