*Miliarder Ular Biru*
Radit tidak percaya
dengan pesugihan, meski beberapa kali dia pernah mendengar cerita-ceritanya. Dia
tidak pernah bersinggungan dengan hal-hal seperti itu, terlebih-lebih itu sangat
dilarang di dalam agama.
Meski Radit seorang
Muslim, tetapi dia penganut Islam KTP. Dan meski tidak pernah salat dan
melakukan ibadah lainnya, tetapi dia tidak mau masuk kategori orang musyrik,
alias menduakan Allah. Setahu dia, asal syahadat masih tertanam di dalam hati,
ujung-ujungnya tetap masuk surga. Katanya.
Katanya juga, dosa syirik
itu dosa paling besar yang hukumannya kekal di neraka. Daripada kekal di
neraka, jelas Radit lebih memilih sementara di neraka. Apalagi pesugihan itu meminta
tumbal, katanya.
Karena pertimbangan
itulah, Radit tidak langsung memutuskan menerima atau menolak solusi pesugihan
yang ditawarkan oleh Kong Botok.
“Maaf, Kong.
Sepertinya aku harus menimbang-nimbang dan berpikir dulu, Kong,” kata Radit.
“Tidak apa-apa.
Silakan. Engkong hanya menawarkan. Keputusan sepenuhnya kamu yang menentukan,”
kata Kong Botok.
Maka, Radit melakukan
perenungan di kamarnya sembari beristirahat.
Banyak pertanyaan muncul
yang sebenarnya ingin dia tanyakan terkait risiko pesugihan itu.
“Kalau aku belum
memutuskan mau, tidak enak kalau banyak tanya. Sudah pasti aku akan terus
dicari oleh polisi, ujung-ujungnya pasti ketangkap juga. Kalau aku pesugihan, pasti
sama saja….”
Radit berpikir sambil
berbaring menatap langit-langit.
“Tapi kalau aku
tolak, aku enggak enak hati. Kong Botok sudah menolong aku dari kematian. Toh
kalau berhasil, aku bisa kaya raya dan semua utangku bisa lunas, berapa pun
bunganya. Aku bisa gampang cari istri baru yang lebih cantik dari Andini dan
lebih nurut, asal disumpel dengan duit. Mertuaku akan aku lempar segepok uang
biar matinya tenang,” pikir Radit dengan tatapan mengandung dendam dan senyum
kecil yang sedikit menakutkan. “Tapi, apa iya….”
Radit kembali ragu
setelah muncul pertanyaan karena melihat fakta.
“Kalau Kong Botok
pengamal pesugihan, tapi kenapa kondisinya tidak kaya raya? Rumahnya
sesederhana ini. Atau dia mau mengambil untung dariku? Tapi kan … aku tidak
punya uang sama sekali. Kartu ATM, hp, KTP, semua hilang,” pikir Radit. “Kalau
aku pesugihan, bisa abadi di neraka aku.”
Radit benar-benar
bingung menimbang-nimbang tanpa timbangan. Ia pun kemudian teringat dengan
sesuatu.
“Wah, pantas polisi
enggak lihat aku ada di dalam kamar, Kong Botok pasti punya kesaktian. Enggak
mungkin aku tinggal di sini terus. Tapi kalau aku pergi, bakal dikejar warga
lagi aku. Bisa-bisa Kong Botok jadi sasaran warga kalau ketahuan menyembunyikan
aku….”
Lama-lama melamun
dalam kebimbangan, tidak terasa Radit tertidur. Perut yang sudah kenyang oleh
bubur ayam menjadi salah satu faktor utama pemanggil kantuk.
“Ini orangnya, Putri.”
Terkejut Radit mendengar
suara kakek-kakek yang langsung dia kenali. Suara itu mirip suara Kong Botok.
Suara yang didengar oleh Radit itu seketika membangunkannya, maksudnya membuat
matanya terbuka.
Terbeliak Radit saat
matanya langsung melihat seorang gadis cantik jelita berambut panjang. Namun
anehnya, wanita muda itu mengenakan pakaian warna biru terang seperti penari Jawa
yang penuh perhiasan emas. Bahunya terbuka bebas memperlihatkan kulit warna
terang yang mulus. Di kepalanya ada hiasan tiara dari emas yang memiliki
sejumlah permata-peramata kecil berwarna biru.
Meski jantung Radit
terhentak karena terkejut, tetapi perasaannya diliputi rasa bahagia melihat
wanita yang sangat cantik.
Gadis berpakaian
seperti penari atau kostum seorang putri raja itu berdiri di arah ujung kaki
Radit. Pandangannya sangat jelas tertuju kepada wajah Radit.
“Siapa? Apakah dia
anak Kong Botok?” tanya Radit dalam hati. “Kalau belum ada yang punya, aku
pasti rela berbuat apa saja demi mendapat cintanya.”
Dalam kondisi Radit tegang
tapi bahagia itu, keduanya hanya saling tatap tanpa senyum. Radit kemudian
memaksakan diri tersenyum. Kaku. Ternyata senyuman Radit dibalas senyum pula
oleh si gadis.
Ketika mendapat
senyuman balasan yang sangat manis itu, Radit merasakan desiran yang sangat
nikmat di dalam perutnya dan berujung sesuatu yang memalukan jika diketahui
oleh orang lain.
Alangkah terkejutnya
Radit ketika dia merasakan sesuatu keluar dari keperkasaannya. Rasanya nikmat,
tetapi bikin panik.
Buru-buru Radit
bangun duduk dan memegangi sarungnya. Pikirannya langsung tertuju kepada
sarungnya yang akan basah.
Radit kelabakan
sambil memegang kain sarungnya, plus benda sensitif yang ada di baliknya.
Radit panik dan malu
karena itu terjadi di depan seorang wanita cantik. Namun, ketika Radit melirik
kepada gadis itu, si gadis cantik sudah tidak terlihat keberadaannya.
“Hah! Ke mana?” ucap
Radit terkejut. “Ya Allah, mimpi!”
Radit jadi lemas
hati. Dia jatuhkan kepalanya ke bantalnya kembali, tetapi tangannya tetap
memegangi miliknya yang benar-benar basah.
“Aaah, mimpi doang. Siang-siang
begini sampai mimpi basah. Aduh, kalau Kong Botok tahu, malu banget aku. Ada-ada
saja,” batin Radit. “Tapi … kok seperti nyata ya? Perasaan, setelah aku bangun,
aku enggak bangun lagi. Aaah, pasti aku enggak terasa bangunnya karena aku
panik. Enggak mungkinlah ada gadis penari sungguhan di rumah Kong Botok. Enggak
mungkin juga kalau itu anaknya Kong Botok, usianya jauh banget.”
Radit lalu bangun
lagi. Dia harus mengurusi cairan yang mengotori sarungnya.
“Kalau aku minta
sarung ganti, nanti Kong Botok curiga. Kong Botok enggak boleh tahu kalau aku
mimpi basah siang-siang. Malu habis nanti aku,” pikir Radit. Namun, kemudian
dia tersenyum dan berkata sendiri, “Cantik banget cewek itu. Bidadari kali ya.
Hahaha!”
Radit tertawa pelan
mengingat kecantikan gadis di dalam mimpinya. Jelas itu adalah mimpi yang
sangat membahagiakan, apalagi sampai ‘keluar’.
“Tidur lagi ah, siapa
tahu mimpi ketemu lagi sama bidadari itu. Biasanya kalau aromanya masih nyisa,
mimpi bisa bersambung lagi dengan kondisi yang berbeda. Siapa tahu mimpinya
langsung malam pertama. Hahaha!” batin Radit lalu tertawa, tetapi tawanya
nyata, bukan di dalam hati.
Setelah membersihkan
sarungnya dengan kain sprei, Radit kembali berbaring dengan maksud mau tidur
lagi, mau mencoba peruntungan dalam mimpi.
Dia kembali memejamkan
mata. Satu menit, dua menit. Namun, usahanya gagal untuk tidur. Pikirannya
selalu bertanya-tanya. Kejadian munculnya gadis berpakaian penari Jawa warna biru
itu, mimpi atau bukan?
Mau diyakini itu
mimpi, tapi terasa sangat nyata. Mau diyakini itu nyata, tapi rasanya tidak
mungkin.
Pada akhirnya, Radit
memutuskan bangun beranjak dari kasur. Dia merapikan posisi sarungnya, lalu
pergi ke luar kamar.
Di ruangan tamu, Kong
Botok tidak terlihat. Ketiadaan penghuni rumah membuat Radit mencari-cari. Dia
pandangi dinding-dinding di rumah. Dia mencari foto berbingkai yang sering dipajang
di dinding sebuah rumah. Radit ingin melihat, apakah ada foto Kong Botok dengan
seorang gadis muda yang mungkin adalah putri atau cucunya.
Namun, rumah itu
bersih dari foto keluarga atau foto non keluarga. Yang ada di dinding hanya
benda-benda hiasan biasa.
Cesss!
Tiba-tiba terdengar
suara desisan minyak goreng panas yang dicelupi benda basah. Itu menunjukkan
bahwa Kong Botok sedang menggoreng sesuatu di dapur.
Radit segera berjalan
ke dapur. Pandangannya masih mencari-cari foto dinding yang hingga sampai
dapur, benda itu tidak ada.
Dilihatnya Kong Botok
sedang berdiri menggoreng di kompor.
Kemunculan bayangan
Radit membuat si kakek menengok dan langsung tersenyum.
“Goreng ikan untuk
makan nasi,” ujar Kong Botok.
“Mancing di kali,
Kong?” tanya Radit seraya tersenyum.
“Jala. Hehehe!” jawab Kong Botok, lalu terkekeh. (RH)


Waktu kemaren datang ke mimpi Om, aku bawa senyum yg banyak gak?🤔Aduuh, aku bikin basah sarung Om juga nih pastiðŸ˜ðŸ˜‚
BalasHapusTak semudah itu, Om lelaki kuat
HapusMasa sih????🤔🤔🤔🤔🤣
Hapusbuktinya Om masih tahan selingkuh online
HapusTahan dong, kalau rindu kan cukup pandang-pandangi fotoku yg pakai filter cantik yg aku kirimi itu, Om🤣
Hapushahahaha! yang filternya ada ulat bulunya?
HapusEmang ada ya, Om? gak tau juga ada filter itu, apasih namanya? filter uyut-uyut?🤧
HapusHahahaha! Padahal Om sudah lupa tuh sama uyut-uyut
HapusKok hampir sama pikiran Radit denganku, Om. masih mending angkat rok daripada main pelet, OmðŸ¤ðŸ¤£
BalasHapusMaksudnya antara kekal dan sementara di neraka. Tapi Om gak main pelet lho. Buktinya tetangga Om aman-aman aja
HapusMaksudnya antara kekal dan sementara di neraka. Tapi Om gak main pelet lho. Buktinya tetangga Om aman-aman aja
HapusIya itu maksudnya antara kekal dan sementara.
HapusAku rasa tetangga Om punya dukun lebih mumpuni daripada dukun Om. beda denganku yg enggak hobi main dukun langsung cinta nyaris mati padamu🙄🤧
jangan mati dulu dong Mak Imut, nanti jumlah wanita cantik di dunia ini berkurang satu
HapusGak apa. Mati demi Om aku rela🙄🙄🙄🙄ðŸ˜ðŸ¤§
Hapusnanti gak masuk surga
HapusWelleh, enggak gitu juga kaleeee, Mak. Emang di neraka bisa bahagia cuma karena main api?
HapusJadi bagaimana menurut Om baiknya? kita akhiri saja ini hubungan?🤔ðŸ˜ðŸ¤§
HapusJangan dong, nanti Om termehek-mehek
HapusAhahahah, Om takut ya kehilangan aku yg cantik ranking 1 sampai 3 se Sumatra ini😂
Hapusyang rangking tiga sekampung aja Om takut diboikot, apa lagi yang rangkingnya se-Sumatera. Asal jangan segalak harimau sumatera
HapusWeh! Mimpi basah cuma karena ngelihat doang. Itu basah karena kencingya atau karena anunya?
BalasHapusApalagi kalau bukan karena si dia
Hapuswkwkwkwk! Sebegitunya. Bagaimana kalau Radit lihat saya di mimpinya. gitu juga gak sih
HapusYakin gak akan basah, kecuali gentengnya bocor
HapusWeh! Komntarku udah bisa muncul sendiri
BalasHapusAlhamdulillah
Hapus