*Miliarder Ular Biru*
“Itu kan soal
keyakinan.”
Itulah tanggapan
Kong Botok ketika Radit dengan rasa tidak enak mengutarakan alasan keraguannya berdasarkan
agama tentang praktik pesugihan.
Awalnya
Radit menduga Kong Botok akan marah karena tersinggung. Namun nyatanya, setelah
dia mengatakan tentang balasan dosa dari praktik pesugihan menurut agama Islam,
Kong Botok tetap santai dan tenang sambil merokok cangklong.
“Keyakinan itu
sama saja dengan mempercayai hal yang gaib-gaib. Belum ada buktinya, jika kamu
melakukan ini dan itu, kamu akan masuk neraka yang kekal. Belum ada bukti. Jika
kamu menganggap meyakini pesugihan itu berdosa, lalu kenapa kamu memilih
merampok? Merampok bisa saja membuatmu mati dalam keadaan itu, sedangkan
pesugihan tidak akan membahayakan nyawamu. Jika kamu meyakini perkara gaib,
dengan melakukan pesugihan kamu akan bisa membuktikan perkara gaib yang masuk
akal. Namun, jika kamu hanya meyakini perkara neraka adalah kegaiban, kamu
perlu mati dulu untuk membuktikannya,” kata Kong Botok agak panjang.
Radit
manggut-manggut kecil, seolah-olah perkataan Kong Botok masuk di akalnya.
“Ingat,
Engkong hanya menawarkan, tidak akan memaksa. Tidak usah merasa tidak enak hati
kepada Engkong,” kata Kong Botok lagi.
“Tapi,
kalau aku pesugihan, tetap saja akan ditangkap polisi. Iya kan, Kong?” terka
Radit.
“Hehehe!
Untuk apa Engkong menyebutnya sebagai solusi jika tetap akan ditangkap polisi.
Kamu tidak akan bisa membuktikan kebenaran omongan Engkong kalau tidak memilih
jalan pesugihan. Selain keamananmu terjaga, kamu juga berkesempatan mendapatkan
harta berlimpah. Aku yakin, suatu saat kamu akan melupakan Engkong jika sudah
sukses,” kata si kakek.
“Hahaha!
Tidak akan, Kong. Masa iya aku sedurhaka itu kepada orang yang sudah menolong
aku?” kata Radit cepat yang didahului tawa pendeknya. Lalu tanyanya, “Tapi,
Kong … aku dengar-dengar, yang namanya pesugihan itu pasti minta tumbal.”
“Tidak ada yang
namanya tumbal. Jika kamu orang yang beragama, kamu pasti tahu siapa yang berkuasa
penuh atas nyawa makhluk?” kata Kong Botok.
“Tuhan,
Kong,” jawab Radit yakin.
“Apakah kamu
yakin, seseorang bisa mati karena pesugihan, bukan karena kehendak dan
ketetapan Tuhan?” tanya Kong Botok.
“Ya tidak,
Kong. Seseorang matinya pasti karena kehendak Allah,” jawab Radit.
“Itulah
salahnya manusia. Hanya karena seseorang melakukan pesugihan, ketika ada anak
yang meninggal, atau tetangganya yang kecelakan, yang dikambinghitamkan
pesugihannya. Padahal itu sudah ketetapan Tuhan,” kata Kong Botok.
“Iya ya,
Kong,” ucap Radit, menerima pandangan Kong Botot.
“Lalu,
pesugihan apa yang Kong Botok tawarkan?” tanya Radit.
“Itu
rahasia bagi orang yang tidak berniat melakukannya. Itu salah satu pantangan.
Kecuali kamu sudah berniat sepenuh hati akan melakukannya, maka kamu boleh tahu
nama pesugihannya,” jawab Kong Botok.
“Iya, Kong.
Aku berniat, asalkan aku sanggup memenuhi syarat-syaratnya,” kata Radit segera.
“Namun,
jika kamu sudah menyatakan ‘iya’, kamu harus sungguh-sungguh dan mensugesti
diri kamu bahwa kamu akan berhasil mendapatkan uang yang banyak dari pemilik
pesugihan. Kamu bersedia?” kata Kong Botok lagi mewanti-wanti.
“Iya, Kong.
Merampok yang berisiko saja aku lakukan, apalagi hanya sekedar komitmen dan
sugesti,” kata Radit menggampangkan.
“Baiklah. Nama
pesugihannya Pesugihan Ular Biru,” kata Kong Botok.
Terbeliak
Radit mendengar nama pesugihan itu. Dia terkejut bukan karena baru kali ini
mendengar nama jenis pesugihan itu, tetapi nama jenis hewan yang tersematlah
yang membuat otaknya langsung traveling.
Seketika Radit
langsung membayangkan jenis-jenis ular, bukan jenis-jenis ikan yang kalau
ditebak dapat satu unit sepeda roda dua. Radit seketika membayangkan jenis ular
naga, ular keket hingga ular tangga.
Radit
sejatinya tidak geli dengan ular, tetapi hanya takut dipatuk, apalagi jika
ularnya berbisa.
Melihat
reaksi Radit, Kong Botok pun tersenyum.
“Kenapa? Apakah
sekarang kamu takut?” tanya Kong Botok.
“Tidak,
Kong. Hanya waswas. Hahaha!” jawab Radit lalu tertawa kikuk. Lalu tanyanya, “Nanti
aku ngapain saja, Kong?”
“Ya ritual.
Kamu harus beli beberapa bahan untuk syarat-syarat dalam ritual. Ritualnya
hanya berendam di sungai saat tengah malam. Ada mantera yang harus dihapalkan
pula. Ada pula maharnya, yaitu uang umpan untuk menarik uang pesugihan,” jawab
Kong Botok.
“Tapi, aku
tidak punya uang, Kong. Tabunganku tidak bisa diambil. Dompetku hilang pas aku
hanyut,” kata Radit.
“Untuk
membeli syarat-syaratnya kamu harus pakai uang sendiri….”
“Lalu
bagaimana, Kong?” tanya Radit memotong.
“Nanti Engkong
pinjami kamu uang untuk beli bahan-bahannya di pasar,” kata Kong Botok memberi
solusi.
“Tapi,
Kong. Kalau aku pergi ke pasar, sama saja menyerahkan diri ke polisi,” kata
Radit.
“Hmm,”
gumam Kong Botok. Lalu katanya, “Biar nanti Engkong yang pergi belanja, karena
kamu harus ritual lain kalau mau bisa keluyuran. Jadi sebelum ritual pesugihan,
kamu harus ritual Halimun Ireng dulu.”
“Ritual apa
itu, Kong?”
“Supaya
kamu terlindungi dari pandangan orang yang berisiko membuatmu susah,” jawab si
kakek.
“Wah, keren
banget, Kong,” puji Radit.
“Hehehe!
Ilmu-ilmu gaib itu tidak kalah keren dari ilmu-ilmu ilmiah,” kata Kong Botok
yang didahului kekehan pendeknya.
“Terus,
Kong … besar maharnya berapa?” tanya Radit.
“Tiga juta
dua puluh lima perak.”
“Mahal
banget, Kong?”
“Coba
bandingkan hasilnya kalau kamu dapat uang 50 juta,” kata Kong Botok.
“Serius,
Kong?” Mendadak sepasang mata dan otak Radit menjadi segar mendengar angka cuan
tersebut.
“Biasanya,
dari pelaku pesugihan sebelum-sebelumnya, pendapatan pertama paling kecil itu,
50 juta….”
“Yang
paling besar, Kong?” tanya Radit memotong. Kini dia kian antusias dan
penasaran.
“Lima ratus
juta.”
“Tapi itu
uang asli, Kong?”
“Hehehe!
Kalau kamu ragu dengan kebenarannya, nanti malah gagal dan kamu justru punya
utang sama Engkong,” kata Kong Botot.
“Maaf,
maaf, Kong,” ucap Radit seraya cengengesan irit.
“Ayo,
apalagi yang mau kamu tanyakan?”
“Itu, Kong …
kok maharnya pakai 25 perak segala?”
“Pemilik
pesugihannya suka dengan angka ganjil.”
“Hahaha!”
tawa Radit mendengar jawaban itu.
“Jika tidak
ada pertanyaan lagi, ayo kita makan ikan goreng,” kata Kong Botok.
“Masih ada,
Kong.”
“Apa?”
“Engkong punya
anak perempuan? Atau cucu perempuan?” Pertanyaan Radit kali ini bernada
ragu-ragu.
“Aku
menikah dan sudah menduda sebelum punya anak. Sampai sekarang. Memangnya
kenapa?” jawab Kong Botok lalu balik bertanya.
“Enggak
apa-apa, Kong. Cuma enggak percaya saja kalau Engkong tinggal sendirian doang,”
jawab Radit tidak jujur.
“Hati-hati.
Kalau tidak jujur, nanti disukai sama Ular Biru,” kata Kong Botok mengingatkan.
Radit jadi
terbeliak mendengar nasihat itu.
“Hehehe!” kekeh
Kong Botok melihat reaksi Radit.
Kekehan itu
membuat Radit tersenyum getir. Dia pun menyimpulkan bahwa kakek itu sedang mencandainya.
“Sudah, ayo
kita makan. Kalau ikan gorengnya dingin, kurang mantap,” kata Kong Botok.
“Iya, Kong.”
Mereka lalu
menggeser duduknya, di mana di sisi mereka sudah tergelar nasi, ikan goreng, sambal
terasi dan lalapan. (RH)


Aneh pula Kong Botok ini, Om. aku rasa surga atau neraka akan bingung memilihnya🤔🤔😅
BalasHapushehehehe! pemahaman orang macam-macam, yang jelas dia abdi pesugihan
HapusIya makanya aku anggap aneh itu si Kong Botok, Om. mainnya pesugihan, tapi ngomongnya tinggi gitu, contoh orang mati kehendak Tuhan, sebelumnya pertemuan dengan Radit dia bilang selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa😆 aku ajak selingkuh juga nih Kong Botok daripada bikin bingung, Om🤧
HapusBanyak orang yang ngomongnya tinggi kaya guru kehidupan, tapi omongannya buat nutupin bopengnya dia aja.
HapusAku juga suka meninggi kok, Om. Nutupin kecebolan. Kadang pakai high heels daripada motong baju🤧
HapusJadi merasa cebol? atau mungil? Atau mini? Atau Imut? Mana nih yang benar, biar Om bisa patenkan penilaian Om
HapusAku mah terserah Om aja, mau menilai aku kek mana. mau Om nilai aku seimut upil pun tak mengapa asal sayang Om ke aku selalu ada🙄🤧
HapusAsiiik, tapi Mak Imut enggak pasrah kan?
HapusOh, Om suka yang melawan2 gitu? jangan bilang Om suka digigit dan dicakar🤔🤔🤧
HapusIalah, biar ada seninya
Hapus