*Rudi Adalah Cintaku*
Haruskah ku
berpasraaah, berdiam diri tiada langkah
Menunggu
kepastiaaaan, menyerah dengan keadaan
Entah apa sebabnyaaa,
mengapa ku jatuh cinta
Padamu yang ku anggap
cuma, teman biasaaa
Pernah aku mencobaaa,
membuang rasa iniii
Ternyata aku
tersiksaaa, tak tahu gimana lagiii
Khayalan tentang
dirimuuu, bertahta di benakkuuu
Merana jiwaku merana,
sakiiit, melihat kau dan diaaa
Semestinya ku
mengertiii, tak mungkin kau kumilikiii
Meskipun kau pun jua
merasa, gejolak yang aku deritaaa
Dirimu ada yang
cintaaa, hatimu ada yang punyaaa
Apakah aku berdosa,
bila kucinta padamuuu
Awalnya cuma teman
biasa
Lagu slowrock
penyanyi Minang bernama Aprilian yang berjudul “Kusangka Cuma Teman Biasa”
ciptaan Roza’c Tanjung, menjadi suguhan musik yang tidak seperti biasanya di
Londo Cafe.
Meski bunyi liriknya
tidak begitu pas dengan kondisi bencana cinta Rudi, tetapi ada kalimat-kalimat
yang cukup mewakili suasana hatinya, sehingga semakin membawa Rudi dalam
kesedihan dan kerinduan yang berat, memaksanya untuk terus minum banyak bir
demi menghilangkan rasa rindu yang begitu menyiksa batinnya.
Padahal, ketika
melewati pos keamanan, satpam yang tidak mau disebutkan namanya memberi
nasihat.
“Lebih baik jangan
mabuk, mendingan main perempuan saja. Kalau mabuk hilang akal, tapi kalau main
cewek bisa tobat pas ketemu jodoh,” kata si satpam yang juga tidak luput
menonton video viral Rudi sebelumnya.
“Terakhir, Bang,”
jawab Rudi enteng.
“Iya kalau minumnya
yang berakhir, kalau nyawa yang berakhir? Gak ada kesempatan kedua,” kata si
satpam agak ketus. Meski dia penjaga Londo Cafe yang penuh maksiat, tetapi dia
masih punya akal sehat sebesar belasan persen.
Namun, ya itulah
Rudi.
Memang, di dalam hati
dia berkomitmen bahwa minum-minuman pada malam itu adalah yang terakhir.
Setelah itu mungkin dia akan mengikuti saran Sandro, pergi melaut untuk mengalihkan
pikiran. Meski sekedar nelayan biasa, nanti setidaknya puangnya bisa bangga
bahwa dia sudah memiliki penghasilan, tidak seperti saat ini yang minum buat
mabuk pun masih pakai uang ortu.
Karena menganggap ini
kali terakhir dia akan mabuk, Rudi memesan bir yang lebih mahal dan kadar
alkoholnya lebih tinggi.
Di tempat lain,
tepatnya di rumah Daeng Tanri. Pengusaha di Pelelangan Sinar Nelayan itu bangun
sebelum waktu azan subuh. Bangun sebelum azan subuh sudah menjadi jam
biologisnya. Jadi, tanpa mendengar suara alarm atau suara kokok ayam, tubuhnya
akan bereaksi bangun sendiri. Jam biologis bisa disetel berdasarkan kebiasaan.
Itu jika tidak salah.
Sejak semalam, Daeng
Tanri sudah punya niat untuk mengajak Rudi salat subuh, siapa tahu putranya itu
dapat hidayah setelah bebas dari penjara.
Namun, Daeng Tanri
cukup terkejut karena dia mendapati pintu kamar Rudi yang tidak tertutup rapat,
alias tidak dikunci. Dan ketika dibuka, ternyata kamar kosong dari manusia.
Daeng Tanri bergegas
memeriksa pintu depan. Tidak dikunci. Dugaan lelaki kurus itu semakin kuat. Dan
benar, Rudi telah pergi karena sepeda motornya yang baru saja di-service sudah
tidak ada.
“Ya Allah,” ucap
Daeng Tanri lirih.
Maka tanpa
membangungkan istrinya lebih dulu, Daeng Tanri pergi meninggalkan rumah. Dia
tidak bermaksud ikut-ikutan minggat seperti Rudi, tapi dia pergi mengetuk rumah
Aziz.
Singkat waktu dan
cerita.
Daeng Tanri meminta
bantuan Aziz untuk pergi melihat ke Londo Cafe, apakah ada Rudi atau tidak.
Aziz sebagai sahabat setia dengan senang hati memenuhi permintaan Daeng Tanri,
tapi tidak sambil tertawa-tawa hanya karena dia senang hati.
Aziz pun mengetuk
rumah Sandro untuk minta ditemani.
“Allahuakbar allahuakbar!”
Bertepatan dengan
kumandang azan salat subuh, kedua sahabat itupun pergi ke Londo Cafe dengan
satu sepeda motor. Jangan salahkan Daeng Tanri yang memberi tugas tepat pada
waktu salat subuh, tapi sebelumnya orang tua itu sudah bertanya kepada Aziz.
“Kalian lagi halangan
kan? Enggak salat subuh?” tanya Daeng Tanri kepada Aziz.
“Bukan begitu, Puang.
Hanya saja, urusan Rudi lebih darurat daripada salat subuh. Urusan Rudi perkara
nyawa.”
Itulah dalih
akal-akalan setan di kepala Aziz demi menghindari salat subuh. Daeng Tanri
tidak mendesak keduanya untuk salat dulu, karena dia memang sudah hapal dengan
karakter dua pemuda jomblo itu. Beda dengan Rudi yang baru mau salat kalau
disuruh ayahnya.
Bisa dikata bahwa
Aziz dan Sandro adalah pelaku ikhtiarnya, sementara Daeng Tanri pelaku doanya.
“Biar saya yang
doakan jika kalian tidak bisa mendoakan Rudi,” kata Daeng Tanri sebelum melepas
kedua sahabat putranya itu.
Kondisi jalan raya
yang sepi, membuat Aziz dan Sandro hanya butuh waktu dua puluh menit untuk
sampai ke Londo Cafe.
Tidak jauh beda
dengan malam-malam ketika Rudi mabuk, Aziz dan Sandro pun menemukan Rudi sudah
tengkurap di lantai parkiran di samping sepeda motornya.
Ternyata, kali ini
level mabuk Rudi lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya. Rudi dalam kondisi
benar-benar teler. Jangankan berdiri, untuk bangun duduk pun dia sudah tidak
bisa.
Telah dilakukan
beberapa kali percobaan agar Rudi bisa duduk, tetapi ia terus jatuh seperti
pemuda tulang lunak. Mau tidak mau, Rudi harus diangkat oleh dua tenaga orang,
buka tenaga kuda.
Repotnya lagi, dua
sahabat itu lupa bawa tali atau sabuk pengaman. Jadi, sepeda motor Rudi
terpaksa ditinggal. Aziz yang bawa sepeda motor, Rudi didudukkan di belakangya
dan Sandro menjadi pengaman Rudi di belakang.
Rudi masih sadar
dalam arti tidak pingsan. Celotehannya sudah tidak jelas seperti orang mengigau
di saat mimpi setan atau mimpi ada maling.
Ketika mereka sedang
menuju pulang, di saat langit di balik badan Gunung Rajabasa mulai terang,
tiba-tiba….
“Hoekh!”
Rudi muntah di atas
bahu kanan Aziz.
“Aaa! Rudi muntaaah!”
teriak Aziz histeris berbuah panik karena muntahan Rudi mengotori baju dan
badannya.
“Yang benar bawa
motornya, Genduuut!” teriak Sandro pula terkejut karena motor tahu-tahu oleng.
Bruakr!
Sementara itu, di
Masjid Al-Fatah, Daeng Tanri begitu kusyuk berdoa, sampai-sampai dia orang
terakhir kedua yang meninggalkan masjid.
Setibanya di rumah,
Kamsiah sudah menunggu di teras dengan wajah kusut plus cemas. Daeng Tanri
sudah bisa menerka apa yang dicemaskan oleh istrinya.
“Rudi pergi
diam-diam. Aziz sama Sandro sedang menjemputnya. Enggak usah khawatir. Sudah
salat?” kata Daeng Tanri menenangkan istrinya dan berujung pertanyaan.
“Belum.”
“Salat dulu biar
lebih tenang. Pagi ini saya enggak ke lelang. Saya mau tunggu Rudi pulang,”
kata Daeng Tanri sambil menyentuh punggung istrinya untuk diajak masuk.
Pasangan suami istri yang
lebih banyak harmonis itu lalu masuk ke dalam tanpa menutup pintu depan lagi.
Meski pagi belum begitu terang, rumah Rudi memang sudah biasa terbuka setelah
salat subuh.
Setelah Kamsiah berwudu
dan melaksanakan salat subuh seorang diri, Daeng Tanri pergi ke kamar mandi
dalam kondisi masih rapi, bahkan masih memakai peci hajinya yang berwarna
putih.
Kamsiah menangis di
dalam salatnya, padahal saat itu baru masuk ke rakaat kedua. Pada saat membaca
doa qunut, Kamsiah makin menangis. Dia memikirkan dosa-dosanya sehingga
memiliki seorang anak pendosa seperti Rudi.
Bdak! Bdag!
Tiba-tiba terdengar
dua suara kencang yang bersumber dari dalam kamar mandi. Itu suara benda jatuh
dan seperti suara kepala menghantam lantai. Suara benturan kepala biasanya
sangat khas.
Kamsiah yang
mendengar suara gaduh sejenak itu terkejut. Kekusyukan salatnya jadi terganggu
oleh dugaan-dugaan buruk. Ia pun mempercepat gerakan salatnya hingga berakhir dengan
salam.
Tanpa menyisihkan
waktu untuk berzikir atau berdoa lagi, Kamsiah buru-buru bangun dan berlari
kecil ke kamar mandi.
“Daeng! Daeng!” panggil
Kamsiah bernada panik sambil berdiri diam di depan pintu kamar mandi.
Namun, tidak ada
jawaban bahkan tidak ada suara dari dalam kamar mandi. Kondisi sepi itu justru
membuat Kamsiah ingin menangis, dugaannya sudah sangat buruk.
“Daeng!” panggil
Kamsiah sambil mendorong daun pintu perlahan.
Ternyata pintu kamar
mandi tidak dikunci. Logikanya, buat apa dikunci, toh hanya bersama istri di
rumah.
Dak!
Ketika daun pintu
didorong dan terdorong membuka, daun pintu langsung terganjal oleh benda keras
sehingga hanya terbuka sedikit.
“Daeng!” panggil
Kamsiah lagi sambil mencoba melongok lewat celah pintu yang sempit karena
tertahan oleh sesuatu yang belum dilihatnya.
Deg!
Tiba-tiba Kamsiah
melihat cairan darah segar yang meluber di lantai kamar mandi yang baru
dilihatnya sedikit. Saat itu juga jantungnya seperti digodam yang membuatnya
lemas. Namun, dia belum melihat sumber darah tersebut.
“Daeeeng!” sebut
Kamsiah gemetar dan sudah menangis.
Dengan sisa tenaganya,
dia dorong pintu kamar mandi lebih keras, sehingga celah semakin melebar dan wajahnya
bisa masuk melihat kondisi kamar mandi dengan leluasa.
Alangkah terkejutnya
Kamsiah melihat tubuh suaminya yang masih berbaju koko dan bersarung,
tergeletak diam tidak teratur dan diam tanpa gerakan. Rupanya yang mengganjal
belakang pintu adalah kepala Daeng Tanri di kamar mandi yang menjadi sumber keluarnya
darah. Peci haji yang masih melekat di kepala memerah sebagian.
“Daeeeng …!” pekik
Kamsiah begitu kencang sambil termundur lalu jatuh terkulai tidak sadarkan diri.
Dak!
Kepalanya pun terdengar menghantam ubin, tapi tidak begitu keras. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar