PKK17: Malaikat Pagi


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

Tempat rahasia yang dimiliki oleh Bendong ternyata sebuah lingkungan tersembunyi di sebuah hutan kecil yang posisinya di antara Desa Buangsetan dan Desa Buangsial. Jadi sama-sama dekat jika diukur dari kediaman Rugi Sabuntel atau Bendong.

Tempat itu adalah sebuah tanah berumput yang lapang seluas lapangan bola basket. Selebihnya adalah aliran sungai kecil dan taman bunga. Tempat itu dikelilingi oleh tebing batu yang seolah menjadi atap karena arah tingginya mengerucut ke langit, tapi tidak benar-benar menutup, masih ada celah untuk melihat langit dan bintang.

Tempat itu sangat indah, kata Bendong. Namun sayang, mereka ke tempat itu pada malam hari, jadi Rugi Sabuntel tidak bisa melihat visual pemandangan alam laksana nirwana, meski mereka belum pernah memimpikan nirwana.

Perjalanan berkuda malam di dalam hutan mengharuskan mereka membawa obor. Jalan masuk ke lingkungan tertutup itu adalah sebuah celah tebing batu yang posisinya terlindungi oleh sebatang pohon raksasa yang terkesan angker.

Celah tebing batu itu masih bisa dimasuki oleh badan seekor kuda.

Ketika mereka datang, kondisi rumput lapangan sedang tinggi karena lama tidak dikunjungi dan dipangkas. Suasana gelap diramaikan oleh musik binatang malam dengan suara aliran air yang menjadi irama utamanya.

“Cobalah datang ke tempat ini di waktu pagi, mungkin kau tidak akan mau pulang. Atau bahkan kau berharap akan mati di sini. Karena itu, aku menamai tempat ini Makam Nirwana. Aku berharap kelak mati di sini,” kata Bendong kepada Rugi Sabuntel.

“Sulit aku menilai di waktu gelap seperti ini,” kata Rugi Sabuntel. “Bagaimana bisa kau menemukan tempat ini?”

“Tanpa sengaja ketika aku bersembunyi dari kejaran para pendekar Adipati. Aku masuk ke sini,” jawab Bendong.

Untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman di lapangan rumput, mereka harus memangkas rumput seluas beberapa meter persegi. Nanti jika ada waktu di lain hari, mereka akan bekerja bakti untuk merapikan tempat tersebut. Itu rencananya.



Setelah memiliki tempat untuk duduk yang nyaman di tanah rumput yang sudah dipangkas, mereka lalu menggelar tikar lebar dan menuangkan semua harta hasil rampokan di rumah Juragan Gorong, yang sampai saat itu sedang meratapi kebangkrutannya.

Bendong sudah menyiapkan semua perlengkapan. Dia masih memiliki banyak stok kantong-kantong kain untuk kepeng sisa kerja rampoknya setahun yang lalu.

Maka di bawah penerangan empat batang tiang obor yang mereka buat, keduanya bekerja membagi-bagi kepeng.

“Ingat, kita tidak mengambil sekepeng pun dari hasil rampokan ini. Jatah hidup kita berasal dari kerja wajar kita masing-masing,” kata Rugi Sabuntel mengingatkan Bendong karena mazhab Bendong yang dulu berbeda dengan mazhab yang diajarkan oleh Ki Robek.

“Baik. Kita lakukan ini semata-mata untuk rakyat kecil yang tidak pantas dianiaya,” kata Bendong.

“Sepakat,” kata Rugi Sabuntel. “Bendong, apakah kau mau hadir menonton Duel Pendekar Butogilo?”

“Kau ikut?”

“Terpaksa ikut gara-gara Blikik”

“Kenapa dia?”

“Dia berbohong kepada Nyai Demang bahwa aku tidak masuk kerja karena berlatih untuk ikut Duel Pendekar Butogilo. Mendengar itu, Nyai Demang sangat ingin menonton aku berlaga. Jadi mau tidak mau, kebohongan itu harus aku wujudkan menjadi kebenaran. Hadirlah. Kata Blikik, ada beberapa pendekar luar kademangan yang ikut,” cerita Rugi Sabuntel.

“Baiklah.”

“Aku juga mengundang Nyi Unyu untuk menonton aku.”

“Kau berani mengundangnya?” tanya Bendong terkejut.

“Hahaha!” tawa rendah Rugi Sabuntel.

“Sepertinya kau jatuh hati kepada Nyi Unyu.”

“Tidak apa-apa kan jika kita bersaing sehat?”

“Aku tidak ada rasa kepada wanita wajah patung seperti itu,” kata Bendong. “Tapi, apakah dia akan datang?”

“Entahlah.”

“Tidak usah berharap, Rugi. Cari wanita yang normal-normal saja. Setelah kau berhasil menaklukkan wanita yang normal, baru kau boleh mencoba menaklukkan wanita tidak normal semodel Nyi Unyu,” kata Bendong.

“Hahaha!” Rugi Sabuntel hanya tertawa.

“Kita hanya membagikan kepeng sampai habis. Adapun harta perhiasan akan kita jual lebih dulu di pasar gelap untuk menghilangkan jejak. Surat-surat tanah agak sulit, terlalu berisiko. Untuk sementara kita simpan sampai kita menemukan jalan terbaik,” ujar Bendong.

“Baik.”

“Kepeng akan kita sebar nanti pagi di Desa Anuspati.”

“Bagaimana caranya kau tahu orang-orang yang benar-benar membutuhkan kepeng?” tanya Rugi Sabuntel.

“Aku paling sering menebar di Desa Anuspati. Jadi aku sudah punya data warga yang sangat membutuhkan kepeng dan menderita oleh peraturan Demang dan pengusaha lintah darat,” jawab Bendong.

Rugi pun manggut-manggut.

Setelah melakukan pemaketan, kedua pendekar itu meninggalkan Makam Nirwana dengan membawa kantong-kantong kain berisi kepeng yang akan dibagikan kepada mustahik. Adapun barang-barang berharga non kepeng sudah mereka simpan di tempat yang aman dari hujan atau pun binatang yang doyan kekayaan.

Rugi Sabuntel dan Bendong berpacu kencang menuju ke Desa Anuspati yang berada di Kademangan Buto Cangkem. Mereka berdua mengenakan seragam rampok yang menutupi wajah dan tubuh, meski tidak bisa mengubah lekuk-lekuk tubuh.

Ketika tiba di Desa Anuspati, matahari masih belum menampakkan sinarnya, masih berselimut gunung pegunungan. Suasana masih sepi, meski sudah ada warga yang pagi-pagi meladang dan menyawah.

Warga yang di jalan, yang melihat kemunculan dua penunggang bertopeng dan membawa banyak muatan kantong uang di pinggang dan kudanya, jadi terkejut.

“Malaikat Pagi!” sebut mereka terkejut, tapi gembira. “Aku harus cepat pulang.”

Petani itu buru-buru berbalik untuk kembali pulang ke rumahnya. Dia dulu salah satu orang yang mendapat bantuan uang kaget dari Malaikat Pagi yang kala itu diperankan oleh Bendong.

Malaikat Pagi selalu memberi uang dengan cara dilemparkan ke pintu rumah atau langsung masuk ke dalam rumah lewat lubang yang ada. Rumah zaman sekarang itu masih model ber-AC alam, jadi banyak memiliki lubang-lubang angin.

Bendong memimpin di depan mendatangi rumah-rumah warga yang masih sepi.

Duk!

Sebagai awalan, Bendong mencontohkan kepada Rugi Sabuntel cara pembagian. Dia melempar satu kantong kepeng ke daun pintu rumah warga yang tertutup. Satu lagi dilempar masuk lewat jendela yang tidak berdaun jendela pada rumah yang lain.

Dalam hitungan detik, seorang warga lelaki membuka pintu rumah dengan tangan kanan sudah menggenggam golok.

“Siapa itu?!” tanya warga itu keras, tapi kemudian terkejut melihat kepergian dua penunggang kuda bertopeng, “Hah! Seperti Malaikat Pagi.”

Warga itu lebih terkejut saat melihat ada kantong kain tergeletak di tanah tidak jauh dari kakinya. Buru-buru dia memungut benda itu dan mengintip isinya.

“Huwaaa! Kepeng? Itu pasti Malaikat Pagi!” ucap girang lelaki bertelanjang dada dan bertelanjang kaki itu setelah bersorak senang.

“Malaikat Pagi masih hiduuup!” teriak tetangga yang tadi uangnya dilempar lewat jendela.

Sebentar kemudian, orang itu keluar dari rumah dengan memegang sekantong kepeng.

“Hahaha! Malaikat Pagi muncul lagi!” tawa kedua warga lelaki itu gembira, lalu berpelukan.

“Ayo cepat masuk, nanti ada centeng Kepala Desa yang melihat!” kata warga yang pertama keluar.

“Ayo ayo ayo!” sahut tetangganya.

Setelah mereka berdua masuk dan menutup pintu rumah lagi, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah bersama istri masing-masing.

Sementara itu, warga petani yang tadi berlari pulang ke rumahnya, mendapati istrinya sudah tergeletak pingsan di depan rumah, tanpa ada yang menolong selain di dekati ayam. Pak Petani terkejut.

Namun, dia lebih terkejut saat melihat ada sekantong uang tergeletak di sisi istrinya. Dia melihat ke sekitar, ternyata tidak ada Malaikat Pagi terlihat.

Lebih dulu dia memungut kantong kepeng dari pada memungut istrinya. Dilihatnya pada wajah istrinya ada kulit yang berwarna merah dan agak benjol, tepatnya di dahi.

“Owalah! Kena timpuk kepeng pasti. Hahaha!” kata si pak petani lalu justru menertawakan nasib istrinya.

Sementara itu, Rugi Sabuntel sudah mulai melakukan pelemparan kantong kepeng ke rumah-rumah warga yang ditunjuk oleh Bendong.

Pembagian paket kepeng pagi ini berjalan lancar dan sukses hingga habis.

Rugi Sabuntel dan Bendong merasa bahagia ketika mendengar jerit dan sorak kegembiraan para warga. Mereka pun bisa mendengar nama “Malaikat Pagi” diteriakkan oleh warga, meski malu-malu kucing karena takut didengar oleh centeng Kepala Desa. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar