*Rudi Adalah Cintaku*
Tanpa adanya ponsel
di tangan membuat Rudi tidak bisa menghubungi siapa pun untuk minta bantuan
penjemputan. Terpaksa dia cari-cari ojek lokal yang nantinya bisa dibayar di
lokasi tujuan.
Rudi pun pulang
dengan menumpang ojek sampai ke desa pesisirnya.
“Eh! Rudi!” teriak
Sandro yang mengobrol di pinggir jalan bersama dua nelayan yang sedang
mengerjakan bambu. Dia terkejut sekaligus gembira. “Hahaha! Rudi bebas!”
Sandro cepat berlari
mengejar ojek yang membawa Rudi. Sementara sahabatnya itu hanya tertawa melihat
Sandro mengejar di belakang, seperti bocah mengejar kambing.
“Woi, Aziz! Rudi
sudah bebas!” teriak Sandro sambil melintas di depan rumah Aziz.
Aziz yang sedang
sibuk dengan pekerjaannya di laptop sejenak menengok dengan pikiran yang masih loading,
terbukti dari dua bibirnya yang bercerai. Ia hanya memandangi Sandro yang
berlari seperti orang mengejar maling. Aziz tadi tidak melihat ojek yang
melintas membawa Rudi. Dia hanya mendengar suara mesin sepeda motor berlalu.
“Rudi bebas? Yang
benar saja,” ucap Aziz masih berpikir. Lalu dia membantah sendiri pikirannya,
“Eh, jangan-jangan memang benar Rudi sudah pulang.”
Buru-buru Aziz
memasukkan laptopnya ke dalam rumah dan cepat keluar lagi. Memakai sandal pun
terbirit-birit, seperti jemaah salat jumat yang mengejar pahala onta tunai.
Barulah ketika
berlari di jalanan, Aziz tersadar ketika melihat sandalnya, ternyata belang,
bukan pasangan setianya. Yang satu merah dan yang satu kuning. Yang kanan
sandalnya, yang kiri sandal emaknya. Memang ukuran kakinya dengan kaki ibunya
sama.
“Ah, bodoh banget!”
rutuk Aziz yang terus berlari kencang, membuat lemak-lemak tubuhnya berguncang
heboh.
Tingkah kedua pemuda
itu menarik perhatian warga yang mereka lewati. Warga pun melihat Rudi yang
lewat dengan si abang ojek.
Baru dua hari ini,
warga memperbincangkan tentang Rudi yang menjadi kriminal dadakan terkenal. Bukan
hanya terkenal se-Provinsi Lampung, tetapi juga se-Nusantara. Warga juga menerka-nerka
bagaimana nasib Rudi di penjara.
“Polisi mau dipukul
batu, bisa bonyok habis Rudi digebukin di penjara.”
Itu salah satu
spekulasi kuat masyarakat mengenai nasib Rudi. Memang, sejak dulu tidak sedikit
orang tua-orang tua menilai buruk tabiat Rudi.
Terlebih-lebih dalam
lebih sepekan belakangan. Rudi yang setiap malam pulang mabuk sudah menjurus
kepada perbuatan yang meresahkan. Dia seperti hantu gentayangan yang meneror
warga.
Maka, banyak orang
yang sebelumnya sudah tidak suka, menjadi senang ketika mendengar Rudi
dipenjara.
“Baru tahu rasa tuh
Rudi!” ucap sejumlah warga, yang tentunya itu diucapkan tidak di depan kedua
orangtua Rudi atau kedua sahabatnya, yakni Aziz dan Sandro.
Kamsiah yang sedang
memunguti jemuran yang tergantung, bukan yang terjatuh, menengok ke depan rumah
ketika mendengar suara mesin sepeda motor yang berhenti.
“Rudiii!” jerit
Kamsiah seperti mendapat hadiah umroh mendadak, saat dia melihat wajah putra
tersayangnya.
Jeritan itu ternyata
mendorong Daeng Tanri yang sedang ada di dalam rumah muncul dengan cepat dan
ekspresi setengah panik, seperti kelomang yang keluar dari cangkangnya karena
ditiup. Dia takut jika istri satu-satunya itu kenapa-kenapa. Istrinya termasuk
wanita langka, karena jarang ada wanita berkulit jenis putih bersih hidup di
daerah pantai.
Kamsiah sampai
membuang tumpukan pakaian yang ada di tangannya lalu dia berlari ke arah
putranya dengan penuh kebahagiaan.
Namun, sebelum dia
sampai kepada Rudi, putranya itu mengejutkannya.
“Daeng, itu jatuh
semua!” teriak Rudi dengan ekspresi terkejut sambil menunjuk ke arah pakaian
yang berceceran di tanah.
Teriakan Rudi itu
sukses mengejutkan ibunya lagi dan membuatnya berhenti lalu menengok memandangi
pakaian kering yang jatuh.
“Dasar Rudi!” rutuk
Kamsiah yang segera sadar bahwa dia dikerjai oleh putranya.
Wanita gemuk itu
kembali berlari dan memeluk putranya.
“Hahaha!” tawa Rudi
yang melihat kebingungan ibunya.
“Rudi sudah bebas,
Puang Haji!” teriak Sandro keras sambil datang berlari kencang. Pemberitahuan
yang terlambat.
“Alhamdulillah,” ucap
Daeng Tanri lirih dan tetap berdiri di teras rumah.
Meski demikian, dalam
hati lelaki kurus itu bertanya-tanya tentang sebab Rudi bisa bebas tanpa ada
proses pengadilan.
“Panjang umur kamu,
Rudi!” teriak Aziz yang tiba belakangan. “Baru saja orang-orang sekampung
menyebut-nyebut namamu, eeeh, kamu sudah bebas.”
“Iya, pasti nyebut
saya yang enggak-enggak,” timpal Rudi yang membuat Aziz cengengesan.
Rudi sudah melepaskan
diri dari pelukan ibunya.
Sementara itu,
sejumlah tetangga juga datang mendekat, sekedar ingin tahu cerita kebebasan
Rudi.
“Bayarkan dulu ongkos
ojekku. Kamu punya hp enggak diangkat-angkat, jadi saya ngojek,” kata Rudi
menggerutu.
“Eh, memangnya kamu
telepon saya, Di?” tanya Aziz sambil mencabut dompetnya dari sarangnya.
“Enggak,” jawab Rudi
enteng.
“Hahaha!” tawa
Kamsiah dan Sandro.
“Bagaimana kamu bisa
bebas, Di?” tanya Daeng Tanri tanpa beranjak dari posisinya.
“Enggak tahu, Puang.
Tahu-tahu saya dibebaskan. Polisinya juga enggak bilang,” jawab Rudi.
“Tapi kamu enggak
kabur, kan?” tanya Aziz.
“Kamu pikir saya
jagoan Bollywood?” ucap Rudi yang membuat mereka tertawa, demikian pula para
tetangga yang mendekat.
“Kita syukuri saja
kalau memang Rudi benar-benar dibebaskan,” kata Daeng Tanri bijak. Lalu
perintahnya, “Sandro, pergi pesan nasi bakar dua ratus buat syukuran nanti
malam!”
“Assuaaap, Puang
Haji!” teriak Sandro penuh semangat. Lalu katanya kepada Aziz, “Ayo, Ziz!”
“Kamu saja sendirian,
kamu kan sudah gede, mana berotot lagi. Saya lagi ada orderan nih,” kata Aziz
yang berujung senyuman.
“Tapi jangan lupakan
saya kalau sudah cair ya, Ziz,” kata Sandro sambil memberi kode alis kepada
sahabat berlemaknya itu.
“Tenang saja, saya
kasih satu persen,” kata Aziz.
“Banyakkah satu
persen itu?” tanya Sandro senang.
“Banyaklah,” jawab
Aziz meyakinkan.
“Hahaha!” tawa mereka
santai.
Singkat ceritanya.
Menjelang magrib,
pesanan dua ratus bungkus nasi bakar telah diantar ke kediaman Daeng Tanri.
Ustaz Barzanji pun diundang untuk sekedar baca-baca doa, yang turut dihadiri
oleh beberapa orang lelaki tetangga terdekat sebagai perwakilan. Adapun warga
yang lain akan diantarkan nasi bakarnya ke pintu rumah masing-masing, tentunya diserahkan
kepada penghuni rumah.
Perbedaan antara yang
hadir di rumah Daeng Tanri dengan yang tidak adalah dari makanannya. Yang hadir
mendapat jatah dua bungkus nasi, plus bisa makan kue dan buah serta teh manis
di tempat. Sedangkan yang tidak hadir, hanya dapat satu bungkus nasi yang dibakar.
Bagi yang hadir dan
menunggu sampai pembacaan doa selesai, mereka dijanjikan pahala karena ikut
mengaminkan doa. Sedangkan yang tidak hadir tidak akan ketinggalan lanjutan
cerita sinetron pelakor yang bangga jadi pelakor.
Usai pembacaan doa di
sekeliling makanan yang melimpah, Aziz dan Sandro, serta beberapa tetangga
bergerak cepat membagikan nasi bakarnya ke segala penjuru.
Tepat ketika azan
salat isya berkumandang dari Masjid Al-Fatah, segala urusan bersedekah atas
kebebasan Rudi selesai dilaksanakan. Ustaz Barzanji pun mengajak para batangan
itu untuk salat berjemaah.
“Saya salat di rumah
saja, Di,” kata Aziz kepada Rudi.
“Saya salat di bagang
saja,” kata Sandro yang merujuk kepada tempat nelayan mencari ikan di tengah
laut. Itu sekedar dalih bagi mereka yang menghindari urusan salat.
Sedangkan Rudi wajib
ikut ayahnya salat di masjid, meski pada beberapa waktu salat lainnya dia tidak
mengerjakan kewajibannya tersebut.
Sekitar pukul sembilan, Aziz dan Sandro berkumpul bersama di teras rumah Rudi. Mereka berbincang dan bercerita banyak hal. Malam ini Sandro tidak turun melaut dengan dalih khusus untuk merayakan kebebasan Rudi. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar