Uang Itu Buta, Bab10 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*


Entah siapa yang harus Andini patuhi? Apakah suaminya atau ibunya?

Tidak sampai Andini satu hari di rumah kontrakannya, ibunya datang untuk memaksanya pulang dan membiarkan Radit sendirian.

“Sudah Ibu katakan, selesaikan dulu urusan pinjaman online kamu itu, baru kamu boleh bersama Andini lagi. Ibu tidak mau kamu beri makan Andini dan bayinya hasil dari bunga uang. Paham?!” kata Rukmah marah-marah saat melabrak menantunya.

Radit hanya bisa pasrah. Andini pun tidak berdaya.

Sebenarnya Andini lebih berat ingin merawat suaminya, meski sebelumnya dia marah besar. Namun, paksaan sang ibu lebih meledak-ledak.

“Kalau kamu masih mementingkan lelaki pembohong ini, jangan pernah pulang ke rumah lagi, Andini!” ancam Rukmah kepada putrinya.

Ancaman seperti itu jelas membuat Andini mau tidak mau harus rela meninggalkan suaminya.

Jadilah Radit sebatang kara.

Kemalangan Radit belum berakhir. Keesokannya, Warsina bersama suami dan keluarganya pulang kampung karena ada keluarga yang meninggal. Namun tidak masalah, Radit bisa mengandalkan pesan makanan secara daring.

Radit harus menerima kenyataan, sakit kakinya akan lama, karena tidak ada cara untuk mempercepat pengempesan bengkak di lututnya. Sakitnya memang sudah berkurang, tetapi besaran bengkaknya tidak bisa dipaksakan untuk cepat mengecil. Jika dipaksakan beraktivitas, justru bengkaknya akan semakin terpelihara dan berkembang.

Akhirnya hari jatuh tempo tagihan utang online tiba. Peringatan via pesan pun datang. Radit tanpa pikir panjang mentransfer angsuran untuk dua bulan beserta bunganya.

Radit sudah mengambil keputusan itu dengan kondisi bahwa sekarang dia tidak akan bisa membayar setoran ke Erwin Bujana. Pikirnya, Erwin sebagai teman akan memaklumi kondisinya dan memberi keringanan. Dia hanya terlambat beberapa hari, karena setelah dia mendapat uang pesangon, dia akan segera transfer total angsuran untuk hp yang dikreditkan.

“Baik, pokoknya empat hari lagi, uang itu harus elu transfer, Dit!” tegas Erwin Bujana via telepon setelah Radit meminta keringanan waktu. Dia sudah tidak mempertimbangkan adanya hubungan pertemanan dengan Radit.

Keesokan harinya, ketika keluar menerima makanan pesanan online-nya, Radit juga kedatangan tamu empat orang yang mengendarai dua sepeda motor. Satu pun orang tidak ada yang Radit kenal. Perawakan keempat orang itupun besar-besar.

“Maaf, Pak Radit. Kami orang suruhan Bos Erwin. Kami datang untuk mengambil sepeda motor Bapak sebagai jaminan,” ujar salah satu dari keempat lelaki suruhan Erwin Bujana.

“Eh eh eh! Aku sudah diberi waktu oleh Erwin. Erwin enggak pernah bicara tentang barang jaminan!” seru Radit yang berdiri dengan dua tongkatnya.

“Maaf, Pak Radit. Jika tidak pecaya, Pak Radit telepon saja ke Bos,” kata lelaki berkumis yang menjadi jubir kelompok orang itu.

Radit lalu menelepon Erwin Bujana.

“Win, kenapa tiba-tiba kamu nyuruh orang untuk nyita motor aku?” tanya Radit sewot.

“Gua enggak akan percaya sama janji elu. Jadi, perlu ada jaminan,” tandas Erwin.

“Enggak, aku enggak akan kabur. Kalau kamu sita motor aku, terus … bagaimana caranya aku keliling?”

“Gua enggak peduli bagaimana caranya. Elu punya otak. Pokoknya harus ada jaminan!” tegas Erwin lagi. Setelah itu, dia menutup sambungan teleponnya.

“Win! Win!” panggil Radit dan berhenti setelah tahu Erwin memutuskan sambungan. Lalu gerutunya, “Ternyata berengsek juga ni orang.”

“Pak Radit, tolong kunci motornya!” pinta lelaki utusan.

“Enggak akan aku kasih!” tandas Erwin.

“Jangan sampai kami main kasar, Pak,” ancam lelaki utusan.

Ketiga rekannya memandangi Radit pula dengan tatapan siap ribut.

“Tidak akan aku biarkan motor aku kalian ambil!” tegas Radit sambil bergeser memegangi stang sepeda motornya.

“Geledah kamarnya!” perintah pemimpin utusan.

Dua orang dari mereka segera pergi ke kamar Radit.

“Eh eh! Kalian jangan seperti penjahat begitu!” teriak Radit sambil buru-buru hendak menghalangi kedua orang tersebut mencapai kamarnya.

“Minggir!” bentak satu orang sambil menyenggol Radit dengan lengan besarnya.

“Akh!” pekik Radit karena dia terdorong dan tidak bisa menguasai diri. Upayanya untuk menahan tubuhnya justru membuat sakitnya terhentak sangat sakit.

Bduk!

Radit jatuh ke lantai dengan keras.

Sementara dua penagih terus pergi ke kamar Radit.

“Jangan ambil kunci motor aku. Awas, aku laporkan ke polisi!” teriak Radit sambil mengerenyit memegangi lututnya yang berdenyut-denyut. Kunci motornya ada di atas meja kamar, pastinya dua orang itu akan mudah menemukannya.

“Laporkan saja. Kami mengambil motor elu buat jaminan, bukan untuk dimiliki. Justru elu yang kami lapor balik karena telah menipu Bos Erwin!” ancam pemimpin penagih itu pula.

“Aku ini teman akrab Erwin, tetapi kenapa aku diperlakukan seperti ini?” tanya Radit yang sudah tidak bisa untuk mencegah.

“Kebalik, Bro. Justru elu yang tega menipu Bos Erwin, teman elu. Ini urusan cuan, enggak ada sahabat atau saudara di dalam bisnis. Harus profesional,” tandas lelaki itu lagi.

Tidak berapa lama, dua orang yang masuk menggeledah kamar sudah keluar.

“Kunci sama STNK nya sudah dapat,” kata salah satu dari mereka sambil menunjukkan kunci dan selembar STNK di tangannya.

Pemimpinnya mengangguk. Lalu katanya kepada Radit, “Angsuran lancar, motor elu balik.”

Radit yang sangat kesakitan di lututnya tidak membalas lagi. Pikir dia, akan percuma saja.

Maka keempat orang itu lalu pergi dengan membawa sepeda motor Radit satu-satunya.

Radit hanya merebahkan diri di lantai rumahnya sambil mengelus-elus lutut bengkaknya yang kini berdenyut-denyut menyakitkan.

Radit dilanda kebingungan. Dia yakin, akibat jatuhnya, lututnya akan kian parah. Dan tanpa sepeda motor, dia akan bingung dengan rencananya untuk pergi mengambil pesangon di bekas perusahaannya atau pergi ke rumah pelanggannya yang putus kontak.

Waktu pun berlalu dan Radit melalui beberapa harinya dengan penderitaan.

Namun, ketika pada hari waktu Radit seharusnya mengambil uang pesangon di perusahaan, keberuntungan cukup berpihak kepadanya. Warsina sudah pulang dari kampung. Radit minta tolong agar diantar oleh suami Warsina. Istilahnya ngojek.

Radit harus datang ke kantor karena dia harus bertanda tangan agar pesangonnya bisa cair.

Dengan modal uang pesangon itulah Radit bisa membayar total angsuran per bulan, yaitu nominal angsuran per bulan kali jumlah hp yang sudah dikreditkan tanpa dikurangi meski ada pengkredit yang kabur.

“Win, aku sudah transfer angsurannya. Tolong motor aku dikembalikan dong,” kata Radit kepada Erwin Bujana ketika menelepon.

“Angsurannya masih banyak. Sepuluh bulan lagi. Enggak ada jaminan elu enggak bakal kabur. Motor elu itu saja harganya enggak cukup kalau buat nebus semuanya,” tolak Erwin. “Kalau elu sampai berani-berani kurang setoran, kekurangannya langsung gua tutupi dengan harga motor elu. Kalau masih kurang, harta benda di rumah elu bakal dikuras sama anak buah gua.”

Radit hanya bisa lemas mendapati sikap Erwin Bujana seperti itu.

“Iya. Nanti aku lunasi, kalau perlu lunas semua sebelum waktunya.” Itu kata-kata terakhir Radit kepada Erwin di telepon. Setelah itu dia hanya memendam kekesalannya.

“Enggak nyangka, duit itu buta. Bisa bikin orang enggak kenal teman lagi. Enggak nyangka ternyata Erwin begitu,” ucap Radit kepada dirinya. “Sebulan lagi. Semoga sebelum jatuh tagihan aku sudah sembuh.” (RH)

-------------------------------------

Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar: