Mata yang Sama, Bab14 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

 

Radit yang berhasil lolos dari kejaran dan pencarian para satpam pasar, terdengar terisak ketika dia pergi berjalan menyusuri got besar itu. Entah apa yang dia sesali sehingga mendorongnya untuk menangis?

Setelah cukup jauh meninggalkan belakang lingkungan pasar, barulah dia naik dari selokan dengan tetap membawa buntalan kain dan berpenampilan orang gila berambut gimbal.

Radit pergi ke tempat yang sepi dan gelap, di pinggiran taman kota yang memiliki banyak pohon.

Dia duduk di balik tembok pagar taman yang tidak terjangkau oleh lampu taman yang berjarak jauh-jauh.

Dia sudah tidak terisak, tetapi napasnya terdengar sayup-sayup terengah-engah. Dia memilih merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Jika bukan demi menyelamatkan nyawanya, mungkin dia tidak bisa sampai selelah itu. Dorongan untuk selamat ternyata memberinya tenaga ekstra.

Meski sangat lelah, Radit tidak bisa tidur. Dia pun tidak ingin ketiduran. Dia takut saat bangun, polisi justru sudah mengerumuninya.

Setelah napasnya sudah tidak terengah-engah, Radit bergerak bangun. Dia merogoh buntalan kainnya. Dia mengambil ponsel dan menyalakannya. Dengan ponsel itu dia menyenter dan melihat perhiasan hasil rampokannya.

“Heeeh!” Radit menghempaskan napas kecewa. Lalu ucapnya lirih, “Sedikit sekali.”

Kecewa dan menyesal karena emas yang berhasil dia ambil dalam sekali raupan dinilainya sedikit. Radit pun menyesal karena perencanaannya masih berlubang, sehingga keamanan pasar dengan cepat mengetahui aksinya. Dia hanya bisa menduga-duga di mana letak kesalahannya sehingga mudah ketahuan.

Sementara itu, dalam waktu tidak berapa lama, pemilik toko emas Mahkota Cahaya telah datang ke tokonya setelah dikabari oleh sekuriti. Polisi pun segera tiba di TKP.

Polisi yang dipimpin oleh Ipda Rudyono, bekerja dengan cepat. Yang langsung mereka periksa adalah rekaman CCTV dengan kelima satpam sebagai saksi.

Hasil rekaman CCTV sulit mengenali orang gila yang merampok.

Pagi-pagi, warga pasar pun geger. Para wartawan berbagai media segera ramai berdatangan. Berita perampokan itupun segera tayang di televisi mainstream.

Berbagai judul berita segera naik, seperti “Orang Gila Rampok Toko Emas”, “Perampok Jebol Toko Emas, Satu Satpam Luka”, “Perampok Sukses Gasak Perhiasan di Toko Emas”, “Menyamar ODGJ, Perampok Curi Emas di Toko”, dan berbagai judul lainnya.

Wajah Radit dalam samaran orang gila yang mengenakan masker, yang terekam oleh CCTV di luar toko emas, tersebar dengan cepat bersama beritanya. Wajah ODGJ Radit dan berita aksinya segera viral, menyebar cepat di berbagai platform media sosial. Bahkan Radit sendiri menerima informasi tersebut.

Radit yang pagi-pagi telah berganti penampilan kepada sosok aslinya dengan kepala botak, semakin cemas, meski dia yakin bahwa polisi tidak akan mengenali wajah orang gilanya. Dia telah menyembunyikan pakaian orang gilanya di suatu tempat yang sangat rahasia. Dia sangat yakin bahwa polisi tidak akan menemukan jejak atau barang bukti yang kuat.

Radit baru pulang ke rumah kontrakannya sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, Radit pagi itu tidak pernah sampai atau masuk ke rumahnya.

Ketika pandangannya sudah menjangkau pagar rumah kontrakannya, Radit yang saat itu mengenakan topi biru gelap mendadak berhenti. Jantungnya seketika berdegup kencang. Dari kejauhan, tepatnya dari pinggir jalan raya, Radit melihat keberadaan sejumlah lelaki berpakaian umum sedang berada di depan rumahnya. Mungkin juga sudah berada di dalam rumah.

Buru-buru Radit balik badan dan berjalan pergi ke arah datangnya tadi. Keringat segera muncul di dahinya. Dia sangat khawatir jika ketika dia berjalan pergi, ada orang yang meneriakinya.

“Itu polisi atau debt collector?” tanya Radit di dalam hati. Dia sangat takut ketahuan. “Tapi kayaknya polisi. Jumlahnya banyak.”

Beberapa jam sebelumnya, Ipda Rudyono memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa rekaman CCTV dalam toko Mahkota Cahaya pada hari kemarin. Berdasarkan laporan karyawan yang bernama Lastih, pada siang hari ada pemuda yang menjual cincin kawin dengan surat yang sudah rusak.

“Orang gila jelas hanya samaran. Coba perhatikan gerak-gerik penjual cincin itu. Apakah ada kemungkinan orang yang sama!” perintah Rudyono kepada anak buahnya.

“Baik, Pak!” ucap anak buahnya.

Setelah memerhatikan rekaman CCTV pada waktu Radit menjual cincinnya, polisi pun berkesimpulan.

Rudyono segera datang untuk melihat ulang hasil pengamatan anak buahnya.

“Orang itu sesekali melirik ke arah kamera saat karyawan sedang tidak memandangnya,” kata si anak buah.

Rudyono pun memerhatikan dengan seksama dan manggut-manggut, tanda membenarkan anak buahnya.

“Coba sandingkan gambar wajah orang gila yang pakai masker itu dengan wajah orang ini!” perintah Rudyono.

Anak buah segera bekerja cepat. Dalam waktu singkat, di monitor komputer sudah tersanding dua wajah, yaitu wajah orang gila bermasker dan wajah Radit yang berkepala botak. Kedua wajah itu sama-sama melihat ke arah kamera CCTV.

Rudyono lalu menutup wajah bawah Radit dengan selembar kertas, sehingga hanya mata, dahi dan kepala yang terlihat.

“Model matanya, apakah sama?” tanya Rudyono kepada anak buahnya.

“Sama, Pak,” jawab si anak buah setelah sejenak membandingkan kedua pasang mata di layar komputer.

“Namanya sudah diketahui. Cepat cari tahu rumahnya!” perintah Rudyono.

“Siap, Pak!”

Seperti itulah cara polisi mengetahui siapa perampok toko emas Mahkota Cahaya.

Setelah tahu alamat Radit, polisi segera dikerahkan untuk melakukan penggerebekan dan penangkapan.

Hebohlah para tetangga ketika penggerebekan dilakukan. Namun, polisi tidak menemukan Radit. Rumahnya digeledah dan sejumlah barang yang dianggap terkait dengan aktivitas perampokan disita.

Polisi dalam jumlah sedikit kemudian ditugaskan pergi ke rumah Andini.

Terkejutlah Andini dan keluarga besarnya mendapat kabar dari Pak Polisi. Meski polisi hanya melakukan sejumlah pertanyaan dan menitip pesan agar segera menginformasikan keberadaan Radit, keluarga Andini pun terguncang hebat.

Andini pun menangis mengetahui apa yang telah dilakukan oleh suaminya. Sementara Rukmah kian menjadi-jadi kemarahannya dan semakin benci kepada menantunya.

“Sudah tidak ada ampun buat si Radit. Kelakuannya semakin setan. Sudah, jangan kamu harap lagi suami bajingan seperti itu. Syukur-syukur kalau kabarnya dia cuma ditangkap. Coba kalau kabarnya dia sudah mati ditembak polisi? Anak kamu lahir tanpa bapak enggak masalah. Dia masih punya kakek nenek yang bisa ngurus berak kencingnya!” kata Rukmah marah-marah kepada putrinya setelah polisi pergi.

“Mas Radiiit!” ratap Andini menangis, disaksikan kerabat dan tetangga.

“Celaka sekali lima kali saya, dapat menantu perampok!” gerutu Rukmah. Lalu teriaknya kepada orang banyak, “Kalian semua saksikan, mulai sekarang Radit itu bukan suami Andini dan bukan menantu saya!”

Pak RT dan para tetangga tidak ada yang menyahut, mereka hanya manggut-manggut mengiyakan kemarahan Rukmah.

“Kan belum cerai, Mak?” Ternyata ada juga yang menyahut. Seorang anak remaja berpakaian seragam SMP. Dia tidak sungkan kepada Rukmah karena dia terbilang anak yang melunjak kepada orang tua.

“Tidak peduli! Apa urusan kamu, Anak Cabe?!” teriak Rukmah dengan nada lebih tinggi dan melotot kepada si bocah.

Anak itu cepat berlari pergi. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar:

  1. Yah. Cepat banget ketahuannya, Om. Dikiranya mudah untuk jadi rampok profesional kali. Harusnya Radit mulai karir dari yg kecil-kecil dululah, kek maling sempak emak-emak di jemuran aja dulu, Om 🙄🙄🤧

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahak. Iya ya. Jual sempak mah receh duitnya.

      Hapus
  2. Oalah Dit.. dit... Langsung ketahuan.. Pinter ya polisinya 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. polisi wajib pinter. kalau cari koruptor, baru gak pinter, ada uang tabirnya. hahaha

      Hapus