*Miliarder Ular Biru*
Kong Botok turun ke air
sungai di malam yang hampir larut. Dia turun dengan membawa bakul kecil dari
anyaman kulit bambu. Bakul yang dijunjungnya itu berisi sesuatu yang tidak
jelas.
Percaya atau tidak, Kong
Botok dalam kondisi buto saat turun ke air. Dia turun tanpa sehelai benang pun
bukan untuk pamer keperkasaannya yang sudah tua, tetapi ada maksud lain yang
tidak terkait dengan nafsu ataupun asmara. Namun, ketika sudah turun ke sungai,
tubuh bawah si kakek sudah tertutupi oleh air yang malam itu terlihat gelap
segelap malam.
Posisi turunnya Kong
Botok tidak jauh dari jembatan jalan raya di atas aliran sungai. Jadi posisinya
ada beberapa meter lebih rendah dari aspal jembatan. Kondisi saat itu sepi,
hanya ada sesekali kendaraan yang melintas di atas jembatan yang pastinya tidak
akan berhenti hanya untuk melongok ke bawah.
Meski ada lampu-lampu
jalan di atas jembatan, tetapi tidak cukup terang untuk memperjelas kondisi di
sungai.
Memang, rumah Kong
Botok yang sederhana, bagian belakangnya tidak jauh dari bantaran sungai.
Kong Botok tidak
berenang, tetapi dia berjalan perlahan membawa tubuh kurusnya menerobos air mendekati
pilar penyanggah jembatan yang jauh lebih gelap.
Kong Botok berhenti
tepat di kolong jembatan, tapi tidak di tengah-tengah, lebih ke pinggir. Itu
karena kedalaman di titik tengah bisa menenggelamkan kepala. Sementara di
posisi titik berhenti Kong Botok hanya sedalam dada.
Keberadaan Kong Botok
kini tidak terlihat karena telah tenggelan di dalam kegelapan. Namun demikian,
apa yang dia lakukan dan alami akan tetap diceritakan.
Kong Botok sebenarnya
sedang melakukan ritual. Itu perkara rutin yang dia lakukan, minimal satu kali
satu dalam waktu sepekan. Jika sedang masa-masa ramai orderan, dia bisa
melakukan tiga hingga empat kali ritual dalam sepekan. Waktunya selalu di
tengah malam.
Dalam ritualnya, Kong
Botok akan berdiri berendam di sungai pada satu titik selama satu hingga tiga
jam. Lamanya masa ritual tergantung cepat atau lamanya masa menunggu kedatangan
sesuatu. Belum jelas apa yang disebut sesuatu itu.
Dalam masa tunggu
itu, Kong Botok akan merapal jampi-jampi dengan mata terpejam, sambil makan
bawang putih mentah dan daun mawar. Itulah dua item yang ada di dalam bakul
yang terus Kong Botok junjung di kepalanya. Selain bawang putih dan bunga mawar
tanpa tangkai, ada pula telor bebek mentah. Telor akan dimakan setelah sesuatu
itu datang.
Singkat waktu.
Setelah melakukan
ritual selama 45 menit, Kong Botok merasakan ada sesuatu yang datang. Dia
merasakan ada benda besar dan berat yang menyentuh badannya. Dia tidak membuka
mata untuk melihat. Namun, Kong Botok tahu bahwa sesuatu yang mendatanginya itu
bukanlah yang biasa.
Sambil terus merapal
dengan mulut juga mengunyah bawang dan kelopak bunga, satu tangan Kong Botong
memutuskan memegang benda yang sepertinya tersangkut pada tubuhnya.
Tangan kiri Kong
Botok mencoba mengenali sesuatu itu dengan memegang dan merabanya.
Manusia. Itu kesimpulan
hasil identifikasi tangan kiri Kong Botok. Entah apakah itu mayat atau bukan,
perlu pendalaman lebih lanjut. Kong Botok lebih mengutamakan untuk melanjutkan
dan menyelesaikan ritualnya. Tangan kirinya memilih untuk memegangi kain baju
tubuh yang menyangkut padanya agar tidak hanyut.
Kong Botok tidak
terkejut sedikit pun dengan hasil terkaannya yang 99% dia yakini benar. Jangankan
sekujur mayat mati, didatangi mayat hidup pun, atau setan sekalipun, dia tidak
takut karena perkara yang sudah biasa.
Hingga akhirnya,
sesuatu yang ditunggu kedatangannya oleh Kong Botok akhirnya datang. Sesuatu
itu datang di dalam air, bukan di atas air.
Kong Botok menceritakan
kepada Radit kenapa pemuda itu bisa terbangun di kamar dalam rumah si kakek.
“Jadi, ketika Engkong
sedang memancing, kamu muncul hanyut dan tersangkut dalam kondisi pingsan.
Engkong kira mayat, tetapi setelah Engkong periksa, ternyata kamu masih hidup,”
cerita bohong Kong Botok tanpa menyinggung perkara ritual yang dia lakukan
dalam kondisi buto.
“Terima kasih, Kong.
Terima kasih sekali,” ucap Radit sambil menunduk-nunduk kecil.
Saat itu, Radit yang
sudah berbaju dan bersarung, sedang makan bubur ayam yang tadi dibelikan oleh
Kong Botok. Mereka mengobrol di kamar tempat Radit diistirahatkan.
“Sebenarnya aku sudah
berharap mati saja,” ujar Radit dengan wajah mendadak mewek termehek-mehek
mengingat nasib buruknya yang luar biasa. Menurutnya.
“Hehehe! Berarti Engkong
tidak berjasa karena menolong kamu,” kata Kong Botok yang didahului dengan
kekehannya.
“Eh, bukan seperti
itu, Kong. Maksu aku itu, jika memang saat itu aku tidak tertolong lagi,
mungkin itulah jalan terbaik aku,” kata Radit cepat. Dia jadi tidak enak
jantung mendengar perkataan Kong Botok.
“Coba, ceritakan saja
segala permasalahanmu sehingga kamu sampai menjadi buronan polisi. Mungkin
Engkong bisa sedikit membantu,” ujar Kong Botok.
“Hiks hiks hiks!” Radit
yang tadi sudah sempat menahan mewek, mendadak menangis seperti seorang lelaki yang
menangis dengan tangan tetap memegang mangkok dan sendok.
“Ya sudah. Kalau kamu
memang belum mampu bercerita, tidak apa-apa. Tenangkan dulu pikiranmu dan
istirahatkan dulu badanmu,” kata Kong Botok bijak.
“Aku bisa kok cerita,
Kong. Aku hanya sedih mengingat penderitaan yang aku alami. Kok terus-menerus?”
kata Radit.
“Hikmah.”
Kong Botok menyebut
satu kata yang membuat Radit terdiam.
“Selalu ada hikmah dalam
setiap peristiwa. Pertemuan kamu dengan Engkong jelas bukan hal yang Engkong
dan kamu pernah pikirkan. Tidak pernah terbayang sedikit pun di dalam pikiran
dan mimpi. Betul?” kata Kong Botok yang berujung pertanyaan gaya ulama
kondangan.
“Betul, Kong,” jawab
Radit yang sudah berhenti menangis lagi.
“Engkong ini sudah
hidup lama, sudah kenyang dengan asam asin dan manisnya hidup. Jika Engkong
tahu cerita penderitaan kamu, Engkong pasti tahu bumbu dapur apa yang kurang,”
kata Kong Botok.
“Iya, Kong. Jadi begini
ceritanya….”
Maka mulailah Radit
bercerita kepada Kong Botok. Ceritanya termasuk lengkap, dimulai dari masa
kecilnya. Meski itu tidak perlu-perlu amat untuk diketahui oleh Kong Botok,
tetapi kakek kurus yang suka telanjang di tengah malam itu dengan sabar
mendengarkan dan rajin manggut-manggut.
Sambil menyimak cerita
Radit, Kong Botok mengisap cangklong yang depannya dipasangi sebatang rokok.
Jenis rokoknya merek lokal, yaitu ASEP. Jangan ditanya apa arti kata itu!
Saking larutnya dalam
bercerita, Radit membutuhkan waktu satu setengah jam untuk sampai kepada cerita
kejadian saat dia dilempari batu oleh warga di sungai.
“Seperti itulah
kemalangan aku, Kong,” kata Radit mengkhatamkan ceritanya.
“Intinya masalah
duit,” kata Kong Botok menyimpulkan.
“Iya, Kong,” ucap Radit membenarkan. “Jika
duit cukup atau lebih, tidak mungkin aku sampai pinjol dan merampok. Jika
duitku banyak, mertuaku pasti tidak akan sesadis itu.”
“Hehehe!” kekeh Kong
Botok enteng, bukan maksud menertawakan. Lalu katanya, “Engkong tidak bisa
memberikan solusi, tetapi Engkong hanya bisa menawarkan solusi yang menurut
Engkong tepat. Hanya, tergantung diri kamu, apakah mau memilih solusi itu, atau
tidak dan menjalani hidup apa adanya. Yang jelas, jika memilih menjalani hidup
yang apa adanya, kamu pasti berujung di penjara. Pastinya muka kamu sudah
tersebar ke mana-mana.”
“Solusi apa itu,
Kong?” tanya Radit cepat setelah Kong Botok berhenti untuk mengisap
cangklongnya. Punggungnya sampai tegak sempurna, tidak sepeti tangkai yang layu
lagi.
Kong Botok tidak
langsung menjawab. Dia nikmati dulu rasa isapannya, lalu mengeluarkan asap
rokoknya dengan ikhlas dari mulut dan lubang hidungnya.
“Pesugihan,” jawab
Kong Botot singkat.
Radit terkejut dengan mata yang melebar. (RH)


Mending mana pesugihan dibanding merampok, Om Ustadz?🤔😆
BalasHapusMerampok risiko sendiri, pesugihan biasanya risiko orang dekat
HapusEmang iya begitu pesugihan risikonya, Om? aku mah enggak ngerti prihal pesugihan ini. tahunya ngerampok, ngebegal, mencuri hati gitu...🙄🤧
HapusMak Imut spesialis mencuri hati Om Om
HapusOm termasuk yg suka dengar cerita horor, termasuk pesugihan
HapusAku enggak terlalu suka cerita horor, Om. aku mah orangnya logis, gak suka kalo enggak bisa diterima di otakku. kecuali cerita orang bisa terbang2 kek di cerita Sanggana, bisa aku terima. gegara cinta ke authornya pasti😍😆
HapusOm jadi tersandung ... eh tersanjung maksudnya
HapusMengapa Om enggak tersandung beneran aja sih??!🤧
HapusIh toge, pasti ngakak kalau beneran lihat orang tua gendut tersungkur
HapusIya ngakak😂
Hapuseh enggak kok, Om. aku pasti sedih lihat Om tersungkur. kan Om orang yg kusayang. Sakit Om, sakit ku juga pasti😉🤧
Itulah gombalan cinta. Mana ada rumusnya, saya yang jatuh Mak Imut yang sakit?
HapusIhh gak percaya. Sakitnya tuh di sini, Om. DI SINI! mana tangan Om? nih. terasa gak? terasa kan?🙄😂
HapusWah repot urusan. Om kan penghayal tingkat tinggi.
HapusTidur lagi, Om. ketemu di mimpi aja ntar langsung dibayar tunai. Om gak perlu repot-repot ngayal😅
HapusSiap. Yuk tidur
HapusKi Botok buto begitu dalam air apa enggak ada satupun makhluk air yg jatuh hati pada burungnya, Om?🤔 bisa jadi dia buto memang ada hubungan dengan asmara🤧
BalasHapushahahaha, maksudmu makhluk air itu kutu air
HapusRokok merk ASEP kek nama dalang wayang golek 😅😅😅
BalasHapusAsep Sunaryo? Hahahaha!
HapusSelamat menunaikan ibadah puasa Om, semoga sehat dan lancar ibadah nya
BalasHapusAamiin. Om di hari kedua ambruk parah, kena Pukulan Badai Malam Dari Selatan, sampai gak bisa berdiri
Hapus