Siang itu cerah dan berawan tebal putih.
Di waktu
itu, ada burung merah melesat terbang menerobos awan. Namun, ketika dilihat
secara dekat terhadap burung tersebut, ternyata burung itu bukan seekor burung,
tetapi sesosok manusia yang berpakaian merah dengan rambut gondrong yang
berkibar kencang di belakang.
Jika dilihat
lebih dekat, maka terlihat jelas bahwa manusia itu seorang pemuda tampan
berkulit terang. Usianya masih remaja, mungkin masih berusia belasan tahun.
Meski demikian pemuda itu memiliki perawakan yang gagah.
Pemuda
tersebut terbang bukan terbang seperti seorang super hero, tetapi dia
menunggangi sebatang kayu seperti tongkat lurus yang memiliki sayap berwarna
merah. Pada kepala tongkat yang ditungganginya ada miniatur kepala kerbau bertanduk
warna merah.
Pemuda itu
terbang sambil memandang serius ke wilayah bawah yang hijau indah alami.
Pada satu
waktu, si pemuda melihat satu pemandangan yang membuatnya segera mengubah arah
terbangnya. Dia terbang menukik turun meninggalkan wilayah awan di langit.
Pemandangan
yang dilihat oleh si pemuda sakti adalah sebuah puncak gunung kecil. Pada satu
bagian di puncak gunung itu ada gambar alam yang mencetak wujud seperti kepala
ular yang sedang menganga.
“Gunung
Raja Ular!” teriak si pemuda dengan keras yang hanya dia mendengar.
Dengan
jelas dia terbang menukik turun menuju ke puncak gunung yang disebutnya Gunung
Raja Ular.
“Kakek,
Kakek!” teriak seorang gadis desa di kaki gunung kepada seorang kakek
bertelanjang dada yang sedang membajak tanah sawah bersama kerbaunya.
Gadis
cantik yang membawa bakul berisi sayuran tersebut menunjuk ke langit saat
kakeknya memandang kepadanya.
Sang kakek
cepat melihat ke langit, ke arah tunjukan cucunya. Dia masih sempat melihat
sosok burung yang terbang lalu lenyap di balik puncak gunung.
“Itu burung
apa, Kek?” tanya si gadis sambil berjalan lebih mendekati kakeknya. Tanah sawah
saat itu masih kering tanpa air.
“Kakek
tidak tahu, Walung,” jawab si kakek dengan menyebut nama depan cucunya. Walung.
“Kok tidak
tahu? Katanya Kakek sudah mengenal semua jenis binatang dan makhluk penghuni
Gunung Pekuk ini,” protes Walung.
“Hehehek!” Si
kakek yang bernama Gegaba itu malah tertawa mendengar komplainan cucunya. Lalu
kilahnya, “Berarti burung itu bukan penghuni Gunung Pekuk ini. Itu burung yang
hanya lewat.”
“Burung itu
aneh, Kek,” ujar Walung.
“Aneh apanya?”
tanya Gegaba.
“Burung itu
kepalanya seperti perempuan yang punya rambut panjang sepertiku,” jawab Walung.
“Itu pasti
burung jenis berbeda yang baru kau lihat. Yang hidup di dunia ini bukan manusia
saja. Binatang saja sangat banyak jenis dan bentuknya. Banyak binatang yang
Kakek sudah pernah lihat, tetapi kau belum,” jelas Gegaba sambil senyum-senyum
kepada cucu cantik jelitanya.
“Iya, Kakek
benar,” kata Walung mengaku kalah. Dia tidak akan pernah menang jika berdebat
dengan kakeknya. Jangankan dirinya, ayah dan ibunya saja tidak pernah menang.
Maka wajar jika kedua orangtua Walung adalah anak baik di mata Gegaba.
“Kapan Baden
Ronto akan melamarmu, Walung?” tanya Gegaba.
“Entahlah,
Kek. Kakang Baden sibuk membantu ayahnya. Besok Kakang Baden akan pergi mengirim
bambu ke kadipaten. Katanya Gusti Adipati sedang membangun sesuatu yang
membutuhkan banyak bambu weling,” jawab Walung.
“Apakah kau
mencintai Baden Ronto, Walung?” tanya Gegaba.
“Tentu,
Kek.”
“Namun
Kakek ragu.”
“Ragu
kenapa, Kek? Apakah menurut Kakek Kakang Baden pemuda yang tidak baik?” tanya
Walung. Tatapannya mulai tidak sejuk kepada kakeknya.
“Tidak
seperti itu. Hehehe!” bantah Gegaba lalu terkekeh karena sudah melihat
perubahan rona di wajah cantik si gadis. “Kakek mengenal Sugarap Bondo dari dia
kecil, dewasa hingga beranak pinak. Setahu Kakek, Sugarap Bondo tidak mengenal orang
pekerja seperti kita, kecuali kau menguntungkannya. Anak juragan bambu weling
dengan gadis penggarap sawah. Apakah Juragan Sugarap Bondo akan suka hubungan itu.”
Mendengar
pemaparan kakeknya, Walung jadi terdiam. Di dalam hati dia menjadi kesal kepada
kakeknya.
“Sebenarnya,
ayah dan ibumu ingin mengatakan hal ini sudah lama, tetapi khawatir kau marah
dan jadi tidak mau membantu mengantarkan makan, lalu sering pergi memancing di Telaga
Bolong,” kata Gegaba.
“Tapi
Kakang Baden sering datang ke rumah, tidak keberatan dengan orang miskin seperti
kita,” sangkal Walung dengan nada mendebat.
“Kakek
membicarakan ayahnya,” ralat Gegaba.
Walung
kembali terdiam. Wajahnya merengut, tetapi tetap cantik di bawah terpaan terik
sang surya.
Tiba-tiba….
Bluarr!
Tiba-tiba
terdengar suara ledakan sangat keras di tempat yang jauh. Tanah terasa
terguncang halus sejenak. Itu mengejutkan Walung dan Gegaba. Mereka kompak
memandang ke puncak Gunung Pekuk.
Mereka melihat
ada segerombolan burung terbang karena terkejut, keluar dari hutan. Tidak hanya
di satu tempat, tapi di beberapa titik. Itu menunjukkan bahwa sumber ledakan
dari atas gunung.
Setelah
itu, suasana kembali hening seperti sebelum terdengarnya suara ledakan.
Walung dan
kakeknya saling pandang. Ada sekelumit rasa takut melanda perasaan mereka.
“Suara apa
itu, Kek?” tanya Walung cemas.
“Entahlah.
Selama kakek hidup di Desa Peyek ini, baru kali ini Kakek mendengar suara
seperti itu di atas gunung. Bumi sampai bergetar,” kata Gegaba.
“Apakah akan
terjadi sesuatu yang buruk terhadap Desa Peyek, Kek?” terka Walung.
Tiba-tiba….
“Ayah! Walung!”
teriak seorang lelaki dengan nada panik.
Gegaba dan
Walung segera menengok ke arah sumber suara. Mereka melihat seorang lelaki
separuh baya mengenakan baju kemeja lurik hitam tanpa dikancing, membawa golok
dan celurit, sedang berlari kencang menuruni jalan dari arah punggung gunung.
Itu adalah
ayah dari Walung atau putranya Gegaba, namanya Sakuret.
“Ayo cepat
pulang!” teriaknya lagi kepada kedua kerabatnya itu, padahal jaraknya masih
jauh.
Bdak!
“Ayah!”
pekik Walung terkejut saat melihat ayahnya jatuh terpeleset, padahal tidak
becek.
Namun, sang
ayah terbilang lelaki yang tangkas. Dia cepat bangkit dan kembali berlari
sambil memegangi sebelah bokongnya.
Gegaba dan
Walung hanya bisa menunggu dengan perasaan yang juga ikut panik. Pada akhirnya
putra Gegaba itu sampai kepada ayah dan putrinya.
“Ayo cepat
kita pulang! Pertanda buruk! Gunung Pekuk akan meletus!” kata Sakuret benar-benar
panik. Dia sampai merampas bakul Walung.
“Jangan
buat panik, Sakuret!” hardik Gegaba. “Dari mana kau tahu gunung ini akan
meletus?”
“Apakah
Ayah tidak mendengar suara letusan itu?” tanya Sakuret dengan sepasang mata mendelik
ingin menangis dengan kebandelan ayahnya.
“Gunung ini
tidak pernah meletus. Gunung Pekuk bukan gunung api!” bantah Gegaba.
“Lalu suara
ledakan apa yang membuat gunung ini bergetar jika bukan mau meletus, Ayah?”
“Aku tidak
tahu. Tapi itu bukan suara gunung ini mau meletus!” debat Gegaba.
Bluarr!
Tiba-tiba
mereka bertiga dikejutkan lagi oleh suara ledakan yang keras dan bersumber dari
tempat yang jauh di atas gunung. Seiring suara ledakan itu, bumi bergetar halus
untuk dua detik saja.
“Ayo,
Walung!” kata Sakuret sambil menarik tangan putrinya yang cantik, tapi ekspresinya
juga menunjukkan ketakutan.
“Ayo,
Kakek!” ajak Walung.
“Iya, iya,”
jawab Gegaba akhirnya memilih mengalah, meski ia yakin gunung itu tidak akan
meletus. Namun, ada rasa takut juga jika dia ditinggalkan sendirian di tempat
itu.
Akhirnya
kakek, ayah dan anak itu pulang. Mau tidak mau, hari itu Gegaba tidak
menyelesaikan pekerjaannya menggarap sawah Ki Petonggo.
Sesampainya
di pusat Desa Peyek, warga sedang berkumpul dalam mode panik, takut, khawatir
dan bertanya-tanya tanpa ada yang bisa memberi jawaban dengan pasti.
Kepala Desa
Peteng Suro hanya bisa menganjurkan warganya untuk tenang karena nyatanya tidak
ada pemandangan yang menunjukkan adanya bahaya yang mengancam desa. (RH)

.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar