*Petualangan Tina dan Ayu*
Bab 2 dibintangi oleh:
1. - Tina Cihuy
2. - Ayu Nostalgia
3. - Salman Alfarisy
Hari ini Senin, 17 Juli 1995. Semua siswa di semua
sekolah pasti berangkat sedikit lebih awal, supaya tidak ditutupi pintu gerbang
karena datang telat di saat upacara bendera sudah dimulai. Tidak terkecuali
bagi para siswa dan siswi SMPN 2 Kalianda.
Di antara para siswa itu adalah dua sahabat kental
yang sering bertengkar karena salah paham dan salah mengerti, yakni Tina Cihuy
dan Ayu Nostalgia. Keduanya berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah yang
keberadaannya sekitar seratus meter dari jalan raya Trans Sumatera.
“Yuuu! Tin-tin-tinaaa!” teriak siswa bertubuh kurus,
berkulit cukup hitam, tapi model wajahnya punya rasa-rasa India atau Arab.
Hidungnya mancung dengan rambut yang keriting. Ia yang bernama Salman Alfarisy,
murid kelas 2B.
Salman, sapaan akrabnya, adalah sahabat kental dari
Tina dan Ayu. Akan tetapi, dia tidak satu kelas dengan Tina dan Ayu yang kelas
2A. Itu karena level kecerdasannya dengan kedua sahabat lawan jenisnya itu bisa
dibilang sama saja.
“Salaman dalang!” ucap Tina sambil berhenti berjalan.
“Hahahak! Kalau emaknya sampai tahu anaknya dibilang dalang
kawinan, nanti enggak bakal dapat kado agustusan kamu, Tina,” kata Ayu.
“Itu kan di luar kendali. Emaknya Salaman mah ngerti
saya. Hehehe…!” kata Tina bela diri.
Setelah berlari kecil, akhirnya Salman Alfarisy sampai di depan Tina dan Ayu.
“Hahaha! Bububu…” ucap Salman Alfarisy yang aslinya
gagap dan palsunya bicara lancar.
“Bubur?” tanya Ayu memotong.
“Bu-bu-bukan, tapi bu-bu-buku pe-pe-pes….”
“Mana ada buku dipepes? Hahahak!” potong Ayu lagi lalu
tertawa terbahak bersama Tina.
“Buku pesek tahu. Hahaha!” timpal Tina yang kian memperparah
tawa mereka.
“Hahaha!” Salman hanya ikut tertawa keras. Ia sudah
biasa dicandai oleh teman-temannya dengan format seperti itu. Jadi ia pun
menikmati sebagai leluconan di antara mereka. “Pe-pe-pesanan saya!”
“Ada,” jawab Tina sambil membuka tasnya.
“Be-be-be....”
“Bebek?” potong Ayu lagi.
“Ih, bu-bu-bukan. Ma-ma-maksud saya be-be-berapa?”
tandas Salman penuh perjuangan.
“Nih, saya geliin,” kata Tina.
“Beliin maksudnya,” ralat Ayu. Ia lalu protes,
“Wuiiih, Salman kamu beliin. Saya yang ngantar sampai pasar, sampai tetes
keringat penghabisan, ditegain kaya mentega!”
“Kalau lihat kamu, saya kan berani tega. Tapi kalau
lihat Salman, saya birahi, Sayang,” jawab Tina seraya senyum buatan kepada Ayu.
“Eh, Tina ngomong jorok!” tukas Ayu sambil menunjuk
wajah cantik Tina.
“Tina ngo-ngo-ngomong jo-jo-jorok!” tuding Salman
pula.
“Iiih, memang saya ngomong apaan?” tanya Tina
mengelak.
“Bi-bi-bi….”
“Bini?” terka Tina memotong pula.
“Birahi!” jawab Ayu tegas.
“Siapa yang ngomong birahi? Ih, amit-amit. Saya itu
ngomong berani, Sayang,” tandas Tina.
“Dasar!” rutuk Ayu.
Tina lalu memberikan tiga buku bekas yang kemarin ia
dan Ayu beli di pasar.
“Ibu Mo-mo-mo….”
“Monyet?” terka Ayu memotong.
“Waaah! Bu Mona dibilang mo-mo-monyet! Hahahak! Pa-pa-parah
Ayu!” teriak Salman sambil menunjuk wajah Ayu. Ia terus berjalan mundur di
depan kedua sahabat perempuannya itu.
“Awas kalau ngadu!” ancam Ayu seraya melotot kepada Salman.
“Enggaaak! Addaw!” teriak Salman lalu jatuh terduduk
karena tumitnya tersandin batu jalanan.
“Hahaha!” tawa Tina.
“Hahahak!” tawa Ayu lebih terbahak.
“Kenapa enggak bilang kalau ada batu?” tanya Salman
kesal sambil berdiri.
Ia lalu menepuk-nepuk celana putihnya yang kotor.
“Itu bisa lancar momongnya!” kata Tina terkejut.
“Iya ya. Kok bisa lancar ngomongnya?” tanya Ayu heran
pula.
“Ka-ka-kalau habis ja-ja-jatuh, biasanya gagap sa-sa-saya
jadi sembuh,” jawab Salman. Kini ia berjalan normal maju ke depan, bukan maju
ke belakang.
“Jatuh saja telur, biar momongnya enggak kesandung-sandung!”
kata Tina.
“Terus, bukan telur, Tina!” ralat Ayu.
“Salah sedikit aja kamu sewotin,” ketus Tina.
“Bukannya dari dulu begitu?” debat Ayu.
“Hahahak!” tawa terbahak Salman.
“Giliran ngetawain kita, kamu mah enggak gagap, Salamun
‘alaik,” kata Ayu.
“Hahaha!” tawa Salman lagi. “Itu ka-ka-kalau jantung
saya la-la-lagi girang.”
“Seperti tante-tante saja,” kata Ayu.
“Kok tan-tan-tante, Yu?” tanya Salman.
“Lah iya, tante-tante girang,” jelas Ayu.
“Hahaha!” Meledaklah tawa mereka bertiga,
sampai-sampai siswa lain yang lewat memerhatikan mereka.
“Te-te-terima kasih loh, Tina,” ucap Salman.
“Terima gaji apa, Sal?” tanya Tina.
“Ini, bu-bu-buku sudah dibeliin,” jawab Salman.
“Salman-salman, Sal. Semoga kamu cepat dewata, terus
nikah. Pasti gagap kamu sembuh,” kata Tina dengan kata-kata yang salah.
“Naaah! Tina mikirnya pasti joroook! Mikirnya sudah
dewasa-dewasaan dan nikah-nikahan,” tuding Ayu lagi.
“Ih, siapa yang mikir jorok? Kamu tuh yang tafsirnya
multi talenta!” balas Tina.
“Eh eh eh! Ki-ki-kita bertiga bikin grup yuk!” ajak Salman.
“Buat apaan?” tanya Tina.
“Biar ke-ke-keren aja, seperti Trio Kwek Kwek,” jawab Salman
sambil nyengir sapi. “Na-na-nanti, kalau ada tu-tu-tugas dari guru, ki-ki-kita
kerjain ba-ba-ba….”
“Bareng?” terka Ayu memotong.
“Be-be-benaaar. Se-se-seratus buat Ayu!” sorak Salman.
“Dosa ngerjain Guru, Sal!” hardik Ayu.
“Bu-bu-bukan ngerjain gu-gu-gu....”
“Guguk?” potong Ayu tidak beradab.
“Bukan ngerjain gu-gu-guru, tapi ngerjain tu-tu-tugasnya,”
ralat Salman.
“Bokek,” kata Tina setuju.
“Boleh, bukan bokek!” ralat Ayu. Lalu katanya
menanggapi, “Ayo banget. Jadi saya bisa ketemu terus dengan Salman.”
“Hahaha!” tawa Salman.
“Mau buat grup apa? Ninja Kids? Kura-Kura Tinja? Atau Geng
Iguana?” tanya Tina.
“Hahahak!” tawa Ayu dan Salman.
“Kura-Kura Ninja, bukan Kura-Kura Tinja! Tina
pikirannya jorok terus, sejorok kukunya,” kata Ayu.
Tina lalu melihat kukunya yang dikutek pink.
“Ah, kuku saya cantik-cantik saja, secantik orangnya,”
kata Tina.
“Hmmm, cantik dari Somalia,” kata Ayu. Lalu tanyanya
kepada Salman, “Grup apa?”
“Bagaimana kalau Tetete… Terio Antik?” usul Salman.
“Trio Antik?” tanya Ayu.
“Iya,” angguk Salman.
“Kenapa pilih nama Trio Udik?” tanya Tina.
“Trio Antik, Tinaaa!” tandas Ayu.
“Ka-ka-karena Ayu seksi,” jawab Salman.
“Wow!” pekik Ayu bergaya genit sambil menepak
pinggulnya.
“Tina li-li-lidahnya terkilir dan saya li-li-lidahnya
istime-me-mewah,” jelas Salman.
“Hahahak!” tawa Tina dan Ayu bersama.
“Kamu mah lidahnya kesandung-sandung. Istimewa dari
mana?” sergah Ayu.
“Da-da-dari Somalia. Hahaha!” kata Salman yang
memancing mereka tertawa bersama lagi.
“Setuju!” kata Tina.
“Sedelapan!” kata Ayu juga.
“Setuju, bukan sedelapan, Ayuuu!” ralat Tina membalas
Ayu.
“Iya, saya juga tahu, Tina Sayaaang! Saya sengajaaaa!”
kata Ayu.
“Hahaha!” tawa Salman. (RH)

.jpeg)
Yuk lanjut.. Dulu udh sampai mana ya? Kayanya sampai ada orang dr dunia buku yang ikutan sekolah gak ya..
BalasHapushihiihihii. Adu pegel ketawa
BalasHapusYang sabar ya, Bunda
Hapus