*Miliarder Ular Biru*
Untuk menyukseskan
tindakan perampokannya, Radit sudah menyiapkan segala halnya di dalam rencananya.
Alat-alat, perhitungan waktu dan durasi, survei lokasi, sampai peta pelarian.
Adalah suatu
keberuntungan besar jika perampokan perdana Radit yang sebenarnya adalah
amatiran itu bisa berhasil.
Namun terbukti
kemudian, meski dia telah menghitung rinci dan mempelajari dalam waktu lebih
dari sepekan, masih ada yang luput dari perhatiannya, yaitu kamera koridor.
Penyamarannya sebagai
orang gila sebenarnya berhasil. Namun, hanya karena satu kamera yang lolos dari
perhitungannya, upaya perampokannya ketahuan.
Dua satpam pos depan
pasar dan dua satpam pos belakang cepat berlari ke blok tempat toko emas
Mahkota Cahaya berposisi. Suara lari mereka yang kencang segera terdengar oleh
Radit yang sudah berhasil membuka pintu rolling door toko. Radit panik
dengan keringat yang tiba-tiba deras keluar di dahinya. Dia hanya merauk satu
kali emas yang ada di etalase setelah memecahkannya dengan palu.
Setelah itu dia
langsung kabur masuk ke dalam gang antartoko.
“Dia ada di Blok D5,
Kodok-Kodok!” teriak satpam di ruang monitor ikut tegang.
Radit yang menyamar
jadi orang gila terlihat muncul di layar monitor sedang berlari
sekencang-kencangnya sambil membawa buntalan kainnya.
Empat satpam yang
mengejar dari dua sisi yang berlawanan segera masuk ke dalam gang antartoko
pula. Ketika mereka menengok ke dalam lorong pasar yang sepi tapi berlampu
minim, mereka sempat melihat sekelebatan bayangan hitam melintas memotong di
depan sana, lalu hilang masuk ke lorong lainnya.
“Cegat di jalan
samping!” perintah satu satpam kepada sesama rekannya, sambil dia berbelok
untuk mengikuti pelarian Radit.
Dua satpam itupun
berpisah untuk bertemu kembali. Satpam yang satunya berlari terus untuk sampai
ke sisi samping bangunan pasar.
“Berhenti atau gua
tembak!” teriak satpam yang telah mengejar Radit belasan meter di belakang.
Mendengar ancaman
tembak itu, kian panik perasaan Radit. Otaknya cepat berpikir. Jika dia
berhenti, dia akan ditangkap. Jika dia terus lari, ada peluang tetap lolos. Meski
nanti ditembak, belum tentu kena. Pikirnya.
Kejap berikutnya,
Radit yang terus lari menghilang ketika dia berbelok. Satpam yang mengancam
terus mengejar tanpa melakukan ancamannya. Faktanya dia hanya sekuriti yang
tidak punya pistol, hanya pentungan karet.
Radit akhirnya keluar
dari dalam gedung pasar. Dia melalui rute yang telah dia petakan sebelumnya.
Dak dak dak!
Radit terkejut saat
mendengar suara lari kencang muncul dari samping. Ketika dia menengok, satu
sosok berseragam telah mencoba menangkapnya.
Blugk!
Radit cepat mencoba
menghindari sergapan dari samping itu. Namun, separuh badannya masih terkena
tubrukan.
Radit dan satpam yang
menabraknya jatuh bersama.
Radit buru-buru
bangkit untuk segera kabur lagi. Dia benar-benar panik. Satpam yang belum
sempat bangun cepat menangkap satu kaki Radit, memaksa Radit jatuh lagi.
Tiba-tiba Radit
berbalik setengah badan dan tangan kanannya memukulkan sesuatu.
Duk!
“Aaakk!” jerit si
satpam kesakitan bukan main saat punggung telapak tangannya dihantam palu yang
ternyata telah disiapkan oleh Radit.
Pukulan itu membuat
pegangan tangan satpam lepas. Radit cepat bangun di saat satpam kesakitan bukan
main.
Dak dak dak!
Satpam yang tadi
mengancam akan menembak Radit telah datang mendekat. Radit telah lari menuju
jalan yang gelap.
“Aaakk!”
Jeritan rekannya yang
bernada sangat kesakitan membuat satpam yang baru datang berhenti dan jadi
bingung, apakah harus mengejar si pencuri atau menolong rekannya.
Drap drap drap!
Pada saat itu, dari
arah lain muncul berlari dua satpam yang lain. Melihat kedatangan dua rekannya,
satpam yang bingung cepat teriak.
“Malingnya lewat
sana!” teriaknya. Dia lalu menghampiri rekannya yang masih mengerang kesakitan.
Dua satpam yang
datang cepat berbelok ke jalan yang tadi dilewati Radit. Ternyata itu jalan
tikus di sisi belakang gedung pasar yang hanya bisa dilewati satu badan
manusia.
Ketika kedua satpam
itu keluar dari area dan halaman pasar, mereka masih sempat melihat Radit
berlari di pinggiran beton parit. Jarak kejar sejauh sekitar tiga puluh meter.
“Woi! Berhenti!”
teriak salah satu dari satpam yang mengejar.
Namun, Radit tidak
mau tolol. Dia tidak berhenti, meski sempat menengok sekali. Tidak berapa lama,
sosok Radit yang berpenampilan orang gila berambut gimbal itu menghilang di
balik dinding bangunan pinggir tanggul.
Kedua satpam terus
mengejar. Setibanya di balik dinding, kedua satpam itu kehilangan buruan. Yang
mereka lihat adalah tanggul parit yang kosong dari pergerakan manusia lain
ataupun hewan.
“Wah, nyumput di
mana?” tanya salah satu satpam yang menghentikan larinya. Dia terengah-engah
“Pasti turun ke
selokan!” terka satpam satunya. Juga terengah-engah.
Keduanya segera naik
ke tanggul yang tingginya hanya selutut, tetapi aliran air parit sedalam dua
kali tinggi kepala. Dalamnya parit itu membuat cahaya lampu di area belakang
pasar tersebut tidak menjangkau penuh. Hanya terlihat pantulan cahaya yang minim
dari pergerakan air yang kotor.
“Gelap,” komentar
salah satu satpam. Masih terengah-engah.
Rekannya lalu
mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Dengan menggunakan ponsel itu dia
menyenter ke bawah, ke dalam selokan.
Sebentar kemudian,
ada dua sorotan cahaya lampu senter. Kedua satpam itu sama-sama menggunakan
senter ponselnya. Mereka menyorot kondisi selokan di bawah mereka.
Mereka melihat
dinding tanggul yang mirim curam, aliran air, sampah, tanpa melihat pergerakan
manusia atau bayangan. Gerakan seekor tikus got pun tidak terlihat.
“Ke mana itu maling?”
“Coba maju lagi!”
“Saya yang nyenter di
got, kamu periksa di sekitar. Siapa tahu bukan di got.”
Maka keduanya berbagi
tugas. Mereka terus mencari dan memperluas area pencarian.
Namun, setelah
mencari lebih dari lima belas menit, kedua satpam gagal.
Radit sukses dalam
bersembunyi atau melarikan diri. Itu tidak lain karena dia memang sudah
mempersiapkan segalanya, termasuk harus bersembunyi di mana jika ketahuan dan
dikejar.
Radit sudah menyurvei
lokasi di area yang sama dan waktu yang sama. Dia pun memerhatikan cahaya dari
lampu-lampu saat malam. Maka tidak aneh jika Radit seperti tikus dalam
bersembunyi di malam itu.
“Kayaknya sudah kabur
benaran,” kata salah satu satpam setelah menyerah untuk mencari.
“Ya sudah. Kita
laporan apa adanya saja. Toh polisi juga bakal tahu.”
“Ya sudah, ayo
balik!”
Kedua satpam itu
akhirnya kembali ke area bangunan pasar.
Ternyata Radit belum
kabur jauh. Dia ada di saluran got. Jadi, ada bagian dinding got yang rusak
berlubang besar. Posisinya di kala malam luput dari cahaya. Jadi, tubuh Radit
yang meringkuk di lubang tebing berfungsi seperti penambal. Untuk menyukseskan
kamuflasenya, Radit meletakkan sampah ranting agar terlihat alami.
Ketika cahaya senter
menyorot, tidak terlihat jelas bahwa di balik ranting itu adalah manusia yang
menyamar.
Radit menerapkan ilmu
tikus, yang awet tidak bergerak saat bersembunyi meski disodok-sodok sapu.
Ternyata itu berhasil.
Setelah yakin bahwa
kedua satpam sudah tidak mencarinya, Radit mulai bergerak lagi dan berjalan di aliran
got yang berlumpur hitam dengan kedalaman kisaran selutut.
Radit benar-benar totalitas dalam aksi perampokannya. (RH)
-----------------------------------
Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.


Weh debut pertama sukses dia
BalasHapuspakai riset dulu sih
BalasHapusHebat taktiknya, Om. Apa mungkin perlu Om pelajari untuk merampok ragaku?🤔 kalau hatiku mah udah Om miliki, percayalah!🤣
BalasHapusHahaha! Tapi udah gak bisa lari, pasti ketangkep
Hapus