*Rudi Adalah Cintaku*
“Seharusnya tadi saya
tonjok Dendi dulu. Tapi berabe juga kalau saya salahin Dendi, sepertinya
sama-sama suka. Kasihan Rudi dikhianati. Tapi … kalau saya bilang suka sama
suka, Vina bakal salah juga, bakal dihajar juga sama Haji Suharja. Kalau Dendi
mah masa bodo, orang dari mana tahu dia. Orang jauh. Ah, mendingan saya bilang
kalau Vina diperkosa Dendi ….”
Itulah sekelumit isi
pikiran Aziz ketika dia berlari menuju ke rumah Vina. Setibanya di depan rumah
Vina, halaman depan yang luas dan berpagar tampak sepi, tidak terlihat ada
orang. Namun, pintu depan rumah besar itu terbuka lebar, yang artinya ada orang
di dalam rumah.
“Mak Nirah! Mak Nirah!”
teriak Aziz sambil datang ke teras rumah. Dia tidak pakai salam lagi.
Setahunya, Haji
Suharja sedang ada di lelang mengurus usahanya. Haji Suharja punya karyawan,
sehingga ia tidak perlu membawa istrinya ke pelelangan untuk membantu, berbeda
dengan nelayan atau penjual ikan lainnya di pelelangan. Banyak dari mereka
mengandalkan istrinya sebagai asisten, tukang hitung duit, atau rekan kerja.
“Assalamu ‘alaikum!”
Barulah kemudian Aziz berteriak salam.
“Wa ‘alaikum salam!”
sahut satu suara perempuan dari dalam, yang wujudnya baru terlihat beberapa
detik kemudian.
Sunirah, istri Haji
Suharja dan ibu dari Vina, berjalan tergesa ke luar. Itu karena teriakan
bernada panik Aziz. Di belakang Sunirah berjalan Vivi Milenia yang berseragam
sekolah dasar.
“Mak Nirah, Vina
diperkosa di kontrakannya Dendi!” kata Aziz dengan napas sangat tersengal.
“Apa, Ziz?!” tanya
Sunirah marah, karena terlalu terkejut dan menyangka Aziz sedang bercanda
kelewatan. Benar, tadi Vina izin mau pergi ke kontrakan Dendi untuk mengambil
hp yang sudah diperbaiki.
“Vina diperkosa di
kontrakannya Dendi. Saya memergoki, Mak,” tandas Aziz.
“Inna lillahi wa inna
ilaihi raji’uun!” pekik Sunirah terkejut bukan main.
Seketika itu, terasa
lemas persendian kaki Sunirah mendengar kabar musibah itu. Ia bahkan jatuh
terduduk di ambang pintu. Tangisnya seketika pecah.
“Vinaaa! Haaa …!”
teriak Sunirah meraung.
Buru-buru Aziz
meletakkan laptopnya di kursi kosong yang ada di teras.
“Mak, jangan pingsan!
Ayo tolong Vina, Mak!” kata Aziz sambil memegangi tangan Sunirah.
Sementara Vivi hanya
berdiri diam melihat ibunya menangis meraung.
“Vinaaa! Susah apa
yang menimpamu, Naaak! Haaa …!” teriak Sunirah meratap.
Mendengar teriakan
histeris yang disertai suara tangis yang keras, beberapa orang tetangga
terdekat yang saat itu ada di rumah, segera berlarian berdatangan dengan wajah
tegang dan bertanya-tanya, meski belum bertanya.
“Vivi, cepat telepon
bapakmu!” perintah Sunirah kepada anak bungsunya sambil menangis dan masih
terduduk di lantai keramik.
“Iya, Mak,” jawab
Vivi dengan wajah yang ingin ikut menangis, terbawa oleh suasana.
Vivi segera masuk ke
dalam untuk mengambil hp. Di dalam, ternyata Vivi akhirnya menangis sendiri.
“Ada apa ini,
Sunirah?” tanya seorang wanita paruh baya yang lebih tua usianya dari Sunirah.
“Vina, Puang. Vina
diperkosa orang. Haaa …!” jawab Sunirah dengan menyebut panggilan penghormatan
bagi suku Bugis.
“Astaghfirullah!”
pekik terkejut wanita yang bernama Sujanni.
“Ya Allah!” ucap
ibu-ibu yang datang bersama Sujanni, namanya Suryati.
“Siapa yang
memperkosa Vina?” tanya Haji Goli, lelaki tua yang jalannya sudah agak bungkuk,
tapi tidak memakai tongkat.
“Dendi yang ngontrak
di kontrakan Haji Suharja, Ji,” jawab Aziz.
“Buat apa nangis di
sini? Cepat tolong anakmu!” kata Haji Goli bernada emosi mendengar kabar itu.
Dia pun termasuk masih kerabat dengan keluarga Vina, karena dia adalah paman
dari Haji Suharja.
Sujanni dan Suryati
segera membantu Sunirah bangun, setelah Aziz gagal membujuk Sunirah yang
meratap. Sunirah mau bangun dan berjalan ke luar.
Tanpa bersandal lagi,
Sunirah berjalan tergesa-gesa dengan dipegangi tangannya oleh kedua wanita
tetangganya. Aziz mengikuti. Sementara Haji Goli berusaha berjalan cepat di
belakang, meski tidak bisa. Ia harus rela ditinggalkan.
Suara tangis Sunirah
yang kejer membuat sejumlah warga terkejut dan heran. Mereka pun berdatangan
dan bertanya-tanya.
“Vina kena musibah.”
Jawaban itulah yang
diberikan oleh Sujanni kepada warga yang bertanya, demi menutupi aib yang
terjadi. Tetap saja rasa ingin tahu dan ingin melihat langsung bentuk
musibahnya, membuat warga ikut, sehingga terbentuklah satu rombongan kecil.
Perjalanan rombongan
itu tidak perlu sampai ke kontrakan, karena mereka melihat Vina sedang berjalan
dengan dipegangi oleh Marawe. Vina berjalan tertunduk sambil terisak, sehingga
dia tidak langsung melihat kemunculan rombongan ibunya di depan sana.
“Vinaaa!” teriak
Sunirah histeris sambil melepaskan diri dari pegangan dan berlari
tergopoh-gopoh ke arah putrinya.
Vina terkejut dan
sontak mengangkat wajahnya. Melihat ibunya sedang berlari sambil menangis,
seketika kesedihannya juga meledak kembali di dalam dada.
“Emaaak! Huuu …!”
panggil Vina histeris sambil berlari menangis pula.
Di tengah jarak, ibu
anak itu saling berpelukan dalam tangis yang kencang.
“Vinaaa! Musibah apa
yang mengenaimu, Nak? Tega-teganya Dendi memperkosa kamuuu! Haaa …!” ratap
Sunirah yang berkata-kata tanpa pertimbangan lagi.
Terkejutlah beberapa
warga yang ikut dalam rombongan mendengar kata-kata “Dendi memperkosa kamu”.
Ternyata musibah yang dimaksud adalah itu. Iba bercampur marah seketika
meliputi diri-diri warga.
“Maafkan Vina, Maaak!
Huuu …!” ucap Vina pula.
Karena terlalu
sedihnya, Sunirah sampai-sampai kembali jatuh bersimpuh di tanah. Karena masih
dalam kondisi memeluk, Vina pun tertarik dan ikut duduk bersimpuh di jalanan.
Para wanita jadi
terbawa suasana. Mereka jadi ikut menangis, meski tidak sampai meraung-raung.
Marawe yang tadi sudah berhenti menangisi nasib Vina, kembali menangis dan
lebih kencang dari sebelumnya.
Dia segera mendatangi
ibu anak itu dan membantunya agar berdiri kembali. Demikian pula Sujanni.
“Kita ke rumah, Dik.
Malu kita dilihat banyak orang,” kata Marawe kepada Sunirah yang merupakan adik
kandungnya.
Memang, warga semakin
ramai berkumpul di sekitar jalanan desa nelayan itu, termasuk kalangan
anak-anak yang berseragam sekolah. Waktu memang belum sampai kepada jam masuk
sekolah dasar yang ada di pinggiran desa nelayan tersebut.
Selain Vivi, Vina
memiliki seorang adik lelaki yang sekolahnya sudah SMP. Karena berangkat ke
sekolah setelah subuh, jadi dia tidak terlihat saat itu.
“Dendi yang anak
pabrik itu, kan?” tanya satu warga lelaki kepada Aziz. Dia bukan nelayan, jadi
pagi itu masih ada di rumah.
“Iya, Pak,” jawab
Aziz.
“Zainuddin! Ayo
tangkap Dendi!” teriak lelaki itu mengajak sesama warga lelaki. Dia berlari
lebih dulu menuju ke kontrakan Haji Suharja.
Aziz dan lelaki yang
bernama Zainuddin segera ikut berlari menuju ke kontrakan.
Sementara itu,
Sunirah dan Vina dituntun pulang oleh Marawe dan kaum ibu. Mereka mengantar
sampai ke rumah karena ingin tahu cerita sebenarnya dan selengkapnya.
Cerita dengan judul
“Vina Diperkosa Dendi” segera menyebar tanpa diperintah.
Di rumah, Vina tidak
menjawab dengan jelas saat ditanya oleh ibunya tentang apa yang sebenarnya
terjadi. Vina hanya menjawab dengan tangisan.
“Tadi Vina bilang dia
diperkosa dan mengaku belum dimasuki sama Dendi,” kata Marawe menjawab
pertanyaan Sunirah dan ibu-ibu lainnya yang berkerumun di pintu rumah. Namun,
Marawe tidak mau banyak cerita.
“Aziz yang lihat
langsung kejadiannya,” kata Sunirah.
“Mana Aziz?”
“Sedang pergi mencari Dendi.” (RH)


0 komentar:
Posting Komentar