Jambong, Tebak Urut dan Sapehan. Itulah tiga lelaki Desa Peyek yang mengaku berani naik ke puncak untuk mencari tahu penyebab dua ledakan yang terdengar pada hari kemarin.
Ketiganya menghadap dan mendaftar kepada Juragan
Sugarap Bondo karena juragan bambu weling itulah yang punya hajat.
“Jika kalian berhasil mengetahui penyebab ledakan
kemarin dan membawa buktinya, maka aku akan membayar utuh. Namun, jika kalian
gagal dan pulang tanpa hasil, aku hanya bayar setengah,” kata Juragan Sugarap.
“Bagaimana jika kami pulang dalam kondisi mati atau
terluka, Juragan?” tanya Jambong, lelaki separuh baya yang berbadan paling
besar.
“Jika terluka, itu bagian dari risiko pekerjaan. Jika
mati, aku akan bayar penuh kepada keluarga kalian,” jawab Juragan Sugarap.
Itulah akad antara Juragan Sugarap Bondo dengan ketiga
lelaki Desa Peyek tersebut.
Dari ketiga lelaki itu, Tebak Urut adalah jagoannya.
Dalam arti bahwa dia yang memiliki sedikit ilmu bela diri. Untuk sekedar
menaklukkan kerbau mengamuk, dia bisa lakukan. Karakternya pun lebih kalem dan
rendah hati, selayaknya para pendekar pembela kebenaran.
Maka pagi itu, ketiganya berangkat menuju puncak.
Ketiganya pun merasa merekalah orang-orang paling berani di Desa Peyek.
Berbekal golok, tongkat hingga panahan, ketiganya berjalan dengan membusung
dada di depan mata para warga Desa Peyek. Sampai-sampai Jambong dan Sapehan
merasa perlu memakai ikat kepala yang warnanya mentereng, yaitu warna jingga.
“Mau ke mana, Jambong?” tanya seorang lelaki sepuh
desa saat melihat ketiganya melintas.
“Mau ke puncak, mencari tahu sumber ledakan kemarin,
Ki,” jawab Jambong.
“Wah hebat! Kalian memang lelaki-lelaki pemberani!”
puji si aki-aki yang bertanya.
Ketiganya hanya tersenyum jumawa mendengar pujian itu.
“Kok seperti mau pergi perang? Mau ke mana kalian?”
tanya Kepala Desa Peteng Suro saat melihat ketiganya melintas di depan rumah.
“Mau ke puncak, Ki,” jawab Jambong yang sepertinya
bertindak sebagai juru bicara.
“Oh, kalian yang mendaftar kepada Juragan Sugarap?”
terka Peteng Suro.
“Benar, Ki,” jawab Jambong.
“Kakang Tebak Urut mau mencari tahu suara keras
kemarin?” tanya seorang gadis cantik yang mendadak muncul dari balik pintu. Dia
Sumila, anak gadis Peteng Suro yang sempat disebut oleh istri Juragan Sugarap
ketika membandingkannya dengan Walung Gigil.
“Iya.” Kali ini yang menjawab adalah Tebak Urut,
sambil tersenyum malu. Dia masih jomblo meski sudah beristri. Istrinya telah
meninggal muda dua kali. Artinya dua kali beristri, dua kali ditinggal mati
istri.
Jadi, Tebak Urut memiliki kisah cinta yang menyedihkan
di usia tiga puluh lima tahun. Karena kisah sedih itu pula, perjalanan cintanya
kian kelam. Pasalnya semua orangtua dari perempuan takut jika putrinya menikah
dengan Tebak Urut yang duda muda.
“Hati-hati, Kakang. Gunung itu tinggi dan berhutan,”
pesan Sumila.
“Iya,” jawab Tebak Urut singkat dan malu-malu.
“Iya, kalian harus berhati-hati. Jika kalian menemukan
sesuatu, jangan lupa beri tahu aku juga. Sebagai kepala desa, aku berhak tahu
segala sesuatu yang terkait dengan Desa Peyek,” kata Peteng Suro.
“Siap, Ki. Pokoknya dijamin aman, lancar dan
terkendali. Kami izin pergi, Ki,” kata Jambong santai dan yakin.
Maka, mereka pun pergi. Di dalam perjalanan mereka
masih harus menjawab banyaknya warga yang bertanya, terkhusus ketika mereka
berjumpa dengan warga yang kerjanya di sawah dan kebun, yang notabene berada di
kaki dan pinggang gunung. Mayoritas warga berpesan agar hati-hati.
Ketiganya agak terkejut ketika mereka justru berjumpa
dengan Walung di pinggang gunung di dekat Telaga Bolong.
“Sedang apa kau di sini, Walung?” tanya Jambong.
“Aku pikir kau ikut Baden Ronto ke Ibu Kota,” kata Sapehan
dengan maksud menggoda Walung. Mereka sama-sama tahu bahwa Walung dekat dengan
putra Juragan Sugarap.
“Memancing di telaga,” jawab Walung tanpa mengindahkan
godaan Sapehan.
Mereka semua sudah tahu dan mendengar ceritanya bahwa
Walung suka memancing di Telaga Bolong, terlebih lokasi kebun yang digarap oleh
ayahnya tidak jauh di sisi bawah.
“Lalu di mana kail atau ikanmu?” tanya Jambong curiga.
“Jatuh ke telaga ditarik ikan,” jawab Walung. “Kakang
bertiga mau ke mana? Bukankah tidak ada orang yang berani naik karena suara
keras kemarin?”
Salah satu karakter Walung Gigil adalah interaktif,
tidak pasif hanya menjawab jika ditanya.
“Kau sendiri saja tidak takut. Kenapa kami sebagai
lelaki harus takut?” jawab Jambong dengan sedikit cerdas demi menutupi alasan
sebenarnya.
“Hmmm, pasti Kakang bertiga dibayar oleh Juragan
Sugarap,” terka Walung.
“Bayarannya tinggi, Walung,” kata Sapehan yang otomatis
mengonfirmasi terkaan Walung.
Walung jadi manggut-manggut.
“Tapi aku percaya. Apalagi ada Kakang Tebak Urut,”
kata Walung yang secara tidak langsung memuji Tebak Urut.
Duda muda itu hanya tersenyum tipis seraya mengangguk
samar, menunjukkan kerendahhatiannya.
“Tapi hati-hati, Kakang. Sebab tadi aku melihat
sesuatu yang aneh di dekat telaga,” kata Walung dengan setengah berbisik tanpa
mendekatkan wajah cantiknya.
Tergerak lingkar mata ketiga lelaki itu mendengar
kata-kata Walung.
“Maksudmu aneh yang bagaimana, Walung?” tanya Jambong
segera.
“Yaaa, pokoknya aneh saja menurutku. Sulit dijelaskan
dengan kata-kata, Kakang,” jawab Walung.
“Kau jangan usil, Walung!” hardik Sapehan yang jadi
terpengaruh.
“Hihihi! Aku permisi, Kakang,” ucap Walung sambil
tertawa.
Gadis itupun pergi sambil tertawa-tawa kecil.
“Anak itu hanya mengusili kita, tidak usah dihiraukan!”
kata Sapehan sewot. “Lihat saja dia tertawa-tawa.”
“Ayo jalan!” ajak Jambong.
Ketiga lelaki itu kembali menanjak untuk mulai
memasuki kawasan berhutan Gunung Pekuk.
Tanpa mereka ketahui, ada sesosok warna merah yang
memerhatikan mereka dari atas pohon, dekat dengan mereka. Sosok itu tidak lain
adalah Arda Handara. Keberadaannya di saat itu karena dia diam-diam mengikuti
Walung.
Ia mendengar jelas percakapan antara Walung dan ketiga
lelaki desa tersebut. Ia bahkan tersenyum ketika mendengar Walung mengatakan
telah melihat sesuatu yang aneh di telaga.
Namun, Arda memutuskan tidak melanjutkan mengikuti
Walung, tetapi berganti mengikuti dan mengawasi Jambong beserta kedua rekannya.
“Jika bukan karena untuk membayar utang, tidak sudi
juga aku mendaftar untuk naik ke sini,” kata Sapehan dengan nada seperti wanita
sedang datang bulan. “Padahal yang kita dengar kemarin itu hanya suara petir.”
“Dari kemarin kau mengatakan itu petir. Petir dari
mana yang suaranya seperti itu?” kata Jambong. “Setidaknya kita sudah memegang
setengah bayaran jika nanti kita hanya naik turun saja.”
“Tapi tetap saja kita harus ada laporan kepada Juragan
Sugarap. Aku sedang memikirkan hal aneh apa yang kita lihat di puncak gunung.
Kita bisa mengarang cerita bahwa kita menemukan batu yang hancur dan gosong.
Kau bisa menyimpulkan apa yang terjadi dengan laporan seperti itu, Kakang?”
kata Sapehan.
“Batu itu terkena petir,” jawab Jambong.
“Betul!” pekik Sapehan sambil menunjuk rekannya,
membenarkan jawaban itu.
“Tapi kemarin itu cerah. Apakah masuk akal jika
terjadi petir?” kritik Jambong.
“Itu di luar kuasa kita. Mau hujan atau tidak, yang
jelas kita menemukan batu hangus. Bukankah Juragan Sugarap meminta bukti? Kita
cari saja batu yang berwarna hitam yang hitamnya mirip-mirip usai terbakar.
Nah, karena suara itu dua kali, kita buat korban keduanya. Kita bakar kayu dan bilang
bahwa kita menemukan pohon tumbang yang batangnya hangus. Bukankah ceritaku
sempurna? Hahaha!”
Jambong dan Tebak Urut hanya memandangi Sapehan yang
tertawa, merasa bangga dengan cerita karangannya.
“Lebih baik jangan, Kakang. Kita dibayar mahal. Kalau
sampai kita ketahuan berbohong, aku khawatir Juragan murka kepada kita,” kata
Tebak Urut.
“Benar itu, Tebak,” kata Jambong. Dia lalu melanjutkan
langkahnya.
“Aaah kalian ini, sulit untuk diajak cari jalan mudah,”
gerutu Sapehan. Ia pun melajutkan pendakiannya.
Tanpa mereka ketahui, jumlah mereka ada empat orang.
Itu karena kini Arda Handara berjalan bersama mereka dan menyimak setiap
obrolan yang tercipta. Namun, mereka bertiga seperti benar-benar tidak bisa
melihat atau merasakan keberadaan Arda Handara yang ikut mendaki. Mirip cerita horor
pendakian gunung.
“Tebak Urut, sepertinya Sumila jatuh hati kepadamu.
Hahaha!” kata Sapehan.
“Tidak mungkin, Kakang. Gadis mana yang berani jadi
istriku? Mereka semua takut mati muda,” kata Tebak Urut.
“Sabar, Kawan. Aku yakin, ketika kau mendapatkan
jodohmu, pasti adalah wanita yang paling cantik se-Kadipaten Puntung,” kata
Sapehan optimis lalu menepuk dua kali bahu rekannya itu.
“Kau seperti dukun saja,” timpal Jambong.
Dug!
“Apa itu!” teriak Sapehan kencang karena saking
terkejutnya mendengar suara benda jatuh.
Meski Sapehan yang berteriak tegang, tetapi mereka
sama-sama terlompat dan tegang.
“Nangka busuk!” kata Jambong lega saat matanya
menemukan sebuah nangka di rerumputan dekat pohon.
“Itu nangka muda, bukan nangka busuk,” kata Tebak
Urut. Lalu katanya lagi yang membuat mereka kian tegang, “Tapi kenapa jatuhnya
di bawah pohon tangkil?” (RH)


0 komentar:
Posting Komentar