*Petualangan Tina dan Ayu*
Keesokan paginya,
Trio Antik diajak pergi menjala ikan di laut bersama semua warga Desa Waykutuk
dan para prajurit desa. Mereka senang.
Kali ini Somali ikut,
entah kenapa?
Hanya warga Desa Waykutuk
yang melaut, karena pekan jala setiap desa di Negeri Kaluda itu waktunya
berbeda-beda.
Ada belasan perahu
yang turun ke laut untuk menjala ikan. Trio Antik dan Somali naik di perahu
Sijongkok.
“Waaah! Kalau
jalan-jalan begigi terus mah, saya sih happy,” kata Tina yang senang
melihat ikan banyak.
Trio Antik begitu
senang melihat banyaknya ikan yang dinaikkan ke atas perahu hasil penjalaan.
Ikan-ikan yang baru dinaikkan terlihat menggelepar-gelepar dan melompat-lompat begitu
menggemaskan.
“Ikan-ikannya pada senang
ditangkap,” kata Ayu.
“Senang dari Jayapura.
Itu ikan lompat-lompat karena susah beranak!” sergah Tina.
“Su-su-susah bernapas
ka-ka-kaliii!” kata Salman pula.
“Iya, itu maksud
saya,” kata Tina.
“Dapat ikan kakap!”
pekik Ayu sambil menunjuk ikan berbadan lebar seperti dirinya, tapi tipis
seperti Tina.
“Mana ikan gagap?”
tanya Ayu.
“Nih!” jawab Ayu
sambil menunjuk Salman.
“Se-se-sembarangan!” maki
Salman.
“Benar kan? Kamu ikan
gagap, yang ono ikan kakap!” kata Ayu.
“Hahaha!” tawa Somali
dan Sijongkok, warga yang memiliki perahu tersebut.
“Ayo, bantu dicopot
dali jaling!” ajak Sijongkok yang cadel dari bayi sampai mati.
“Hati-hati kena
dulinya,” kata Somali berlagak cadel pula.
“Somay, orang utan
jangan diejek!” hardik Tina.
“Hahaha!” tawa
Salman.
“Orang tua, Tina.
Bukan orang utan!” ralat Ayu.
“Sendirinya yang
mengejek orang tua,” tukas Somali.
“Sudah, sudah, sudah.
Gak apa-apa. dasalnya lidah dali lahil begini. Hehehe!” kata Sijongkok.
“Simali, bantuin
copotin ikannya, biar cepot disebar lagi jalanya,” kata Tina.
“Hehehe! Saya geli
sama ikan,” kata Somali.
“Ki-ki-kitik-kitik.”
Salman tiba-tiba menggelitiki pinggang Somali.
“Hei, Salman! Geli!”
pekik Somali sambil berusaha menepis tangan Salman.
“Jangan bercanda,
nanti perahunya kebalik!” hardik Ayu yang ngeri dengan goyangan perahu karena
ulah Salman dan Somali.
“Iya. Ayu kan gak
bisa berenang. Bisa mati kelilip,” kata Tina pula.
“Kelelep, bukan
kelilip. Kalau kelilip mah lampu,” ralat Ayu.
“Ke-ke-kelap-kelip itu
mah,” kata Salman yang ikut main kata.
“Lampu mah lawannya
Sembara sama Nilam Cahya,” kata Tina, merujuk pada tokoh sandiwara radio
Misteri Gunung Merapi.
“Itu mah Mak Lampir,”
kata Ayu.
“Hahaha!” tawa
Salman.
“Wuih! Ikan hiu!” pekik
Somali sambil menunjuk ke air.
“Mana?!” tanya Ayu
tegang.
“Mana ikan hiunya?”
tanya Tina pula ikut tegang.
“Ma-ma-mana?” tanya
Salman pula sambil melototi air laut, seolah-olah ingin melihat ke dasar.
“Tapi bohong!
Hahaha!” pekik Somali lalu tertawa terpingkal-pingkal.
“Saya piting nih
anak!” ancam Ayu.
“Lempar saja ke air!”
kata Tina kesal.
“Su-su-sudah saya
pegangin!” kata Salman sambil mencekal kencang kedua tangan Somali dari
belakang.
“Hei hei hei! Saya
enggak bisa berenang!” teriak Somali panik.
“Biarin, biar tahu
rasa, enggak lagi bohongi orang!” kata Ayu sambil mengangkat kedua kaki Somali,
seperti mengangkat kaki anak balita.
“Sijongkok! Tolong!
Eh, jangan lempar! Saya enggak bisa berenang!” teriak Somali tambah panik,
berusaha meronta.
“Tapi bohong!” ledek
Ayu dengan mimik menjengkelkan.
“Belhenti, belhenti!
Pelahunya oleng!” seru Sijongkok cukup panik juga, meski dia bisa berenang.
“Ayu! Salman!
Perahunya obeng! Diam!” teriak Tina pula sambil berjongkok memegangi papan
perahu.
“Saya diam,” kata Ayu
sambil turun jongkok pula. “Somali enggak mau diam.”
“Di-di-diam!” bentak
Salman sambil memukul kepala Somali.
Duk!
Tiba-tiba bawah
perahu dihantam sesuatu dengan keras. Perahu terguncang keras.
Tina, Ayu, Salman dan
Somali terpelanting jatuh ke samping, keluar dari perahu.
Jbuur!
Mereka pun jatuh masuk ke dalam air laut. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar