*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Tempat rahasia yang dimiliki oleh Bendong ternyata
sebuah lingkungan tersembunyi di sebuah hutan kecil yang posisinya di antara
Desa Buangsetan dan Desa Buangsial. Jadi sama-sama dekat jika diukur dari
kediaman Rugi Sabuntel atau Bendong.
Tempat itu adalah sebuah tanah berumput yang lapang
seluas lapangan bola basket. Selebihnya adalah aliran sungai kecil dan taman
bunga. Tempat itu dikelilingi oleh tebing batu yang seolah menjadi atap karena
arah tingginya mengerucut ke langit, tapi tidak benar-benar menutup, masih ada
celah untuk melihat langit dan bintang.
Tempat itu sangat indah, kata Bendong. Namun sayang,
mereka ke tempat itu pada malam hari, jadi Rugi Sabuntel tidak bisa melihat
visual pemandangan alam laksana nirwana, meski mereka belum pernah memimpikan
nirwana.
Perjalanan berkuda malam di dalam hutan mengharuskan
mereka membawa obor. Jalan masuk ke lingkungan tertutup itu adalah sebuah celah
tebing batu yang posisinya terlindungi oleh sebatang pohon raksasa yang
terkesan angker.
Celah tebing batu itu masih bisa dimasuki oleh badan
seekor kuda.
Ketika mereka datang, kondisi rumput lapangan sedang
tinggi karena lama tidak dikunjungi dan dipangkas. Suasana gelap diramaikan
oleh musik binatang malam dengan suara aliran air yang menjadi irama utamanya.
“Cobalah datang ke tempat ini di waktu pagi, mungkin
kau tidak akan mau pulang. Atau bahkan kau berharap akan mati di sini. Karena
itu, aku menamai tempat ini Makam Nirwana. Aku berharap kelak mati di sini,”
kata Bendong kepada Rugi Sabuntel.
“Sulit aku menilai di waktu gelap seperti ini,” kata
Rugi Sabuntel. “Bagaimana bisa kau menemukan tempat ini?”
“Tanpa sengaja ketika aku bersembunyi dari kejaran
para pendekar Adipati. Aku masuk ke sini,” jawab Bendong.
Untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman di lapangan
rumput, mereka harus memangkas rumput seluas beberapa meter persegi. Nanti jika
ada waktu di lain hari, mereka akan bekerja bakti untuk merapikan tempat
tersebut. Itu rencananya.
Setelah memiliki tempat untuk duduk yang nyaman di
tanah rumput yang sudah dipangkas, mereka lalu menggelar tikar lebar dan
menuangkan semua harta hasil rampokan di rumah Juragan Gorong, yang sampai saat
itu sedang meratapi kebangkrutannya.
Bendong sudah menyiapkan semua perlengkapan. Dia masih
memiliki banyak stok kantong-kantong kain untuk kepeng sisa kerja rampoknya
setahun yang lalu.
Maka di bawah penerangan empat batang tiang obor yang
mereka buat, keduanya bekerja membagi-bagi kepeng.
“Ingat, kita tidak mengambil sekepeng pun dari hasil
rampokan ini. Jatah hidup kita berasal dari kerja wajar kita masing-masing,”
kata Rugi Sabuntel mengingatkan Bendong karena mazhab Bendong yang dulu berbeda
dengan mazhab yang diajarkan oleh Ki Robek.
“Baik. Kita lakukan ini semata-mata untuk rakyat kecil
yang tidak pantas dianiaya,” kata Bendong.
“Sepakat,” kata Rugi Sabuntel. “Bendong, apakah kau
mau hadir menonton Duel Pendekar Butogilo?”
“Kau ikut?”
“Terpaksa ikut gara-gara Blikik”
“Kenapa dia?”
“Dia berbohong kepada Nyai Demang bahwa aku tidak
masuk kerja karena berlatih untuk ikut Duel Pendekar Butogilo. Mendengar itu,
Nyai Demang sangat ingin menonton aku berlaga. Jadi mau tidak mau, kebohongan
itu harus aku wujudkan menjadi kebenaran. Hadirlah. Kata Blikik, ada beberapa
pendekar luar kademangan yang ikut,” cerita Rugi Sabuntel.
“Baiklah.”
“Aku juga mengundang Nyi Unyu untuk menonton aku.”
“Kau berani mengundangnya?” tanya Bendong terkejut.
“Hahaha!” tawa rendah Rugi Sabuntel.
“Sepertinya kau jatuh hati kepada Nyi Unyu.”
“Tidak apa-apa kan jika kita bersaing sehat?”
“Aku tidak ada rasa kepada wanita wajah patung seperti
itu,” kata Bendong. “Tapi, apakah dia akan datang?”
“Entahlah.”
“Tidak usah berharap, Rugi. Cari wanita yang
normal-normal saja. Setelah kau berhasil menaklukkan wanita yang normal, baru
kau boleh mencoba menaklukkan wanita tidak normal semodel Nyi Unyu,” kata
Bendong.
“Hahaha!” Rugi Sabuntel hanya tertawa.
“Kita hanya membagikan kepeng sampai habis. Adapun
harta perhiasan akan kita jual lebih dulu di pasar gelap untuk menghilangkan
jejak. Surat-surat tanah agak sulit, terlalu berisiko. Untuk sementara kita
simpan sampai kita menemukan jalan terbaik,” ujar Bendong.
“Baik.”
“Kepeng akan kita sebar nanti pagi di Desa Anuspati.”
“Bagaimana caranya kau tahu orang-orang yang
benar-benar membutuhkan kepeng?” tanya Rugi Sabuntel.
“Aku paling sering menebar di Desa Anuspati. Jadi aku
sudah punya data warga yang sangat membutuhkan kepeng dan menderita oleh
peraturan Demang dan pengusaha lintah darat,” jawab Bendong.
Rugi pun manggut-manggut.
Setelah melakukan pemaketan, kedua pendekar itu meninggalkan
Makam Nirwana dengan membawa kantong-kantong kain berisi kepeng yang akan
dibagikan kepada mustahik. Adapun barang-barang berharga non kepeng sudah
mereka simpan di tempat yang aman dari hujan atau pun binatang yang doyan kekayaan.
Rugi Sabuntel dan Bendong berpacu kencang menuju ke
Desa Anuspati yang berada di Kademangan Buto Cangkem. Mereka berdua mengenakan seragam
rampok yang menutupi wajah dan tubuh, meski tidak bisa mengubah lekuk-lekuk
tubuh.
Ketika tiba di Desa Anuspati, matahari masih belum menampakkan
sinarnya, masih berselimut gunung pegunungan. Suasana masih sepi, meski sudah
ada warga yang pagi-pagi meladang dan menyawah.
Warga yang di jalan, yang melihat kemunculan dua
penunggang bertopeng dan membawa banyak muatan kantong uang di pinggang dan
kudanya, jadi terkejut.
“Malaikat Pagi!” sebut mereka terkejut, tapi gembira.
“Aku harus cepat pulang.”
Petani itu buru-buru berbalik untuk kembali pulang ke
rumahnya. Dia dulu salah satu orang yang mendapat bantuan uang kaget dari
Malaikat Pagi yang kala itu diperankan oleh Bendong.
Malaikat Pagi selalu memberi uang dengan cara
dilemparkan ke pintu rumah atau langsung masuk ke dalam rumah lewat lubang yang
ada. Rumah zaman sekarang itu masih model ber-AC alam, jadi banyak memiliki lubang-lubang
angin.
Bendong memimpin di depan mendatangi rumah-rumah warga
yang masih sepi.
Duk!
Sebagai awalan, Bendong mencontohkan kepada Rugi
Sabuntel cara pembagian. Dia melempar satu kantong kepeng ke daun pintu rumah
warga yang tertutup. Satu lagi dilempar masuk lewat jendela yang tidak berdaun jendela
pada rumah yang lain.
Dalam hitungan detik, seorang warga lelaki membuka
pintu rumah dengan tangan kanan sudah menggenggam golok.
“Siapa itu?!” tanya warga itu keras, tapi kemudian
terkejut melihat kepergian dua penunggang kuda bertopeng, “Hah! Seperti
Malaikat Pagi.”
Warga itu lebih terkejut saat melihat ada kantong kain
tergeletak di tanah tidak jauh dari kakinya. Buru-buru dia memungut benda itu
dan mengintip isinya.
“Huwaaa! Kepeng? Itu pasti Malaikat Pagi!” ucap girang
lelaki bertelanjang dada dan bertelanjang kaki itu setelah bersorak senang.
“Malaikat Pagi masih hiduuup!” teriak tetangga yang
tadi uangnya dilempar lewat jendela.
Sebentar kemudian, orang itu keluar dari rumah dengan
memegang sekantong kepeng.
“Hahaha! Malaikat Pagi muncul lagi!” tawa kedua warga
lelaki itu gembira, lalu berpelukan.
“Ayo cepat masuk, nanti ada centeng Kepala Desa yang
melihat!” kata warga yang pertama keluar.
“Ayo ayo ayo!” sahut tetangganya.
Setelah mereka berdua masuk dan menutup pintu rumah
lagi, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah bersama istri
masing-masing.
Sementara itu, warga petani yang tadi berlari pulang ke
rumahnya, mendapati istrinya sudah tergeletak pingsan di depan rumah, tanpa ada
yang menolong selain di dekati ayam. Pak Petani terkejut.
Namun, dia lebih terkejut saat melihat ada sekantong
uang tergeletak di sisi istrinya. Dia melihat ke sekitar, ternyata tidak ada Malaikat
Pagi terlihat.
Lebih dulu dia memungut kantong kepeng dari pada
memungut istrinya. Dilihatnya pada wajah istrinya ada kulit yang berwarna merah
dan agak benjol, tepatnya di dahi.
“Owalah! Kena timpuk kepeng pasti. Hahaha!” kata si
pak petani lalu justru menertawakan nasib istrinya.
Sementara itu, Rugi Sabuntel sudah mulai melakukan
pelemparan kantong kepeng ke rumah-rumah warga yang ditunjuk oleh Bendong.
Pembagian paket kepeng pagi ini berjalan lancar dan
sukses hingga habis.
Rugi Sabuntel dan Bendong merasa bahagia ketika mendengar jerit dan sorak kegembiraan para warga. Mereka pun bisa mendengar nama “Malaikat Pagi” diteriakkan oleh warga, meski malu-malu kucing karena takut didengar oleh centeng Kepala Desa. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar