Pendekar Santai: Gunung Raja Ular (1)


Siang itu cerah dan berawan tebal putih.

Di waktu itu, ada burung merah melesat terbang menerobos awan. Namun, ketika dilihat secara dekat terhadap burung tersebut, ternyata burung itu bukan seekor burung, tetapi sesosok manusia yang berpakaian merah dengan rambut gondrong yang berkibar kencang di belakang.

Jika dilihat lebih dekat, maka terlihat jelas bahwa manusia itu seorang pemuda tampan berkulit terang. Usianya masih remaja, mungkin masih berusia belasan tahun. Meski demikian pemuda itu memiliki perawakan yang gagah.

Pemuda tersebut terbang bukan terbang seperti seorang super hero, tetapi dia menunggangi sebatang kayu seperti tongkat lurus yang memiliki sayap berwarna merah. Pada kepala tongkat yang ditungganginya ada miniatur kepala kerbau bertanduk warna merah.

Pemuda itu terbang sambil memandang serius ke wilayah bawah yang hijau indah alami.

Pada satu waktu, si pemuda melihat satu pemandangan yang membuatnya segera mengubah arah terbangnya. Dia terbang menukik turun meninggalkan wilayah awan di langit.

Pemandangan yang dilihat oleh si pemuda sakti adalah sebuah puncak gunung kecil. Pada satu bagian di puncak gunung itu ada gambar alam yang mencetak wujud seperti kepala ular yang sedang menganga.

“Gunung Raja Ular!” teriak si pemuda dengan keras yang hanya dia mendengar.

Dengan jelas dia terbang menukik turun menuju ke puncak gunung yang disebutnya Gunung Raja Ular.

“Kakek, Kakek!” teriak seorang gadis desa di kaki gunung kepada seorang kakek bertelanjang dada yang sedang membajak tanah sawah bersama kerbaunya.

Gadis cantik yang membawa bakul berisi sayuran tersebut menunjuk ke langit saat kakeknya memandang kepadanya.

Sang kakek cepat melihat ke langit, ke arah tunjukan cucunya. Dia masih sempat melihat sosok burung yang terbang lalu lenyap di balik puncak gunung.

“Itu burung apa, Kek?” tanya si gadis sambil berjalan lebih mendekati kakeknya. Tanah sawah saat itu masih kering tanpa air.

“Kakek tidak tahu, Walung,” jawab si kakek dengan menyebut nama depan cucunya. Walung.

“Kok tidak tahu? Katanya Kakek sudah mengenal semua jenis binatang dan makhluk penghuni Gunung Pekuk ini,” protes Walung.

“Hehehek!” Si kakek yang bernama Gegaba itu malah tertawa mendengar komplainan cucunya. Lalu kilahnya, “Berarti burung itu bukan penghuni Gunung Pekuk ini. Itu burung yang hanya lewat.”

“Burung itu aneh, Kek,” ujar Walung.

“Aneh apanya?” tanya Gegaba.

“Burung itu kepalanya seperti perempuan yang punya rambut panjang sepertiku,” jawab Walung.

“Itu pasti burung jenis berbeda yang baru kau lihat. Yang hidup di dunia ini bukan manusia saja. Binatang saja sangat banyak jenis dan bentuknya. Banyak binatang yang Kakek sudah pernah lihat, tetapi kau belum,” jelas Gegaba sambil senyum-senyum kepada cucu cantik jelitanya.

“Iya, Kakek benar,” kata Walung mengaku kalah. Dia tidak akan pernah menang jika berdebat dengan kakeknya. Jangankan dirinya, ayah dan ibunya saja tidak pernah menang. Maka wajar jika kedua orangtua Walung adalah anak baik di mata Gegaba.

“Kapan Baden Ronto akan melamarmu, Walung?” tanya Gegaba.

“Entahlah, Kek. Kakang Baden sibuk membantu ayahnya. Besok Kakang Baden akan pergi mengirim bambu ke kadipaten. Katanya Gusti Adipati sedang membangun sesuatu yang membutuhkan banyak bambu weling,” jawab Walung.

“Apakah kau mencintai Baden Ronto, Walung?” tanya Gegaba.

“Tentu, Kek.”

“Namun Kakek ragu.”

“Ragu kenapa, Kek? Apakah menurut Kakek Kakang Baden pemuda yang tidak baik?” tanya Walung. Tatapannya mulai tidak sejuk kepada kakeknya.

“Tidak seperti itu. Hehehe!” bantah Gegaba lalu terkekeh karena sudah melihat perubahan rona di wajah cantik si gadis. “Kakek mengenal Sugarap Bondo dari dia kecil, dewasa hingga beranak pinak. Setahu Kakek, Sugarap Bondo tidak mengenal orang pekerja seperti kita, kecuali kau menguntungkannya. Anak juragan bambu weling dengan gadis penggarap sawah. Apakah Juragan Sugarap Bondo akan suka hubungan itu.”

Mendengar pemaparan kakeknya, Walung jadi terdiam. Di dalam hati dia menjadi kesal kepada kakeknya.

“Sebenarnya, ayah dan ibumu ingin mengatakan hal ini sudah lama, tetapi khawatir kau marah dan jadi tidak mau membantu mengantarkan makan, lalu sering pergi memancing di Telaga Bolong,” kata Gegaba.

“Tapi Kakang Baden sering datang ke rumah, tidak keberatan dengan orang miskin seperti kita,” sangkal Walung dengan nada mendebat.

“Kakek membicarakan ayahnya,” ralat Gegaba.

Walung kembali terdiam. Wajahnya merengut, tetapi tetap cantik di bawah terpaan terik sang surya.

Tiba-tiba….

Bluarr!

Tiba-tiba terdengar suara ledakan sangat keras di tempat yang jauh. Tanah terasa terguncang halus sejenak. Itu mengejutkan Walung dan Gegaba. Mereka kompak memandang ke puncak Gunung Pekuk.

Mereka melihat ada segerombolan burung terbang karena terkejut, keluar dari hutan. Tidak hanya di satu tempat, tapi di beberapa titik. Itu menunjukkan bahwa sumber ledakan dari atas gunung.

Setelah itu, suasana kembali hening seperti sebelum terdengarnya suara ledakan.

Walung dan kakeknya saling pandang. Ada sekelumit rasa takut melanda perasaan mereka.

“Suara apa itu, Kek?” tanya Walung cemas.

“Entahlah. Selama kakek hidup di Desa Peyek ini, baru kali ini Kakek mendengar suara seperti itu di atas gunung. Bumi sampai bergetar,” kata Gegaba.

“Apakah akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap Desa Peyek, Kek?” terka Walung.

Tiba-tiba….

“Ayah! Walung!” teriak seorang lelaki dengan nada panik.

Gegaba dan Walung segera menengok ke arah sumber suara. Mereka melihat seorang lelaki separuh baya mengenakan baju kemeja lurik hitam tanpa dikancing, membawa golok dan celurit, sedang berlari kencang menuruni jalan dari arah punggung gunung.

Itu adalah ayah dari Walung atau putranya Gegaba, namanya Sakuret.

“Ayo cepat pulang!” teriaknya lagi kepada kedua kerabatnya itu, padahal jaraknya masih jauh.

Bdak!

“Ayah!” pekik Walung terkejut saat melihat ayahnya jatuh terpeleset, padahal tidak becek.

Namun, sang ayah terbilang lelaki yang tangkas. Dia cepat bangkit dan kembali berlari sambil memegangi sebelah bokongnya.

Gegaba dan Walung hanya bisa menunggu dengan perasaan yang juga ikut panik. Pada akhirnya putra Gegaba itu sampai kepada ayah dan putrinya.

“Ayo cepat kita pulang! Pertanda buruk! Gunung Pekuk akan meletus!” kata Sakuret benar-benar panik. Dia sampai merampas bakul Walung.

“Jangan buat panik, Sakuret!” hardik Gegaba. “Dari mana kau tahu gunung ini akan meletus?”

“Apakah Ayah tidak mendengar suara letusan itu?” tanya Sakuret dengan sepasang mata mendelik ingin menangis dengan kebandelan ayahnya.

“Gunung ini tidak pernah meletus. Gunung Pekuk bukan gunung api!” bantah Gegaba.

“Lalu suara ledakan apa yang membuat gunung ini bergetar jika bukan mau meletus, Ayah?”

“Aku tidak tahu. Tapi itu bukan suara gunung ini mau meletus!” debat Gegaba.

Bluarr!

Tiba-tiba mereka bertiga dikejutkan lagi oleh suara ledakan yang keras dan bersumber dari tempat yang jauh di atas gunung. Seiring suara ledakan itu, bumi bergetar halus untuk dua detik saja.

“Ayo, Walung!” kata Sakuret sambil menarik tangan putrinya yang cantik, tapi ekspresinya juga menunjukkan ketakutan.

“Ayo, Kakek!” ajak Walung.

“Iya, iya,” jawab Gegaba akhirnya memilih mengalah, meski ia yakin gunung itu tidak akan meletus. Namun, ada rasa takut juga jika dia ditinggalkan sendirian di tempat itu.

Akhirnya kakek, ayah dan anak itu pulang. Mau tidak mau, hari itu Gegaba tidak menyelesaikan pekerjaannya menggarap sawah Ki Petonggo.

Sesampainya di pusat Desa Peyek, warga sedang berkumpul dalam mode panik, takut, khawatir dan bertanya-tanya tanpa ada yang bisa memberi jawaban dengan pasti.

Kepala Desa Peteng Suro hanya bisa menganjurkan warganya untuk tenang karena nyatanya tidak ada pemandangan yang menunjukkan adanya bahaya yang mengancam desa. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar