Rusuh di Perahu, Bab16 Petualangan Tina dan Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*

Keesokan paginya, Trio Antik diajak pergi menjala ikan di laut bersama semua warga Desa Waykutuk dan para prajurit desa. Mereka senang.

Kali ini Somali ikut, entah kenapa?

Hanya warga Desa Waykutuk yang melaut, karena pekan jala setiap desa di Negeri Kaluda itu waktunya berbeda-beda.

Ada belasan perahu yang turun ke laut untuk menjala ikan. Trio Antik dan Somali naik di perahu Sijongkok.

“Waaah! Kalau jalan-jalan begigi terus mah, saya sih happy,” kata Tina yang senang melihat ikan banyak.

Trio Antik begitu senang melihat banyaknya ikan yang dinaikkan ke atas perahu hasil penjalaan. Ikan-ikan yang baru dinaikkan terlihat menggelepar-gelepar dan melompat-lompat begitu menggemaskan.

“Ikan-ikannya pada senang ditangkap,” kata Ayu.

“Senang dari Jayapura. Itu ikan lompat-lompat karena susah beranak!” sergah Tina.

“Su-su-susah bernapas ka-ka-kaliii!” kata Salman pula.

“Iya, itu maksud saya,” kata Tina.

“Dapat ikan kakap!” pekik Ayu sambil menunjuk ikan berbadan lebar seperti dirinya, tapi tipis seperti Tina.

“Mana ikan gagap?” tanya Ayu.

“Nih!” jawab Ayu sambil menunjuk Salman.

“Se-se-sembarangan!” maki Salman.

“Benar kan? Kamu ikan gagap, yang ono ikan kakap!” kata Ayu.

“Hahaha!” tawa Somali dan Sijongkok, warga yang memiliki perahu tersebut.

“Ayo, bantu dicopot dali jaling!” ajak Sijongkok yang cadel dari bayi sampai mati.

“Hati-hati kena dulinya,” kata Somali berlagak cadel pula.

“Somay, orang utan jangan diejek!” hardik Tina.

“Hahaha!” tawa Salman.

“Orang tua, Tina. Bukan orang utan!” ralat Ayu.

“Sendirinya yang mengejek orang tua,” tukas Somali.

“Sudah, sudah, sudah. Gak apa-apa. dasalnya lidah dali lahil begini. Hehehe!” kata Sijongkok.

“Simali, bantuin copotin ikannya, biar cepot disebar lagi jalanya,” kata Tina.

“Hehehe! Saya geli sama ikan,” kata Somali.

“Ki-ki-kitik-kitik.” Salman tiba-tiba menggelitiki pinggang Somali.

“Hei, Salman! Geli!” pekik Somali sambil berusaha menepis tangan Salman.

“Jangan bercanda, nanti perahunya kebalik!” hardik Ayu yang ngeri dengan goyangan perahu karena ulah Salman dan Somali.

“Iya. Ayu kan gak bisa berenang. Bisa mati kelilip,” kata Tina pula.

“Kelelep, bukan kelilip. Kalau kelilip mah lampu,” ralat Ayu.

“Ke-ke-kelap-kelip itu mah,” kata Salman yang ikut main kata.

“Lampu mah lawannya Sembara sama Nilam Cahya,” kata Tina, merujuk pada tokoh sandiwara radio Misteri Gunung Merapi.

“Itu mah Mak Lampir,” kata Ayu.

“Hahaha!” tawa Salman.

“Wuih! Ikan hiu!” pekik Somali sambil menunjuk ke air.

“Mana?!” tanya Ayu tegang.

“Mana ikan hiunya?” tanya Tina pula ikut tegang.

“Ma-ma-mana?” tanya Salman pula sambil melototi air laut, seolah-olah ingin melihat ke dasar.

“Tapi bohong! Hahaha!” pekik Somali lalu tertawa terpingkal-pingkal.

“Saya piting nih anak!” ancam Ayu.

“Lempar saja ke air!” kata Tina kesal.

“Su-su-sudah saya pegangin!” kata Salman sambil mencekal kencang kedua tangan Somali dari belakang.

“Hei hei hei! Saya enggak bisa berenang!” teriak Somali panik.

“Biarin, biar tahu rasa, enggak lagi bohongi orang!” kata Ayu sambil mengangkat kedua kaki Somali, seperti mengangkat kaki anak balita.

“Sijongkok! Tolong! Eh, jangan lempar! Saya enggak bisa berenang!” teriak Somali tambah panik, berusaha meronta.

“Tapi bohong!” ledek Ayu dengan mimik menjengkelkan.

“Belhenti, belhenti! Pelahunya oleng!” seru Sijongkok cukup panik juga, meski dia bisa berenang.

“Ayu! Salman! Perahunya obeng! Diam!” teriak Tina pula sambil berjongkok memegangi papan perahu.

“Saya diam,” kata Ayu sambil turun jongkok pula. “Somali enggak mau diam.”

“Di-di-diam!” bentak Salman sambil memukul kepala Somali.

Duk!

Tiba-tiba bawah perahu dihantam sesuatu dengan keras. Perahu terguncang keras.

Tina, Ayu, Salman dan Somali terpelanting jatuh ke samping, keluar dari perahu.

Jbuur!

Mereka pun jatuh masuk ke dalam air laut. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar