*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Keuntungan menjadi tuan rumah sebuah ajang atau
turnamen besar adalah akan meraup banyak keuntungan. Misalnya, banyaknya orang
dari luar daerah yang datang, banyaknya pedagang dadakan yang datang hanya
untuk membuka lapak sementara yang harus bayar uang tempat dan keamanan, daerah
tuan rumah akan terkenal dan akan mengundang pengusaha untuk menanam investasi,
dan banyak lagi keuntungan lainnya yang tidak kuasa diurai di sini.
Karena keuntungan-keuntungan itulah, Demang Segara
Gara rutin mengadakan turnamen Duel Pendekar Butogilo setiap setengah tahun
sekali.
Desa Buangbiang yang menjadi tuan rumah turnamen Duel
Pendekar Butogilo hari ini sudah ramai sejak pagi. Keramaian akan berlangsung
selama beberapa hari karena turnamen tidak sehari selesai.
Meski Demang Segara Gara yang memiliki hajat, tetapi
yang paling sibuk bukan dia, melainkan Kepala Desa Buangbiang yaitu Ki Tepisalai.
Sebuah panggung cukup megah untuk takaran masa itu
telah dibangun. Panggung itu unik karena memiliki dua bagian berbeda. Separuh
bagian panggung berlantai papan tebal, separuh lagi panggung berwujud puluhan tiang
balok kayu dengan ketinggian yang sama. Tinggi panggung setinggi pinggang orang
dewasa.
Tribun penonton dibuat letter U yang lebih tinggi dari
panggung. Tribun itu khusus untuk penonton dari kalangan menengah ke atas.
Menengah itu ukuran pendekar secara umum dan atas itu ukuran pejabat seperti
Demang atau kepala desa.
Antara panggung dan tribun penonton ada area kosong.
Di situ nanti para penonton kelas bawah akan berdiri berjubel. Kelas bawah itu
adalah warga biasa semodel Blikik.
Di pagi hari sebelum pertandingan dimulai, para
pedagang sudah berjejer saling berseberangan membentuk pagar jalan, tapi tidak
menimbulkan kemacetan arus lalu lalang manusia karena kelebarannya sudah
diukur. Pedagang aneka kue manis banget sampai kue tanpa perasaan tumpah ruah.
Pedagang pakaian dan kerajinan keong pantai hingga tukang cangkul dan golok
menggelar tikarnya.
Emak-emak dan anak-anak terlihat lebih ramai. Mereka
bukan tertarik untuk menonton laga tanding, tetapi tertarik untuk berbelanja
dan jajan, meski uangnya hasil pinjam dari rentenir. Ternyata, emak-emak zaman
dulu ....
Berbeda dengan kaum bapak yang lebih egois tanpa mau
mengajak anak dan istrinya, dengan alasan Duel Pendekar Butogilo adalah
tontonan kekerasan yang mengajarkan kekerasan, tidak baik untuk pertumbuhan
otak dan mental anak. Padahal, istri tidak diajak karena takut naksir kepada
pendekar yang ganteng-ganteng. Atau meski pendekarnya tidak ganteng, tapi
macho.
Padahal sebaliknya. Selain untuk melihat keseruan para
pendekar dalam bertarung, para suami juga ingin menikmati permata-permata yang
sering ada di antara para wajah garang, yaitu kecantikan para pendekar
perempuan yang kadang datang ikut menonton. Atau istri dan putri para pejabat
yang sering diajak menikmati liburan awal pekan.
Sejak pagi sebelum acara dimulai, para pendekar calon
petarung duel sudah pada menampakkan wujud dan pesonanya. Sebagai seorang
pendekar, mereka adalah orang-orang yang sangat butuh publikasi. Karena saat
itu belum ada media massa dan media sosial, jadi mereka memakai cara sendiri
untuk mempublikasikan diri mereka.
Tong tong tong otong!
Tiba-tiba terdengar suara kentongan bambu dipukul
bertalu-talu. Suara itu menarik mata massa yang sudah memadati area sekitar panggung
dan tribun.
“Mohon dukungannya, mohon senyumannya! Satria Tinju
Tanpa Aral calon juara ingin lewat!” teriak seorang lelaki kurus kecil bersuara
cempreng. Dia yang memukuli kentongan di tangannya. Dia membuka jalan bagi
seorang lelaki tinggi besar di belakangnya.
Lelaki tinggi besar berotot keras itu mengenakan baju
merah dengan jubah warna kuning berumbai-rumbai benang hitam. Kedua tangannya
dia balut dengan kain warna kuning hingga siku. Gayanya yang seperti seorang
petarung Mua Thai, diikuti irama gerakan kepala yang berayun ke kanan dan ke kiri,
membuat rambut gondrong keritingnya yang seperti mie goreng matang ikut berayun
asik. Dialah pendekar yang berjuluk Satria Tinju Tanpa Aral.
Pada turnamen Duel Pendekar Butogilo setengah tahun
lalu, dia juara dua setelah dikalahkan oleh Pendekar Macan Langit. Selama enam
purnama dia sudah berlatih keras untuk bisa mengalahkan lawan beratnya.
Seperti itulah cara Satria Tinju Tanpa Aral
mempublikasikan dirinya.
“Waaah! Perkosanya!” pekik seorang warga perempuan
kepala empat cukup histeris saat melihat kegagahan sang pendekar.
Istri semacam ini yang ditakutkan oleh para suami
sehingga mereka malas mengajak pasangannya pergi nonton bersama.
Wusss!
Tiba-tiba orang banyak itu dikejutkan oleh burung
besar berwarna putih yang terbang di atas kepala-kepala mereka. Setelah dilihat
dengan seksama, ternyata itu sosok seorang lelaki berbaju dan berselendang
putih. Cara datangnya jelas membuat takjub orang-orang awam.
“Itu Arjuna Penari!” pekik seorang warga sambil
menunjuk lewatnya si lelaki berkumis tipis.
Ada juga calon petarung yang datang dengan ditandu
empat lelaki kurus bertelanjang dada, tapi tidak buto (bugil total). Yang
mereka tandu adalah kuda-kudaan berwujud burung. Kuda burung itu diduduki oleh
seorang pemuda gemuk penuh lemak berpakaian bagus ala bangsawan warna kuning
emas, tapi ketat. Dia bukan Rugi Sabuntel, tetapi dia adalah Akung Bakpo, putra
dari Kepala Desa Buangsial, Ronggo Beduk.
Kedatangannya dengan warna emas dan ditandu dengan
kuda burung yang unik, ditambah empat penandu yang mengenaskan, jelas menarik
perhatian massa.
Itulah beberapa di antara cara para pendekar untuk mempublikasikan
dirinya kepada massa yang hadir.
Para calon petarung memang dituntut untuk datang
sebelum duel pertama dimulai. Mereka harus registrasi lebih dulu, kemudian
diundi secara acak untuk menentukan siapa akan melawan siapa.
Para petarung duel akan menempati tribun khusus di
ujung kanan tribun, tidak berbaur dengan penonton atau rekan kerabat.
Rugi Sabuntel datang dengan menaiki pedati yang
ditarik satu kuda. Pedati itu adalah milik Ki Banting, calon mertua baru
Blikik. Yang menjadi sais pedati adalah Blikik sendiri yang ditemani oleh
Citayam.
“Hei lihat! Itu Pendekar Rugi!” teriak seorang warga
Desa Buangsetan yang ada di tempat itu.
Sebagian warga yang sudah mengenal Rugi Sabuntel
sebagai seorang pendekar, segera mengalihkan perhatiannya kepada kedatangan
pendekar gendut berbadan kekar itu.
“Loh, iyaya! Itu Rugi Sabuntel. Dia ikut
pertandingan!” teriak warga lain heboh.
“Rugi! Rugi! Rugi!” teriak sejumlah warga
mengelu-elukan Rugi Sabuntel.
“Rugi! Rugi! Rugi!” teriakan dukungan terdengar
semakin ramai menyebut nama Rugi Sabuntel.
Warga bahkan berjalan ramai mengikuti pedati yang
bergerak pelan di tengah keramaian, bahkan massa berebut untuk sekedar
berpegangan pada pinggiran pedati.
“Hahaha!”
Melihat sambutan warga yang begitu hangat, antusias
dan meriah, laksana menyambut orang besar, Rugi Sabuntel hanya tertawa-tawa
sambil melambai tangan berulang-ulang menyapa para warga yang nyaris tidak ada
yang dikenalnya. Dia tidak menyangka bahwa ternyata dia sangat populer di
kalangan rakyat biasa.
Para pendekar yang sudah hadir pun jadi penasaran
ingin tahu siapa pendekar yang disambut lebih meriah meski tanpa saweran.
“Wah berat, Pendekar Rugi ikutan!” keluh seorang
pendekar peserta kepada rekan pendampingnya, setelah mengenali pendekar yang
sedang disambut kedatangannya itu.
“Akhirnya Rugi Sabuntel ikut pertandingan. Aku sangat
penasaran ingin membuatnya kurus!” desis Pendekar Golok Bayangan meremehkan.
Dia juga seorang pendekar berbadan besar dan juga berperut gendut. Dia
menyandang golok besar yang sesuai dengan besar tubuhnya. Pada pertandingan
yang lalu, goloknya sangat berperan dalam merusak panggung.
“Waaah! Kekasih Pendekar Rugi cantik sekali!” pekik
seorang pemuda memuji Citayam.
Si gadis yang sempat terkejut, jadi tersenyum lebar
tapi malu-malu karena dipuji setinggi bukit.
“Hei! Itu kekasihku, bukan kekasih Rugi!” teriak
Blikik kesal, membuat Rugi Sabuntel hanya tertawa.
Rugi Sabuntel memang sudah ternama sebagai seorang
pendekar sakti, terutama di Desa Buangsetan, desanya. Namanya masih masyhur
hingga lingkup kademangan. Namun, untuk di desa luar Buangsetan, warga lebih
banyak kenal nama daripada kenal wajah.
Selain sakti, Rugi Sabuntel dikenal sebagai pendekar
yang jujur, yang makannya dari bekerja sebagai kuli panggul di gudang jagung.
Itu bukan karena tidak ada yang menawarinya pekerjaan bergaji bagus. Sejumlah
orang kaya sudah menawarkan jabatan kepala centeng, kepala keamanan lokalisasi,
atau penanggung jawab tempat judi resmi.
Pejabat pun sangat tertarik mempekerjakan Rugi, salah
satunya Demang Segara Gara, tetapi Rugi menolak. Karena keberadaan Rugi sebagai
pekerja di Gudang Jagung, Demang Segara Gara tidak memberi pangawal khusus
kepada istrinya dalam pulang pergi ke gudang jagung, kecuali sais yang bernama
Buntet. Alasan Demang, dengan tahunya orang bahwa Nyai Demang adalah majikan
Rugi Sabuntel, dia yakin orang jahat tidak akan berani mengganggu sang nyai.
Selain itu, Rugi juga dikenal sebagai pendekar yang baik, terbukti dia tidak pernah menjahati orang tidak bersalah. Justru dia sering membantu orang lain yang dilihatnya butuh bantuan, terutama butuh bantuan tenaga dan keamanan. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar