PKK16: Dua Wanita Cantik


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*


Saat ini di gudang jagung, Rugi Sabuntel dan Blikik sedang duet dalam menelanjangi si buah jagung. Mereka bekerja membukai kulit-kulit jagung hingga membersihkan dari rambut-rambut merahnya. Ada sebanyak dua puluh karung jagung yang harus mereka telanjangi satu demi satu, lalu mereka karungi kembali.

“Diam-diam ada pendekar yang jatuh hati kepadamu, Rugi,” ujar Blikik.

“Laki-laki?” tanya Rugi Sabuntel.

“Hahaha! Iya,” jawab Blikik sambil tertawa.

“Kau pikir aku lelaki apa?!” pekik Rudi Sabuntel sambil melempar satu jagung kepada Blikik.

Dak!

“Aduh!” keluh Blikik ketika jagung itu mendarat di dahinya.

Pekikan Blikik yang kencang sampai membuat Nyai Demang dan buruh lain menengok kepada kedua lelaki bertubuh besar itu. Mereka bahkan masih sempat melihat Blikik ditimpuk yang membuat terkejut dan menduga telah terjadi pertengkaran kelas berat.

“Hahahak!”

Namun, ketika mereka melihat Blikik justru tertawa sambil memegangi dahinya, legalah Nyai Demang dan buruh yang lain. Rupanya hanya bercanda. Itu pikir mereka.

Namun, adegan tersebut tetap membuat Nyai Demang datang melenggang mendekati mereka. Segala hal yang berhubungan dengan Rugi Sabuntel selalu menggoda jiwa kepo sang nyai untuk tahu.

“Eeeh, ada apa kalian bertengkar seperti ini?” tanya Nyai Demang sembari berkacak pinggang sebelah. Wajah cantiknya dipasang seperti hendak marah.

“Blikik, Nyai,” tunjuk Rugi Sabuntel. “Dia menganggapku lelaki yang suka dengan lelaki.”

“Kau memang keterlaluan, Blikik! Teganya kau menuduh sahabat sendiri seperti itu. Rugi begitu gagah sebagai seorang pendekar. Aku sedikit pun tidak melihatnya suka dengan sesama jeruk. Aku bisa merasakan sikapnya lembut kepada wanita selama ini. Bukankah seperti itu, Rugi?” Nyai Demang mengomeli Blikik, lalu bertanya lembut kepada Rugi.

“Benar sekali, Nyai!” ucap Rugi seperti seorang penjilat. Dia meledek Blikik dengan gerakan-gerakan alis.

“Iya, Nyai,” ucap Blikik seperti anak baik, supaya Nyai Demang cepat pergi.

“Jika Blikik berbuat seperti itu lagi, yang menyakiti perasaanmu, laporkan kepadaku, Rugi,” kata Nyai Demang.

“Siap, Nyai Demang,” ucap Rugi patuh sambil tersenyum kepada Blikik yang memendam kejengkelan.

“Oh ya, Rugi. Nanti di waktu istirahat, antar aku pergi ke kedainya Mak Gendong. Aku mau makan sambal kunyit. Aku butuh pengawal,” ujar Nyai Demang.

“Siiiap, Nyai!” pekik Rugi sembari memberi senyum manisnya.

“Aku juga bisa mengawal, Nyai,” sahut Blikik.

“Aku butuh pengawal yang terbaik,” timpal Nyai Demang, lalu dia melangkah pergi untuk kembali ke meja mandornya.

“Hahaha!” Meledaklah tawa Rugi Sabuntel mengejek Blikik yang juga ikut tertawa terima nasib.

“Eh, lanjut yang tadi. Siapa yang jatuh hati kepadaku?” suruh Rugi Sabuntel. Dia penasaran siapa pendekar yang jatuh hati kepadanya. Jika cocok, tentunya bisa menyambut gayung melempar ember. Entah apa arti peribahasa itu.

“Pendekar wanitanya Demang Segara. Namanya Ageng. Pendekar yang melayani pendaftaran Duel Pendekar Butogilo,” kata Blikik.

“Cantik?” tanya Rugi Sabuntel antusias.

“Cantik, tapi tidak secantik Nyai Demang, juga lebih galak dari Nyai Demang,” jawab Blikik. “Dia titip salam kepadamu. Hahaha!”

“Kau pasti menggodanya,” tukas Rugi Sabuntel.

“Tidak bisa digoda. Galak seperti kucing garong. Hahaha!” kata Blikik, lalu tertawa lagi.



Singkat waktu.

Saat waktu istirahat, Rugi Sabuntel ikut kereta kuda Nyai Demang pergi ke kedai Mak Gendong di pinggir sawah. Rugi duduk di sisi Buntet, sais kereta kuda.

Di kedai Mak Gendong, ujung-ujungnya Nyai Demang minta ditemani makan. Bukan dengan Buntet, tetapi dengan Rugi Sabuntel.

Terlihat jelas bahwa Nyai Demang sangat bahagia bisa makan bersama Rugi. Dia bahkan menertawakan jumlah porsi dan gaya makan pemuda gendut itu. Rugi pun tidak malu-malu menunjukkan gaya aslinya.

“Hihihi!”

Nyai Demang pun tidak sungkan-sungkan tertawa lepas di depan Rugi ketika ada hal yang lucu atau membuatnya senang.

“Nyai, bagaimana jika Gusti Demang tahu bahwa aku menemani Nyai makan?” tanya Rugi Sabuntel.

“Ya tidak apa-apa. Suamiku tidak akan marah. Suamiku bukan lelaki pecemburu. Dia malah suka jika ada pendekar yang mengawalku,” jawab Nyai Demang enteng. “Kau takut, Rugi?”

“Tidak. Bukankah ada Nyai yang melindungiku?” kata Rugi Sabuntel.

“Hihihi!” tawa Nyai Demang senang dengan sanjungan karyawannya itu.

Saking asiknya menikmati kebersamaan, sampai-sampai keduanya terlambat untuk kembali ke gudang jagung. Namun, bos besar mah bebas.

Seusai bekerja hingga hari menjelang sore, Rugi Sabuntel segera pulang dan langsung membersihkan diri. Usai itu, dia pergi ke Desa Buangsial.

Rugi Sabuntel tidak langsung ke rumah Bendong, tetapi dia pergi ke pasar, tepatnya ke penjahit baju Nyi Unyu. Dia ingin mengambil seragam rampoknya yang tersisa satu pasang lagi.

“Salam datang, Nyi!” ucap Rugi Sabuntel.

Nyi Unyu yang sedang menjahit baju pesanan konsumen menengok kepada Rugi Sabuntel dan mengangguk. Rugi tersenyum manis, senyum yang tidak dibalas dengan senyuman Nyi Unyu. Seperti hari biasa, wanita cantik berbibir ungu itu tanpa senyum.

Nyi Unyu menghentikan kerjanya. Dia mengambil lipatan kain warna merah gelap yang merupakan baju dan celana pesanan Rugi Sabuntel.

Ketika sedang menyerahkan lipatan kain itu, tanpa sengaja tangan Rugi Sabuntel menyentuh jari tangan berkuku ungu Nyi Unyu.

Nyi Unyu terkejut dan sontak menarik cepat tangannya. Hal itu membuat lipatan kain jatuh ke bawah karena Rugi Sabuntel jadi ikut terkejut pula, membuat pegangan jarinya klepek-klepek.

“Eh!” kejut Rugi Sabuntel lagi, lalu cepat mengibaskan kaki kanannya di bawah kain yang meluncur jatuh.

Wuss!

Kibasan kaki itu memunculkan angin yang membuat kain terangkat naik kembali mengudara, tapi lipatannya terbongkar melebar tidak beraturan.

Pergerakan kain tersebut disambut oleh gerakan tangan Nyi Unyu yang cepat menyambar kain dan melipatnya di udara dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

“Waw!” desah Rugi Sabuntel melihat kecepatan tangan Nyi Unyu.

Baju dan celana itu kembali terlipat dengan rapi di tangan Nyi Unyu. Wanita cantik tersebut lalu memberikan secara sempurna pakaian itu kepada Rugi, tanpa main sentuh-sentuhan lagi.

“Terima kasih, Nyi. Sepertinya kita pasangan yang cocok,” ucap Rugi Sabuntel berujung kalimat dan senyuman gombal.

Nyi Unyu tetap bersikap dingin tidak menanggapi, meski ada seberkas cahaya bahagia di dalam hatinya.

“Oh ya, Nyi. Dua hari lagi aku akan bertarung di pertandingan Duel Pendekar Butogilo, jika berkenan dan ada waktu, hadirlah menonton untuk mendukungku,” ujar Rugi Sabuntel mengundang Nyi Unyu.

Wanita cantik itu hanya mengangguk sekali, yang sulit bagi Rugi untuk menafsirkannya, apakah anggukan itu berarti iya akan hadir, atau sekedar iya tanda mendengar.

“Aku akan sangat menunggumu, Nyi. Aku pamit!” kata Rugi Sabuntel bernada semangat.

Nyi Unyu kembali hanya mengangguk satu ketukan sembari menatap datar Rugi Sabuntel. Pandangannya bahkan belum beralih hingga pemuda gendut itu hilang di balik lapak pedagang lain bersama kuda tunggangannya.

Nyi Unyu melanjutkan kerjanya.

Dengan membawa rasa bahagia di dalam hati karena memiliki insiden indah bersama Nyi Unyu, ditambah dia berani mengundang wanita yang lebih tua darinya itu, Rugi Sabuntel pergi ke kediaman Bendong. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar