Pendekar Santai: Arda Dedemit (6)

(Gambar: Dreamina)

Jambong menghunus golok panjangnya. Tebak Urut bersiaga dengan tongkatnya. Dan Sapehan telah berhasil memasang anak panah di busur dengan tangan yang gemetar.

Sambil mereka melangkah pelan dengan jantung berdebar kencang dan keringat dingin muncul di kening, mereka juga memerhatikan area sekitar. Namun lagi-lagi anehnya, mereka tidak melihat keberadaan pemuda tanggung berpakaian warna merah-hitam.

Akhirnya mereka berhenti di dekat sebuah nangka muda yang tergeletak di rumput, di bawah pohon tangkil.

“Angin itu sudah biasa menjatuhkan buah, jadi tidak perlu heran,” kata Jambong dengan nada lambat karena menahan takut di saat ia berusaha berpikir rasional.

“I-i-iya biasa. Ta-ta-tapi angin tidak biasa menjatuhkan buah yang … yang masih muda,” kata Sapehan dengan suara gemetar pula. “Jatuhnya juga di lain emak.”

“Mungkin tadi jatuhnya di sebelah atas sana, lalu menggelinding ke sini,” kata Tebak Urut dengan suara yang lebih stabil.

Arda Handara hanya tersenyum geli mendengar obrolan bernada takut itu.

“Bawa pulang saja nangkanya untuk disayur,” kata Arda tidak bisa menahan diri.

“Tidak mau!” tolak Sapehan sambil memandang kepada Tebak Urut. Dia menyangka Tebak Urut yang memberi saran itu.

“Mana berani aku membawa buah yang tidak jelas pohonnya ada di mana?” kata Jambong sambil menengok kepada Tebak Urut. “Kau saja sendiri yang bawa pulang.”

Tebak Urut jadi terbeliak dan bingung mendengar kedua rekannya berkata seperti itu kepadanya.

Memang, Arda berbicara dengan posisi di belakang Tebak Urut, sehingga Jambong dan Sapehan menyangka Tebak Urut yang menyarankan membawa pulang buah nangka tersebut, padahal jenis suaranya saja berbeda.

Tebak Urut lalu menengok ke belakang. Dia tadi mendengar suara lain itu dari belakangnya. Namun, ketika dia menengok, dia tidak meliha sesiapa.

“Aku pasti ketakutan, membuat telingaku mengigau,” kata Tebak Urut di dalam hati. “Ah, tugas ini harus diselesaikan. Sudah hal biasa jika ada gangguan-gangguan kecil saat di gunung.”

Tebak Urut lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Dia tidak mempedulikan lagi si buah nangka muda. Ternyata Jambong dan Sapehan cepat mengikuti. Mereka terus mendaki. Sementara Arda memilih tertinggal. Dia tetap berdiri di tempatnya.

“Ayo, ayo!” Terdengar suara seorang lelaki.

Dua orang anak lelaki tiba-tiba muncul keluar dari balik semak belukar. Anak lelaki itu berusia sekita dua belas tahun. Salah satunya tidak lain adalah Klimot, adik Walung. Dia bersama rekan sebayanya yang bernama Angkur.

Mereka muncul setelah memastikan ketiga orang dewasa itu sudah jauh. Klimot cepat memungut nangka muda tadi.

Arda sebenarnya sudah mengetahui kehadiran dua anak yang lebih muda darinya itu. Karena itulah dia menahan diri untuk melihat keduanya muncul.

“Hahaha! Dasar orang-orang besar penakut. Hahaha!” kata Klimot lalu keduanya tertawa. Kedua anak itulah yang melempar nangka muda dari tempat persembunyiannya.

Mereka berdua tidak melihat keberadaan Arda Handara yang sedang menggunakan kesaktiannya yang bernama Wujud Halus.

“Hahahak!” tawa terbahak Arda Handara melihat kelakuan dua anak tersebut.

Suara tawa Arda yang cukup keras terdengar oleh Klimot dan Angkur. Itu membuat keduana terkejut dan berhenti berlari lalu saling pandang. Di saat mereka telah berhenti tertawa, justru ada suara tawa lain.

“Dedemit!” pekik Angkur lebih dulu, lalu lebih dulu juga berlari terbirit-birit.

Klimot juga langsung lari lagi, sampai-sampai dia tersandung dan jatuh.

“Hahahak!” kian kencang Arda Handara memperdengarkan tawanya.

Klimot dengan cekatan bangun dan tidak lupa memungut nangka muda hasil petikannya di pohon.

Ujung-ujungnya, setelah jauh berlari turun keduanya berhenti di kebun yang digarap oleh Sakuret.

“Ayah! Ayah! Ayah!” teriak Klimot memanggil Sakuret yang sedang mencangkuli tanah di sekitar pohon apel yang masih usia remaja.

Sakuret dipercaya oleh Ki Petonggo untuk mengurus kebun apel tersebut. Sementara Gegaba dipercaya mengurus sawah.

Terkejut Sakuret mendengar suara panggilan anaknya yang bernada panik.

“Klimot!” sebut Sakuret.

Klimot dan Angkur berhenti di depan Sakuret dengan napas benar-benar pahing-kliwon. Angkur langsung pergi mengambil wadah air milik Sakuret dan meminumnya langsung sampai tumpah-tumpah.

“Kalian dari mana? Kenapa ketakutan seperti ini?” tanya Sakuret setengah membentak.

“Dari atas, Ayah. Tapi … tapi ada dedemit!” jawab Klimot. Dia lalu gentian minum setelah Angkur memberinya wadah air.

“Untuk apa kalian ke atas? Sekarang kondisinya sedang tidak aman. Ada-ada saja!” omel Sakuret.

“Kita dapat nangka, Paman Sakuret,” jawab Angkur.

“Kalian bertemu dedemit di atas?” tanya Sakuret.

“Tidak bertemu, tetapi mendengar,” jawab Klimot.

“Mendengar apa?” tanya Sakuret lagi.

“Dedemit tertawa.”

“Seperti apa tawa dedemit? Aku tidak pernah mendengar dedemit tertawa,” tanya Sakuret.

“Hahahak!” Klimot dan Angkur kompak tertawa memperagakan.

“Ah, kalian ini. Itu tawa manusia, bukan dedemit. Kalian pasti mendengar suara tawa manusia. Mungkin kalian mendengar tawa Jambong, atau Tebak Urut, atau Sapehan. Mereka bertiga sedang naik ke atas,” kata Sakuret mulai tenang.

“Bukan, Ayah. Mereka juga ketakutan. Kami melihat mereka ketakutan melihat nangka ini jatuh di bawah pohon tangkil,” sangkal Klimot.

“Hahaha!” Angkur justru tertawa. Sepertinya ketakutannya sudah raib.

“Memangnya apa yang kalian lakukan terhadap ketiga orang itu?” tanya Sakuret jadi kepo.

Maka berceritalah Klimot dan Angkur dengan antusias.

“Hahahak!” Tertawa terbahak Sakuret mendengar cerita itu.

Sementara itu, Jambong dan kedua rekannya terus naik mendaki. Mereka menyempatkan diri pergi ke Telaga Bolong untuk mencari jejak kejadian luar biasa yang bisa mereka simpulkan adalah sumber suara ledakan kemarin.

Mereka menyisiri pinggiran telaga.

“Benar, Walung tadi mancing di sini,” kata Tebak Urut yang menemukan tempat umpan dan jejak bekicot di batu tempat Walung tadi memancing.

“Waspada! Tadi Walung mengatakan melihat sesuatu yang aneh di sini!” teriak Jambong.

Mereka bertiga berpencar di sekitar telaga itu untuk mencari-cari keanehan.

“Tebak Uruuut!” teriak Sapehan tiba-tiba yang membuat Jambong dan Tebak Urut jadi terkejut dan tegang.

Jambong dan Tebak Urut memandang kepada Sapehan yang datang berlari terbirit-birit.

“Ada apa? Ada apa?” tanya Jambong terbawa panik saat Sapehan sampai dengan napas tersengal-sengal.

“Ada ular besar!” jawab Sapehan sembari terengah-engah dengan wajah dibanjiri peluh.

“Kau ini,” ucap Tebak Urut dengan napas lemas tapi tanda kelegaan.

Jambong menepak kepala Sapehan.

“Ini di gunung, ada hutan, alam liar. Wajar jika ada ular. Tidak usah setakut itu, Sapehan!” kata Jambong gemas ingin mencekik Sapehan.

Sapehan hanya menyengir kambing, seolah mengakui kesalahannya.

“Ayo kita ke Kawah Peteng!” ajak Jambong.

“Kawah punyanya Ki Peteng Suro. Hahaha!” kata Sapehan. Dia sudah mulai berkelakar lagi.

Untuk sampai ke Kawah Peteng, mereka harus memutar ke sisi timur gunung karena kawah itu ada di sisi sana.

Saat mereka bertiga sedang berjalan di kawasan berhutan lebat, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh satu suara teriakan.

“Hoi!”

Sontak ketiga lelaki dewasa itu berhenti melangkah karena terkejut. Suara teriakan itu terdengar menggema.

Jambong dan kedua rekannya mendongak ke atas dan mengedarkan pandangannya dalam kondisi perasaan yang gemetar. Kedua kaki Sapehan bahkan tidak mau diam karena gemetar mendadak.

“Su-su-suara siapa itu?” tanya Jambong dengan suara gemetar jelas.

“Hoi!” Terdengar lagi suara teriakan seperti menghardik orang yang jauh. Suaranya bergema.

Sruakrr!

Tiba-tiba terdengar suara dedaunan yang tertiup angin kencang. Namun, ketika mereka melihat dedaunan yang bersuara berisik itu, mereka melihat hanya di satu dahan di satu pohon. Sementara daun di dahan dan pohon yang lain tidak bergerak sebrutal itu. Jelas itu kondisi yang aneh.

“Sapehan, coba kau panah ke dahan itu. Di sana pasti ada dedemitnya!” kata Jambong sambil menunjuk ke dahan yang daunnya masih bergerak-gerak seperti ada yang menggerakkannya.

“Ma-ma-mana berani aku,” jawab Sapehan, orang yang paling tersiksa oleh ketakutan.

“Sini, biar aku yang memanah,” kata Tebak Urut, lalu dia menghampiri Sapehan dan mengambil alih senjata panah.

Dengan perasaan yang was-was dan jantung berdegup kencang, Tebak Urut lalu membidik ke arah dahan yang masih bergoyang riang tanpa henti. Samar-samar tangan Tebak Urut juga gemetar.

Set!

Akhirnya anak panah di lepas ke atas.

“Huaaah!” teriak Jambong dan Sapehan kompak histeris saat melihat dengan jelas anak panah itu tiba-tiba berbelok empat puluh lima derajat, tanpa ada sentuhan apa pun.

“Pulang! Pulang!” teriak Jambong sambil berbalik lari tunggang langgang.

Tanpa berisik, Tebak Urut juga berlari kabur. Namun, dia cepat mengerem saat sadar bahwa Sapehan tidak bisa melangkah karena kakinya gemetar dahsyat. Celananya tampak sudah basah.

Tebak Urut cepat mendatangi Sapehan. Tanpa pertimbangan lagi, dia memanggul Sapehan dan membawanya lari tertatih. Urusan bau pesing atau kena kencing, itu belakangan.

Arda Handara yang berdiri di atas dahan yang ia guncang-guncangkan hanya tertawa pada akhirnya. Tawanya meledak setelah ketiga orang desa itu telah jauh. (RH) 

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar