*Rudi Adalah Cintaku*
Londo Cafe. Salah satu kafe ilegal yang dilegalkan di bawah perlindungan “orang kuat”. Lokasinya di tempat yang tersembunyi, yaitu di belakang Bioskop Gunung Agung dan terlindung dari jalan gang samping bioskop.
Namun, lokasi Londo
Cafe sudah menjadi rahasia umum, terlebih di pinggir jalan raya dan jalan gang
samping bioskop dipasang plang yang hanya berbunyi “Londo”. Bisa dikata bahwa
90% masyarakat tahu bahwa plang itu maksudnya Londo Cafe.
Satu di antara beberapa
poin yang membuat tempat hiburan malam itu ternama dan sering menjadi topik
gurauan masyarakat, adalah para pelacurnya yang semuanya mengenakan wig rambut
pirang dengan berbagai model, sehingga seperti perempuan londo yang merupakan tafsir
dari wanita Belanda. Padahal semua pelacurnya hanya impor dari luar provinsi,
bukan dari luar negeri. Dijamin tidak ada perempuan dari dalam provinsi,
alasannya untuk menjaga maruah perempuan pribumi.
Hampir seratus persen
pelanggan hidung belang yang datang ke kafe itu adalah untuk bercumbu dengan
wanita londo kawe, minimal minum sambil peluk atau sekedar toel-toel yang
empuk-empuk.
Namun, ada satu
pelanggan baru yang justru marah-marah jika ada PSK yang datang mencoba
merayunya.
“Pergi sana! Jangan
dekat-dekat! Perempuan cantik semuanya setan mesum!” teriak-teriak pemuda
ganteng yang lebih ganteng di bawah cahaya lampu kafe yang selalu
remang-remang.
Cewek penjual lubang
mana yang berani mendekat jika harus dicaci maki. Bahkan papi mami alias mucikarinya,
juga mental.
Pemuda yang hanya
ingin minum saja itu tidak lain adalah Rudi Handrak. Dia menjadi pelanggan baru
kafe ternama tersebut.
Sejak musibah yang
menimpa Vina dan pembuangannya ke Jakarta, Rudi menjadi pemuda yang liar,
uring-uringan, gampang marah dan sebagai pendekar mabuk yang tidak tahu jurus
mabuk.
Rudi selalu datang
seorang diri ke Londo Cafe dalam kondisi yang belum mabuk. Bukannya Aziz dan
Sandro yang tidak mau menemani, tetapi memang Rudi tidak mau ditemani, apalagi
sampai kedua sahabatnya itu ikut mabuk, meski keduanya suka minum bir sesep.
Biasanya, Aziz dan
Sandro hanya bertugas menjemput di tengah malam atau di waktu subuh. Yang
kebanyakan menjemput adalah Aziz, karena Sandro lebih sering turun melaut yang
waktu kerjanya dari sore hingga pagi.
Rudi akan memulai
aktivitas mabuknya kisaran di atas jam sembilan malam. Dia datang, booking satu
meja, pesan bir, lalu sambil minum dia akan tenggelam menikmati lagu remix atau
dangdut koplo yang sangat kencang.
Para wanita pedagang
lubang, mucikari, pelayan hingga keamanan, sampai hapal muka Rudi meski tidak
tahu namanya. Pasalnya, sudah seminggu lamanya dia datang dan mabuk setiap
malam.
Seperti pada malam
yang kedelapan, Rudi sudah duduk bersandar di punggung kursinya dengan kepala
terdongak maksimal ke belakang sambil menceracau.
“Vina benciku. Lima
tahun kita pacaran, semua badanmu sudah saya ciumi, tapi kenapa saya yang
diperkosaaa!”
Celoteh Rudi yang
tanpa sadar mengungkap rahasia dan juga terkadang tidak memahami apa yang
sedang dia ucapkan.
“Pala cucur sialan
kuadrat!” makinya sambil membangunkan kepala untuk tegak, tetapi dia justru
oleng mau jatuh seperti anak besar sedang belajar naik sepeda.
Namun, untung dia
cepat berpegangan pada tepian meja, sehingga menahan olengnya.
“Sudah saya bilang,
jangan colek-colek saya, pala cucur sialan!” teriak Rudi marah sambil berdiri gontai
dan menengok ke kanan dan kiri dengan tatapan juling. Dia mengira ada yang
mendorongnya sehingga dirinya nyaris jatuh.
“Hahahak!” tawa
seorang wanita cantik berlesung pipi, anehnya dia memakai jilbab dan busana
Muslimah warna hitam dengan celana gombrong jenis palazo warna putih.
Memang aneh jika ada
seorang wanita berhijab masuk ke tempat pelacuran seperti itu. Wanita yang
bernama asli Barada itu hanya lewat. Dia didampingi oleh seorang pria berbadan
tegap dan berotot, berkaos hitam dan berambut cepak. Celana lorengnya seolah-olah
menunjukkan identitasnya.
Masuknya Barada dan
rekannya menjadi pusat tatapan curiga bagi semua orang. Mereka bisa menduga
siapa adanya kedua orang itu. Namun, karena tidak ada alarm peringatan dari keamanan
atau manajemen kafe, mereka bergeming di posisinya masing-masing.
Mendengar dia
ditertawakan oleh seorang wanita berhijab, Rudi jadi murka.
“Hei! Hei!” teriak
Rudi memanggil gadis cantik berjilbab itu.
Namun, wanita
berjilbab tetap berjalan terus masuk ke dalam kafe, menjauhi meja Rudi.
“Jangan lari,
Perempuan Bunglon! Di sini bukan tempat kerja perempuan jilbaban!” teriak Rudi
sambil berlari sempoyongan mencoba mengejar Barada.
Ternyata, Rudi
berhasil menangkap lengan kanan Barada.
Dak dak!
“Aaak! Aduh aduh aduh,
Vina Vina Vina!” jerit Rudi sambil buru-buru memegangi kedua tulang keringnya
yang terkena tendangan singkat oleh ujung sepatu jenis kitten heels milik
Barada.
“Hahaha!” tawa Barada
sambil berlalu pergi meninggalkan Rudi yang menggosok-gosok kedua tulang
keringnya.
Sejumlah pelanggan
dan wanita penjual lubang sempat terkejut melihat perkelahian singkat itu.
Namun, kemudian suasana kembali normal. Personel keamanan kafe yang berbadan
besar-besar pun tidak bertindak apa-apa melihat perkelahian singkat itu.
Sebelumnya para keamanan kafe sudah diberi tahu tentang siapa Barada dan rekan
rambut cepaknya.
“Perempuan bunglon
sialan! Perempuan bunglon pala cucur!” maki Rudi dengan marahnya sampai
memukul-mukul lantai kafe. “Mana kopi surgaku? Mana kopi surgaku?”
Rudi mencari-cari
minumannya yang ada di mejanya, tetapi dia justru mencari di lantai di sekitar
tempat dia duduk berselonjor seperti anak hilang.
“Kopi surgamu ada di
meja, Pendekar Mabuk!” teriak seorang mucikari yang tertawa melihat tingkah
Rudi yang seperti orang linglung.
“Hihihi!” tawa
beberapa wanita yang cantiknya karena bedak dan cahaya remang-remang.
Rudi memandang ke
sekelilingnya, mencoba mencari mejanya. Syukur, dia masih mengenali meja dan
botol-botol minumannya yang posenya tidak teratur.
Dia lalu merangkak
untuk mencapai kursi kebesarannya.
Rudi terus minum,
sepuas-puasnya sampai dia mabuk akut. Seiring itu, malam terus melarutkan diri.
Hingga pada ketika
Rudi sudah tidak bisa berdiri dengan sempurna dan berjalan pun serong kanan
serong kiri, ditambah celotehan dan teriakannya sudah mulai mengganggu
pengunjung lain atau para wanita pedagang lubang, maka dua personel keamanan
datang menciduknya dan menyeretnya menuju pintu keluar.
“Eh eh eh! Jangan
macam-macam. Kalian tidak tahu sedang memperkosa siapa. Aku adalah Pendekar
Mabuk dari Pesisir!” celoteh Rudi, tapi tidak berusaha melawan, karena memang
dia sudah tidak bisa memberontak.
Kedua personel
keamanan kafe itu tidak peduli dengan celotehan Rudi. Mereka menyeret Rudi sampai
ke parkiran dan mendorongnya hingga menabrak motornya sendiri.
“Asu calabai!” maki
Rudi dalam bahasa Bugis yang berarti “anjing banci”. “Jangan lari kamu, Asu Calabai!”
Rudi berusaha berdiri
sambil menunjuk kedua personel keamanan yang pergi meninggalkannya. Namun, Rudi
justru jatuh lagi. Kedua kakinya seolah-olah tidak memiliki otot untuk berdiri.
Akhirnya dia sibuk sendiri untuk mencoba berdiri. Namun, ia selalu gagal dan
gagal lagi.
Akhirnya, Rudi
menyerah. Ia pun memilih memeluk ban depan motornya. Kedua tangannya dia
masukkan ke lubang velg. Ia tempelkan bibirnya pada ban sepeda motornya.
“Vina benciku, saya
rinduuu,” ucapnya lirih sambil memeluk mesra ban motornya. “Vina benciku, saya
rinduuu.”
Kalimat itu terus ia
ucapkan berulang-ulang tanpa lelah, seolah-olah ia ingin mengejar rekor dunia.
“Ya Allah, Rudi!”
sebut Sandro yang muncul sambil menghentikan sepeda motornya. Dia membonceng
Aziz.
“Vina benciku, saya
rinduuu,” ucap Rudi semakin lirih, seolah tidak mendengar atau menyadari
kehadiran dua orang sahabatnya.
“Rudi! Rudi, sadar!”
sebut Sandro sambil menepak-nepak pipi kanan Rudi.
Sementara Aziz
melepaskan kedua tangan rudi dari ban.
“Eh eh e, siapa
kamu?!” tanya Rudi terkejut, tapi pasrah ketika tubuhnya diberdirikan dan
dipapah. “Kamu Asu Calabai, ya?!”
“Ambil kunci motornya
di celana, Ndro!” suruh Aziz kepada Sandro.
Sandro lalu merogoh
saku celana jeans Rudi. Didapatinya kunci sepeda motor Rudi.
“Enggak ada hp-nya,
Ziz?” tanya Sandro.
“Sejak Rudi nyebur di
laut, hp-nya sudah rusak. Dia belum beli hp lagi,” jawab Aziz.
“Hp baru yang dia
beli buat ganti hp-nya Vina dikasih ke Vina?” tanya Sandro yang waktu itu
menemani Rudi beli hp baru.
“Saya enggak tahu
itu,” jawab Aziz. “Udahlah, kamu bantu dulu naikkan Rudi ke motor!”
Sandro membantu Aziz
menaikkan Rudi ke motor. Lalu Aziz duduk di depan posisi Rudi. Kedua tangan
Rudi dirangkulkan ke perut gendut Aziz, sementara kepalanya disandarkan di
bahu. Ternyata, kedua sahabat Rudi itu sudah menyiapkan tali untuk mengikat
badan Rudi menyatu dengan badan Aziz. Itu bermaksud agar Rudi tidak jatuh ke
belakang saat sepeda motor jalan.
Sandro kemudian membawa sepeda motor Rudi. Mereka pun menuju pulang. Saat itu sudah jam dua malam. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar