Ide Nekat, Bab11 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Sempurna. Selama satu bulan Radit tidak dikunjungi oleh istrinya, tidak ditelepon, bahkan tidak ada pesan yang dikirim. Nomor hp istrinya tidak aktif. Nomor Radit sepertinya sengaja diblokir.

“Pasti mertua jahat itu yang blokir nomor aku,” duga Radit.

Sebenarnya ada cara, yaitu Radit bisa datang langsung ke rumah istrinya dengan diantar ojek. Namun, Radit tidak mau.

“Aku enggak mau terlihat begitu mengemis. Biarkan. Anggap saja kita sudah cerai, Andini. Sekarang aku bebas mencari perempuan lain, bikin hidup baru lagi. Masa bodo dengan tanggung dan jawab. Kamu yang meninggalkan aku, bukan aku yang meninggalkan kamu. Kalau kamu mau menyalahkan aku, salahkan emak kamu itu,” kata Radit berbicara sendiri. “Aku juga punya harga diri.”

Dan lebih dari satu bulan lamanya Radit harus bersabar untuk benar-benar pulih dan bisa melepas tongkat. Selama satu bulan sakit, Radit tidak memiliki pemasukan uang selain dari angsuran para pelanggan kredit yang hanya separuh dari seharusnya. Sementara satu bulan itu, tidak mungkin dia tidak makan dan minum, serta membeli obat dan kebutuhan lainnya.

Uang di rekening Radit saat ini tidak sampai separuh dari saldo yang ada usai membayar total angsuran kepada Erwin.

Uang yang justru menipis membuat Radit hanya bisa membayar satu dari dua tagihan yang akan jatuh tempo.

Setelah ditimbang-timbang, akhirnya Radit memutuskan membayar tagihan ponsel kreditan kepada Erwin Bujana. Dia harus menombok pakai uang pribadi.

Menurutnya, menunggak angsuran pinjol hanya menambah bunga, tidak terlalu besar dibandingkan membayar pinjol lalu kemudian membayar hp dua kali lipat di bulan berikutnya. Begitulah usaha Radit mengakali tanggung jawabnya.

Lalu apa yang terjadi setelah Radit memutuskan membayar angsuran hp daripada pinjolnya?

Dept collector yang bernama Alet dan Gogos, utusan dari PT. Kucur Kilat menyantroni rumah Radit. Kali ini mereka tidak berdua, tapi berempat. Mereka datang menggunakan mobil.

Ternyata, Alet dan Gogos bersama kedua temannya bermaksud menyita barang berharga Radit sebagai jaminan.

“Menimbang kondisi ekonomi Pak Radit yang sangat tidak aman, perusahaan memutuskan untuk mengambil barang berharga Pak Radit sebagai jaminan,” kata Alet saat menyampaikan maksudnya.

Radit tidak mungkin melawan adu fisik empat orang besar itu. Dia hanya bisa marah dan berteriak-teriak ketika tv, lemari es dan barang elektronik lainnya diangkut ke mobil.

Kejadian itu menarik perhatian tetangga dan warga sekitar. Tapi Radit tidak bisa dibela. Dia berurusan dengan pinjaman online yang sudah terkenal meresahkan.

Setelah para penagih itu pergi dengan membawa sejumlah barang, hp Radit ditelepon oleh nomor istrinya. Radit yang merasa sangat terpuruk, sudah masa bodo. Dia tidak mengangkat panggilan telepon itu. Radit hanya duduk bersandar di tembok teras rumahnya sambil memandangi layar hp yang tergeletak di lantai.

Hari-hari Radit terus berlalu. Uangnya kian habis, diam di rumah pun tidak ada hiburan. Radit mulai setres. Dia memutuskan sehari hanya makan sekali untuk menghemat pengeluaran.

Pada suatu malam, Radit memutuskan keluar jalan-jalan. Ya ke manalah.

Istilah kata pujangga, “berjalan tanpa arah mengikuti kaki melangkah”. Padahal, kemanapun kaki melangkah, pasti dia punya arah. Orang gila pun punya arah langkah kaki, meski tidak punya tujuan.

Radit belum mirip orang gila. Dia masih waras. Hanya otaknya penuh benang kusut.

Namun, dia tidak jalan jauh-jauh karena kakinya baru sembuh. Beberapa kali dia memilih berhenti dan duduk di tempat yang nyaman di pinggir jalan, sambil memerhatikan lintasan kendaraan.

Pada satu titik, Radit berhenti. Dia berhenti karena tanpa sengaja melihat seorang pemuda sedang berdiri bersender samping di badan sebuah mobil. Sambil wajahnya mengedar memandang ke sekitar, kedua tangannya bekerja memaksa kaca spion mobil.

Posisi pemuda itu membelakangi jalan raya.

“Dasar maling goblok,” ucap Radit yang melihat dari jauh. Sebab, Radit melihat pemilik mobil keluar dari toko jam yang posisi satu trotoar dengannya. Memang, sebelumnya Radit melihat pemilik mobil menyeberang jalan dan masuk ke toko jam. Jadi Radit tahu siapa orang pemilik mobil.

Melihat mobilnya yang parkir di seberang jalan disandari oleh seseorang, lelaki separuh baya pemilik mobil terkejut dan cepat berteriak.

“Maling! Maliiing!” teriak bapak pemilik mobil keras sambil menunjuk ke arah mobilnya.

Teriakan pemilik mobil itu seketika mengejutkan warga sekitar yang mendengar suaranya. Terkhusus si pemuda yang bersandar di sisi mobil. Tanpa tengak-tengok lagi untuk mencari tahu siapa yang berteriak, pemuda itu panik dan langsung berlari kencang sekuat tenaga.

“Maling! Maling! Maling…!” teriak warga yang notabene para lelaki sambil berhamburan berlari kencang mengejar si pemuda yang berlari menyeberang jalan raya.

“Tangkap, tangkap! Tangkap!” teriak warga yang lain.

Apesnya pemuda yang hendak mencuri spion mobil itu, dia berlari menyeberang dan justru berpapasan dengan pemilik mobil.

“Kena, lu!” teriak pemilik mobil sambil berlari maju ke tengah jalan menghadang si pencuri dengan tonjokan bapak-bapak.

Menghindari tinjuan itu, si pemuda mengerem mendadak, agar wajahnya tidak kena bogem matang. Apesnya, si pemuda justru setengah terpeleset karena terlalu tajam mengerem, membuatnya jatuh terduduk di aspal.

Tidak ayal lagi, massa pun segera tiba menyerang dengan tinju dan tendangan. Si pencuri langsung berteriak “ampun, ampun, ampun”.

Penghakiman massal yang terjadi di tengah jalan raya membuat kendaraan tersumbat arusnya. Macet. Banyak pula pengendara yang memilih berhenti untuk melihat penggebukan massa yang brutal.

Dari arah jauh, muncul dua orang polisi berseragam yang berlari ke pusat menangkapan maling. Ketika polisi sampai, jangan ditanya seperti apa kondisi wajah si pencuri spion.

Radit hanya memandangi dari jauh keramaian itu. Tidak berapa lama, dia memilih pergi melanjutkan perjalanannya.

“Maling begooo, maling bego. Maling kok di waktu ramai,” ucap Radit kepada dirinya sendiri. Lalu pikirnya, “Kalau maling kaca spion sama maling motor risikonya sama digebukin dan masuk penjara, mendingan maling mobil sekalian, maling toko emas yang banyakan, atau maling di bank.”

Radit terus berjalan. Tidak berapa lama, dia berhenti.

“Kenapa aku enggak maling saja. Yang penting enggak ketangkap, aman dan pilih maling yang uang cepat. Jangan maling di tempat ramai.”

Mendadak Radit tersenyum sendiri, seolah-olah dia menemukan ide cemerlang.

“Aku harus pulang. Aku harus menyusun rencananya biar seperti maling profesional.”

Singkat cerita.

Radit telah tidur-tiduran di ranjangnya sambil browsing di hp-nya. Dia menimbang-nimbang maling apa yang tepat untuk dia tekuni, maling komoditi yang cepat jadi duit. Atau uang apa yang bisa dia langsung dapat tanpa risiko ketahuan.

Maling motor jelas bukan ahlinya untuk menjebol kunci dalam waktu beberapa detik, apalagi kalau maling kaca spion mobil mewah atau maling mobil.

“Antara emas atau uang langsung….”

Radit berpikir.

“Kalau toko emas, sekali dapat langsung beres urusan. Walaupun banyak cctv, tinggal pakai helm sama masker, beres.”

Itulah yang dipikirkan oleh Radit. Akhirnya dia pun melakukan penggalian “ilmu” maling toko emas dari internet. Meski tidak ada ilmu yang menyajikan secara tertulis atau versi lainnya, tetapi Radit mempintar-pintarkan diri.

Dia menonton film-film yang memiliki adegan perampokan toko emas. Dia membaca berita dan cerita tentang perampokan toko emas. Dia mencari tahu tentang jam operasional sebuah toko emas, termasuk jam pasar mulai buka dan tutup.

Tidak sekedar itu, Radit juga melakukan survey lokasi dengan memilih satu toko emas. Dalam satu pekan lamanya, Radit menjadi pembelajar dan penuntut ilmu perampok toko emas. Termasuk dia mempelajari ke mana emas itu bisa diuangkan. (RH)

----------------------------------

Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

16 komentar:

  1. Eh bisa komentar di sini, Om.👏Coba komen random. Padahal aku baru baca sampai bab tiga loh. Enggak masuk komenku😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba diulang lagi komen di bab 1

      Hapus
    2. Gak bisa. Katanya "komentar anda akan terlihat setelah disetujui" entah disetujui siapa gak tau, Om. Ntar aku coba di bab 4

      Hapus
  2. Awal karir si Radit ini maling ternyata. Balik lagi ke bab1 ah, keknya dia sukses di masa depan. Mungkin bisa memotivasi kita, Om🙄🤧

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kesuksesan dengan karir berdosa gitu?

      Hapus
    2. Sekarang enggak mau. Beda kalau Om tanya 20th lalu. Sekarang mau lebih baik apalagi gaulnya sama ustadz Rudi. Terlepas prihal selingkuh online itu tentunya😂

      Hapus
    3. hahahahaha! Gaul sama ustaz berpotensi tobat ya?

      Hapus
    4. Pastilah, Om. Sebebal-bebalnya manusia kalau terus dicekoki kebaikan, pasti berubah ke lebih baik dong. kecuali mungkin perkara selingkuh online ituuu 😂

      Hapus
    5. Hahahaha! Tetapi jejak digital susah dihapus lhoo, ini bisa jadi bukti kuat di alam barzakh

      Hapus
    6. Nama Sandaria enggak akan terdata di alam barzakh, Om. kecuali Om berani nyebut nama asliku ke malaikat. nama Rudi Hendrik pasti. nah gimana tuh. Aku ogah nemenin Om🤧

      Hapus
    7. Wadduh, Om masuk jebakan kodok dong

      Hapus