*Miliarder Ular Biru*
Radit yang berhasil
lolos dari kejaran dan pencarian para satpam pasar, terdengar terisak ketika
dia pergi berjalan menyusuri got besar itu. Entah apa yang dia sesali sehingga
mendorongnya untuk menangis?
Setelah cukup jauh
meninggalkan belakang lingkungan pasar, barulah dia naik dari selokan dengan
tetap membawa buntalan kain dan berpenampilan orang gila berambut gimbal.
Radit pergi ke tempat
yang sepi dan gelap, di pinggiran taman kota yang memiliki banyak pohon.
Dia duduk di balik
tembok pagar taman yang tidak terjangkau oleh lampu taman yang berjarak
jauh-jauh.
Dia sudah tidak
terisak, tetapi napasnya terdengar sayup-sayup terengah-engah. Dia memilih
merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Jika bukan demi menyelamatkan nyawanya,
mungkin dia tidak bisa sampai selelah itu. Dorongan untuk selamat ternyata
memberinya tenaga ekstra.
Meski sangat lelah,
Radit tidak bisa tidur. Dia pun tidak ingin ketiduran. Dia takut saat bangun,
polisi justru sudah mengerumuninya.
Setelah napasnya
sudah tidak terengah-engah, Radit bergerak bangun. Dia merogoh buntalan
kainnya. Dia mengambil ponsel dan menyalakannya. Dengan ponsel itu dia
menyenter dan melihat perhiasan hasil rampokannya.
“Heeeh!” Radit
menghempaskan napas kecewa. Lalu ucapnya lirih, “Sedikit sekali.”
Kecewa dan menyesal
karena emas yang berhasil dia ambil dalam sekali raupan dinilainya sedikit.
Radit pun menyesal karena perencanaannya masih berlubang, sehingga keamanan
pasar dengan cepat mengetahui aksinya. Dia hanya bisa menduga-duga di mana
letak kesalahannya sehingga mudah ketahuan.
Sementara itu, dalam
waktu tidak berapa lama, pemilik toko emas Mahkota Cahaya telah datang ke
tokonya setelah dikabari oleh sekuriti. Polisi pun segera tiba di TKP.
Polisi yang dipimpin
oleh Ipda Rudyono, bekerja dengan cepat. Yang langsung mereka periksa adalah
rekaman CCTV dengan kelima satpam sebagai saksi.
Hasil rekaman CCTV
sulit mengenali orang gila yang merampok.
Pagi-pagi, warga
pasar pun geger. Para wartawan berbagai media segera ramai berdatangan. Berita
perampokan itupun segera tayang di televisi mainstream.
Berbagai judul berita
segera naik, seperti “Orang Gila Rampok Toko Emas”, “Perampok Jebol Toko Emas,
Satu Satpam Luka”, “Perampok Sukses Gasak Perhiasan di Toko Emas”, “Menyamar
ODGJ, Perampok Curi Emas di Toko”, dan berbagai judul lainnya.
Wajah Radit dalam
samaran orang gila yang mengenakan masker, yang terekam oleh CCTV di luar toko
emas, tersebar dengan cepat bersama beritanya. Wajah ODGJ Radit dan berita
aksinya segera viral, menyebar cepat di berbagai platform media sosial. Bahkan
Radit sendiri menerima informasi tersebut.
Radit yang pagi-pagi
telah berganti penampilan kepada sosok aslinya dengan kepala botak, semakin
cemas, meski dia yakin bahwa polisi tidak akan mengenali wajah orang gilanya.
Dia telah menyembunyikan pakaian orang gilanya di suatu tempat yang sangat rahasia.
Dia sangat yakin bahwa polisi tidak akan menemukan jejak atau barang bukti yang
kuat.
Radit baru pulang ke
rumah kontrakannya sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, Radit pagi itu tidak pernah
sampai atau masuk ke rumahnya.
Ketika pandangannya
sudah menjangkau pagar rumah kontrakannya, Radit yang saat itu mengenakan topi
biru gelap mendadak berhenti. Jantungnya seketika berdegup kencang. Dari
kejauhan, tepatnya dari pinggir jalan raya, Radit melihat keberadaan sejumlah
lelaki berpakaian umum sedang berada di depan rumahnya. Mungkin juga sudah
berada di dalam rumah.
Buru-buru Radit balik
badan dan berjalan pergi ke arah datangnya tadi. Keringat segera muncul di
dahinya. Dia sangat khawatir jika ketika dia berjalan pergi, ada orang yang
meneriakinya.
“Itu polisi atau debt
collector?” tanya Radit di dalam hati. Dia sangat takut ketahuan. “Tapi
kayaknya polisi. Jumlahnya banyak.”
Beberapa jam
sebelumnya, Ipda Rudyono memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa rekaman
CCTV dalam toko Mahkota Cahaya pada hari kemarin. Berdasarkan laporan karyawan
yang bernama Lastih, pada siang hari ada pemuda yang menjual cincin kawin
dengan surat yang sudah rusak.
“Orang gila jelas
hanya samaran. Coba perhatikan gerak-gerik penjual cincin itu. Apakah ada
kemungkinan orang yang sama!” perintah Rudyono kepada anak buahnya.
“Baik, Pak!” ucap
anak buahnya.
Setelah memerhatikan
rekaman CCTV pada waktu Radit menjual cincinnya, polisi pun berkesimpulan.
Rudyono segera datang
untuk melihat ulang hasil pengamatan anak buahnya.
“Orang itu sesekali
melirik ke arah kamera saat karyawan sedang tidak memandangnya,” kata si anak
buah.
Rudyono pun
memerhatikan dengan seksama dan manggut-manggut, tanda membenarkan anak
buahnya.
“Coba sandingkan
gambar wajah orang gila yang pakai masker itu dengan wajah orang ini!” perintah
Rudyono.
Anak buah segera
bekerja cepat. Dalam waktu singkat, di monitor komputer sudah tersanding dua
wajah, yaitu wajah orang gila bermasker dan wajah Radit yang berkepala botak.
Kedua wajah itu sama-sama melihat ke arah kamera CCTV.
Rudyono lalu menutup
wajah bawah Radit dengan selembar kertas, sehingga hanya mata, dahi dan kepala
yang terlihat.
“Model matanya,
apakah sama?” tanya Rudyono kepada anak buahnya.
“Sama, Pak,” jawab si
anak buah setelah sejenak membandingkan kedua pasang mata di layar komputer.
“Namanya sudah
diketahui. Cepat cari tahu rumahnya!” perintah Rudyono.
“Siap, Pak!”
Seperti itulah cara
polisi mengetahui siapa perampok toko emas Mahkota Cahaya.
Setelah tahu alamat
Radit, polisi segera dikerahkan untuk melakukan penggerebekan dan penangkapan.
Hebohlah para
tetangga ketika penggerebekan dilakukan. Namun, polisi tidak menemukan Radit.
Rumahnya digeledah dan sejumlah barang yang dianggap terkait dengan aktivitas
perampokan disita.
Polisi dalam jumlah
sedikit kemudian ditugaskan pergi ke rumah Andini.
Terkejutlah Andini
dan keluarga besarnya mendapat kabar dari Pak Polisi. Meski polisi hanya melakukan
sejumlah pertanyaan dan menitip pesan agar segera menginformasikan keberadaan
Radit, keluarga Andini pun terguncang hebat.
Andini pun menangis
mengetahui apa yang telah dilakukan oleh suaminya. Sementara Rukmah kian
menjadi-jadi kemarahannya dan semakin benci kepada menantunya.
“Sudah tidak ada
ampun buat si Radit. Kelakuannya semakin setan. Sudah, jangan kamu harap lagi
suami bajingan seperti itu. Syukur-syukur kalau kabarnya dia cuma ditangkap.
Coba kalau kabarnya dia sudah mati ditembak polisi? Anak kamu lahir tanpa bapak
enggak masalah. Dia masih punya kakek nenek yang bisa ngurus berak kencingnya!”
kata Rukmah marah-marah kepada putrinya setelah polisi pergi.
“Mas Radiiit!” ratap
Andini menangis, disaksikan kerabat dan tetangga.
“Celaka sekali lima
kali saya, dapat menantu perampok!” gerutu Rukmah. Lalu teriaknya kepada orang
banyak, “Kalian semua saksikan, mulai sekarang Radit itu bukan suami Andini dan
bukan menantu saya!”
Pak RT dan para
tetangga tidak ada yang menyahut, mereka hanya manggut-manggut mengiyakan
kemarahan Rukmah.
“Kan belum cerai,
Mak?” Ternyata ada juga yang menyahut. Seorang anak remaja berpakaian seragam
SMP. Dia tidak sungkan kepada Rukmah karena dia terbilang anak yang melunjak
kepada orang tua.
“Tidak peduli! Apa
urusan kamu, Anak Cabe?!” teriak Rukmah dengan nada lebih tinggi dan melotot
kepada si bocah.
Anak itu cepat berlari pergi. (RH)


Yah. Cepat banget ketahuannya, Om. Dikiranya mudah untuk jadi rampok profesional kali. Harusnya Radit mulai karir dari yg kecil-kecil dululah, kek maling sempak emak-emak di jemuran aja dulu, Om 🙄🙄🤧
BalasHapushahahahak. Iya ya. Jual sempak mah receh duitnya.
HapusOalah Dit.. dit... Langsung ketahuan.. Pinter ya polisinya 😅
BalasHapuspolisi wajib pinter. kalau cari koruptor, baru gak pinter, ada uang tabirnya. hahaha
Hapus