*Miliarder Ular Biru*
Entah siapa yang harus Andini patuhi? Apakah suaminya atau ibunya?
Tidak sampai Andini
satu hari di rumah kontrakannya, ibunya datang untuk memaksanya pulang dan
membiarkan Radit sendirian.
“Sudah Ibu katakan,
selesaikan dulu urusan pinjaman online kamu itu, baru kamu boleh bersama Andini
lagi. Ibu tidak mau kamu beri makan Andini dan bayinya hasil dari bunga uang. Paham?!”
kata Rukmah marah-marah saat melabrak menantunya.
Radit hanya bisa
pasrah. Andini pun tidak berdaya.
Sebenarnya Andini
lebih berat ingin merawat suaminya, meski sebelumnya dia marah besar. Namun, paksaan
sang ibu lebih meledak-ledak.
“Kalau kamu masih
mementingkan lelaki pembohong ini, jangan pernah pulang ke rumah lagi, Andini!”
ancam Rukmah kepada putrinya.
Ancaman seperti itu
jelas membuat Andini mau tidak mau harus rela meninggalkan suaminya.
Jadilah Radit
sebatang kara.
Kemalangan Radit
belum berakhir. Keesokannya, Warsina bersama suami dan keluarganya pulang
kampung karena ada keluarga yang meninggal. Namun tidak masalah, Radit bisa
mengandalkan pesan makanan secara daring.
Radit harus menerima
kenyataan, sakit kakinya akan lama, karena tidak ada cara untuk mempercepat pengempesan
bengkak di lututnya. Sakitnya memang sudah berkurang, tetapi besaran bengkaknya
tidak bisa dipaksakan untuk cepat mengecil. Jika dipaksakan beraktivitas,
justru bengkaknya akan semakin terpelihara dan berkembang.
Akhirnya hari jatuh
tempo tagihan utang online tiba. Peringatan via pesan pun datang. Radit
tanpa pikir panjang mentransfer angsuran untuk dua bulan beserta bunganya.
Radit sudah mengambil
keputusan itu dengan kondisi bahwa sekarang dia tidak akan bisa membayar
setoran ke Erwin Bujana. Pikirnya, Erwin sebagai teman akan memaklumi
kondisinya dan memberi keringanan. Dia hanya terlambat beberapa hari, karena
setelah dia mendapat uang pesangon, dia akan segera transfer total angsuran
untuk hp yang dikreditkan.
“Baik, pokoknya empat
hari lagi, uang itu harus elu transfer, Dit!” tegas Erwin Bujana via telepon
setelah Radit meminta keringanan waktu. Dia sudah tidak mempertimbangkan adanya
hubungan pertemanan dengan Radit.
Keesokan harinya,
ketika keluar menerima makanan pesanan online-nya, Radit juga kedatangan
tamu empat orang yang mengendarai dua sepeda motor. Satu pun orang tidak ada
yang Radit kenal. Perawakan keempat orang itupun besar-besar.
“Maaf, Pak Radit.
Kami orang suruhan Bos Erwin. Kami datang untuk mengambil sepeda motor Bapak
sebagai jaminan,” ujar salah satu dari keempat lelaki suruhan Erwin Bujana.
“Eh eh eh! Aku sudah
diberi waktu oleh Erwin. Erwin enggak pernah bicara tentang barang jaminan!”
seru Radit yang berdiri dengan dua tongkatnya.
“Maaf, Pak Radit.
Jika tidak pecaya, Pak Radit telepon saja ke Bos,” kata lelaki berkumis yang
menjadi jubir kelompok orang itu.
Radit lalu menelepon
Erwin Bujana.
“Win, kenapa
tiba-tiba kamu nyuruh orang untuk nyita motor aku?” tanya Radit sewot.
“Gua enggak akan
percaya sama janji elu. Jadi, perlu ada jaminan,” tandas Erwin.
“Enggak, aku enggak
akan kabur. Kalau kamu sita motor aku, terus … bagaimana caranya aku keliling?”
“Gua enggak peduli
bagaimana caranya. Elu punya otak. Pokoknya harus ada jaminan!” tegas Erwin
lagi. Setelah itu, dia menutup sambungan teleponnya.
“Win! Win!” panggil
Radit dan berhenti setelah tahu Erwin memutuskan sambungan. Lalu gerutunya,
“Ternyata berengsek juga ni orang.”
“Pak Radit, tolong
kunci motornya!” pinta lelaki utusan.
“Enggak akan aku
kasih!” tandas Erwin.
“Jangan sampai kami
main kasar, Pak,” ancam lelaki utusan.
Ketiga rekannya
memandangi Radit pula dengan tatapan siap ribut.
“Tidak akan aku
biarkan motor aku kalian ambil!” tegas Radit sambil bergeser memegangi stang
sepeda motornya.
“Geledah kamarnya!”
perintah pemimpin utusan.
Dua orang dari mereka
segera pergi ke kamar Radit.
“Eh eh! Kalian jangan
seperti penjahat begitu!” teriak Radit sambil buru-buru hendak menghalangi
kedua orang tersebut mencapai kamarnya.
“Minggir!” bentak
satu orang sambil menyenggol Radit dengan lengan besarnya.
“Akh!” pekik Radit
karena dia terdorong dan tidak bisa menguasai diri. Upayanya untuk menahan tubuhnya
justru membuat sakitnya terhentak sangat sakit.
Bduk!
Radit jatuh ke lantai
dengan keras.
Sementara dua penagih
terus pergi ke kamar Radit.
“Jangan ambil kunci
motor aku. Awas, aku laporkan ke polisi!” teriak Radit sambil mengerenyit
memegangi lututnya yang berdenyut-denyut. Kunci motornya ada di atas meja
kamar, pastinya dua orang itu akan mudah menemukannya.
“Laporkan saja. Kami
mengambil motor elu buat jaminan, bukan untuk dimiliki. Justru elu yang kami
lapor balik karena telah menipu Bos Erwin!” ancam pemimpin penagih itu pula.
“Aku ini teman akrab
Erwin, tetapi kenapa aku diperlakukan seperti ini?” tanya Radit yang sudah
tidak bisa untuk mencegah.
“Kebalik, Bro. Justru
elu yang tega menipu Bos Erwin, teman elu. Ini urusan cuan, enggak ada sahabat
atau saudara di dalam bisnis. Harus profesional,” tandas lelaki itu lagi.
Tidak berapa lama,
dua orang yang masuk menggeledah kamar sudah keluar.
“Kunci sama STNK nya
sudah dapat,” kata salah satu dari mereka sambil menunjukkan kunci dan selembar
STNK di tangannya.
Pemimpinnya
mengangguk. Lalu katanya kepada Radit, “Angsuran lancar, motor elu balik.”
Radit yang sangat
kesakitan di lututnya tidak membalas lagi. Pikir dia, akan percuma saja.
Maka keempat orang
itu lalu pergi dengan membawa sepeda motor Radit satu-satunya.
Radit hanya
merebahkan diri di lantai rumahnya sambil mengelus-elus lutut bengkaknya yang
kini berdenyut-denyut menyakitkan.
Radit dilanda
kebingungan. Dia yakin, akibat jatuhnya, lututnya akan kian parah. Dan tanpa
sepeda motor, dia akan bingung dengan rencananya untuk pergi mengambil pesangon
di bekas perusahaannya atau pergi ke rumah pelanggannya yang putus kontak.
Waktu pun berlalu dan
Radit melalui beberapa harinya dengan penderitaan.
Namun, ketika pada
hari waktu Radit seharusnya mengambil uang pesangon di perusahaan,
keberuntungan cukup berpihak kepadanya. Warsina sudah pulang dari kampung.
Radit minta tolong agar diantar oleh suami Warsina. Istilahnya ngojek.
Radit harus datang ke
kantor karena dia harus bertanda tangan agar pesangonnya bisa cair.
Dengan modal uang
pesangon itulah Radit bisa membayar total angsuran per bulan, yaitu nominal
angsuran per bulan kali jumlah hp yang sudah dikreditkan tanpa dikurangi meski
ada pengkredit yang kabur.
“Win, aku sudah
transfer angsurannya. Tolong motor aku dikembalikan dong,” kata Radit kepada
Erwin Bujana ketika menelepon.
“Angsurannya masih
banyak. Sepuluh bulan lagi. Enggak ada jaminan elu enggak bakal kabur. Motor
elu itu saja harganya enggak cukup kalau buat nebus semuanya,” tolak Erwin.
“Kalau elu sampai berani-berani kurang setoran, kekurangannya langsung gua
tutupi dengan harga motor elu. Kalau masih kurang, harta benda di rumah elu
bakal dikuras sama anak buah gua.”
Radit hanya bisa
lemas mendapati sikap Erwin Bujana seperti itu.
“Iya. Nanti aku
lunasi, kalau perlu lunas semua sebelum waktunya.” Itu kata-kata terakhir Radit
kepada Erwin di telepon. Setelah itu dia hanya memendam kekesalannya.
“Enggak nyangka, duit
itu buta. Bisa bikin orang enggak kenal teman lagi. Enggak nyangka ternyata
Erwin begitu,” ucap Radit kepada dirinya. “Sebulan lagi. Semoga sebelum jatuh
tagihan aku sudah sembuh.” (RH)
-------------------------------------
Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.


Yang baca ikut puyeng Dit 😅
BalasHapushahahahahah!
HapusKasihan sih. padahal di saat begini Radit sangat butuh goyangan istrinya lohðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤£
BalasHapusHahahaha, betul banget
Hapus