*Petualangan Tina dan Ayu*
“Ba-ba-bagaimana?”
tanya Salman Alfarisy yang muncul dari luar Kelas 2B.
“Ini nih, biang
koreknya datang!” kata Tina yang memasang wajah tidak bersahabat.
“Bi-bi-biang kerok
apaan?” tanya Salman seperti korban hipnotis.
“Tadi lampir ketahuan
Bu Cantik,” jelas Tina.
“Husy! Hampir ketahuan,
Tinaaa!” ralat Ayu.
Saat itu di dalam
kelas, hanya mereka berempat. Teman yang lain di luar kelas sedang istirahat.
Memang lucu dunia pendidikan, waktu istirahat justru digunakan untuk bermain
dan jajan, bukan tidur.
“Te-te-terus
bagaimana?”
“Gak tahu. Lama-lama
Somali bakal ketahuan juga,” kata Ayu.
“Kirim pulang saja,”
kata Tina.
“Bagaimana caranya?
Dikirim pakai perangko?” tanya Ayu.
“Hahaha!
Le-le-le....”
“Ikan lele?” potong
Somali.
“Le-le-lewat pos!”
kata Salman.
“Apaan tuh pos?”
tanya Somali.
“Pos itu
ma-ma-majikan,” jawab Salman.
“Booos! Itu bos!”
sergah Tina.
“Salah, bos itu
tempat ngontrak,” kata Ayu.
“Tempat dongkrak mah
namanya kost,” ralat Tina.
“Itu pos!” debat Ayu.
“Hahaha! Ba-ba-balik
lagi,” tawa Salman.
“Somali, ini
bagaimana?” tanya Ayu kepada si cebol.
Somali pun bingung,
tidak bisa menjawab.
“Nih, kita kirim balik,”
kata Tina sambil mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya.
Buku itu tidak lain
adalah buku novel berjudul Pintu Setan Kuning.
“Allahumma!”
kaget Ayu.
“Innalillahi!”
kaget Salman.
“Sal, tetap tutup
pintu, nanti ada yang lihat!” perintah Ayu.
Salman buru-buru
pergi menutup pintu kelas. Mereka jadi panik.
“Kamu gila, Tina.
Buku ini kenapa dibawa?” tanya Ayu panik, tidak sepakat dengan perbuatan
sahabatnya.
“Tadi bencananya
mau....”
“Rencananya!” potong
Ayu meralat. Nada dan wajahnya sewot.
“Iya, maksud saya
itu,” kata Tina yang lebih tenang.
“Bencananya saya mau tumbangin
ke perpustakaan,” kata Tina.
“Sumbangin!” ralat
Ayu.
Sementara Somali
bingung melihat Trio Antik berdebat.
“Terus, bagaimana
caranya?” tanya Ayu.
“Biar Somasi yang
baca, kita sembunyi di belalang,” jawab Tina.
“Memang Tina gila. Ya
sudah, buka manteranya!” kata Ayu.
Tina lalu membuka
halaman novel yang ada tulisan manteranya.
Ayu segera sembunyi
di meja guru.
Salman sembunyi di
kolong meja belakang.
Somali ikut Salman
sembunyi di kolong meja.
“Somay, sini!”
panggil Tina kesal. “Kenapa malah mampet (mumpet)?”
“Apaan?” tanya Somali
bingung. Dia datang mendekati Tina.
“Nih, lihat sini!”
Tina menunjuk paragraf bacaan matera di novel.
“Itu apa?” tanya
Somali.
“Kamu baca. Bisa?”
kata Tina.
“Bisa.”
“Tunggu saya sembunyi
dulu, baru kamu baca! Paham?”
“Paham. Hehehe!”
jawab Somali sembari cengengesan.
Tina berlari ke
belakang kelas. Ia pun bersembunyi di kolong meja.
“Ayo baca, Somali!”
teriak Ayu.
“Bi-bi-bisa baca
gak?” teriak Salman pula.
“Bisa!” sahut Somali.
“Tapi bohong! Hahaha!”
Somali tertawa
terpingkal-pingkal.
“Somasi cebok!” geram
Tina.
“Somali kuran acar!”
maki Ayu pula gemas.
Tina kembali keluar
dari kolong meja lalu mendatangi Somali. Ingin rasanya memukul kepala orang
cebol itu.
“Saya ajari, nanti
kamu hafalin,” kata Tina kepada Somali.
“Iya,” ucap Somali
mengangguk.
“Kalau pakai bodong
lagi, kita gantung di papan kumis!” ancam Tina.
“Iya, iya, iya,
ampun,” ucap Somali cengar-cengir.
“Ikutin!” bentak Tina
seperti nyonya muda.
Mulailah Tina membaca
untuk mengajarkannya kepada Somali.
“Tung tung tung,
bolak balik bolak balik!” baca Tina.
“Tung tung tung,
bolak balik bolak balik!” Somali mengikuti sambil joget-joget ala ornag cebol.
“Nungging jungkir
balik, ka buka buka, woi!” baca Tina lagi.
“Nungging jungkir
balik, ka buka buka, woi!” ucap Somali.
“Sudah halal belum?
Eh, maksudnya, sudah hafal belum?” tanya Tina.
“Belum,” jawab
Somali.
“Ikutin lagi!”
perintah Tina, masih sabar.
“Iya.”
Ayu mengintip dengan
tegang. Salman gemetar di kolong meja.
“Tung tung tung,
bolak balik bolak balik. Nungging jungkir balik, ka buka buka, woi!” baca Tina
satu paket lengkap.
Zerzzz! Zerzzz!
Tiba-tiba dari dalam
buku muncul aliran listrik warna kuning tanpa putus. Tina terkejut karena
keceplosan membaca lengkap. Namun, aliran listrik itu sudah menyergap dirinya
dan Somali.
Ayu dan Salman
seketika ketakutan. Namun, kejadian munculnya aliran listrik warna kuning itu
begitu cepat dan singkat. Mereka berdua pun dijangkau oleh lidah listrik
tersebut.
Sementara itu, di
luar Kelas 2B.
“Mau ke mana, Pak
Rudi, Bu Cantik?” tanya Ausyana menyapa.
“Ke kelas kamu,”
jawab Bu Yustina.
“Pak Rudi dan Bu
Cantik kok dua-duaan mau ke kelas saya? Enggak salah dong kalau saya curiga?
Iya kan, Pak?” tanya Ausyana lagi.
“Hahaha! Ya
enggaklah,” jawab Kepsek Rudi sambil tertawa agar terlihat bijak dan bahagia.
Namun, dia buru-buru meralat, “Eh eh eh, ya salah dong. Tidak boleh gampang
curiga begitu!”
“Ada siapa di dalam
kelas?” tanya Bu Yustina.
“Tina Ayu, Bu,” jawab
Ausyana.
“Kok pintu kelasnya
ditutup?” tanya Kepsek Rudi.
“Lagi pacaran kali,
Pak,” jawab Ausyana, bermaksud menyindir Kepsek Rudi.
“Husy! Jangan ngomong
sembarangan. Enggak sopan!” hardik Bu Yustina, tapi lembut selembut tepung
ketan.
Ausyana hanya
tersenyum kecut.
Pak Rudi, Bu Yustina
dan Ausyana mendekati pintu kelas yang tertutup.
Saat Pak Rudi
mendorong pintu kelas....
Zerzzz!
Dari dalam kelas
melesat aliran listrik kuning menyetrum tubuh Pak Rudi, Bu Yustina dan Ausyana.
“Aaa!” jerit Bu
Yustina saat tubuhnya diselimuti sinar kuning. Alam tiba-tiba berubah membesar
semua dalam sekejap.
Baik Tina, Ayu,
Salman dan Somali, maupun Pak Rudi, Bu Yustina dan Ausyana, mereka merasa
terbang masuk ke sebuah buku raksasa.
Namun sejatinya,
tubuh merekalah yang mengecil dan ditarik masuk oleh listrik ke dalam buku.
Kejap berikutnya
mereka telah berpindah alam dan berada di suatu tempat.
“Astaghfirullah!
Astaghfirullah! Astaghfirullah!” sebut Salman ketakutan luar
biasa, sampai-sampai dia lupa dengan gagapnya.
“Emaaak!” raung Ayu
takut dan menangis.
“Mamat! Mamat!
Mamaaat!” jerit Tina pula ketakutan.
“Mayaaat!” teriak
Somali kaget ketakutan.
“Tina! Tolep!” teriak
Ayu dengan wajah gembulnya yang timbul tenggelam di air karena tidak bisa
berenang.
“Salmep! Tolongep!”
teriak Somali juga yang tidak bisa berenang.
Meski sedang
ketakutan, Tina masih bisa sigap dengan cepat menarik Ayu ke pinggir.
Salman juga cepat
berenang menarik Somali ke pinggir, sambil menangis ketakutan.
Secara mengejutkan,
tiba-tiba kepala Pak Rudi muncul dari dalam air, tepat di depan wajah Salman.
“Aaa aaa aaa!” jerit
Salman histeris ketakutan tingkat dewa. “Ma-ma-mayat hiduuuup!”
Jika Pak Rudi nongol
di depan wajah Salman, maka kepala Bu Yustina muncul timbul di depan wajah
Tina.
“Mayat siruuup!”
jerit Tina ketakutan sambil mendorong muka Bu Yustina.
“Itu mayat hidup,
Tinaaa! Haaa...!” teriak Ayu lalu menangis kencang.
“Woi!” teriak satu
suara perempuan.
Tina, Ayu, Salman dan
Somali berhenti teriak, selanjutnya terkejut.
“Asuyana?!” pekik
Tina terkejut.
“Ausyana?!” terkejut
pula Ayu dengan wajah mewek.
“Ausyana Cantik!”
panggil Somali girang.
“A-a-ausyana
Sa-sa-sayang?!” kejut Salman tidak percaya.
“Di mana ini?” tanya
Pak Rudi.
Tina, Ayu dan Salman
tambah terkejut melihat Kepala Sekolah mereka muncul di kolam besar itu juga.
“Kepsek Musang?!”
sebut Ayu tidak percaya.
“Pak Rudal?!” Tina
tambah terkejut.
“Mayat! Mayat!
Mayat!” Bu Yustina menjerit-jerit di antara banyak mayat yang mengambang.
“Ibu Cantiiik!”
teriak Somali begitu girang.
“Ibu Cangkir?!” Tina
semakin bingung melihat kehadiran guru IPA mereka.
“Kok pada ikut-ikutan
masuk?” tanya Ayu tidak habis pikir.
“Mayaaat!” jerit
kencang dan panjang Pak Rudi, tapi telat.
Pak Rudi cepat
berenang dan memeluk Salman dengan kencang.
“Pak Ru-ru-ru....”
“Pak Rusa?” terka
Somali, masih sempat-sempatnya. Memang, dia yang paling tenang saat itu, meski
tadi sempat ketakutan.
“Gak bi-bi-bisa napas
saya!” kata Salman.
“Hahaha! Maaf!” kata
Pak Rudi cengengesan sambil melepas pelukannya.
Namun, tiba-tiba Pak
Rudi kembali teringat situasi.
“Mayaaat!” teriak Pak
Rudi ketakutan dan kembali memeluk Salman.
Boom!
Tiba-tiba terdengar
suara ledakan kencang di langit.
Semua terkejut dan
langsung mendongak melihat ke langit. Semua pun ternganga saat melihat apa yang
ada di langit.
Di langit sana banyak
binatang terbang yang saling beradu. Ada yang seperti capung dan ada yang
seperti kupu-kupu.
Meski
binatang-binatang itu terbang tinggi di langit, tetapi mereka terlihat besar,
seperti binatang raksasa.
Anehnya ada
ledakan-ledakan sinar berwarna-warni. Binatang-binatang itu seperti ditunggangi
oleh manusia yang lebih kecil fisiknya dibanding binatang capung dan kupu-kupu.
Pak Rudi Hendrik, Bu
Yustina Agustini, Tina Cihuy, Ayu Nostalgia, Salman Alfarisy, Ausyana, dan
Somali, memandang ternganga berjemaah ke langit. (RH)
TAMAT
Tunggu Kelanjutannya Dalam Petualangan Berikutnya
Lebih Seru Dalam Judul
“Trio Antik”


Om kok udah lama banget gak ada update-an? ada masih hidup, Om?🤔ðŸ˜ðŸ˜…
BalasHapusOm habis sakit tahu, Coba kunjungin toko ebook Om
Hapushttps://rudi-hendrik.myr.id/
Aduh, Om! mau ke mana lagi Om ajak aku berpetualang cinta ini...?ðŸ˜ðŸ¤§
HapusOm sedang berjuang, Sayang
HapusUdah aku kunjungi, dibeli gitu Om maksudnya? Gak gratis?🤧 Sini kasih no rekening Om aja aku TF THR nih langsung😅
Hapus