PKK18: Semarak Jelang Duel


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*


Keuntungan menjadi tuan rumah sebuah ajang atau turnamen besar adalah akan meraup banyak keuntungan. Misalnya, banyaknya orang dari luar daerah yang datang, banyaknya pedagang dadakan yang datang hanya untuk membuka lapak sementara yang harus bayar uang tempat dan keamanan, daerah tuan rumah akan terkenal dan akan mengundang pengusaha untuk menanam investasi, dan banyak lagi keuntungan lainnya yang tidak kuasa diurai di sini.

Karena keuntungan-keuntungan itulah, Demang Segara Gara rutin mengadakan turnamen Duel Pendekar Butogilo setiap setengah tahun sekali.

Desa Buangbiang yang menjadi tuan rumah turnamen Duel Pendekar Butogilo hari ini sudah ramai sejak pagi. Keramaian akan berlangsung selama beberapa hari karena turnamen tidak sehari selesai.

Meski Demang Segara Gara yang memiliki hajat, tetapi yang paling sibuk bukan dia, melainkan Kepala Desa Buangbiang yaitu Ki Tepisalai.

Sebuah panggung cukup megah untuk takaran masa itu telah dibangun. Panggung itu unik karena memiliki dua bagian berbeda. Separuh bagian panggung berlantai papan tebal, separuh lagi panggung berwujud puluhan tiang balok kayu dengan ketinggian yang sama. Tinggi panggung setinggi pinggang orang dewasa.

Tribun penonton dibuat letter U yang lebih tinggi dari panggung. Tribun itu khusus untuk penonton dari kalangan menengah ke atas. Menengah itu ukuran pendekar secara umum dan atas itu ukuran pejabat seperti Demang atau kepala desa.

Antara panggung dan tribun penonton ada area kosong. Di situ nanti para penonton kelas bawah akan berdiri berjubel. Kelas bawah itu adalah warga biasa semodel Blikik.



Di pagi hari sebelum pertandingan dimulai, para pedagang sudah berjejer saling berseberangan membentuk pagar jalan, tapi tidak menimbulkan kemacetan arus lalu lalang manusia karena kelebarannya sudah diukur. Pedagang aneka kue manis banget sampai kue tanpa perasaan tumpah ruah. Pedagang pakaian dan kerajinan keong pantai hingga tukang cangkul dan golok menggelar tikarnya.

Emak-emak dan anak-anak terlihat lebih ramai. Mereka bukan tertarik untuk menonton laga tanding, tetapi tertarik untuk berbelanja dan jajan, meski uangnya hasil pinjam dari rentenir. Ternyata, emak-emak zaman dulu ....

Berbeda dengan kaum bapak yang lebih egois tanpa mau mengajak anak dan istrinya, dengan alasan Duel Pendekar Butogilo adalah tontonan kekerasan yang mengajarkan kekerasan, tidak baik untuk pertumbuhan otak dan mental anak. Padahal, istri tidak diajak karena takut naksir kepada pendekar yang ganteng-ganteng. Atau meski pendekarnya tidak ganteng, tapi macho.

Padahal sebaliknya. Selain untuk melihat keseruan para pendekar dalam bertarung, para suami juga ingin menikmati permata-permata yang sering ada di antara para wajah garang, yaitu kecantikan para pendekar perempuan yang kadang datang ikut menonton. Atau istri dan putri para pejabat yang sering diajak menikmati liburan awal pekan.

Sejak pagi sebelum acara dimulai, para pendekar calon petarung duel sudah pada menampakkan wujud dan pesonanya. Sebagai seorang pendekar, mereka adalah orang-orang yang sangat butuh publikasi. Karena saat itu belum ada media massa dan media sosial, jadi mereka memakai cara sendiri untuk mempublikasikan diri mereka.

Tong tong tong otong!

Tiba-tiba terdengar suara kentongan bambu dipukul bertalu-talu. Suara itu menarik mata massa yang sudah memadati area sekitar panggung dan tribun.

“Mohon dukungannya, mohon senyumannya! Satria Tinju Tanpa Aral calon juara ingin lewat!” teriak seorang lelaki kurus kecil bersuara cempreng. Dia yang memukuli kentongan di tangannya. Dia membuka jalan bagi seorang lelaki tinggi besar di belakangnya.

Lelaki tinggi besar berotot keras itu mengenakan baju merah dengan jubah warna kuning berumbai-rumbai benang hitam. Kedua tangannya dia balut dengan kain warna kuning hingga siku. Gayanya yang seperti seorang petarung Mua Thai, diikuti irama gerakan kepala yang berayun ke kanan dan ke kiri, membuat rambut gondrong keritingnya yang seperti mie goreng matang ikut berayun asik. Dialah pendekar yang berjuluk Satria Tinju Tanpa Aral.

Pada turnamen Duel Pendekar Butogilo setengah tahun lalu, dia juara dua setelah dikalahkan oleh Pendekar Macan Langit. Selama enam purnama dia sudah berlatih keras untuk bisa mengalahkan lawan beratnya.

Seperti itulah cara Satria Tinju Tanpa Aral mempublikasikan dirinya.

“Waaah! Perkosanya!” pekik seorang warga perempuan kepala empat cukup histeris saat melihat kegagahan sang pendekar.

Istri semacam ini yang ditakutkan oleh para suami sehingga mereka malas mengajak pasangannya pergi nonton bersama.

Wusss!

Tiba-tiba orang banyak itu dikejutkan oleh burung besar berwarna putih yang terbang di atas kepala-kepala mereka. Setelah dilihat dengan seksama, ternyata itu sosok seorang lelaki berbaju dan berselendang putih. Cara datangnya jelas membuat takjub orang-orang awam.

“Itu Arjuna Penari!” pekik seorang warga sambil menunjuk lewatnya si lelaki berkumis tipis.

Ada juga calon petarung yang datang dengan ditandu empat lelaki kurus bertelanjang dada, tapi tidak buto (bugil total). Yang mereka tandu adalah kuda-kudaan berwujud burung. Kuda burung itu diduduki oleh seorang pemuda gemuk penuh lemak berpakaian bagus ala bangsawan warna kuning emas, tapi ketat. Dia bukan Rugi Sabuntel, tetapi dia adalah Akung Bakpo, putra dari Kepala Desa Buangsial, Ronggo Beduk.

Kedatangannya dengan warna emas dan ditandu dengan kuda burung yang unik, ditambah empat penandu yang mengenaskan, jelas menarik perhatian massa.

Itulah beberapa di antara cara para pendekar untuk mempublikasikan dirinya kepada massa yang hadir.

Para calon petarung memang dituntut untuk datang sebelum duel pertama dimulai. Mereka harus registrasi lebih dulu, kemudian diundi secara acak untuk menentukan siapa akan melawan siapa.

Para petarung duel akan menempati tribun khusus di ujung kanan tribun, tidak berbaur dengan penonton atau rekan kerabat.

Rugi Sabuntel datang dengan menaiki pedati yang ditarik satu kuda. Pedati itu adalah milik Ki Banting, calon mertua baru Blikik. Yang menjadi sais pedati adalah Blikik sendiri yang ditemani oleh Citayam.

“Hei lihat! Itu Pendekar Rugi!” teriak seorang warga Desa Buangsetan yang ada di tempat itu.

Sebagian warga yang sudah mengenal Rugi Sabuntel sebagai seorang pendekar, segera mengalihkan perhatiannya kepada kedatangan pendekar gendut berbadan kekar itu.

“Loh, iyaya! Itu Rugi Sabuntel. Dia ikut pertandingan!” teriak warga lain heboh.

“Rugi! Rugi! Rugi!” teriak sejumlah warga mengelu-elukan Rugi Sabuntel.

“Rugi! Rugi! Rugi!” teriakan dukungan terdengar semakin ramai menyebut nama Rugi Sabuntel.

Warga bahkan berjalan ramai mengikuti pedati yang bergerak pelan di tengah keramaian, bahkan massa berebut untuk sekedar berpegangan pada pinggiran pedati.

“Hahaha!”

Melihat sambutan warga yang begitu hangat, antusias dan meriah, laksana menyambut orang besar, Rugi Sabuntel hanya tertawa-tawa sambil melambai tangan berulang-ulang menyapa para warga yang nyaris tidak ada yang dikenalnya. Dia tidak menyangka bahwa ternyata dia sangat populer di kalangan rakyat biasa.

Para pendekar yang sudah hadir pun jadi penasaran ingin tahu siapa pendekar yang disambut lebih meriah meski tanpa saweran.

“Wah berat, Pendekar Rugi ikutan!” keluh seorang pendekar peserta kepada rekan pendampingnya, setelah mengenali pendekar yang sedang disambut kedatangannya itu.

“Akhirnya Rugi Sabuntel ikut pertandingan. Aku sangat penasaran ingin membuatnya kurus!” desis Pendekar Golok Bayangan meremehkan. Dia juga seorang pendekar berbadan besar dan juga berperut gendut. Dia menyandang golok besar yang sesuai dengan besar tubuhnya. Pada pertandingan yang lalu, goloknya sangat berperan dalam merusak panggung.

“Waaah! Kekasih Pendekar Rugi cantik sekali!” pekik seorang pemuda memuji Citayam.

Si gadis yang sempat terkejut, jadi tersenyum lebar tapi malu-malu karena dipuji setinggi bukit.

“Hei! Itu kekasihku, bukan kekasih Rugi!” teriak Blikik kesal, membuat Rugi Sabuntel hanya tertawa.

Rugi Sabuntel memang sudah ternama sebagai seorang pendekar sakti, terutama di Desa Buangsetan, desanya. Namanya masih masyhur hingga lingkup kademangan. Namun, untuk di desa luar Buangsetan, warga lebih banyak kenal nama daripada kenal wajah.

Selain sakti, Rugi Sabuntel dikenal sebagai pendekar yang jujur, yang makannya dari bekerja sebagai kuli panggul di gudang jagung. Itu bukan karena tidak ada yang menawarinya pekerjaan bergaji bagus. Sejumlah orang kaya sudah menawarkan jabatan kepala centeng, kepala keamanan lokalisasi, atau penanggung jawab tempat judi resmi.

Pejabat pun sangat tertarik mempekerjakan Rugi, salah satunya Demang Segara Gara, tetapi Rugi menolak. Karena keberadaan Rugi sebagai pekerja di Gudang Jagung, Demang Segara Gara tidak memberi pangawal khusus kepada istrinya dalam pulang pergi ke gudang jagung, kecuali sais yang bernama Buntet. Alasan Demang, dengan tahunya orang bahwa Nyai Demang adalah majikan Rugi Sabuntel, dia yakin orang jahat tidak akan berani mengganggu sang nyai.

Selain itu, Rugi juga dikenal sebagai pendekar yang baik, terbukti dia tidak pernah menjahati orang tidak bersalah. Justru dia sering membantu orang lain yang dilihatnya butuh bantuan, terutama butuh bantuan tenaga dan keamanan. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar