*Petualangan Tina dan Ayu*
“Aaa...!” jerit Ayu Nostalgia yang tubuhnya meluncur
di lubang lumpur.
Bluk!
“Akk!” jerit Salman Alfarisy yang telah mendarat lebih
dulu di dasar lubang. Dia tertimpa tubuh besar dan berat Ayu.
“Aaa...!” jerit Tina Cihuy yang muncul menyusul
meluncur dan menimpa tubuh Ayu, tapi membuat Salman semakin keberatan dan
kesakitan.
“Akh! A-a-aduh sakiiit!” jerita Salman.
“Aduh!” keluh Ayu pula. “Bangun, Tinaaa!”
“Sadaaar, bada saya pada sakti,” kata Tina seraya
mengerenyit.
“Saya dan Salman dari tadi sadar,” kata Ayu.
“Bukan sadar, Ayu, tapi sabar. Ih, seperti Tina saja
kamu,” ralat Tina.
“Aduh. Saya mau ketawa tapi kesakitan. Itu di atas ada
lubang, tinggal naik!” kata Ayu sambil menahan sakit.
Selain lubang tempat mereka muncul, ada satu lubang
pendek yang di atasnya terlihat langit.
“Bu-bu-buruan! Bi-bi-bisa mencret saya di-di-ditindih
Ayu!” teriak Salman pula.
“Yu, parutmu saya injak, ya?” kata Tina sambil
berusaha bangun berdiri. Lubang itu memang sempit.
Saat Tina berdiri, ternyata tangannya sampai ke bibir
lubang di atas. Ia berdiri di atas perut Ayu yang melotot menahan sakit,
seolah-olah matanya ingin melompat keluar.
Tina harus melompat agar bisa menaikkan badannya ke
bibir lubang.
“Hup!”
“Hekr! Tutr!” keluh Ayu saat Tina melompat. Seiring
itu pula, lubang bawah Ayu meledak alias kentut.
“Allahuakbar! Ayuuu! Ke-ke-kebangetan kamu ya.
Pa-pa-pakai kentut!” teriak Salman tidak kuasa menahan kemarahan dan
kesedihannya menjadi korban pembantaian Lubang Biawak. “Pa-pa-pantat kamu di
mu-mu-muka sayaaa!”
“Perut saya diinjak Tina,” dalih Ayu.
Kepala dan badan atas Tina berhasil keluar dari
lubang. Namun, wajah Tina langsung berada di depan wajah sesosok makhluk.
“Aaa...!” pekik Tina sangat kaget, sehingga dia turun
lagi ke dasar lubang.
Bluk!
“Innalillahiii!” pekik Ayu kesakitan karena ditimpa
lagi oleh badan Tina.
“Ma-ma-mau pi-pi-pingsan saya,” ucap Salman lemas.
“Pingsan, pingsan saja. Gak usah gagap segala!” kata
Ayu kesal. “Tina, kenapa kamu turun lagi?”
“Ada kambing,” jawab Tina.
“Memangnya kambingnya pakai pocong?” tanya Ayu kesal.
“Namanya juga kaset,” kata Tina.
“Kaget, bukan kaset.” Ralat Ayu kesal.
“Saya mau lompat lagi,” kata Tina.
“Sebentar, saya balik dulu. Hancur usus bilangan genap
saya diinjaki melulu,” kata Ayu. “Kamu geser dikit.”
Tina bergeser sedikit, karena lubang itu memang sempit,
lebih sempit dari Lubang Buaya.
Ayu berusaha berbalik menghadap ke Salman. Pantatnya
juga dia pindahkan supaya tidak berada di wajah Salman.
Krek!
“Auuuk!” Salman menjeit tinggi dengan wajah memerah
yang kotor oleh lumpur.
“Kenapa, Sal?” tanya Ayu yang panik, karena jeritan
Salman lebih histeris dari sebelumnya.
“Jangan pisang dulu, Sal!” teriak Tina pula ikut
panik.
“Bu-bu-buyung sayaaaa! Aaa...! Di-di-ditekan Ayuuu!”
rintih Salman.
“Hah! Maaf, maaf, maaf! Lutut saya enggak ada
matanya,” ucap Ayu sambil buru-buru mengangkat lututnya dari pangkal paha
Salman.
“Hakh!” pekik Ayu kaget.
“Apaan?!” tanya Salman sambil masih menahan sakit.
“Ayu kena juga?” tanya Tina kaget.
“Di bawah Salman ada orang!” teriak Ayu.
“Hah!” kaget horor Salman jadi berubah takut.
“Be-be-benar!” pekik Tina juga jadi ikut gagap,
setelah mememerhatikan lumpur yang mereka injak.
“Ka-ka-kalau begini, ja-ja-jangan ngeledek!” sewot
Salman.
“Saya enggak ngebecek, tapi takut,” kilah Tina. Lalu
katanya kepada Ayu, “Lihat, Yu. Itu mayat atau otong sirup?”
“Orang hidup, Tina. Bukan otong sirup,” ralat Ayu.
Di bawah punggung Salman ternyata ada tubuh manusia
yang tertutup lumpur, sampai-sampai nyaris tidak terlihat bentuknya.
“Ma-ma-mayat? Ce-ce-cepat naik! Naik!” teriak Salman,
panik ketakutan.
“Cepat, Tina! Naik ke punggung saya!” teriak Ayu
semakin panik juga.
“Jaran goyang, ya?” pesan Tina.
“Iya, enggak goyang!” kata Ayu.
“Itu Salaman jangan diperkosa! Hahaha!” kata Tina dan
berubah tertawa, sambil naik ke punggung Ayu.
“Bodo amat! Saya perkosa juga enggak bakalan hamil!”
kata Ayu kesal.
“Hahaha!” Tina semakin tertawa.
“Buruan! Di sini ada mayat!” teriak Ayu kesal. Itu
benar-benar jadi kondisi yang sangat horor.
“Hup!” Tina melompat naik.
Tina bisa naik ke pinggir lubang. Dilihatnya langit
luas, persawahan, dan segerombolan kambing yang tadi sempat mengejutkannya.
“Beraaas!” teriak Tina gembira setelah naik ke darat.
Lalu teriaknya ke dalam lubang, “Ayo naik, Yu!”
“Bentar,” kata Ayu sambil bangun berdiri mengangkangi
Salman di bawahnya.
“Yah, enggak sampai,” ucap Ayu lesu dan sedih.
“Nih, tegang tangan saya!” kata Tina sambil
mengulurkan tangannya.
“Pegang,” ralat Ayu.
“Iya. Pakai koreksi segala,” kata Tina.
“Gak bisa naik,” kata Ayu, meski sudah memegang tangan
Tina.
“Salaman, bangun! Tolong Ayu!” teriak Tina.
“Be-be-bentar,” kata Salman, lalu menjerit, “Ada
mayaaat!”
“Buruan bangun, dorong saya. Nanti mayatnya keburu
bangun!” kata Ayu kembali berubah panik.
“Haaa! To-to-tolooong!” teriak Salman sambil menangis
dan buru-buru berdiri, mengangkangi sosok yang diduga kuat adalah mayat.
“Buluan dorong Ayu!” teriak Tina.
“Iya. Huuu...!” kata Salman sambil menangis. “Apanya
yang didorong?”
“Pantat saya!” jawab Ayu.
“Ja-ja-jangan marah,” kata Salman.
“Iya.”
“Ja-ja-jangan kentut,” kata Salman lagi.
“Iya. Lama!” sentak Ayu kesal.
Salman lalu mendorong pantat Ayu agar naik posisi
sahabat besarnya itu.
“Jangan diremas, didorong, Sal!” bentak Ayu marah.
“Ka-ka-katanya enggak ma-ma-marah,” kata Salman, tapi
tetap bertahan mendorong barang berat itu.
“Borong, Salaman!” kata Tina.
“Ti-ti-tigaaa!” pekik Salman sambil mendorong
maksimal.
Tuuut!
Ayu kembali kentut berjenis terompet jazz.
“Aaa...!” Salman menangis karena menjadi korban gas
beracun untuk kedua kalinya dan dari orang yang sama.
Tina Cihuy dan Ayu Nostalgia akhirnya berhasil naik ke
atas.
“Haaa...!”
Salman masih menangis di bawah.
“Ja-ja-jangan ditinggal!” kata Salmam sesegukan.
“Sapi mau meninggal?” kata Tina.
“Sini!” kata Ayu sambil mengulurkan tangannya ke dalam
lubang.
“Buluan kasih tangan kamu ke Ayu. Biar cepat ke
pelaminan! Hahaha!” kata Ayu yang berujung selorohannya, membuat paniknya
mereda.
“Ta-ta-tarik ta-ta-tangan saya,” kata Salman
mengulurkan tangan.
“Saya tarik nih,” kata Ayu sambil meraih tangan
Salman.
Tap!
Namun, tiba-tiba kaki Salman dipegang oleh sebuah
tangan berlumpur.
“Jiaaak!” jerit Salman terkejut banget sampai melompat
seperti perawan kakinya dirayapi kecoa.
“Jangan gigit saya! Jangan gigit saya!” teriak Salman
ketakutan akut, sampai-sampai lupa gagap.
“Tarik, Ayu! Mayatnya retak!” teriak Tina panik pula.
“Gerak, Tina. Bukan...!”
“Boyo amat! Popoknya tarik, kasihan Salaman!” sergah
Tina yang geregetan sendiri.
“Bu-bu-buruan! Haaa...!” teriak Salman yang kakinya
gemetar karena masih dipegangi oleh tangan berlumpur, yang kepalanya belum
keluar dari dalam lumpur.
“Bantuin, Salman jadi berat!” kata Ayu.
“Ayo!” kata Tina yang ikut tengkurap di tanah dan
memegangi tangan Salman. Dia lalu berhitung, “Satu, dua, tidaaak!”
Tina dan Ayu kompak menarik kedua tangan Salman.
Salman tertarik naik, tapi mayat yang memegangi
kakinya ikut tertarik berdiri.
“Ma-ma-mayatnya ikut! Mayatnya ikut!” teriak Salman
masih menangis panik dengan separuh badan sudah naik ke darat.
Cuuur!
Saking takutnya sejak tadi, Salman akhirnya kencing di
celana, bahkan ada air seninya menetes ke wajah sosok yang penuh lumpur.
Seolah-olah air seninya punya saluran khusus sehingga tidak menyerap di celana.
“Saya bukan mayaaat!” teriak sosok berlumpur itu
setelah mengusap wajahnya dari lumpur dan air seni.
Trio Antik mendadak diam, berhenti menarik dan panik.
Mereka kompak memandangi wajah mayat hidup yang sudah separuh jelas terlihat.
“Somay?!” pekik Tina tidak percaya.
“So-so-so....”
“Soto?” potong Ayu.
“So-so-somay. Eh, Sooomaaaliii!” sebut Salman mendadak
takutnya raib.
“Iya, saya Somali, bukan Somay, bukan Soto!” kata
sosok berlumpur itu kesal. “Salman kurang acar! Kamu ngompol, ya?”
“Hehehe!” Salman hanya tertawa cengengesan bercampur malu. Takutnya mendadak raib. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar