Mimpi Basah, Bab18 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

 

Radit tidak percaya dengan pesugihan, meski beberapa kali dia pernah mendengar cerita-ceritanya. Dia tidak pernah bersinggungan dengan hal-hal seperti itu, terlebih-lebih itu sangat dilarang di dalam agama.

Meski Radit seorang Muslim, tetapi dia penganut Islam KTP. Dan meski tidak pernah salat dan melakukan ibadah lainnya, tetapi dia tidak mau masuk kategori orang musyrik, alias menduakan Allah. Setahu dia, asal syahadat masih tertanam di dalam hati, ujung-ujungnya tetap masuk surga. Katanya.

Katanya juga, dosa syirik itu dosa paling besar yang hukumannya kekal di neraka. Daripada kekal di neraka, jelas Radit lebih memilih sementara di neraka. Apalagi pesugihan itu meminta tumbal, katanya.

Karena pertimbangan itulah, Radit tidak langsung memutuskan menerima atau menolak solusi pesugihan yang ditawarkan oleh Kong Botok.

“Maaf, Kong. Sepertinya aku harus menimbang-nimbang dan berpikir dulu, Kong,” kata Radit.

“Tidak apa-apa. Silakan. Engkong hanya menawarkan. Keputusan sepenuhnya kamu yang menentukan,” kata Kong Botok.

Maka, Radit melakukan perenungan di kamarnya sembari beristirahat.

Banyak pertanyaan muncul yang sebenarnya ingin dia tanyakan terkait risiko pesugihan itu.

“Kalau aku belum memutuskan mau, tidak enak kalau banyak tanya. Sudah pasti aku akan terus dicari oleh polisi, ujung-ujungnya pasti ketangkap juga. Kalau aku pesugihan, pasti sama saja….”

Radit berpikir sambil berbaring menatap langit-langit.

“Tapi kalau aku tolak, aku enggak enak hati. Kong Botok sudah menolong aku dari kematian. Toh kalau berhasil, aku bisa kaya raya dan semua utangku bisa lunas, berapa pun bunganya. Aku bisa gampang cari istri baru yang lebih cantik dari Andini dan lebih nurut, asal disumpel dengan duit. Mertuaku akan aku lempar segepok uang biar matinya tenang,” pikir Radit dengan tatapan mengandung dendam dan senyum kecil yang sedikit menakutkan. “Tapi, apa iya….”

Radit kembali ragu setelah muncul pertanyaan karena melihat fakta.

“Kalau Kong Botok pengamal pesugihan, tapi kenapa kondisinya tidak kaya raya? Rumahnya sesederhana ini. Atau dia mau mengambil untung dariku? Tapi kan … aku tidak punya uang sama sekali. Kartu ATM, hp, KTP, semua hilang,” pikir Radit. “Kalau aku pesugihan, bisa abadi di neraka aku.”

Radit benar-benar bingung menimbang-nimbang tanpa timbangan. Ia pun kemudian teringat dengan sesuatu.

“Wah, pantas polisi enggak lihat aku ada di dalam kamar, Kong Botok pasti punya kesaktian. Enggak mungkin aku tinggal di sini terus. Tapi kalau aku pergi, bakal dikejar warga lagi aku. Bisa-bisa Kong Botok jadi sasaran warga kalau ketahuan menyembunyikan aku….”

Lama-lama melamun dalam kebimbangan, tidak terasa Radit tertidur. Perut yang sudah kenyang oleh bubur ayam menjadi salah satu faktor utama pemanggil kantuk.

“Ini orangnya, Putri.”

Terkejut Radit mendengar suara kakek-kakek yang langsung dia kenali. Suara itu mirip suara Kong Botok. Suara yang didengar oleh Radit itu seketika membangunkannya, maksudnya membuat matanya terbuka.

Terbeliak Radit saat matanya langsung melihat seorang gadis cantik jelita berambut panjang. Namun anehnya, wanita muda itu mengenakan pakaian warna biru terang seperti penari Jawa yang penuh perhiasan emas. Bahunya terbuka bebas memperlihatkan kulit warna terang yang mulus. Di kepalanya ada hiasan tiara dari emas yang memiliki sejumlah permata-peramata kecil berwarna biru.

Meski jantung Radit terhentak karena terkejut, tetapi perasaannya diliputi rasa bahagia melihat wanita yang sangat cantik.

Gadis berpakaian seperti penari atau kostum seorang putri raja itu berdiri di arah ujung kaki Radit. Pandangannya sangat jelas tertuju kepada wajah Radit.

“Siapa? Apakah dia anak Kong Botok?” tanya Radit dalam hati. “Kalau belum ada yang punya, aku pasti rela berbuat apa saja demi mendapat cintanya.”

Dalam kondisi Radit tegang tapi bahagia itu, keduanya hanya saling tatap tanpa senyum. Radit kemudian memaksakan diri tersenyum. Kaku. Ternyata senyuman Radit dibalas senyum pula oleh si gadis.

Ketika mendapat senyuman balasan yang sangat manis itu, Radit merasakan desiran yang sangat nikmat di dalam perutnya dan berujung sesuatu yang memalukan jika diketahui oleh orang lain.

Alangkah terkejutnya Radit ketika dia merasakan sesuatu keluar dari keperkasaannya. Rasanya nikmat, tetapi bikin panik.

Buru-buru Radit bangun duduk dan memegangi sarungnya. Pikirannya langsung tertuju kepada sarungnya yang akan basah.

Radit kelabakan sambil memegang kain sarungnya, plus benda sensitif yang ada di baliknya.

Radit panik dan malu karena itu terjadi di depan seorang wanita cantik. Namun, ketika Radit melirik kepada gadis itu, si gadis cantik sudah tidak terlihat keberadaannya.

“Hah! Ke mana?” ucap Radit terkejut. “Ya Allah, mimpi!”

Radit jadi lemas hati. Dia jatuhkan kepalanya ke bantalnya kembali, tetapi tangannya tetap memegangi miliknya yang benar-benar basah.

“Aaah, mimpi doang. Siang-siang begini sampai mimpi basah. Aduh, kalau Kong Botok tahu, malu banget aku. Ada-ada saja,” batin Radit. “Tapi … kok seperti nyata ya? Perasaan, setelah aku bangun, aku enggak bangun lagi. Aaah, pasti aku enggak terasa bangunnya karena aku panik. Enggak mungkinlah ada gadis penari sungguhan di rumah Kong Botok. Enggak mungkin juga kalau itu anaknya Kong Botok, usianya jauh banget.”

Radit lalu bangun lagi. Dia harus mengurusi cairan yang mengotori sarungnya.

“Kalau aku minta sarung ganti, nanti Kong Botok curiga. Kong Botok enggak boleh tahu kalau aku mimpi basah siang-siang. Malu habis nanti aku,” pikir Radit. Namun, kemudian dia tersenyum dan berkata sendiri, “Cantik banget cewek itu. Bidadari kali ya. Hahaha!”

Radit tertawa pelan mengingat kecantikan gadis di dalam mimpinya. Jelas itu adalah mimpi yang sangat membahagiakan, apalagi sampai ‘keluar’.

“Tidur lagi ah, siapa tahu mimpi ketemu lagi sama bidadari itu. Biasanya kalau aromanya masih nyisa, mimpi bisa bersambung lagi dengan kondisi yang berbeda. Siapa tahu mimpinya langsung malam pertama. Hahaha!” batin Radit lalu tertawa, tetapi tawanya nyata, bukan di dalam hati.

Setelah membersihkan sarungnya dengan kain sprei, Radit kembali berbaring dengan maksud mau tidur lagi, mau mencoba peruntungan dalam mimpi.

Dia kembali memejamkan mata. Satu menit, dua menit. Namun, usahanya gagal untuk tidur. Pikirannya selalu bertanya-tanya. Kejadian munculnya gadis berpakaian penari Jawa warna biru itu, mimpi atau bukan?

Mau diyakini itu mimpi, tapi terasa sangat nyata. Mau diyakini itu nyata, tapi rasanya tidak mungkin.

Pada akhirnya, Radit memutuskan bangun beranjak dari kasur. Dia merapikan posisi sarungnya, lalu pergi ke luar kamar.

Di ruangan tamu, Kong Botok tidak terlihat. Ketiadaan penghuni rumah membuat Radit mencari-cari. Dia pandangi dinding-dinding di rumah. Dia mencari foto berbingkai yang sering dipajang di dinding sebuah rumah. Radit ingin melihat, apakah ada foto Kong Botok dengan seorang gadis muda yang mungkin adalah putri atau cucunya.

Namun, rumah itu bersih dari foto keluarga atau foto non keluarga. Yang ada di dinding hanya benda-benda hiasan biasa.

Cesss!

Tiba-tiba terdengar suara desisan minyak goreng panas yang dicelupi benda basah. Itu menunjukkan bahwa Kong Botok sedang menggoreng sesuatu di dapur.

Radit segera berjalan ke dapur. Pandangannya masih mencari-cari foto dinding yang hingga sampai dapur, benda itu tidak ada.

Dilihatnya Kong Botok sedang berdiri menggoreng di kompor.

Kemunculan bayangan Radit membuat si kakek menengok dan langsung tersenyum.

“Goreng ikan untuk makan nasi,” ujar Kong Botok.

“Mancing di kali, Kong?” tanya Radit seraya tersenyum.

“Jala. Hehehe!” jawab Kong Botok, lalu terkekeh. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

26 komentar:

  1. Waktu kemaren datang ke mimpi Om, aku bawa senyum yg banyak gak?🤔Aduuh, aku bikin basah sarung Om juga nih pasti😭😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak semudah itu, Om lelaki kuat

      Hapus
    2. Masa sih????🤔🤔🤔🤔🤣

      Hapus
    3. buktinya Om masih tahan selingkuh online

      Hapus
    4. Tahan dong, kalau rindu kan cukup pandang-pandangi fotoku yg pakai filter cantik yg aku kirimi itu, Om🤣

      Hapus
    5. hahahaha! yang filternya ada ulat bulunya?

      Hapus
    6. Emang ada ya, Om? gak tau juga ada filter itu, apasih namanya? filter uyut-uyut?🤧

      Hapus
    7. Hahahaha! Padahal Om sudah lupa tuh sama uyut-uyut

      Hapus
  2. Kok hampir sama pikiran Radit denganku, Om. masih mending angkat rok daripada main pelet, Om🤭🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya antara kekal dan sementara di neraka. Tapi Om gak main pelet lho. Buktinya tetangga Om aman-aman aja

      Hapus
    2. Maksudnya antara kekal dan sementara di neraka. Tapi Om gak main pelet lho. Buktinya tetangga Om aman-aman aja

      Hapus
    3. Iya itu maksudnya antara kekal dan sementara.
      Aku rasa tetangga Om punya dukun lebih mumpuni daripada dukun Om. beda denganku yg enggak hobi main dukun langsung cinta nyaris mati padamu🙄🤧

      Hapus
    4. jangan mati dulu dong Mak Imut, nanti jumlah wanita cantik di dunia ini berkurang satu

      Hapus
    5. Gak apa. Mati demi Om aku rela🙄🙄🙄🙄😭🤧

      Hapus
    6. Welleh, enggak gitu juga kaleeee, Mak. Emang di neraka bisa bahagia cuma karena main api?

      Hapus
    7. Jadi bagaimana menurut Om baiknya? kita akhiri saja ini hubungan?🤔😭🤧

      Hapus
    8. Jangan dong, nanti Om termehek-mehek

      Hapus
    9. Ahahahah, Om takut ya kehilangan aku yg cantik ranking 1 sampai 3 se Sumatra ini😂

      Hapus
    10. yang rangking tiga sekampung aja Om takut diboikot, apa lagi yang rangkingnya se-Sumatera. Asal jangan segalak harimau sumatera

      Hapus
  3. Weh! Mimpi basah cuma karena ngelihat doang. Itu basah karena kencingya atau karena anunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kalau bukan karena si dia

      Hapus
    2. wkwkwkwk! Sebegitunya. Bagaimana kalau Radit lihat saya di mimpinya. gitu juga gak sih

      Hapus
    3. Yakin gak akan basah, kecuali gentengnya bocor

      Hapus
  4. Weh! Komntarku udah bisa muncul sendiri

    BalasHapus