*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Saat ini di gudang
jagung, Rugi Sabuntel dan Blikik sedang duet dalam menelanjangi si buah jagung.
Mereka bekerja membukai kulit-kulit jagung hingga membersihkan dari
rambut-rambut merahnya. Ada sebanyak dua puluh karung jagung yang harus mereka
telanjangi satu demi satu, lalu mereka karungi kembali.
“Diam-diam ada
pendekar yang jatuh hati kepadamu, Rugi,” ujar Blikik.
“Laki-laki?” tanya
Rugi Sabuntel.
“Hahaha! Iya,” jawab
Blikik sambil tertawa.
“Kau pikir aku lelaki
apa?!” pekik Rudi Sabuntel sambil melempar satu jagung kepada Blikik.
Dak!
“Aduh!” keluh Blikik ketika
jagung itu mendarat di dahinya.
Pekikan Blikik yang
kencang sampai membuat Nyai Demang dan buruh lain menengok kepada kedua lelaki
bertubuh besar itu. Mereka bahkan masih sempat melihat Blikik ditimpuk yang
membuat terkejut dan menduga telah terjadi pertengkaran kelas berat.
“Hahahak!”
Namun, ketika mereka
melihat Blikik justru tertawa sambil memegangi dahinya, legalah Nyai Demang dan
buruh yang lain. Rupanya hanya bercanda. Itu pikir mereka.
Namun, adegan
tersebut tetap membuat Nyai Demang datang melenggang mendekati mereka. Segala
hal yang berhubungan dengan Rugi Sabuntel selalu menggoda jiwa kepo sang nyai
untuk tahu.
“Eeeh, ada apa kalian
bertengkar seperti ini?” tanya Nyai Demang sembari berkacak pinggang sebelah.
Wajah cantiknya dipasang seperti hendak marah.
“Blikik, Nyai,”
tunjuk Rugi Sabuntel. “Dia menganggapku lelaki yang suka dengan lelaki.”
“Kau memang
keterlaluan, Blikik! Teganya kau menuduh sahabat sendiri seperti itu. Rugi
begitu gagah sebagai seorang pendekar. Aku sedikit pun tidak melihatnya suka
dengan sesama jeruk. Aku bisa merasakan sikapnya lembut kepada wanita selama
ini. Bukankah seperti itu, Rugi?” Nyai Demang mengomeli Blikik, lalu bertanya
lembut kepada Rugi.
“Benar sekali, Nyai!”
ucap Rugi seperti seorang penjilat. Dia meledek Blikik dengan gerakan-gerakan
alis.
“Iya, Nyai,” ucap
Blikik seperti anak baik, supaya Nyai Demang cepat pergi.
“Jika Blikik berbuat
seperti itu lagi, yang menyakiti perasaanmu, laporkan kepadaku, Rugi,” kata
Nyai Demang.
“Siap, Nyai Demang,”
ucap Rugi patuh sambil tersenyum kepada Blikik yang memendam kejengkelan.
“Oh ya, Rugi. Nanti
di waktu istirahat, antar aku pergi ke kedainya Mak Gendong. Aku mau makan
sambal kunyit. Aku butuh pengawal,” ujar Nyai Demang.
“Siiiap, Nyai!” pekik
Rugi sembari memberi senyum manisnya.
“Aku juga bisa
mengawal, Nyai,” sahut Blikik.
“Aku butuh pengawal
yang terbaik,” timpal Nyai Demang, lalu dia melangkah pergi untuk kembali ke
meja mandornya.
“Hahaha!” Meledaklah
tawa Rugi Sabuntel mengejek Blikik yang juga ikut tertawa terima nasib.
“Eh, lanjut yang tadi.
Siapa yang jatuh hati kepadaku?” suruh Rugi Sabuntel. Dia penasaran siapa
pendekar yang jatuh hati kepadanya. Jika cocok, tentunya bisa menyambut gayung
melempar ember. Entah apa arti peribahasa itu.
“Pendekar wanitanya
Demang Segara. Namanya Ageng. Pendekar yang melayani pendaftaran Duel Pendekar
Butogilo,” kata Blikik.
“Cantik?” tanya Rugi
Sabuntel antusias.
“Cantik, tapi tidak
secantik Nyai Demang, juga lebih galak dari Nyai Demang,” jawab Blikik. “Dia
titip salam kepadamu. Hahaha!”
“Kau pasti
menggodanya,” tukas Rugi Sabuntel.
“Tidak bisa digoda.
Galak seperti kucing garong. Hahaha!” kata Blikik, lalu tertawa lagi.
Singkat waktu.
Saat waktu istirahat,
Rugi Sabuntel ikut kereta kuda Nyai Demang pergi ke kedai Mak Gendong di
pinggir sawah. Rugi duduk di sisi Buntet, sais kereta kuda.
Di kedai Mak Gendong,
ujung-ujungnya Nyai Demang minta ditemani makan. Bukan dengan Buntet, tetapi
dengan Rugi Sabuntel.
Terlihat jelas bahwa
Nyai Demang sangat bahagia bisa makan bersama Rugi. Dia bahkan menertawakan
jumlah porsi dan gaya makan pemuda gendut itu. Rugi pun tidak malu-malu
menunjukkan gaya aslinya.
“Hihihi!”
Nyai Demang pun tidak
sungkan-sungkan tertawa lepas di depan Rugi ketika ada hal yang lucu atau
membuatnya senang.
“Nyai, bagaimana jika
Gusti Demang tahu bahwa aku menemani Nyai makan?” tanya Rugi Sabuntel.
“Ya tidak apa-apa.
Suamiku tidak akan marah. Suamiku bukan lelaki pecemburu. Dia malah suka jika
ada pendekar yang mengawalku,” jawab Nyai Demang enteng. “Kau takut, Rugi?”
“Tidak. Bukankah ada
Nyai yang melindungiku?” kata Rugi Sabuntel.
“Hihihi!” tawa Nyai
Demang senang dengan sanjungan karyawannya itu.
Saking asiknya
menikmati kebersamaan, sampai-sampai keduanya terlambat untuk kembali ke gudang
jagung. Namun, bos besar mah bebas.
Seusai bekerja hingga
hari menjelang sore, Rugi Sabuntel segera pulang dan langsung membersihkan
diri. Usai itu, dia pergi ke Desa Buangsial.
Rugi Sabuntel tidak
langsung ke rumah Bendong, tetapi dia pergi ke pasar, tepatnya ke penjahit baju
Nyi Unyu. Dia ingin mengambil seragam rampoknya yang tersisa satu pasang lagi.
“Salam datang, Nyi!”
ucap Rugi Sabuntel.
Nyi Unyu yang sedang
menjahit baju pesanan konsumen menengok kepada Rugi Sabuntel dan mengangguk.
Rugi tersenyum manis, senyum yang tidak dibalas dengan senyuman Nyi Unyu.
Seperti hari biasa, wanita cantik berbibir ungu itu tanpa senyum.
Nyi Unyu menghentikan
kerjanya. Dia mengambil lipatan kain warna merah gelap yang merupakan baju dan
celana pesanan Rugi Sabuntel.
Ketika sedang
menyerahkan lipatan kain itu, tanpa sengaja tangan Rugi Sabuntel menyentuh jari
tangan berkuku ungu Nyi Unyu.
Nyi Unyu terkejut dan
sontak menarik cepat tangannya. Hal itu membuat lipatan kain jatuh ke bawah
karena Rugi Sabuntel jadi ikut terkejut pula, membuat pegangan jarinya
klepek-klepek.
“Eh!” kejut Rugi
Sabuntel lagi, lalu cepat mengibaskan kaki kanannya di bawah kain yang meluncur
jatuh.
Wuss!
Kibasan kaki itu
memunculkan angin yang membuat kain terangkat naik kembali mengudara, tapi
lipatannya terbongkar melebar tidak beraturan.
Pergerakan kain
tersebut disambut oleh gerakan tangan Nyi Unyu yang cepat menyambar kain dan
melipatnya di udara dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
“Waw!” desah Rugi
Sabuntel melihat kecepatan tangan Nyi Unyu.
Baju dan celana itu
kembali terlipat dengan rapi di tangan Nyi Unyu. Wanita cantik tersebut lalu
memberikan secara sempurna pakaian itu kepada Rugi, tanpa main sentuh-sentuhan
lagi.
“Terima kasih, Nyi.
Sepertinya kita pasangan yang cocok,” ucap Rugi Sabuntel berujung kalimat dan
senyuman gombal.
Nyi Unyu tetap
bersikap dingin tidak menanggapi, meski ada seberkas cahaya bahagia di dalam
hatinya.
“Oh ya, Nyi. Dua hari
lagi aku akan bertarung di pertandingan Duel Pendekar Butogilo, jika berkenan
dan ada waktu, hadirlah menonton untuk mendukungku,” ujar Rugi Sabuntel
mengundang Nyi Unyu.
Wanita cantik itu
hanya mengangguk sekali, yang sulit bagi Rugi untuk menafsirkannya, apakah
anggukan itu berarti iya akan hadir, atau sekedar iya tanda mendengar.
“Aku akan sangat
menunggumu, Nyi. Aku pamit!” kata Rugi Sabuntel bernada semangat.
Nyi Unyu kembali
hanya mengangguk satu ketukan sembari menatap datar Rugi Sabuntel. Pandangannya
bahkan belum beralih hingga pemuda gendut itu hilang di balik lapak pedagang
lain bersama kuda tunggangannya.
Nyi Unyu melanjutkan
kerjanya.
Dengan membawa rasa bahagia di dalam hati karena memiliki insiden indah bersama Nyi Unyu, ditambah dia berani mengundang wanita yang lebih tua darinya itu, Rugi Sabuntel pergi ke kediaman Bendong. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar