*Sembilan Ketukan*
Beberapa hari
kemudian. Sutrisna mengabarkan Eko Subagyo bahwa proyeknya sudah selesai dan
besok berangkat ke Brebes. Eko mengiyakan.
Keesokannya. Sutrisno
berangkat ke Brebes, di salah satu desa di kabupaten Jawa Tengah tersebut.
Sutrisno sudah pernah
beberapa kali berkunjung ke rumah Eko Subagyo dan kenal dekat dengan orangtua
Eko dan anak istrinya.
Rumah Eko Subagyo
berposisi sendiri, cukup jauh dari tetangga mana pun. Di depan rumah adalah
tanah lapang untuk bermain bola. Seterusnya adalah hutan perkebunan. Kanan dan
kiri kebun serta ada sebuah makam yang cukup dikeramatkan. Di belakang rumah
ada kebun juga.
Untuk sementara
keluarga Eko Subagyo dipindahkan selagi rumah itu direnovasi.
Eko: Bagaimana, Tri?
Sutrisno
melihat-lihat bagian-bagian rumah yang akan direnovasi.
Sutrisno: Sekitar dua
pekanlah, Ko. Habis zuhur nanti bisa saya langsung mulai.
Eko: Beberapa bahan
sudah saya beli. Yang kurang-kurang nanti kamu tinggal bilang, nanti saya
pesanin ke material.
Sutrisno: Selama saya
kerja dan nginap di sini, kamu juga di sini, ‘kan?
Eko: Iya, tenang
saja. Saya juga bantuin, biar cepat selesai.
Sutrisno: Keluarga
kamu nginep di mana, Ko?
Eko: Di rumah mertua
saya di desa tetangga.
Sutrisno: Masih belum
ada juga yang bangun rumah di dekat rumah kamu, Ko?
Eko: Boro-boro mau
bangun rumah, orang desa malah ramai-ramai ke kota.
Sutrisno: Tapi kamu
betah saja di sini. Kenapa enggak diperluas saja, Ko?
Eko: Belum perlu.
Yang ini saja sudah cukup luas buat saya sekeluarga. Nanti kalau saya nikah
lagi. Hahaha!
Sutrisno: Hahaha!
(RH)


Dulu macam pernah baca tapi agak lupa next om
BalasHapus