Jambong menghunus golok panjangnya. Tebak Urut bersiaga dengan tongkatnya. Dan Sapehan telah berhasil memasang anak panah di busur dengan tangan yang gemetar.
Sambil mereka melangkah pelan dengan jantung berdebar
kencang dan keringat dingin muncul di kening, mereka juga memerhatikan area
sekitar. Namun lagi-lagi anehnya, mereka tidak melihat keberadaan pemuda
tanggung berpakaian warna merah-hitam.
Akhirnya mereka berhenti di dekat sebuah nangka muda
yang tergeletak di rumput, di bawah pohon tangkil.
“Angin itu sudah biasa menjatuhkan buah, jadi tidak
perlu heran,” kata Jambong dengan nada lambat karena menahan takut di saat ia
berusaha berpikir rasional.
“I-i-iya biasa. Ta-ta-tapi angin tidak biasa menjatuhkan
buah yang … yang masih muda,” kata Sapehan dengan suara gemetar pula. “Jatuhnya
juga di lain emak.”
“Mungkin tadi jatuhnya di sebelah atas sana, lalu
menggelinding ke sini,” kata Tebak Urut dengan suara yang lebih stabil.
Arda Handara hanya tersenyum geli mendengar obrolan
bernada takut itu.
“Bawa pulang saja nangkanya untuk disayur,” kata Arda
tidak bisa menahan diri.
“Tidak mau!” tolak Sapehan sambil memandang kepada
Tebak Urut. Dia menyangka Tebak Urut yang memberi saran itu.
“Mana berani aku membawa buah yang tidak jelas
pohonnya ada di mana?” kata Jambong sambil menengok kepada Tebak Urut. “Kau
saja sendiri yang bawa pulang.”
Tebak Urut jadi terbeliak dan bingung mendengar kedua
rekannya berkata seperti itu kepadanya.
Memang, Arda berbicara dengan posisi di belakang Tebak
Urut, sehingga Jambong dan Sapehan menyangka Tebak Urut yang menyarankan
membawa pulang buah nangka tersebut, padahal jenis suaranya saja berbeda.
Tebak Urut lalu menengok ke belakang. Dia tadi
mendengar suara lain itu dari belakangnya. Namun, ketika dia menengok, dia
tidak meliha sesiapa.
“Aku pasti ketakutan, membuat telingaku mengigau,” kata
Tebak Urut di dalam hati. “Ah, tugas ini harus diselesaikan. Sudah hal biasa
jika ada gangguan-gangguan kecil saat di gunung.”
Tebak Urut lalu berjalan pergi meninggalkan tempat
itu. Dia tidak mempedulikan lagi si buah nangka muda. Ternyata Jambong dan
Sapehan cepat mengikuti. Mereka terus mendaki. Sementara Arda memilih
tertinggal. Dia tetap berdiri di tempatnya.
“Ayo, ayo!” Terdengar suara seorang lelaki.
Dua orang anak lelaki tiba-tiba muncul keluar dari
balik semak belukar. Anak lelaki itu berusia sekita dua belas tahun. Salah
satunya tidak lain adalah Klimot, adik Walung. Dia bersama rekan sebayanya yang
bernama Angkur.
Mereka muncul setelah memastikan ketiga orang dewasa
itu sudah jauh. Klimot cepat memungut nangka muda tadi.
Arda sebenarnya sudah mengetahui kehadiran dua anak
yang lebih muda darinya itu. Karena itulah dia menahan diri untuk melihat
keduanya muncul.
“Hahaha! Dasar orang-orang besar penakut. Hahaha!”
kata Klimot lalu keduanya tertawa. Kedua anak itulah yang melempar nangka muda
dari tempat persembunyiannya.
Mereka berdua tidak melihat keberadaan Arda Handara
yang sedang menggunakan kesaktiannya yang bernama Wujud Halus.
“Hahahak!” tawa terbahak Arda Handara melihat kelakuan
dua anak tersebut.
Suara tawa Arda yang cukup keras terdengar oleh Klimot
dan Angkur. Itu membuat keduana terkejut dan berhenti berlari lalu saling pandang.
Di saat mereka telah berhenti tertawa, justru ada suara tawa lain.
“Dedemit!” pekik Angkur lebih dulu, lalu lebih dulu
juga berlari terbirit-birit.
Klimot juga langsung lari lagi, sampai-sampai dia
tersandung dan jatuh.
“Hahahak!” kian kencang Arda Handara memperdengarkan
tawanya.
Klimot dengan cekatan bangun dan tidak lupa memungut
nangka muda hasil petikannya di pohon.
Ujung-ujungnya, setelah jauh berlari turun keduanya
berhenti di kebun yang digarap oleh Sakuret.
“Ayah! Ayah! Ayah!” teriak Klimot memanggil Sakuret yang
sedang mencangkuli tanah di sekitar pohon apel yang masih usia remaja.
Sakuret dipercaya oleh Ki Petonggo untuk mengurus
kebun apel tersebut. Sementara Gegaba dipercaya mengurus sawah.
Terkejut Sakuret mendengar suara panggilan anaknya
yang bernada panik.
“Klimot!” sebut Sakuret.
Klimot dan Angkur berhenti di depan Sakuret dengan
napas benar-benar pahing-kliwon. Angkur langsung pergi mengambil wadah air milik
Sakuret dan meminumnya langsung sampai tumpah-tumpah.
“Kalian dari mana? Kenapa ketakutan seperti ini?”
tanya Sakuret setengah membentak.
“Dari atas, Ayah. Tapi … tapi ada dedemit!” jawab
Klimot. Dia lalu gentian minum setelah Angkur memberinya wadah air.
“Untuk apa kalian ke atas? Sekarang kondisinya sedang
tidak aman. Ada-ada saja!” omel Sakuret.
“Kita dapat nangka, Paman Sakuret,” jawab Angkur.
“Kalian bertemu dedemit di atas?” tanya Sakuret.
“Tidak bertemu, tetapi mendengar,” jawab Klimot.
“Mendengar apa?” tanya Sakuret lagi.
“Dedemit tertawa.”
“Seperti apa tawa dedemit? Aku tidak pernah mendengar
dedemit tertawa,” tanya Sakuret.
“Hahahak!” Klimot dan Angkur kompak tertawa
memperagakan.
“Ah, kalian ini. Itu tawa manusia, bukan dedemit. Kalian
pasti mendengar suara tawa manusia. Mungkin kalian mendengar tawa Jambong, atau
Tebak Urut, atau Sapehan. Mereka bertiga sedang naik ke atas,” kata Sakuret
mulai tenang.
“Bukan, Ayah. Mereka juga ketakutan. Kami melihat
mereka ketakutan melihat nangka ini jatuh di bawah pohon tangkil,” sangkal
Klimot.
“Hahaha!” Angkur justru tertawa. Sepertinya
ketakutannya sudah raib.
“Memangnya apa yang kalian lakukan terhadap ketiga
orang itu?” tanya Sakuret jadi kepo.
Maka berceritalah Klimot dan Angkur dengan antusias.
“Hahahak!” Tertawa terbahak Sakuret mendengar cerita
itu.
Sementara itu, Jambong dan kedua rekannya terus naik
mendaki. Mereka menyempatkan diri pergi ke Telaga Bolong untuk mencari jejak
kejadian luar biasa yang bisa mereka simpulkan adalah sumber suara ledakan kemarin.
Mereka menyisiri pinggiran telaga.
“Benar, Walung tadi mancing di sini,” kata Tebak Urut
yang menemukan tempat umpan dan jejak bekicot di batu tempat Walung tadi
memancing.
“Waspada! Tadi Walung mengatakan melihat sesuatu yang
aneh di sini!” teriak Jambong.
Mereka bertiga berpencar di sekitar telaga itu untuk
mencari-cari keanehan.
“Tebak Uruuut!” teriak Sapehan tiba-tiba yang membuat
Jambong dan Tebak Urut jadi terkejut dan tegang.
Jambong dan Tebak Urut memandang kepada Sapehan yang
datang berlari terbirit-birit.
“Ada apa? Ada apa?” tanya Jambong terbawa panik saat
Sapehan sampai dengan napas tersengal-sengal.
“Ada ular besar!” jawab Sapehan sembari terengah-engah
dengan wajah dibanjiri peluh.
“Kau ini,” ucap Tebak Urut dengan napas lemas tapi
tanda kelegaan.
Jambong menepak kepala Sapehan.
“Ini di gunung, ada hutan, alam liar. Wajar jika ada
ular. Tidak usah setakut itu, Sapehan!” kata Jambong gemas ingin mencekik
Sapehan.
Sapehan hanya menyengir kambing, seolah mengakui
kesalahannya.
“Ayo kita ke Kawah Peteng!” ajak Jambong.
“Kawah punyanya Ki Peteng Suro. Hahaha!” kata Sapehan.
Dia sudah mulai berkelakar lagi.
Untuk sampai ke Kawah Peteng, mereka harus memutar ke
sisi timur gunung karena kawah itu ada di sisi sana.
Saat mereka bertiga sedang berjalan di kawasan
berhutan lebat, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh satu suara teriakan.
“Hoi!”
Sontak ketiga lelaki dewasa itu berhenti melangkah karena
terkejut. Suara teriakan itu terdengar menggema.
Jambong dan kedua rekannya mendongak ke atas dan
mengedarkan pandangannya dalam kondisi perasaan yang gemetar. Kedua kaki
Sapehan bahkan tidak mau diam karena gemetar mendadak.
“Su-su-suara siapa itu?” tanya Jambong dengan suara
gemetar jelas.
“Hoi!” Terdengar lagi suara teriakan seperti menghardik
orang yang jauh. Suaranya bergema.
Sruakrr!
Tiba-tiba terdengar suara dedaunan yang tertiup angin
kencang. Namun, ketika mereka melihat dedaunan yang bersuara berisik itu,
mereka melihat hanya di satu dahan di satu pohon. Sementara daun di dahan dan
pohon yang lain tidak bergerak sebrutal itu. Jelas itu kondisi yang aneh.
“Sapehan, coba kau panah ke dahan itu. Di sana pasti
ada dedemitnya!” kata Jambong sambil menunjuk ke dahan yang daunnya masih bergerak-gerak
seperti ada yang menggerakkannya.
“Ma-ma-mana berani aku,” jawab Sapehan, orang yang paling
tersiksa oleh ketakutan.
“Sini, biar aku yang memanah,” kata Tebak Urut, lalu
dia menghampiri Sapehan dan mengambil alih senjata panah.
Dengan perasaan yang was-was dan jantung berdegup
kencang, Tebak Urut lalu membidik ke arah dahan yang masih bergoyang riang
tanpa henti. Samar-samar tangan Tebak Urut juga gemetar.
Set!
Akhirnya anak panah di lepas ke atas.
“Huaaah!” teriak Jambong dan Sapehan kompak histeris saat
melihat dengan jelas anak panah itu tiba-tiba berbelok empat puluh lima derajat,
tanpa ada sentuhan apa pun.
“Pulang! Pulang!” teriak Jambong sambil berbalik lari
tunggang langgang.
Tanpa berisik, Tebak Urut juga berlari kabur. Namun,
dia cepat mengerem saat sadar bahwa Sapehan tidak bisa melangkah karena kakinya
gemetar dahsyat. Celananya tampak sudah basah.
Tebak Urut cepat mendatangi Sapehan. Tanpa
pertimbangan lagi, dia memanggul Sapehan dan membawanya lari tertatih. Urusan
bau pesing atau kena kencing, itu belakangan.
Arda Handara yang berdiri di atas dahan yang ia guncang-guncangkan hanya tertawa pada akhirnya. Tawanya meledak setelah ketiga orang desa itu telah jauh. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar