Pesugihan Ular Biru, Bab19 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*


“Itu kan soal keyakinan.”

Itulah tanggapan Kong Botok ketika Radit dengan rasa tidak enak mengutarakan alasan keraguannya berdasarkan agama tentang praktik pesugihan.

Awalnya Radit menduga Kong Botok akan marah karena tersinggung. Namun nyatanya, setelah dia mengatakan tentang balasan dosa dari praktik pesugihan menurut agama Islam, Kong Botok tetap santai dan tenang sambil merokok cangklong.

“Keyakinan itu sama saja dengan mempercayai hal yang gaib-gaib. Belum ada buktinya, jika kamu melakukan ini dan itu, kamu akan masuk neraka yang kekal. Belum ada bukti. Jika kamu menganggap meyakini pesugihan itu berdosa, lalu kenapa kamu memilih merampok? Merampok bisa saja membuatmu mati dalam keadaan itu, sedangkan pesugihan tidak akan membahayakan nyawamu. Jika kamu meyakini perkara gaib, dengan melakukan pesugihan kamu akan bisa membuktikan perkara gaib yang masuk akal. Namun, jika kamu hanya meyakini perkara neraka adalah kegaiban, kamu perlu mati dulu untuk membuktikannya,” kata Kong Botok agak panjang.

Radit manggut-manggut kecil, seolah-olah perkataan Kong Botok masuk di akalnya.

“Ingat, Engkong hanya menawarkan, tidak akan memaksa. Tidak usah merasa tidak enak hati kepada Engkong,” kata Kong Botok lagi.

“Tapi, kalau aku pesugihan, tetap saja akan ditangkap polisi. Iya kan, Kong?” terka Radit.

“Hehehe! Untuk apa Engkong menyebutnya sebagai solusi jika tetap akan ditangkap polisi. Kamu tidak akan bisa membuktikan kebenaran omongan Engkong kalau tidak memilih jalan pesugihan. Selain keamananmu terjaga, kamu juga berkesempatan mendapatkan harta berlimpah. Aku yakin, suatu saat kamu akan melupakan Engkong jika sudah sukses,” kata si kakek.

“Hahaha! Tidak akan, Kong. Masa iya aku sedurhaka itu kepada orang yang sudah menolong aku?” kata Radit cepat yang didahului tawa pendeknya. Lalu tanyanya, “Tapi, Kong … aku dengar-dengar, yang namanya pesugihan itu pasti minta tumbal.”

“Tidak ada yang namanya tumbal. Jika kamu orang yang beragama, kamu pasti tahu siapa yang berkuasa penuh atas nyawa makhluk?” kata Kong Botok.

“Tuhan, Kong,” jawab Radit yakin.

“Apakah kamu yakin, seseorang bisa mati karena pesugihan, bukan karena kehendak dan ketetapan Tuhan?” tanya Kong Botok.

“Ya tidak, Kong. Seseorang matinya pasti karena kehendak Allah,” jawab Radit.

“Itulah salahnya manusia. Hanya karena seseorang melakukan pesugihan, ketika ada anak yang meninggal, atau tetangganya yang kecelakan, yang dikambinghitamkan pesugihannya. Padahal itu sudah ketetapan Tuhan,” kata Kong Botok.

“Iya ya, Kong,” ucap Radit, menerima pandangan Kong Botot.

“Lalu, pesugihan apa yang Kong Botok tawarkan?” tanya Radit.

“Itu rahasia bagi orang yang tidak berniat melakukannya. Itu salah satu pantangan. Kecuali kamu sudah berniat sepenuh hati akan melakukannya, maka kamu boleh tahu nama pesugihannya,” jawab Kong Botok.

“Iya, Kong. Aku berniat, asalkan aku sanggup memenuhi syarat-syaratnya,” kata Radit segera.

“Namun, jika kamu sudah menyatakan ‘iya’, kamu harus sungguh-sungguh dan mensugesti diri kamu bahwa kamu akan berhasil mendapatkan uang yang banyak dari pemilik pesugihan. Kamu bersedia?” kata Kong Botok lagi mewanti-wanti.

“Iya, Kong. Merampok yang berisiko saja aku lakukan, apalagi hanya sekedar komitmen dan sugesti,” kata Radit menggampangkan.

“Baiklah. Nama pesugihannya Pesugihan Ular Biru,” kata Kong Botok.

Terbeliak Radit mendengar nama pesugihan itu. Dia terkejut bukan karena baru kali ini mendengar nama jenis pesugihan itu, tetapi nama jenis hewan yang tersematlah yang membuat otaknya langsung traveling.

Seketika Radit langsung membayangkan jenis-jenis ular, bukan jenis-jenis ikan yang kalau ditebak dapat satu unit sepeda roda dua. Radit seketika membayangkan jenis ular naga, ular keket hingga ular tangga.

Radit sejatinya tidak geli dengan ular, tetapi hanya takut dipatuk, apalagi jika ularnya berbisa.

Melihat reaksi Radit, Kong Botok pun tersenyum.

“Kenapa? Apakah sekarang kamu takut?” tanya Kong Botok.

“Tidak, Kong. Hanya waswas. Hahaha!” jawab Radit lalu tertawa kikuk. Lalu tanyanya, “Nanti aku ngapain saja, Kong?”

“Ya ritual. Kamu harus beli beberapa bahan untuk syarat-syarat dalam ritual. Ritualnya hanya berendam di sungai saat tengah malam. Ada mantera yang harus dihapalkan pula. Ada pula maharnya, yaitu uang umpan untuk menarik uang pesugihan,” jawab Kong Botok.

“Tapi, aku tidak punya uang, Kong. Tabunganku tidak bisa diambil. Dompetku hilang pas aku hanyut,” kata Radit.

“Untuk membeli syarat-syaratnya kamu harus pakai uang sendiri….”

“Lalu bagaimana, Kong?” tanya Radit memotong.

“Nanti Engkong pinjami kamu uang untuk beli bahan-bahannya di pasar,” kata Kong Botok memberi solusi.

“Tapi, Kong. Kalau aku pergi ke pasar, sama saja menyerahkan diri ke polisi,” kata Radit.

“Hmm,” gumam Kong Botok. Lalu katanya, “Biar nanti Engkong yang pergi belanja, karena kamu harus ritual lain kalau mau bisa keluyuran. Jadi sebelum ritual pesugihan, kamu harus ritual Halimun Ireng dulu.”

“Ritual apa itu, Kong?”

“Supaya kamu terlindungi dari pandangan orang yang berisiko membuatmu susah,” jawab si kakek.

“Wah, keren banget, Kong,” puji Radit.

“Hehehe! Ilmu-ilmu gaib itu tidak kalah keren dari ilmu-ilmu ilmiah,” kata Kong Botok yang didahului kekehan pendeknya.

“Terus, Kong … besar maharnya berapa?” tanya Radit.

“Tiga juta dua puluh lima perak.”

“Mahal banget, Kong?”

“Coba bandingkan hasilnya kalau kamu dapat uang 50 juta,” kata Kong Botok.

“Serius, Kong?” Mendadak sepasang mata dan otak Radit menjadi segar mendengar angka cuan tersebut.

“Biasanya, dari pelaku pesugihan sebelum-sebelumnya, pendapatan pertama paling kecil itu, 50 juta….”

“Yang paling besar, Kong?” tanya Radit memotong. Kini dia kian antusias dan penasaran.

“Lima ratus juta.”

“Tapi itu uang asli, Kong?”

“Hehehe! Kalau kamu ragu dengan kebenarannya, nanti malah gagal dan kamu justru punya utang sama Engkong,” kata Kong Botot.

“Maaf, maaf, Kong,” ucap Radit seraya cengengesan irit.

“Ayo, apalagi yang mau kamu tanyakan?”

“Itu, Kong … kok maharnya pakai 25 perak segala?”

“Pemilik pesugihannya suka dengan angka ganjil.”

“Hahaha!” tawa Radit mendengar jawaban itu.

“Jika tidak ada pertanyaan lagi, ayo kita makan ikan goreng,” kata Kong Botok.

“Masih ada, Kong.”

“Apa?”

“Engkong punya anak perempuan? Atau cucu perempuan?” Pertanyaan Radit kali ini bernada ragu-ragu.

“Aku menikah dan sudah menduda sebelum punya anak. Sampai sekarang. Memangnya kenapa?” jawab Kong Botok lalu balik bertanya.

“Enggak apa-apa, Kong. Cuma enggak percaya saja kalau Engkong tinggal sendirian doang,” jawab Radit tidak jujur.

“Hati-hati. Kalau tidak jujur, nanti disukai sama Ular Biru,” kata Kong Botok mengingatkan.

Radit jadi terbeliak mendengar nasihat itu.

“Hehehe!” kekeh Kong Botok melihat reaksi Radit.

Kekehan itu membuat Radit tersenyum getir. Dia pun menyimpulkan bahwa kakek itu sedang mencandainya.

“Sudah, ayo kita makan. Kalau ikan gorengnya dingin, kurang mantap,” kata Kong Botok.

“Iya, Kong.”

Mereka lalu menggeser duduknya, di mana di sisi mereka sudah tergelar nasi, ikan goreng, sambal terasi dan lalapan. (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

10 komentar:

  1. Aneh pula Kong Botok ini, Om. aku rasa surga atau neraka akan bingung memilihnya🤔🤔😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe! pemahaman orang macam-macam, yang jelas dia abdi pesugihan

      Hapus
    2. Iya makanya aku anggap aneh itu si Kong Botok, Om. mainnya pesugihan, tapi ngomongnya tinggi gitu, contoh orang mati kehendak Tuhan, sebelumnya pertemuan dengan Radit dia bilang selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa😆 aku ajak selingkuh juga nih Kong Botok daripada bikin bingung, Om🤧

      Hapus
    3. Banyak orang yang ngomongnya tinggi kaya guru kehidupan, tapi omongannya buat nutupin bopengnya dia aja.

      Hapus
    4. Aku juga suka meninggi kok, Om. Nutupin kecebolan. Kadang pakai high heels daripada motong baju🤧

      Hapus
    5. Jadi merasa cebol? atau mungil? Atau mini? Atau Imut? Mana nih yang benar, biar Om bisa patenkan penilaian Om

      Hapus
    6. Aku mah terserah Om aja, mau menilai aku kek mana. mau Om nilai aku seimut upil pun tak mengapa asal sayang Om ke aku selalu ada🙄🤧

      Hapus
    7. Asiiik, tapi Mak Imut enggak pasrah kan?

      Hapus
    8. Oh, Om suka yang melawan2 gitu? jangan bilang Om suka digigit dan dicakar🤔🤔🤧

      Hapus