*Miliarder Ular Biru*
Sempurna. Selama satu
bulan Radit tidak dikunjungi oleh istrinya, tidak ditelepon, bahkan tidak ada
pesan yang dikirim. Nomor hp istrinya tidak aktif. Nomor Radit sepertinya
sengaja diblokir.
“Pasti mertua jahat
itu yang blokir nomor aku,” duga Radit.
Sebenarnya ada cara,
yaitu Radit bisa datang langsung ke rumah istrinya dengan diantar ojek. Namun,
Radit tidak mau.
“Aku enggak mau
terlihat begitu mengemis. Biarkan. Anggap saja kita sudah cerai, Andini.
Sekarang aku bebas mencari perempuan lain, bikin hidup baru lagi. Masa bodo
dengan tanggung dan jawab. Kamu yang meninggalkan aku, bukan aku yang
meninggalkan kamu. Kalau kamu mau menyalahkan aku, salahkan emak kamu itu,”
kata Radit berbicara sendiri. “Aku juga punya harga diri.”
Dan lebih dari satu
bulan lamanya Radit harus bersabar untuk benar-benar pulih dan bisa melepas
tongkat. Selama satu bulan sakit, Radit tidak memiliki pemasukan uang selain
dari angsuran para pelanggan kredit yang hanya separuh dari seharusnya.
Sementara satu bulan itu, tidak mungkin dia tidak makan dan minum, serta
membeli obat dan kebutuhan lainnya.
Uang di rekening
Radit saat ini tidak sampai separuh dari saldo yang ada usai membayar total
angsuran kepada Erwin.
Uang yang justru
menipis membuat Radit hanya bisa membayar satu dari dua tagihan yang akan jatuh
tempo.
Setelah
ditimbang-timbang, akhirnya Radit memutuskan membayar tagihan ponsel kreditan
kepada Erwin Bujana. Dia harus menombok pakai uang pribadi.
Menurutnya, menunggak
angsuran pinjol hanya menambah bunga, tidak terlalu besar dibandingkan membayar
pinjol lalu kemudian membayar hp dua kali lipat di bulan berikutnya. Begitulah
usaha Radit mengakali tanggung jawabnya.
Lalu apa yang terjadi
setelah Radit memutuskan membayar angsuran hp daripada pinjolnya?
Dept collector yang
bernama Alet dan Gogos, utusan dari PT. Kucur Kilat menyantroni rumah Radit.
Kali ini mereka tidak berdua, tapi berempat. Mereka datang menggunakan mobil.
Ternyata, Alet dan
Gogos bersama kedua temannya bermaksud menyita barang berharga Radit sebagai
jaminan.
“Menimbang kondisi
ekonomi Pak Radit yang sangat tidak aman, perusahaan memutuskan untuk mengambil
barang berharga Pak Radit sebagai jaminan,” kata Alet saat menyampaikan
maksudnya.
Radit tidak mungkin
melawan adu fisik empat orang besar itu. Dia hanya bisa marah dan
berteriak-teriak ketika tv, lemari es dan barang elektronik lainnya diangkut ke
mobil.
Kejadian itu menarik
perhatian tetangga dan warga sekitar. Tapi Radit tidak bisa dibela. Dia
berurusan dengan pinjaman online yang sudah terkenal meresahkan.
Setelah para penagih
itu pergi dengan membawa sejumlah barang, hp Radit ditelepon oleh nomor
istrinya. Radit yang merasa sangat terpuruk, sudah masa bodo. Dia tidak
mengangkat panggilan telepon itu. Radit hanya duduk bersandar di tembok teras
rumahnya sambil memandangi layar hp yang tergeletak di lantai.
Hari-hari Radit terus
berlalu. Uangnya kian habis, diam di rumah pun tidak ada hiburan. Radit mulai
setres. Dia memutuskan sehari hanya makan sekali untuk menghemat pengeluaran.
Pada suatu malam,
Radit memutuskan keluar jalan-jalan. Ya ke manalah.
Istilah kata
pujangga, “berjalan tanpa arah mengikuti kaki melangkah”. Padahal, kemanapun kaki
melangkah, pasti dia punya arah. Orang gila pun punya arah langkah kaki, meski
tidak punya tujuan.
Radit belum mirip
orang gila. Dia masih waras. Hanya otaknya penuh benang kusut.
Namun, dia tidak
jalan jauh-jauh karena kakinya baru sembuh. Beberapa kali dia memilih berhenti
dan duduk di tempat yang nyaman di pinggir jalan, sambil memerhatikan lintasan
kendaraan.
Pada satu titik,
Radit berhenti. Dia berhenti karena tanpa sengaja melihat seorang pemuda sedang
berdiri bersender samping di badan sebuah mobil. Sambil wajahnya mengedar
memandang ke sekitar, kedua tangannya bekerja memaksa kaca spion mobil.
Posisi pemuda itu
membelakangi jalan raya.
“Dasar maling
goblok,” ucap Radit yang melihat dari jauh. Sebab, Radit melihat pemilik mobil
keluar dari toko jam yang posisi satu trotoar dengannya. Memang, sebelumnya Radit
melihat pemilik mobil menyeberang jalan dan masuk ke toko jam. Jadi Radit tahu
siapa orang pemilik mobil.
Melihat mobilnya yang
parkir di seberang jalan disandari oleh seseorang, lelaki separuh baya pemilik
mobil terkejut dan cepat berteriak.
“Maling! Maliiing!”
teriak bapak pemilik mobil keras sambil menunjuk ke arah mobilnya.
Teriakan pemilik
mobil itu seketika mengejutkan warga sekitar yang mendengar suaranya. Terkhusus
si pemuda yang bersandar di sisi mobil. Tanpa tengak-tengok lagi untuk mencari
tahu siapa yang berteriak, pemuda itu panik dan langsung berlari kencang sekuat
tenaga.
“Maling! Maling!
Maling…!” teriak warga yang notabene para lelaki sambil berhamburan berlari
kencang mengejar si pemuda yang berlari menyeberang jalan raya.
“Tangkap, tangkap!
Tangkap!” teriak warga yang lain.
Apesnya pemuda yang
hendak mencuri spion mobil itu, dia berlari menyeberang dan justru berpapasan
dengan pemilik mobil.
“Kena, lu!” teriak
pemilik mobil sambil berlari maju ke tengah jalan menghadang si pencuri dengan
tonjokan bapak-bapak.
Menghindari tinjuan
itu, si pemuda mengerem mendadak, agar wajahnya tidak kena bogem matang.
Apesnya, si pemuda justru setengah terpeleset karena terlalu tajam mengerem,
membuatnya jatuh terduduk di aspal.
Tidak ayal lagi,
massa pun segera tiba menyerang dengan tinju dan tendangan. Si pencuri langsung
berteriak “ampun, ampun, ampun”.
Penghakiman massal
yang terjadi di tengah jalan raya membuat kendaraan tersumbat arusnya. Macet.
Banyak pula pengendara yang memilih berhenti untuk melihat penggebukan massa
yang brutal.
Dari arah jauh,
muncul dua orang polisi berseragam yang berlari ke pusat menangkapan maling.
Ketika polisi sampai, jangan ditanya seperti apa kondisi wajah si pencuri
spion.
Radit hanya
memandangi dari jauh keramaian itu. Tidak berapa lama, dia memilih pergi
melanjutkan perjalanannya.
“Maling begooo,
maling bego. Maling kok di waktu ramai,” ucap Radit kepada dirinya sendiri.
Lalu pikirnya, “Kalau maling kaca spion sama maling motor risikonya sama
digebukin dan masuk penjara, mendingan maling mobil sekalian, maling toko emas
yang banyakan, atau maling di bank.”
Radit terus berjalan.
Tidak berapa lama, dia berhenti.
“Kenapa aku enggak
maling saja. Yang penting enggak ketangkap, aman dan pilih maling yang uang
cepat. Jangan maling di tempat ramai.”
Mendadak Radit tersenyum
sendiri, seolah-olah dia menemukan ide cemerlang.
“Aku harus pulang.
Aku harus menyusun rencananya biar seperti maling profesional.”
Singkat cerita.
Radit telah
tidur-tiduran di ranjangnya sambil browsing di hp-nya. Dia
menimbang-nimbang maling apa yang tepat untuk dia tekuni, maling komoditi yang
cepat jadi duit. Atau uang apa yang bisa dia langsung dapat tanpa risiko
ketahuan.
Maling motor jelas
bukan ahlinya untuk menjebol kunci dalam waktu beberapa detik, apalagi kalau
maling kaca spion mobil mewah atau maling mobil.
“Antara emas atau
uang langsung….”
Radit berpikir.
“Kalau toko emas,
sekali dapat langsung beres urusan. Walaupun banyak cctv, tinggal pakai helm
sama masker, beres.”
Itulah yang
dipikirkan oleh Radit. Akhirnya dia pun melakukan penggalian “ilmu” maling toko
emas dari internet. Meski tidak ada ilmu yang menyajikan secara tertulis atau
versi lainnya, tetapi Radit mempintar-pintarkan diri.
Dia menonton
film-film yang memiliki adegan perampokan toko emas. Dia membaca berita dan
cerita tentang perampokan toko emas. Dia mencari tahu tentang jam operasional sebuah
toko emas, termasuk jam pasar mulai buka dan tutup.
Tidak sekedar itu, Radit juga melakukan survey lokasi dengan memilih satu toko emas. Dalam satu pekan lamanya, Radit menjadi pembelajar dan penuntut ilmu perampok toko emas. Termasuk dia mempelajari ke mana emas itu bisa diuangkan. (RH)
----------------------------------
Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.


Wkwkwk malah mau jd pencuri
BalasHapusnamanya juga kepepet
HapusOoom.....
BalasHapusOiiiii.....
HapusEh bisa komentar di sini, Om.👏Coba komen random. Padahal aku baru baca sampai bab tiga loh. Enggak masuk komenku😅
BalasHapusCoba diulang lagi komen di bab 1
HapusGak bisa. Katanya "komentar anda akan terlihat setelah disetujui" entah disetujui siapa gak tau, Om. Ntar aku coba di bab 4
HapusSemangat, jangan patah hati
HapusAwal karir si Radit ini maling ternyata. Balik lagi ke bab1 ah, keknya dia sukses di masa depan. Mungkin bisa memotivasi kita, Om🙄🤧
BalasHapusKesuksesan dengan karir berdosa gitu?
HapusSekarang enggak mau. Beda kalau Om tanya 20th lalu. Sekarang mau lebih baik apalagi gaulnya sama ustadz Rudi. Terlepas prihal selingkuh online itu tentunya😂
Hapushahahahaha! Gaul sama ustaz berpotensi tobat ya?
HapusPastilah, Om. Sebebal-bebalnya manusia kalau terus dicekoki kebaikan, pasti berubah ke lebih baik dong. kecuali mungkin perkara selingkuh online ituuu 😂
HapusHahahaha! Tetapi jejak digital susah dihapus lhoo, ini bisa jadi bukti kuat di alam barzakh
HapusNama Sandaria enggak akan terdata di alam barzakh, Om. kecuali Om berani nyebut nama asliku ke malaikat. nama Rudi Hendrik pasti. nah gimana tuh. Aku ogah nemenin Om🤧
HapusWadduh, Om masuk jebakan kodok dong
Hapus