Solusi untuk Radit, Bab17 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

 

Kong Botok turun ke air sungai di malam yang hampir larut. Dia turun dengan membawa bakul kecil dari anyaman kulit bambu. Bakul yang dijunjungnya itu berisi sesuatu yang tidak jelas.

Percaya atau tidak, Kong Botok dalam kondisi buto saat turun ke air. Dia turun tanpa sehelai benang pun bukan untuk pamer keperkasaannya yang sudah tua, tetapi ada maksud lain yang tidak terkait dengan nafsu ataupun asmara. Namun, ketika sudah turun ke sungai, tubuh bawah si kakek sudah tertutupi oleh air yang malam itu terlihat gelap segelap malam.

Posisi turunnya Kong Botok tidak jauh dari jembatan jalan raya di atas aliran sungai. Jadi posisinya ada beberapa meter lebih rendah dari aspal jembatan. Kondisi saat itu sepi, hanya ada sesekali kendaraan yang melintas di atas jembatan yang pastinya tidak akan berhenti hanya untuk melongok ke bawah.

Meski ada lampu-lampu jalan di atas jembatan, tetapi tidak cukup terang untuk memperjelas kondisi di sungai.

Memang, rumah Kong Botok yang sederhana, bagian belakangnya tidak jauh dari bantaran sungai.

Kong Botok tidak berenang, tetapi dia berjalan perlahan membawa tubuh kurusnya menerobos air mendekati pilar penyanggah jembatan yang jauh lebih gelap.

Kong Botok berhenti tepat di kolong jembatan, tapi tidak di tengah-tengah, lebih ke pinggir. Itu karena kedalaman di titik tengah bisa menenggelamkan kepala. Sementara di posisi titik berhenti Kong Botok hanya sedalam dada.

Keberadaan Kong Botok kini tidak terlihat karena telah tenggelan di dalam kegelapan. Namun demikian, apa yang dia lakukan dan alami akan tetap diceritakan.

Kong Botok sebenarnya sedang melakukan ritual. Itu perkara rutin yang dia lakukan, minimal satu kali satu dalam waktu sepekan. Jika sedang masa-masa ramai orderan, dia bisa melakukan tiga hingga empat kali ritual dalam sepekan. Waktunya selalu di tengah malam.

Dalam ritualnya, Kong Botok akan berdiri berendam di sungai pada satu titik selama satu hingga tiga jam. Lamanya masa ritual tergantung cepat atau lamanya masa menunggu kedatangan sesuatu. Belum jelas apa yang disebut sesuatu itu.

Dalam masa tunggu itu, Kong Botok akan merapal jampi-jampi dengan mata terpejam, sambil makan bawang putih mentah dan daun mawar. Itulah dua item yang ada di dalam bakul yang terus Kong Botok junjung di kepalanya. Selain bawang putih dan bunga mawar tanpa tangkai, ada pula telor bebek mentah. Telor akan dimakan setelah sesuatu itu datang.

Singkat waktu.

Setelah melakukan ritual selama 45 menit, Kong Botok merasakan ada sesuatu yang datang. Dia merasakan ada benda besar dan berat yang menyentuh badannya. Dia tidak membuka mata untuk melihat. Namun, Kong Botok tahu bahwa sesuatu yang mendatanginya itu bukanlah yang biasa.

Sambil terus merapal dengan mulut juga mengunyah bawang dan kelopak bunga, satu tangan Kong Botong memutuskan memegang benda yang sepertinya tersangkut pada tubuhnya.

Tangan kiri Kong Botok mencoba mengenali sesuatu itu dengan memegang dan merabanya.

Manusia. Itu kesimpulan hasil identifikasi tangan kiri Kong Botok. Entah apakah itu mayat atau bukan, perlu pendalaman lebih lanjut. Kong Botok lebih mengutamakan untuk melanjutkan dan menyelesaikan ritualnya. Tangan kirinya memilih untuk memegangi kain baju tubuh yang menyangkut padanya agar tidak hanyut.

Kong Botok tidak terkejut sedikit pun dengan hasil terkaannya yang 99% dia yakini benar. Jangankan sekujur mayat mati, didatangi mayat hidup pun, atau setan sekalipun, dia tidak takut karena perkara yang sudah biasa.

Hingga akhirnya, sesuatu yang ditunggu kedatangannya oleh Kong Botok akhirnya datang. Sesuatu itu datang di dalam air, bukan di atas air.

Kong Botok menceritakan kepada Radit kenapa pemuda itu bisa terbangun di kamar dalam rumah si kakek.

“Jadi, ketika Engkong sedang memancing, kamu muncul hanyut dan tersangkut dalam kondisi pingsan. Engkong kira mayat, tetapi setelah Engkong periksa, ternyata kamu masih hidup,” cerita bohong Kong Botok tanpa menyinggung perkara ritual yang dia lakukan dalam kondisi buto.

“Terima kasih, Kong. Terima kasih sekali,” ucap Radit sambil menunduk-nunduk kecil.

Saat itu, Radit yang sudah berbaju dan bersarung, sedang makan bubur ayam yang tadi dibelikan oleh Kong Botok. Mereka mengobrol di kamar tempat Radit diistirahatkan.

“Sebenarnya aku sudah berharap mati saja,” ujar Radit dengan wajah mendadak mewek termehek-mehek mengingat nasib buruknya yang luar biasa. Menurutnya.

“Hehehe! Berarti Engkong tidak berjasa karena menolong kamu,” kata Kong Botok yang didahului dengan kekehannya.

“Eh, bukan seperti itu, Kong. Maksu aku itu, jika memang saat itu aku tidak tertolong lagi, mungkin itulah jalan terbaik aku,” kata Radit cepat. Dia jadi tidak enak jantung mendengar perkataan Kong Botok.

“Coba, ceritakan saja segala permasalahanmu sehingga kamu sampai menjadi buronan polisi. Mungkin Engkong bisa sedikit membantu,” ujar Kong Botok.

“Hiks hiks hiks!” Radit yang tadi sudah sempat menahan mewek, mendadak menangis seperti seorang lelaki yang menangis dengan tangan tetap memegang mangkok dan sendok.

“Ya sudah. Kalau kamu memang belum mampu bercerita, tidak apa-apa. Tenangkan dulu pikiranmu dan istirahatkan dulu badanmu,” kata Kong Botok bijak.

“Aku bisa kok cerita, Kong. Aku hanya sedih mengingat penderitaan yang aku alami. Kok terus-menerus?” kata Radit.

“Hikmah.”

Kong Botok menyebut satu kata yang membuat Radit terdiam.

“Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa. Pertemuan kamu dengan Engkong jelas bukan hal yang Engkong dan kamu pernah pikirkan. Tidak pernah terbayang sedikit pun di dalam pikiran dan mimpi. Betul?” kata Kong Botok yang berujung pertanyaan gaya ulama kondangan.

“Betul, Kong,” jawab Radit yang sudah berhenti menangis lagi.

“Engkong ini sudah hidup lama, sudah kenyang dengan asam asin dan manisnya hidup. Jika Engkong tahu cerita penderitaan kamu, Engkong pasti tahu bumbu dapur apa yang kurang,” kata Kong Botok.

“Iya, Kong. Jadi begini ceritanya….”

Maka mulailah Radit bercerita kepada Kong Botok. Ceritanya termasuk lengkap, dimulai dari masa kecilnya. Meski itu tidak perlu-perlu amat untuk diketahui oleh Kong Botok, tetapi kakek kurus yang suka telanjang di tengah malam itu dengan sabar mendengarkan dan rajin manggut-manggut.

Sambil menyimak cerita Radit, Kong Botok mengisap cangklong yang depannya dipasangi sebatang rokok. Jenis rokoknya merek lokal, yaitu ASEP. Jangan ditanya apa arti kata itu!

Saking larutnya dalam bercerita, Radit membutuhkan waktu satu setengah jam untuk sampai kepada cerita kejadian saat dia dilempari batu oleh warga di sungai.

“Seperti itulah kemalangan aku, Kong,” kata Radit mengkhatamkan ceritanya.

“Intinya masalah duit,” kata Kong Botok menyimpulkan.

 “Iya, Kong,” ucap Radit membenarkan. “Jika duit cukup atau lebih, tidak mungkin aku sampai pinjol dan merampok. Jika duitku banyak, mertuaku pasti tidak akan sesadis itu.”

“Hehehe!” kekeh Kong Botok enteng, bukan maksud menertawakan. Lalu katanya, “Engkong tidak bisa memberikan solusi, tetapi Engkong hanya bisa menawarkan solusi yang menurut Engkong tepat. Hanya, tergantung diri kamu, apakah mau memilih solusi itu, atau tidak dan menjalani hidup apa adanya. Yang jelas, jika memilih menjalani hidup yang apa adanya, kamu pasti berujung di penjara. Pastinya muka kamu sudah tersebar ke mana-mana.”

“Solusi apa itu, Kong?” tanya Radit cepat setelah Kong Botok berhenti untuk mengisap cangklongnya. Punggungnya sampai tegak sempurna, tidak sepeti tangkai yang layu lagi.

Kong Botok tidak langsung menjawab. Dia nikmati dulu rasa isapannya, lalu mengeluarkan asap rokoknya dengan ikhlas dari mulut dan lubang hidungnya.

“Pesugihan,” jawab Kong Botot singkat.

Radit terkejut dengan mata yang melebar. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

21 komentar:

  1. Mending mana pesugihan dibanding merampok, Om Ustadz?🤔😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merampok risiko sendiri, pesugihan biasanya risiko orang dekat

      Hapus
    2. Emang iya begitu pesugihan risikonya, Om? aku mah enggak ngerti prihal pesugihan ini. tahunya ngerampok, ngebegal, mencuri hati gitu...🙄🤧

      Hapus
    3. Mak Imut spesialis mencuri hati Om Om

      Hapus
    4. Om termasuk yg suka dengar cerita horor, termasuk pesugihan

      Hapus
    5. Aku enggak terlalu suka cerita horor, Om. aku mah orangnya logis, gak suka kalo enggak bisa diterima di otakku. kecuali cerita orang bisa terbang2 kek di cerita Sanggana, bisa aku terima. gegara cinta ke authornya pasti😍😆

      Hapus
    6. Om jadi tersandung ... eh tersanjung maksudnya

      Hapus
    7. Mengapa Om enggak tersandung beneran aja sih??!🤧

      Hapus
    8. Ih toge, pasti ngakak kalau beneran lihat orang tua gendut tersungkur

      Hapus
    9. Iya ngakak😂
      eh enggak kok, Om. aku pasti sedih lihat Om tersungkur. kan Om orang yg kusayang. Sakit Om, sakit ku juga pasti😉🤧

      Hapus
    10. Itulah gombalan cinta. Mana ada rumusnya, saya yang jatuh Mak Imut yang sakit?

      Hapus
    11. Ihh gak percaya. Sakitnya tuh di sini, Om. DI SINI! mana tangan Om? nih. terasa gak? terasa kan?🙄😂

      Hapus
    12. Wah repot urusan. Om kan penghayal tingkat tinggi.

      Hapus
    13. Tidur lagi, Om. ketemu di mimpi aja ntar langsung dibayar tunai. Om gak perlu repot-repot ngayal😅

      Hapus
  2. Ki Botok buto begitu dalam air apa enggak ada satupun makhluk air yg jatuh hati pada burungnya, Om?🤔 bisa jadi dia buto memang ada hubungan dengan asmara🤧

    BalasHapus
  3. Rokok merk ASEP kek nama dalang wayang golek 😅😅😅

    BalasHapus
  4. Selamat menunaikan ibadah puasa Om, semoga sehat dan lancar ibadah nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Om di hari kedua ambruk parah, kena Pukulan Badai Malam Dari Selatan, sampai gak bisa berdiri

      Hapus