Pendekar Santai: Naik Gunung (5)

(Gambar: Dreamina)

Jambong, Tebak Urut dan Sapehan. Itulah tiga lelaki Desa Peyek yang mengaku berani naik ke puncak untuk mencari tahu penyebab dua ledakan yang terdengar pada hari kemarin.

Ketiganya menghadap dan mendaftar kepada Juragan Sugarap Bondo karena juragan bambu weling itulah yang punya hajat.

“Jika kalian berhasil mengetahui penyebab ledakan kemarin dan membawa buktinya, maka aku akan membayar utuh. Namun, jika kalian gagal dan pulang tanpa hasil, aku hanya bayar setengah,” kata Juragan Sugarap.

“Bagaimana jika kami pulang dalam kondisi mati atau terluka, Juragan?” tanya Jambong, lelaki separuh baya yang berbadan paling besar.

“Jika terluka, itu bagian dari risiko pekerjaan. Jika mati, aku akan bayar penuh kepada keluarga kalian,” jawab Juragan Sugarap.

Itulah akad antara Juragan Sugarap Bondo dengan ketiga lelaki Desa Peyek tersebut.

Dari ketiga lelaki itu, Tebak Urut adalah jagoannya. Dalam arti bahwa dia yang memiliki sedikit ilmu bela diri. Untuk sekedar menaklukkan kerbau mengamuk, dia bisa lakukan. Karakternya pun lebih kalem dan rendah hati, selayaknya para pendekar pembela kebenaran.

Maka pagi itu, ketiganya berangkat menuju puncak. Ketiganya pun merasa merekalah orang-orang paling berani di Desa Peyek. Berbekal golok, tongkat hingga panahan, ketiganya berjalan dengan membusung dada di depan mata para warga Desa Peyek. Sampai-sampai Jambong dan Sapehan merasa perlu memakai ikat kepala yang warnanya mentereng, yaitu warna jingga.

“Mau ke mana, Jambong?” tanya seorang lelaki sepuh desa saat melihat ketiganya melintas.

“Mau ke puncak, mencari tahu sumber ledakan kemarin, Ki,” jawab Jambong.

“Wah hebat! Kalian memang lelaki-lelaki pemberani!” puji si aki-aki yang bertanya.

Ketiganya hanya tersenyum jumawa mendengar pujian itu.

“Kok seperti mau pergi perang? Mau ke mana kalian?” tanya Kepala Desa Peteng Suro saat melihat ketiganya melintas di depan rumah.

“Mau ke puncak, Ki,” jawab Jambong yang sepertinya bertindak sebagai juru bicara.

“Oh, kalian yang mendaftar kepada Juragan Sugarap?” terka Peteng Suro.

“Benar, Ki,” jawab Jambong.

“Kakang Tebak Urut mau mencari tahu suara keras kemarin?” tanya seorang gadis cantik yang mendadak muncul dari balik pintu. Dia Sumila, anak gadis Peteng Suro yang sempat disebut oleh istri Juragan Sugarap ketika membandingkannya dengan Walung Gigil.

“Iya.” Kali ini yang menjawab adalah Tebak Urut, sambil tersenyum malu. Dia masih jomblo meski sudah beristri. Istrinya telah meninggal muda dua kali. Artinya dua kali beristri, dua kali ditinggal mati istri.

Jadi, Tebak Urut memiliki kisah cinta yang menyedihkan di usia tiga puluh lima tahun. Karena kisah sedih itu pula, perjalanan cintanya kian kelam. Pasalnya semua orangtua dari perempuan takut jika putrinya menikah dengan Tebak Urut yang duda muda.

“Hati-hati, Kakang. Gunung itu tinggi dan berhutan,” pesan Sumila.

“Iya,” jawab Tebak Urut singkat dan malu-malu.

“Iya, kalian harus berhati-hati. Jika kalian menemukan sesuatu, jangan lupa beri tahu aku juga. Sebagai kepala desa, aku berhak tahu segala sesuatu yang terkait dengan Desa Peyek,” kata Peteng Suro.

“Siap, Ki. Pokoknya dijamin aman, lancar dan terkendali. Kami izin pergi, Ki,” kata Jambong santai dan yakin.

Maka, mereka pun pergi. Di dalam perjalanan mereka masih harus menjawab banyaknya warga yang bertanya, terkhusus ketika mereka berjumpa dengan warga yang kerjanya di sawah dan kebun, yang notabene berada di kaki dan pinggang gunung. Mayoritas warga berpesan agar hati-hati.

Ketiganya agak terkejut ketika mereka justru berjumpa dengan Walung di pinggang gunung di dekat Telaga Bolong.

“Sedang apa kau di sini, Walung?” tanya Jambong.

“Aku pikir kau ikut Baden Ronto ke Ibu Kota,” kata Sapehan dengan maksud menggoda Walung. Mereka sama-sama tahu bahwa Walung dekat dengan putra Juragan Sugarap.

“Memancing di telaga,” jawab Walung tanpa mengindahkan godaan Sapehan.

Mereka semua sudah tahu dan mendengar ceritanya bahwa Walung suka memancing di Telaga Bolong, terlebih lokasi kebun yang digarap oleh ayahnya tidak jauh di sisi bawah.

“Lalu di mana kail atau ikanmu?” tanya Jambong curiga.

“Jatuh ke telaga ditarik ikan,” jawab Walung. “Kakang bertiga mau ke mana? Bukankah tidak ada orang yang berani naik karena suara keras kemarin?”

Salah satu karakter Walung Gigil adalah interaktif, tidak pasif hanya menjawab jika ditanya.

“Kau sendiri saja tidak takut. Kenapa kami sebagai lelaki harus takut?” jawab Jambong dengan sedikit cerdas demi menutupi alasan sebenarnya.

“Hmmm, pasti Kakang bertiga dibayar oleh Juragan Sugarap,” terka Walung.

“Bayarannya tinggi, Walung,” kata Sapehan yang otomatis mengonfirmasi terkaan Walung.

Walung jadi manggut-manggut.

“Tapi aku percaya. Apalagi ada Kakang Tebak Urut,” kata Walung yang secara tidak langsung memuji Tebak Urut.

Duda muda itu hanya tersenyum tipis seraya mengangguk samar, menunjukkan kerendahhatiannya.

“Tapi hati-hati, Kakang. Sebab tadi aku melihat sesuatu yang aneh di dekat telaga,” kata Walung dengan setengah berbisik tanpa mendekatkan wajah cantiknya.

Tergerak lingkar mata ketiga lelaki itu mendengar kata-kata Walung.

“Maksudmu aneh yang bagaimana, Walung?” tanya Jambong segera.

“Yaaa, pokoknya aneh saja menurutku. Sulit dijelaskan dengan kata-kata, Kakang,” jawab Walung.

“Kau jangan usil, Walung!” hardik Sapehan yang jadi terpengaruh.

“Hihihi! Aku permisi, Kakang,” ucap Walung sambil tertawa.

Gadis itupun pergi sambil tertawa-tawa kecil.

“Anak itu hanya mengusili kita, tidak usah dihiraukan!” kata Sapehan sewot. “Lihat saja dia tertawa-tawa.”

“Ayo jalan!” ajak Jambong.

Ketiga lelaki itu kembali menanjak untuk mulai memasuki kawasan berhutan Gunung Pekuk.

Tanpa mereka ketahui, ada sesosok warna merah yang memerhatikan mereka dari atas pohon, dekat dengan mereka. Sosok itu tidak lain adalah Arda Handara. Keberadaannya di saat itu karena dia diam-diam mengikuti Walung.

Ia mendengar jelas percakapan antara Walung dan ketiga lelaki desa tersebut. Ia bahkan tersenyum ketika mendengar Walung mengatakan telah melihat sesuatu yang aneh di telaga.

Namun, Arda memutuskan tidak melanjutkan mengikuti Walung, tetapi berganti mengikuti dan mengawasi Jambong beserta kedua rekannya.

“Jika bukan karena untuk membayar utang, tidak sudi juga aku mendaftar untuk naik ke sini,” kata Sapehan dengan nada seperti wanita sedang datang bulan. “Padahal yang kita dengar kemarin itu hanya suara petir.”

“Dari kemarin kau mengatakan itu petir. Petir dari mana yang suaranya seperti itu?” kata Jambong. “Setidaknya kita sudah memegang setengah bayaran jika nanti kita hanya naik turun saja.”

“Tapi tetap saja kita harus ada laporan kepada Juragan Sugarap. Aku sedang memikirkan hal aneh apa yang kita lihat di puncak gunung. Kita bisa mengarang cerita bahwa kita menemukan batu yang hancur dan gosong. Kau bisa menyimpulkan apa yang terjadi dengan laporan seperti itu, Kakang?” kata Sapehan.

“Batu itu terkena petir,” jawab Jambong.

“Betul!” pekik Sapehan sambil menunjuk rekannya, membenarkan jawaban itu.

“Tapi kemarin itu cerah. Apakah masuk akal jika terjadi petir?” kritik Jambong.

“Itu di luar kuasa kita. Mau hujan atau tidak, yang jelas kita menemukan batu hangus. Bukankah Juragan Sugarap meminta bukti? Kita cari saja batu yang berwarna hitam yang hitamnya mirip-mirip usai terbakar. Nah, karena suara itu dua kali, kita buat korban keduanya. Kita bakar kayu dan bilang bahwa kita menemukan pohon tumbang yang batangnya hangus. Bukankah ceritaku sempurna? Hahaha!”

Jambong dan Tebak Urut hanya memandangi Sapehan yang tertawa, merasa bangga dengan cerita karangannya.

“Lebih baik jangan, Kakang. Kita dibayar mahal. Kalau sampai kita ketahuan berbohong, aku khawatir Juragan murka kepada kita,” kata Tebak Urut.

“Benar itu, Tebak,” kata Jambong. Dia lalu melanjutkan langkahnya.

“Aaah kalian ini, sulit untuk diajak cari jalan mudah,” gerutu Sapehan. Ia pun melajutkan pendakiannya.

Tanpa mereka ketahui, jumlah mereka ada empat orang. Itu karena kini Arda Handara berjalan bersama mereka dan menyimak setiap obrolan yang tercipta. Namun, mereka bertiga seperti benar-benar tidak bisa melihat atau merasakan keberadaan Arda Handara yang ikut mendaki. Mirip cerita horor pendakian gunung.

“Tebak Urut, sepertinya Sumila jatuh hati kepadamu. Hahaha!” kata Sapehan.

“Tidak mungkin, Kakang. Gadis mana yang berani jadi istriku? Mereka semua takut mati muda,” kata Tebak Urut.

“Sabar, Kawan. Aku yakin, ketika kau mendapatkan jodohmu, pasti adalah wanita yang paling cantik se-Kadipaten Puntung,” kata Sapehan optimis lalu menepuk dua kali bahu rekannya itu.

“Kau seperti dukun saja,” timpal Jambong.

Dug!

“Apa itu!” teriak Sapehan kencang karena saking terkejutnya mendengar suara benda jatuh.

Meski Sapehan yang berteriak tegang, tetapi mereka sama-sama terlompat dan tegang.

“Nangka busuk!” kata Jambong lega saat matanya menemukan sebuah nangka di rerumputan dekat pohon.

“Itu nangka muda, bukan nangka busuk,” kata Tebak Urut. Lalu katanya lagi yang membuat mereka kian tegang, “Tapi kenapa jatuhnya di bawah pohon tangkil?” (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar