Taktik Kabur, Bab13 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*


Untuk menyukseskan tindakan perampokannya, Radit sudah menyiapkan segala halnya di dalam rencananya. Alat-alat, perhitungan waktu dan durasi, survei lokasi, sampai peta pelarian.

Adalah suatu keberuntungan besar jika perampokan perdana Radit yang sebenarnya adalah amatiran itu bisa berhasil.

Namun terbukti kemudian, meski dia telah menghitung rinci dan mempelajari dalam waktu lebih dari sepekan, masih ada yang luput dari perhatiannya, yaitu kamera koridor.

Penyamarannya sebagai orang gila sebenarnya berhasil. Namun, hanya karena satu kamera yang lolos dari perhitungannya, upaya perampokannya ketahuan.

Dua satpam pos depan pasar dan dua satpam pos belakang cepat berlari ke blok tempat toko emas Mahkota Cahaya berposisi. Suara lari mereka yang kencang segera terdengar oleh Radit yang sudah berhasil membuka pintu rolling door toko. Radit panik dengan keringat yang tiba-tiba deras keluar di dahinya. Dia hanya merauk satu kali emas yang ada di etalase setelah memecahkannya dengan palu.

Setelah itu dia langsung kabur masuk ke dalam gang antartoko.

“Dia ada di Blok D5, Kodok-Kodok!” teriak satpam di ruang monitor ikut tegang.

Radit yang menyamar jadi orang gila terlihat muncul di layar monitor sedang berlari sekencang-kencangnya sambil membawa buntalan kainnya.

Empat satpam yang mengejar dari dua sisi yang berlawanan segera masuk ke dalam gang antartoko pula. Ketika mereka menengok ke dalam lorong pasar yang sepi tapi berlampu minim, mereka sempat melihat sekelebatan bayangan hitam melintas memotong di depan sana, lalu hilang masuk ke lorong lainnya.

“Cegat di jalan samping!” perintah satu satpam kepada sesama rekannya, sambil dia berbelok untuk mengikuti pelarian Radit.

Dua satpam itupun berpisah untuk bertemu kembali. Satpam yang satunya berlari terus untuk sampai ke sisi samping bangunan pasar.

“Berhenti atau gua tembak!” teriak satpam yang telah mengejar Radit belasan meter di belakang.

Mendengar ancaman tembak itu, kian panik perasaan Radit. Otaknya cepat berpikir. Jika dia berhenti, dia akan ditangkap. Jika dia terus lari, ada peluang tetap lolos. Meski nanti ditembak, belum tentu kena. Pikirnya.

Kejap berikutnya, Radit yang terus lari menghilang ketika dia berbelok. Satpam yang mengancam terus mengejar tanpa melakukan ancamannya. Faktanya dia hanya sekuriti yang tidak punya pistol, hanya pentungan karet.

Radit akhirnya keluar dari dalam gedung pasar. Dia melalui rute yang telah dia petakan sebelumnya.

Dak dak dak!

Radit terkejut saat mendengar suara lari kencang muncul dari samping. Ketika dia menengok, satu sosok berseragam telah mencoba menangkapnya.

Blugk!

Radit cepat mencoba menghindari sergapan dari samping itu. Namun, separuh badannya masih terkena tubrukan.

Radit dan satpam yang menabraknya jatuh bersama.

Radit buru-buru bangkit untuk segera kabur lagi. Dia benar-benar panik. Satpam yang belum sempat bangun cepat menangkap satu kaki Radit, memaksa Radit jatuh lagi.

Tiba-tiba Radit berbalik setengah badan dan tangan kanannya memukulkan sesuatu.

Duk!

“Aaakk!” jerit si satpam kesakitan bukan main saat punggung telapak tangannya dihantam palu yang ternyata telah disiapkan oleh Radit.

Pukulan itu membuat pegangan tangan satpam lepas. Radit cepat bangun di saat satpam kesakitan bukan main.

Dak dak dak!

Satpam yang tadi mengancam akan menembak Radit telah datang mendekat. Radit telah lari menuju jalan yang gelap.

“Aaakk!”

Jeritan rekannya yang bernada sangat kesakitan membuat satpam yang baru datang berhenti dan jadi bingung, apakah harus mengejar si pencuri atau menolong rekannya.

Drap drap drap!

Pada saat itu, dari arah lain muncul berlari dua satpam yang lain. Melihat kedatangan dua rekannya, satpam yang bingung cepat teriak.

“Malingnya lewat sana!” teriaknya. Dia lalu menghampiri rekannya yang masih mengerang kesakitan.

Dua satpam yang datang cepat berbelok ke jalan yang tadi dilewati Radit. Ternyata itu jalan tikus di sisi belakang gedung pasar yang hanya bisa dilewati satu badan manusia.

Ketika kedua satpam itu keluar dari area dan halaman pasar, mereka masih sempat melihat Radit berlari di pinggiran beton parit. Jarak kejar sejauh sekitar tiga puluh meter.

“Woi! Berhenti!” teriak salah satu dari satpam yang mengejar.

Namun, Radit tidak mau tolol. Dia tidak berhenti, meski sempat menengok sekali. Tidak berapa lama, sosok Radit yang berpenampilan orang gila berambut gimbal itu menghilang di balik dinding bangunan pinggir tanggul.

Kedua satpam terus mengejar. Setibanya di balik dinding, kedua satpam itu kehilangan buruan. Yang mereka lihat adalah tanggul parit yang kosong dari pergerakan manusia lain ataupun hewan.

“Wah, nyumput di mana?” tanya salah satu satpam yang menghentikan larinya. Dia terengah-engah

“Pasti turun ke selokan!” terka satpam satunya. Juga terengah-engah.

Keduanya segera naik ke tanggul yang tingginya hanya selutut, tetapi aliran air parit sedalam dua kali tinggi kepala. Dalamnya parit itu membuat cahaya lampu di area belakang pasar tersebut tidak menjangkau penuh. Hanya terlihat pantulan cahaya yang minim dari pergerakan air yang kotor.

“Gelap,” komentar salah satu satpam. Masih terengah-engah.

Rekannya lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Dengan menggunakan ponsel itu dia menyenter ke bawah, ke dalam selokan.

Sebentar kemudian, ada dua sorotan cahaya lampu senter. Kedua satpam itu sama-sama menggunakan senter ponselnya. Mereka menyorot kondisi selokan di bawah mereka.

Mereka melihat dinding tanggul yang mirim curam, aliran air, sampah, tanpa melihat pergerakan manusia atau bayangan. Gerakan seekor tikus got pun tidak terlihat.

“Ke mana itu maling?”

“Coba maju lagi!”

“Saya yang nyenter di got, kamu periksa di sekitar. Siapa tahu bukan di got.”

Maka keduanya berbagi tugas. Mereka terus mencari dan memperluas area pencarian.

Namun, setelah mencari lebih dari lima belas menit, kedua satpam gagal.

Radit sukses dalam bersembunyi atau melarikan diri. Itu tidak lain karena dia memang sudah mempersiapkan segalanya, termasuk harus bersembunyi di mana jika ketahuan dan dikejar.

Radit sudah menyurvei lokasi di area yang sama dan waktu yang sama. Dia pun memerhatikan cahaya dari lampu-lampu saat malam. Maka tidak aneh jika Radit seperti tikus dalam bersembunyi di malam itu.

“Kayaknya sudah kabur benaran,” kata salah satu satpam setelah menyerah untuk mencari.

“Ya sudah. Kita laporan apa adanya saja. Toh polisi juga bakal tahu.”

“Ya sudah, ayo balik!”

Kedua satpam itu akhirnya kembali ke area bangunan pasar.

Ternyata Radit belum kabur jauh. Dia ada di saluran got. Jadi, ada bagian dinding got yang rusak berlubang besar. Posisinya di kala malam luput dari cahaya. Jadi, tubuh Radit yang meringkuk di lubang tebing berfungsi seperti penambal. Untuk menyukseskan kamuflasenya, Radit meletakkan sampah ranting agar terlihat alami.

Ketika cahaya senter menyorot, tidak terlihat jelas bahwa di balik ranting itu adalah manusia yang menyamar.

Radit menerapkan ilmu tikus, yang awet tidak bergerak saat bersembunyi meski disodok-sodok sapu. Ternyata itu berhasil.

Setelah yakin bahwa kedua satpam sudah tidak mencarinya, Radit mulai bergerak lagi dan berjalan di aliran got yang berlumpur hitam dengan kedalaman kisaran selutut.

Radit benar-benar totalitas dalam aksi perampokannya. (RH)

-----------------------------------

Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar:

  1. Hebat taktiknya, Om. Apa mungkin perlu Om pelajari untuk merampok ragaku?🤔 kalau hatiku mah udah Om miliki, percayalah!🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha! Tapi udah gak bisa lari, pasti ketangkep

      Hapus