*Rudi Adalah Cintaku*
“Siang ini juga, Bapak akan bawa kamu ke rumah bibimu di Jakarta!” tegas Haji Suharja.
“Paaak,” sebut Vina
mengiba.
“Kamu enggak bisa
menolak, Vina. Kalau kamu ada di sini, setiap orang melihat mukamu, maka muka
kami otomatis ikut tercoreng. Kamu harus hilang dari desa ini!” tandas Suharja.
Semua mendengar
keputusan final Suharja. Vina hanya bisa pasrah. Pastinya dia tidak akan
memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Rudi, kekasihnya. Apalagi barusan Rudi
pergi dengan membawa kemarahan dan kehancuran hati.
Sunirah pun hanya
diam mendengar keputusan suaminya. Dalam kondisi seperti itu, suaminya tidak
mungkin untuk dibantah.
Akhirnya, Vina pun
masuk kembali ke kamarnya. Dia ditemani oleh ibu dan bibinya.
“Ji, saya sudah boleh
pulang?” tanya Aziz dengan nada hati-hati.
Suharja hanya
mengangguk tanpa memandang kepada Aziz.
Aziz lalu berdiri dan
pamitnya, “Saya pamit, Ji, Pak RT.”
Aziz lalu menghampiri
Daeng Tanri yang masih bertahan.
“Puang Haji, saya mau
cari Rudi,” kata Aziz kepada Daeng Tanri.
“Bujuk Rudi pulang,”
kata Daeng Tanri.
Aziz segera keluar.
Tidak lupa dia mencari laptopnya yang sempat dia letakkan di kursi teras.
Ternyata alat kerjanya itu masih ada di sana. Buru-buru Aziz mengambil
laptopnya lalu langsung ngacir pergi tanpa mempedulikan siapa pun.
Aziz cemas kepada
Rudi. Dia sebagai sahabatnya, bisa menduga apa yang biasa Rudi lakukan jika
sedang dilanda amarah atau kesedihan yang tidak bisa dia luapkan.
“Bang, bisa gak saya
ketemu Vina?” tanya Junita kepada Obba yang ada di teras.
“Enggak bisa. Vina
enggak boleh ketemu siapa-siapa. Siang dia mau dibawa ke Jakarta,” jawab Obba.
Junita hanya
memencongkan bibir bergincu merahnya dan menghempaskan napas berat seberat
kapas. Ia lalu berbalik dengan membawa rasa kecewa dan iba kepada sahabatnya.
“Maafkan saya, Vin.
Gara-gara saya yang menyuruh kamu ketemu Dendi, kamu jadi kena bala seperti
ini.” Seperti itulah suara hati Junita. Ia pergi dengan membawa kotak kado hp
milik Rudi.
Sementara itu, Daeng
Tanri memilih bertahan di rumah itu. Dia ingin berbincang dengan Suharja
sebagai rekan sesama Juragan Lelang. Siapa tahu obrolan mereka bisa melunakkan
perasaan Suharja.
Sementara itu, Aziz
mampir sejenak ke rumahnya untuk menaruh laptop dan mengambil sepeda motor.
Rumahnya lebih dekat dari rumah Vina dibandingkan rumah Rudi ke rumah Vina.
Aziz langsung pergi
ke rumah Rudi yang tidak jauh. Namun, ketika tiba di rumah batu Daeng Tanri,
Aziz hanya menemukan Kamsiah, ibu Rudi.
“Kenapa Rudi marah
begitu, Ziz?” tanya Kamsiah sebelum Aziz bersuara.
“Sakit hatinya sama
Vina, Daeng,” jawab Aziz. “Terus ke mana Rudi, Daeng?”
“Pergi naik motor.
Saya tanya, tapi tidak dijawab,” kata Kamsiah.
“Saya pergi cari,
Daeng. Assalamu ‘alaikum!” kata Aziz.
“Wa ‘alaikum salam. Hati-hati,
Ziz,” pesan Kamsiah.
“Iya,” sahut Aziz
sambil membalikkan sepeda motornya.
Aziz melesat di jalan
desa yang sudah berbentuk coran. Laju motornya agak tergesa-gesa. Dia tidak
menuju ke jalan raya, tetapi pergi langsung ke pantai yang sebenarnya tidak
begitu jauh. Jalan kaki pun tidak akan lama jika hanya pergi ke pantai.
Angin laut tidak
begitu kencang karena hari masih terbilang pagi. Di pantai yang sebagian besar
telah di bangun tanggul, Aziz mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok
Rudi. Dia ingat bahwa tadi Rudi mengenakan switer rajut warna kuning muda dan
pet copet kuning. Jika pun Rudi posisinya jauh, Aziz pasti bisa mengenalinya.
Saat itu laut sedang
surut, jadi ada area pasir pantai yang tidak terjamah oleh ombak yang tanpa
henti menggapai pantai.
Meski tidak melihat
keberadaan Rudi dan sepeda motornya, tetapi Aziz menemukan jejak ban sepeda
motor di pasir pantai.
Aziz memutuskan untuk
turun dari tanggul ke pasir pantai. Memang, ada jalan untuk sepeda motor bisa
turun ke pasir pantai. Ia menduga bahwa itu adalah jejak ban sepeda motor Rudi.
Aziz menjalankan
sepeda motornya di pasir yang agak lunak, membuat jejak garis yang memanjang.
Aziz mengikuti jejak menuju ke ujung selatan pantai.
Setelah cukup jauh,
akhirnya jejak ban sepeda motor itu berakhir pada sebuah sepeda motor tangki
besar berwarna biru gelap. Itu adalah sepeda motor milik Rudi. Namun, Rudi
tidak terlihat di pantai atau di tanggul.
“Jangan-jangan Rudi
bunuh diri di laut,” ucap Aziz yang terkejut sendiri dengan dugaannya.
Dia memerhatikan
wilayah air laut dengan seksama.
Di air laut ada
beberapa perahu milik nelayan yang ditambatkan dekat dengan bibir pantai.
Perahu itu kosong dari manusia. Selain itu, ada bagang jirigen yang sedang
menepi ke pantai. Jika bagang menepi ke pantai, itu artinya ada bagian yang
perlu diperbaiki.
Di bagang yang
merupakan rangkaian kayu nibung dan bambu-bambu panjang, tidak seorang pun
manusia dan seekor pun hewan yang terlihat.
Jarak bagang dengan
bibir pantai yang tanpa kumis sekitar seratus meter.
Namun, tiba-tiba Aziz
mendelik saat melihat sosok berbaju kuning muncul berenang dan meraih bagian
bawah bambu bagang.
Itu adalah Rudi yang
berenang dengan baju dan celana lengkap.
“Rudiii!” teriak Aziz
kencang.
Terlihat Rudi
bergerak naik ke atas bagang hingga titian bambu paling atas. Sebenarnya Rudi
mendengar panggilan sahabatnya itu, tetapi dia abai.
“Rudiii! Jangan bunuh
diriii!” teriak Aziz. “Awas kalau kamu bunuh diri, saya kubur kamu!”
Ingin rasanya angin
dan air laut tertawa mendengar teriakan akhir Aziz, tetapi apalah daya, takdir
mereka berkata lain.
“Benar-benar anak
congek,” rutuk Aziz.
Jika demikian sikap
Rudi, percuma dia teriak-teriak di pantai itu. Dia harus mendatangi Rudi di
bagang. Untuk sampai di bagang, Aziz harus berenang.
“Demi sahabat,” ucap
Aziz.
Dengan terburu-buru,
seperti sedang malam pertama, Aziz melucuti baju dan celana levisnya. Sehingga
dia tinggal memakai sempak model kolor. Ia meninggalkan pakaiannya lengkap
dengan hp dan dompetnya di atas motor.
Setelah itu, Aziz
pergi memasukkan langkahnya ke air laut. Setelah berjalan semakin menjauhi
pantai dan ketinggian air mencapai perut, Aziz lalu berenang. Tenang saja, Aziz
tidak akan tenggelam atau hanyut. Sebagai lelaki desa nelayan, adalah aib kalau
tidak bisa berenang. Sejak usia SD, Aziz dan teman-temannya sudah bisa berenang
di laut.
Jbur!
Dari ketinggian, Rudi
terlihat melompat ke air lalu tidak muncul-muncul.
“Rudiii!” teriak Aziz
sambil berhenti berenang. Setelah itu dia berenang cepat agar segera sampai ke
posisi Rudi.
Setelah setengah
menit, Rudi kembali muncul di kaki bagang. Ia kembali naik.
“Rudi, berhenti!”
teriak Aziz lagi.
Rudi sangat jelas
mendengar teriakan Aziz, tetapi dia pura-pura mendengar tetapi tidak menengok.
Sikap Rudi itu semakin membuat Aziz kesal bukan-bukan.
Rudi kembali naik ke
atas, bukan ke bawah. Dalam kondisi kuyup, dia kembali berdiri di titian batang
bambu di pinggir bagang.
“Aaa…!” teriak Rudi
sekencang-kencangnya meluapkan kemarahan dan kesedihannya.
Aziz yang sudah
berada tidak jauh di bawah Rudi, bisa melihat bahwa sahabatnya itu menangis.
Aziz memang tidak bisa melihat air mata di wajah basah Rudi, tetapi dia bisa
membedakan ekspresi menangis dan tertawa.
Rudi lalu melompat
lagi ke air.
Jbur!
Aziz cepat berenang
untuk mendapati sahabatnya. Sejenak dia berhenti untuk menunggu Rudi timbul ke
permukaan.
Dan ketika Rudi
timbul ke permukaan, Aziz cepat berenang mendapatkan sahabatnya.
“Kena kamu!” seru
Aziz sambil memeluk tubuh sahabatnya.
Rudi memberontak.
“Apa-apaan kamu,
Aziz?! Kamu tidak pakai baju memeluk saya. Kamu mau perkosa saya?!” teriak
Rudi.
“Kamu jangan bunuh
diri!” kata Aziz yang tidak mau melepaskan pelukannya kepada Rudi.
“Siapa yang mau bunuh
diri? Saya lagi nangis!” teriak Rudi pula.
“Syukurlah,” ucap
Aziz sambil melepaskan pelukannya.
“Vinaku, Ziiiz!”
ratap Rudi Handrak tiba-tiba sambil menangis lalu balas memeluk Aziz.
Kedua sahabat itu saling berpelukan di dalam kesedihan. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar