Setelah melewati hari ini, Sakuret harus mengakui kebenaran ayahnya bahwa Gunung Pekuk bukanlah gunung api, jadi tidak akan meletus sampai kapan pun.
Dua suara
ledakan keras yang didengar oleh penghuni Desa Peyek memang benar berasal dari
puncak Gunung Pekuk. Ledakan itu berasal dari peledakan di sebuah dinding batu
oleh pemuda tampan berpakaian merah.
Arda Handara.
Itulah nama remaja berambut gondrong dan terkesan berbadan pendek tersebut.
Ketika dia
mendarat dari terbangnya bersama Tongkat Kerbau Merah, dia sudah kehilangan
visual sketsa kepala ular yang tadi dilihatnya dari awan. Sketsa kepala ular
itu memang harus dilihat dari posisi yang jauh lebih tinggi dari puncak.
Namun, petunjuk
yang Arda Handara miliki adalah mencari dua mata ular. Tidak butuh waktu lama,
Arda menemukan dua mata ular itu dalam wujud dua tonjolan di dinding batu nan
tinggi. Dua batu besar dan cenderung bulat yang ada di dinding memberikan
bentuk yang mirip dengan mata ular.
“Butakan kedua
mata ular.”
Itu kalimat
perintah dari petunjuk yang diberikan oleh Naga Jingga, abdi setia dari Arda
Handara.
Press! Bluarr!
Arda Handara
memunculkan sinar putih menyilaukan mata di tangan kanannya. Sinar putih itu
lalu dilesatkan menghantam batu besar yang dianggap sebagai bola mata ular di
dinding batu.
Batu itu
hancur lebur berkeping-keping. Ketika sinar putih menyilaukan menghantam, tanah
gunung itu sempat bergetar sangat singkat. Burung-burung yang ada di area hutan
gunung jadi berhamburan terbang karena terkejut.
Itulah suara
ledakan pertama yang didengar oleh warga Desa Peyek. Mengejutkan dan menakuti
warga.
Kini, di
dinding batu ada sebuah lubang besar yang terbilang cukup rapi. Lubang itu bisa
dimasuki oleh tubuh manusia.
“Benar.
Seharusnya kehancuran batu itu tidak sampai menimbulkan gempa. Itu menunjukkan batu
itu memiliki keterikatan dengan sesuatu yang sangat besar,” pikir Arda.
Arda lalu
pergi mendekati dinding batu. Dia lalu melompat naik. Jari-jari tangan kanannya
langsung mengait di pinggiran lubang batu yang baru saja dihancurkan olehnya.
Arda menaikkan
badannya sehingga bisa naik dan duduk di lubang. Lubang itu ternyata lebar di
depan, tapi sempit ke dalam, seperti lubang kerucut. Namun ada yang agak aneh,
lubang itu rapi seperti memang sudah terbentuk jauh sebelumnya. Jadi, tetap
saja Arda tidak bisa melihat tembus ke dalam lubang yang gelap gulita.
“Butakan kedua
mata ular,” ucap Arda seraya manggut-manggut.
Dia lalu melompat
turun lagi, kemudian mengambil jarak. Bahkan menyempatkan diri melompat-lompat
di tempat untuk memasang kuda-kuda. Untuk lebih mendramatisir, Arda menambahkan
teriakan seperti orang sedang menghadapi lawan nan kuat.
“Hiaaat!”
Presss!
Bluarrr!
Arda kembali
memunculkan sinar putih menyilaukan di tangan kanannya, sebuah kesaktian
tingkat tinggi yang bernama Surya Langit Jagad.
Sinar itu dia
lepaskan dan melesat menghantam tonjolan batu besar yang dianggap sebagai mata ular
kedua.
Ledakan
dahsyat terjadi dan terdengar hingga ke kaki gunung. Gunung itupun terguncang
halus untuk sesaat, kejadian yang tanpa Arda ketahui telah membuat takut dan
panik warga Desa Peyek di bawah sana.
Bregr!
Setelah
tercipta dua lubang di tebing batu, dibutuhkan waktu selama sepuluh detik baru
terjadi sesuatu buah dari penghancuran dua kali tersebut.
Tiba-tiba
tebing batu di depan Arda bersuara pergeseran batu nan besar. Dinding batu itu
bergerak dan menggugurkan material halus berupa kerikil dan debu tebal.
Arda melangkah
mundur untuk menghindari longsor debu.
Dinding batu yang
benar-benar bergerak itu terus mengeluarkan suara pergeseran batu besar, tetapi
suara itu tidak sampai terdengar jauh atau mengguncang tanah gunung.
Meski ditutupi
oleh tebalnya debu, terlihat jelas bahwa batu tebing itu bergerak membuka
membelah diri. Tidak hanya bergerak membuka ke kanan dan ke kiri, tetapi juga
bergerak ke bawah.
“Benar. Istana
Raja Ular,” ucap Arda lirih. Dia masih berdiri menunggu.
Ia tebas-tebas
pakaian bagusnya dengan tangannya, termasuk rambutnya yang ditempeli debu.
Pada akhirnya,
pergerakan dinding batu selesai dan debu yang runtuh pun telah buyar ditiup angin.
Kini
terpampanglah sebuah mulut gua yang tinggi dan lebar. Ternyata di balik lapisan
dinding batu yang terbuka itu ada gerbang besar lain yang tertutup. Gerbang itu
berwarna jingga yang gelap. Usia yang terlalu lama membuat gerbang jingga itu
digelapi oleh jamur atau sejenis lumut yang kering, bahkan ada tamubuhan rambat
yang menempel.
Itu dipastikan
adalah sebuah gerbang karena memiliki garis tengah yang lurus dari atas sampai
ke dasar. Ada relief pada dinding gerbang jingga itu yang jika diperhatikan
gambarnya membentuk gambar liukan-liukan badan tiga ekor ular besar.
Disimpulkan tiga ekor ular karena ada tiga kepala ular yang jelas keberadaannya
di dalam relief.
Arda Handara
lalu maju dan memasuki gua. Butuh masuk sejauh dua tombak saja untuk sampai
kepada gerbang berwarna jingga. Dia menyentuhkan tangan kanannya kepada gerbang
itu.
“Logam apa
ini?” tanya Arda kepada dirinya sendiri saat merasakan bahan gerbang tersebut. “Bagaimana
cara membukanya? Kenapa tidak terbuka dua-duanya?”
Kondisi itu
membuat Arda harus berpikir lagi.
“Naga Jingga!”
kata Arda menyebut satu nama. Dia sepertinya memanggil.
“Hamba, Gusti
Prabu,” sahut satu suara wanita nan lembut, tetapi tidak terlihat wujud keberadaan
pemiliknya.
“Kau tahu cara
masuk ke dalam Istana Raja Ular ini?” tanya Arda Handara dengan pandangan tetap
ke dinding gerbang logam warna jingga seperti tembaga tersebut.
“Sangat tahu,
Gusti Prabu,” jawab suara tersebut.
“Bagaimana?”
tanya Arda.
“Mohon ampun,
Gusti Prabu. Gusti adalah anak yang cerdas. Urusan membuka gerbang Istana Raja
Ular adalah perkara mudah. Aku tidak mau memanjakan Gusti Prabu yang sakti ini,”
kata suara wanita tanpa wujud itu.
Terbeliak Arda
Handara mendengar penolakan suara wanita tersebut.
“Naga Jingga,
beraninya kau menentang perintah tuanmu!” hardik Arda dengan mata mendelik kepada
sembarang arah.
“Hihihi!” Suara
wanita itu justru tertawa. Jelas-jelas dia menertawakan Arda Handara yang
disebutnya “Gusti Prabu”.
Suara tawa
wanita yang bernama Naga Jingga itu hilang. Arda tediam. Dia akhirnya lebih
memerhatikan gerbang jingga tersebut.
Arda lalu
mundur lagi. Dan ketika dia mundur, dia menemukan sesuatu yang menurut
analisanya, itu berkemungkinan sebagai kunci pembuka gerbang tersebut.
Yang ditemukan
oleh mata Arda adalah sebuah lubang batu yang ada tepat di depan ujung bawah garis
tengah gerbang. Lubang itu selebar batok kelapa dewasa.
Arda maju lagi
mendatangi lubang hitam tersebut. Arda mengintip lubang itu. Warnanya hitam
karena cahaya tidak masuk ke dalamnya.
Tanpa takut
akan ancaman patukan ular, Arda memasukkan tangan kanannya ke dalam lubang.
Tangan itu terhenti hingga sebatas lengan.
Di dalam sana,
jari-jari tangan Arda meraba dan memegang benda keras yang berlubang dan bisa
digenggam dengan sempurna.
Arda mencoba
menarik dengan kuat, sampai urat lehernya menegang. Arda merasakan bahwa benda
yang digenggamnya tertarik sedikit, lalu tidak bisa lagi.
“Ini bisa
ditarik keluar, tetapi perlu tenaga besar,” batin Arda. “Naga Jingga
benar-benar mengerjaiku.”
Maka Arda
menarik napas yang panjang, lalu menahannya, dan dia menyalurkan tenaga dalamnya
ke tangan kanannya. Ia pun menarik.
Sreeetr!
Benar saja,
Arda berhasil menarik, bahkan sampai tertarik keluar dari lubang. Arda agak
terkejut bahwa ia menarik rantai bersinar emas, padahal tadi di dalam lubang
itu gelap.
Rantai itu
tertarik sampai putus atau sampai habis.
Namun, Arda
agak terkejut karena rantai besar bersinar emas itu tiba-tiba bergerak sendiri
melilit tangan kanan Arda hingga ketiak. Rantai yang panjangnya dua kali
panjang tangan Arda tersebut lalu lenyap seperti masuk tenggelam ke dalam
tangan itu tanpa merusak tangan baju si pemuda. Kejadiannya cepat sekali.
Terdiam
mematung Arda menyaksikan kejadian itu. Namun, dia tidak merasakan rasa sakit
apa-apa, kecuali rasa kesemutan pada tangan kanannya.
“Apa yang
terjadi? Apa maksud rantai emas itu masuk ke dalam tanganku?” tanya Arda kepada
dirinya sendiri.
Jregereg!
Di saat Arda
kebingungan seperti itu, tiba-tiba gerbang jingga itu bergerak membuka ke kanan
dan ke kiri, membuka sebuah ruang yang dari dalamnya langsung memancarkan
cahaya jingga. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar