*Rudi Adalah Cintaku*
“Sudahlah, Di. Kamu
ikut saya saja melaut. Dari pada mabuk terus ujung-ujungnya ribut, mendingan
kita ketemu Nyi Roro Kibul di tengah laut,” ajak Sandro.
Rudi, Aziz dan Sandro
sedang kumpul bertiga di malam itu di teras rumah. Mereka seperti melepas rindu
setelah dua hari dipisahkan oleh tembok dan teralis penjara.
“Bisa hilang nanti
gantengnya Rudi kalau ikut melaut. Kalau malam kegelapan, kalau siang
kegosongan,” timpal Aziz.
“Enggak akan itu.
Biar dikata Rudi direbus pakai air laut, kulitnya tetaplah putih, karena
dasarnya dia dari ras Raja Bugis. Enggak kayak kita, dipanggil Daeng saja,
sudah ketahuan imitasinya. Hahaha!” kata Sandro.
“Ah, buktinya Puang
Haji yang nasabnya lebih tinggi dari emaknya Rudi, lebih hitam dari kamu.
Hahaha!” kata Aziz yang sangat tahu tentang tingkatan nasab kebangsawanan kedua
orangtua Rudi.
“Bagaimana ya caranya
ketemu Vina?” tanya Rudi mengalihkan topik bahasan.
“Susah, Di,” jawab
Aziz. “Vina sudah diblokir sama Haji Suharja. Buktinya kita tidak ada link buat
menghubunginya.”
“Link itu apa?” tanya
Sandro yang memang ilmu dan wawasannya jauh dibandingkan Aziz yang mainannya
dunia digital. Sementara Sandro yang lulusan S-2 (baca: S min dua) alias tamat
kelas 4 SD. Masih untung dia sudah bisa baca.
“Link itu benang
biru. Seperti ini lagunya. Kalau hanya, untuk mengejar laki-laki lain, buat apa
sih, benang biru, kau sulam jadi kelambu. Aah … aah … aah!” jawab Aziz yang
kemudian bernyanyi dangdut dan berujung mendesah-desah.
“Hahaha!” tawa Rudi
dan Sandro.
“Kalau kita tahu
alamatnya, kamu bisa susul dia ke Jakarta,” kata Aziz.
“Aaah! Lupakan saja.
Kamu sudah dikhianati. Jangankan kamu Rudi, saya saja sebagai sahabat, merasa
sakit sampai ke dasar laut. Sampai-sampai pas malam sebelum kejadian itu, saya
mimpi dicium Nyi Roro Kibul di bagang,” kata Sandro berapi-api.
“Hahaha!” tawa Aziz
kencang. Lalu tanyanya, “Nyi Roro Kibul itu cantik seperti Sridevi penyanyi
dangdut itu ya?”
“Beee! Sridevi itu
mah lewat di belakang. Saking cantiknya Nyi Roro Kibul, kalau kamu dicium saja,
langsung keluar dahak bawahmu itu. Hahaha!” kata Sandro ngegas, lalu tertawa
kencang.
“Hahaha!” Rudi dan
Aziz pun tertawa keras. Mereka mengerti tafsir “dahak bawah”.
“Tapi, masa iya
Junita tidak punya nomor hp sahabatnya,” kata Sandro.
“Ah, itu mah alasan
kamu saja buat ketemu Junita yang pantatnya sepadat tanah lempung,” tuding Aziz
dengan tatapan mencibir. Matanya mencibir dan bibirnya melirik.
“Hahaha! Kamu fitnah
saya, Kawan. Saya tidak sewedus itu. Hahaha!” sangkal Sandro, tapi
tertawa-tawa.
“Wedus tetanggamu.
Modus, bukan wedus. Coba besok kamu sebut Mas Paimin wedus, pasti banggalah
dia. Hahaha!”
“Hahaha!” Rudi pun
tertawa kencang.
“Kemarin-kemarin itu
sudah saya tanya ke Junita. Dia juga hilang kontak sama Vina. Ferdy saja enggak
punya nomor sama alamat kakaknya di Jakarta,” kata Aziz.
“Sudahlah. Kalau bagi
nelayan sejati seperti saya ini, kalau rombong sudah rusak, buat apa menaruh
ikan di situ, ya saya pindahkan ikan saya ke rombong baru. Ikan pun tidak
jatuh, selamat sampai ke pelelangan,” kata Sandro merujuk kepada keranjang ikan
berupa anyaman kulit bambu yang tipis. “Mope on-lah.”
“Hahaha!” Tertawa
Rudi dan Aziz. Bukan maksud menertawakan sahabat berototnya itu, tetapi
pemaksaan dalam ucapan bahasa Inggris Sandro justru terdengar lucu.
“Move on, move on,”
kata Aziz meluruskan penyebutan salah Sandro sambil memajukan wajahnya agar
wujud bibirnya terbaca jelas oleh Sandro.
“Ah, itu kan kalau di
Afrika sana. Kalau di Indonesia, apalagi di Lampung sini, ya mope on yang
benar. Masa tidak tahu hukum perubahan bawah langit atas bumi,” debat Sandro
yang terkadang urat lehernya lebih kencang dari tali kolor.
“Iya juga, Di,” kata
Aziz kepada Rudi. “Di sini masih banyak cewek cantik. Ada Nur Uleng, yang
rambut kribo juga ada, ada Maya anak bos bambu. Kalau yang lebih muda ada Kulsum
anak Ustaz Barzanji, yang selain cantik, salehahnya juga ponten sembilan di
sekolah….”
“Mana sudilah Ustaz
Barzanji anak mutiaranya didekati sama Rudi yang raportnya sudah merah semua.
Ingat, kakaknya guru silat,” kata Sandro.
“Aaah, kalau mau,
saya kenalin sama cewek Air Panas. Cewek pribumi, kulit bening, mata agak-agak
sipit. Namanya Bulan Adinda,” kata Aziz.
“Bisa-bisanya kamu kenal
cewek cantik seperti itu?” tanya Sadro.
“Kekuatan digital
lebih dahsyat dari pada jampi-jampimu, Sandro,” kata Aziz.
“Nah iya. Begini
saja. Bagaimana kalau kita pergi ke guruku, Di? Kita bisa minta Daeng Ambo Upe kirim
ke Vina biar dia rindu berat sama kamu. Kalau Vina sudah rindu berat, yakin, dia
pasti pulang,” kata Sandro.
“Ah, palingan juga Daeng
Ambo Upe lihat air di gentong,” kata Aziz meremehkan.
“Eh, jangan salah.
Guruku itu masih keturunan panglimanya raja di Gowa Sulawesi!” kata Sandro
ngegas.
“Bukannya enggak ada
pilihan lain yang lebih baik dari Vina, tapi Vina itu ya pantasnya sama saya
yang begini ini. Saya itu klopnya sama Vina. Saya sama Vina itu sudah seperti
suami istri, hanya belum pernah masuk saja. Memang sakit sekali waktu itu,
sampai hari ini juga masih sakit kalau diingat. Biar saya bisa lupa, makanya saya
minum. Mau bagaimanapun juga, saya masih sayang banget sama Vina. Kita sudah enggak
kehitung berapa kali kita ciuman. Kenyalnya dada Vina itu masih terasa di
tangan saya. Saya rindu sekali sama Vina. Ini gara-gara saya yang terlalu
cembut,” curhat Rudi yang membuat kedua sahabatnya terdiam hening.
Sejenak suasana bisu
tercipta. Aziz dan Sandro seolah-olah ikut bersedih dan berpikir. Bahkan Sandro
terdengar mengembuskan angin badai dari dua lubang hidungnya.
“Sudahlah, saya mau
tidur cepat, siapa tahu bisa mimpi Nyi Roro Kibul,” kata Rudi sambil berdiri
dari duduknya.
“Hahaha!” Meledaklah tawa Aziz dan Sandro mendengar
nama yang disebut Rudi. Mereka pikir Rudi akan menyebut nama Vina, tapi mereka
salah.
“Hahaha!” tawa Rudi
belakangan sambil berjalan masuk.
Tinggallah Aziz dan
Sandro berdua. Keduanya justru kompak membakar ujung rokok sambil melanjutkan
obrolan-obrolan yang masih mau diungkapkan atau diceritakan.
Obrolan kedua sahabat
sejati itu lebih kepada seputar mencari cara terbaik untuk Rudi.
“Cobalah kamu atur,
Ziz, cewek kenalan kamu di Air Panas itu biar terjadi jumpa pertama dengan
Rudi. Siapa tahu Rudi bisa langsung jatuh nyungsep pas melihat kecantikannya.
Cewek itu masih sekolah?” kata Sandro.
“Sudah kuliah, tapi
sambil usaha online jual sepatu cewek,” jawab Aziz.
“Nah, mantap yahudlah
itu. Kalau Rudi enggak selera, siapa tahu saya juga cocok. Hahaha!”
“Halah! Kamu sih
cewek mana juga selera, tapi ceweknya yang selalu mabuk amis ikan,” kata Aziz,
lalu bangkit berdiri hendak pergi.
“Biar bau-bau ikan
begini, saya yakin saya lebih jago ranjang dari pada kamu dan Rudi,” kata
Sandro sambil turut bangkit dan mengikuti Aziz meninggalkan teras.
Merela berdua
melanjutkan perdebatan ringan sambil berjalan pulang.
Sementara itu, Rudi
sudah merebahkan diri di atas kasur empuknya dengan kedua tangan dan kaki
terentang bebas. Pandangannya mencoba menembus langit-langit kamar di saat
pikirannya berlari liar mengumpulkan kenangan indah penuh cinta bersama Vina.
Sangat ingat Rudi
ketika dia dan Vina saling berpeluk cium di atas kasur itu, di saat rumah
kosong dari orangtua. Demikian pula saat mencuri momentum di kamar mandi di
rumah Vina yang saling buka baju dengan komitmen pengaman segitiga tidak boleh
lepas. Canda tawa, kebahagiaan saat bersama, bergandeng tangan, berpelukan
hingga berciuman di setiap kondisi sepi dan gelap, menjadi puzzle-puzzle memori
yang terangkai menjadi album asmara di dalam pikiran Rudi.
Setelah terdiam cukup
lama seperti orang mati, Rudi mulai mencoba memejamkan matanya. Awalnya
posisinya terlentang, kemudian dia bergerak tidur miring ke kanan seperti
anjuran agama. Namun baru lima menit, Rudi melek. Setelah itu dia berbalik
miring ke kiri.
Hantu di dalam
pikirannya yang bernama Vina, begitu mengganggunya. Mengaku atau tidak, faktanya
bahwa saat itu Rudi sedang dilanda rindu berat. Rudi rindu memeluk Vina, rindu
memegangi Vina, rindu menjadikan bibirnya siput di wajah dan badan Vina.
Pokoknya Rudi rindu berat. Titik. Jangan ada yang komplain!
Setelah hampir satu
jam lamanya berbaring dalam kegelisahan tanpa bisa tidur, akhirnya Rudi melirik
jam dinding. Sudah jam setengah dua belas malam.
Sejenak dia menelisik
dengan pendengarannya di dekat pintu kamarnya. Tidak ada suara televisi. Jika
ayahnya masih terjaga, pasti ada suara televisi dari ruang tamu. Biasanya,
Daeng Tanri selalu menyalakan televisi hingga dia memutuskan masuk kamar untuk
tidur.
Rudi segera mengambil
jaketnya dan kunci motor. Diperiksanya isi dompetnya. Uangnya masih cukup.
Rudi lalu bergerak
dan berjalan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara, terutama ketika membuka
kunci dan pintu. Motor pun dia dorong dulu keluar dari halaman baru
menyalakannya. Seperti maling motor.
Kesimpulannnya adalah Rudi pergi diam-diam dari rumah. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar