*Petualangan Tina dan Ayu*
“Bukan mayat hidup?” tanya Ayu kepada Somali yang
seluruh tubuhnya berbalur lumpur, kecuali wajahnya yang baru mendapat kucuran
air kencingnya Salman Alfarisy.
“Saya memang mayat hidup!” jawab Somali.
“Haaa!” Salman yang dalam kondisi menggantung kakinya
di lubang jadi kembali berteriak panik karena takut.
“Cepat tarik!” teriak Ayu kembali panik pula.
“Cepat angkat Salaman!” Tina pun ikut-ikutan panik.
“Tapi bohong! Hahaha!” kata Somali lalu tertawa
terpingkal-pingkal di dasar lubang berlumpur.
“Ku-ku-kurang ajar!” maki Salman sambil menendang
kepala Somali.
“Akk!” jerit tertahan Somali dengan badan terdorong ke
dinding lubang tanah.
“Tiga! Tarik!” teriak Tina sambil bersama Ayu menarik
Salman.
Salman pun tertarik naik dan keluar total dari lubang.
“Jangan tinggalin saya!” teriak Somali. Giliran dia
yang panik.
“Tanggalin! Tanggalin!” kata Tina bersorak-sorak
mengerjai Somali.
“La-la-lari!” teriak Salman sambil duluan berlari
meninggalkan lubang.
“Tinggalin saja, mukanya enggak mirip Somali,” kata
Ayu.
“Bagaimana mau mirip, mukanya ketutupan lampir?” kata
Tina.
Trio Antik lalu berlari meninggalkan lubang dalam
kondisi wajah dan pakaian penuh lumpur.
“Woiii! Tolooong! Saya enggak bisa naiiik!” teriak
Somali kencang.
“Tungku, tungku, tungku!” teriak Tina mendadak
berhenti.
“Apa lagi?” tanyaa Ayu.
“Kayaknya itu Somasi benaran deh,” kata Tina.
“Me-me-memang iya,” kata Salman yang berhenti dan
mendekati kedua sahabat perempuannya.
“Trus, kenapa enggak ditodong?” tanya Tina.
“Ditolong, bukan ditodong. Kamu kira preman,” ralat
Ayu.
“Ka-ka-kamu sendiri yang nyu-nyu-nyu....”
“Nyupang?” terka Ayu.
“Hahaha! Nyu-nyu-nyuruh tinggalin du-du-duluan,” kata
Salman.
“Iya, Tina. Kamu yang kasih komando tinggalin,” kata
Ayu.
“Oh, saya ya? Saya kok amelia?” kata Tina nyengir
sapi.
“Amnesia!” ralat Ayu.
“A-a-amnesia!” Salman terlambat.
“Telat!” kata Ayu kepada Salman.
“Yang pe-pe-penting sampai!”
“Yuk balik lagi!” ajak Tina.
“Tolooong! Ini enggak bohong! Toloong!” teriak Somali
mau menangis, atau jangan-jangan sudah menangis. “Tega banget mereka.”
“Tapi bolong!” Tina mengejutkan Somali dengan
menongolkan wajahnya tiba-tiba di atas lubang.
“Tapi bohong!” Ayu juga memunculkan wajahnya di sisi
lubang.
“Ta-ta-tapi bo-bo-bo....”
“Bocooor!” teriak Somali menerka.
“Hahaha!” Mereka berempat akhirnya tertawa bersama.
“Somay, kok bisa ikut ada di situ?” tanya Tina.
“Somali!” ralat Somali.
“Iya,” ucap Tina tidak masalah.
“Tidak tahu. Tadi tenggelam, tiba-tiba perosotan di
sini,” jawab Somali.
“Iya, tadi kita tenggelam di laut, kan?” kata Ayu
mengingatkan.
“Iya,” kata Salman menguatkan.
“Eh, jangan-jangan kita pulang ke Kalianda,” kata
Tina.
Tina lalu melihat jauh ke sekeliling.
“Noh, di sana ada arang lagi nyawah!” tunjuk Tina.
“Orang, bukan arang, Tina,” ralat Ayu.
“Iya, maksud saya itu. Arang,” kata Tina.
“Aduh. Hahaha!” Salman prihatin lalu tertawa.
“Eh, buluan, tarik naik si Somasi!” kata Tina.
“Sini tangan kamu!” suruh Ayu kepada Somali.
“Tapi jangan bohong,” kata Somali.
“Eeeh, kita tinggal juga nih!” kata Ayu.
“Jangan, jangan, jangan!” teriak Somali.
“Cepotan!” kata Tina tidak sabaran.
“La-la-lama!” kata Salman pula.
“Iya,” ucap Somali.
Singkat cerita, akhirnya Somali bisa bebas dari lubang
berlumpur. Ia berkumpul lagi bersama Trio Antik.
Mereka segera pergi menemui seorang petani yang sedang
menyawah.
“Pak!” panggil Ayu dari belakang Pak Tani yang sedang
sibuk membungkuk, entah apa yang dibungkuki? Jangan dijawab!
Pak Tani pun segera berbalik dan melihat empat makhluk
yang menyeramkan.
“Astaghfirullah!” kejut Pak Tani melihat empat
makhluk berlumpur itu. Sampai-sampai dia berteriak, “Set...!”
“Kita orang, Pak!” kata Ayu cepat. Insting orang
gemuknya cepat bekerja sebelum terjadi kekacauan.
“Hoh!” Pak Tani melongo memerhatikan keempat anak
remaja itu, dari atas sampai bawah. “Ma-ma-manusia?”
“Be-be-belum kenal su-su-sudah ngeledek,” gerutu
Salman.
“Kita manusia asri, Pak,” kata Tina pula.
“Tapi bohong! Hahaha!” teriak Somali lalu tertawa
terpingkal-pingkal.
“Setaaan!” teriak Pak Tani sambil cepat berbalik lari
di lumpur petakan sawah.
“Kelaaar!” teriak Tina sambil cepat berlari mengejar
Pak Tani. Dia juga berlari di petakan sawah yang berlumpur.
“Somali kurang acar!” teriak Ayu juga, tapi ikut
berlari mengejar, menyusul Tina.
“Hoi! Kita orang benaran!” teriak Somali sambil ikut
berlari menyusul.
“Tu-tu-tungguuu!” teriak Salman yang larinya ikut
gagap.
“Paaak! Kita bukan handuuuk!” teriak Tina.
“Hantu! Bukan handuk!” teriak Ayu di belakang.
“Pak! Tungkuuu!” teriak Tina, tapi akhirnya dia
berhenti mengejar. Dia menyerah. “Kok enggak mau berhenti sih?”
“Bagaimana mau berhenti, kamu manggilnya salah melulu?”
kata Ayu sambil ngos-ngosan dan berhenti di dekat Tina.
“Perasan sudah benar kok mandinya,” kata Tina yakin.
“Tuh salah lagi. Manggil disebut mandi,” kata Ayu.
“Siapa yang bilang mandi? Kamu salah dengar, Yu. Eh,
jangan-jangan Ayu jadi beduk gara-gara setres. Hahaha!” kata Tina.
“Budek, bukan beduk!” bentak Ayu kesal.
“Kok dibiarin pergi?” tanya Somali yang baru sampai.
“Agar-agar orang ini nih!” kata Tina sambil memukuli
kepala Somali.
“Bikin kacau melulu!” Ayu juga memukuli kepala Somali.
“I-i-ikutan!” kata Salman yang datang belakangan dan
ikut menepak kepala Somali.
“Ampuuun!” pekik Somali sambil duduk berjongkok di
lumpur sawah.
“Spot, spot, spot! Nanti anak orang tambah cebok!”
kata Tina yang berhenti memukul kepala Somali.
“Cebol. Bukan cebok, Tina. Emangnya eek? Hahaha!” kata
Ayu, lalu tertawa.
“Hahahak!” Salman ikut tertawa dan berhenti memukuli
kepala Somali.
“Awas kalau kayak tadi, kita gunting lagi di pohon!”
ancam Tina.
“Iya, iya, iya,” ucap Somali.
“Itu patung Raden Inten!” pekik Ayu sambil menunjuk ke
arah jauh.
Semua segera melihat ke arah tunjukan Ayu. Mereka
melihat sebuah patung orang di kejauhan. Patung itu adalah sosok Pahlawan Raden
Inten.
“Alhamdulillaaah! Akhirnya kita pulung juga,”
ucap Tina.
“Ho-ho-horeee! Pu-pu-pulaaang!” pekik Salman bersorak
girang.
“Memang ini di mana?” tanya Somali.
“Di Kalianda, ngeri kita,” jawab Tina.
“Negeri, bukan ngeri,” ralat Ayu.
“Iya, itu maksud saya,” kata Tina. “Eh, berarti kita
di dekat rumah Ausyana.”
“Iya ya, dekat rumahnya Ausyana.” Ayu membenarkan.
“Ausya-ya-yana? Yang ca-ca-cantik itu? Hahaha!” tanya
Salman, tapi senang.
“Memangnya kamu naksir Asuyana?” tanya Tina sembari
tersenyum.
“Husy! Bukan asu, tapi aus,” hardik Ayu meralat.
“Hahaha! Me-me-memang guk guk? Ca-ca-cantik begitu,”
kata Salman.
“Tapi buat apa ke rumahnya?” tanya Ayu.
“Ayu, coba lipat badan kamu,” kata Tina.
“Liiipat?” tanya Ayu, kali ini dia tidak memahami kata-kata
Tina.
“Lihat! Hahaha!” teriak Tina menertawakan. “Ayu mana
bisa dilihat.”
“Dilipat, Tina. Ayu ini bisa dilihat cantiknya, tapi
gak bisa dilipat,” ralat Ayu.
“Hahaha!” tawa Somali.
“Diam!” bentak Tina, Ayu dan Salman bersamaan.
Seketika Somali diam, merengut dan mewek ingin
menangis.
“Kita bisa nunggang bersih-bersih di rumah Aus,” kata
Tina beride.
“Hahaha! Nu-nu-nunggang kuda,” kata Salman.
“Numpang kuda, eh, numpang mandi maksud saya,” kata
Tina meralat sendiri. “Cukur-cukur kalau dipinjamin baju celana.”
“Hahaha! Kalau dicukur, botak dong,” kata Somali.
“Diam!” bentak Tina, Ayu dan Salman bersamaan.
Somali pun diam lagi, merengut lagi, dan mewek lagi.
“Ayo!” ajak Tina.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah teman
sekelas mereka yang bernama Ausyana.
“Eh, bagaimana bisa, kok kita pulang ya?” tanya Ayu
heran.
“Setelah kesembur di laut....”
“Ke je bur, bukan kesembur,” ralat Ayu, tetap sabar.
“Iya. Nah, saya itu kayaknya ada yang ngarit gituh ke
bawah,” kata Tina.
“Tarik, bukan ngarit,” kata Ayu.
“Iya. Eh, terus gelap tuh. Tahu-tahu pelorotan di
lubang,” lanjut Tina.
“Perosotan, bukan pelorotan,” ralat Ayu.
“Hahaha! Emang ko-ko-ko....”
“Kodok?” terka Somali.
“Kolooor! Hahaha!” teriak Salman lalu tertawa keras.
“Hahaha!” tawa Somali.
“Diam!” bentak Tina, Ayu dan Salman bersamaan.
Somali pun diam, merengut dan mewek lagi. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar