Pendekar Santai: Gerbang Jingga (2)


Setelah melewati hari ini, Sakuret harus mengakui kebenaran ayahnya bahwa Gunung Pekuk bukanlah gunung api, jadi tidak akan meletus sampai kapan pun.

Dua suara ledakan keras yang didengar oleh penghuni Desa Peyek memang benar berasal dari puncak Gunung Pekuk. Ledakan itu berasal dari peledakan di sebuah dinding batu oleh pemuda tampan berpakaian merah.

Arda Handara. Itulah nama remaja berambut gondrong dan terkesan berbadan pendek tersebut.

Ketika dia mendarat dari terbangnya bersama Tongkat Kerbau Merah, dia sudah kehilangan visual sketsa kepala ular yang tadi dilihatnya dari awan. Sketsa kepala ular itu memang harus dilihat dari posisi yang jauh lebih tinggi dari puncak.

Namun, petunjuk yang Arda Handara miliki adalah mencari dua mata ular. Tidak butuh waktu lama, Arda menemukan dua mata ular itu dalam wujud dua tonjolan di dinding batu nan tinggi. Dua batu besar dan cenderung bulat yang ada di dinding memberikan bentuk yang mirip dengan mata ular.

“Butakan kedua mata ular.”

Itu kalimat perintah dari petunjuk yang diberikan oleh Naga Jingga, abdi setia dari Arda Handara.

Press! Bluarr!

Arda Handara memunculkan sinar putih menyilaukan mata di tangan kanannya. Sinar putih itu lalu dilesatkan menghantam batu besar yang dianggap sebagai bola mata ular di dinding batu.

Batu itu hancur lebur berkeping-keping. Ketika sinar putih menyilaukan menghantam, tanah gunung itu sempat bergetar sangat singkat. Burung-burung yang ada di area hutan gunung jadi berhamburan terbang karena terkejut.

Itulah suara ledakan pertama yang didengar oleh warga Desa Peyek. Mengejutkan dan menakuti warga.

Kini, di dinding batu ada sebuah lubang besar yang terbilang cukup rapi. Lubang itu bisa dimasuki oleh tubuh manusia.

“Benar. Seharusnya kehancuran batu itu tidak sampai menimbulkan gempa. Itu menunjukkan batu itu memiliki keterikatan dengan sesuatu yang sangat besar,” pikir Arda.

Arda lalu pergi mendekati dinding batu. Dia lalu melompat naik. Jari-jari tangan kanannya langsung mengait di pinggiran lubang batu yang baru saja dihancurkan olehnya.

Arda menaikkan badannya sehingga bisa naik dan duduk di lubang. Lubang itu ternyata lebar di depan, tapi sempit ke dalam, seperti lubang kerucut. Namun ada yang agak aneh, lubang itu rapi seperti memang sudah terbentuk jauh sebelumnya. Jadi, tetap saja Arda tidak bisa melihat tembus ke dalam lubang yang gelap gulita.

“Butakan kedua mata ular,” ucap Arda seraya manggut-manggut.

Dia lalu melompat turun lagi, kemudian mengambil jarak. Bahkan menyempatkan diri melompat-lompat di tempat untuk memasang kuda-kuda. Untuk lebih mendramatisir, Arda menambahkan teriakan seperti orang sedang menghadapi lawan nan kuat.

“Hiaaat!”

Presss! Bluarrr!

Arda kembali memunculkan sinar putih menyilaukan di tangan kanannya, sebuah kesaktian tingkat tinggi yang bernama Surya Langit Jagad.

Sinar itu dia lepaskan dan melesat menghantam tonjolan batu besar yang dianggap sebagai mata ular kedua.

Ledakan dahsyat terjadi dan terdengar hingga ke kaki gunung. Gunung itupun terguncang halus untuk sesaat, kejadian yang tanpa Arda ketahui telah membuat takut dan panik warga Desa Peyek di bawah sana.

Bregr!

Setelah tercipta dua lubang di tebing batu, dibutuhkan waktu selama sepuluh detik baru terjadi sesuatu buah dari penghancuran dua kali tersebut.

Tiba-tiba tebing batu di depan Arda bersuara pergeseran batu nan besar. Dinding batu itu bergerak dan menggugurkan material halus berupa kerikil dan debu tebal.

Arda melangkah mundur untuk menghindari longsor debu.

Dinding batu yang benar-benar bergerak itu terus mengeluarkan suara pergeseran batu besar, tetapi suara itu tidak sampai terdengar jauh atau mengguncang tanah gunung.

Meski ditutupi oleh tebalnya debu, terlihat jelas bahwa batu tebing itu bergerak membuka membelah diri. Tidak hanya bergerak membuka ke kanan dan ke kiri, tetapi juga bergerak ke bawah.

“Benar. Istana Raja Ular,” ucap Arda lirih. Dia masih berdiri menunggu.

Ia tebas-tebas pakaian bagusnya dengan tangannya, termasuk rambutnya yang ditempeli debu.

Pada akhirnya, pergerakan dinding batu selesai dan debu yang runtuh pun telah buyar ditiup angin.

Kini terpampanglah sebuah mulut gua yang tinggi dan lebar. Ternyata di balik lapisan dinding batu yang terbuka itu ada gerbang besar lain yang tertutup. Gerbang itu berwarna jingga yang gelap. Usia yang terlalu lama membuat gerbang jingga itu digelapi oleh jamur atau sejenis lumut yang kering, bahkan ada tamubuhan rambat yang menempel.

Itu dipastikan adalah sebuah gerbang karena memiliki garis tengah yang lurus dari atas sampai ke dasar. Ada relief pada dinding gerbang jingga itu yang jika diperhatikan gambarnya membentuk gambar liukan-liukan badan tiga ekor ular besar. Disimpulkan tiga ekor ular karena ada tiga kepala ular yang jelas keberadaannya di dalam relief.

Arda Handara lalu maju dan memasuki gua. Butuh masuk sejauh dua tombak saja untuk sampai kepada gerbang berwarna jingga. Dia menyentuhkan tangan kanannya kepada gerbang itu.

“Logam apa ini?” tanya Arda kepada dirinya sendiri saat merasakan bahan gerbang tersebut. “Bagaimana cara membukanya? Kenapa tidak terbuka dua-duanya?”

Kondisi itu membuat Arda harus berpikir lagi.

“Naga Jingga!” kata Arda menyebut satu nama. Dia sepertinya memanggil.

“Hamba, Gusti Prabu,” sahut satu suara wanita nan lembut, tetapi tidak terlihat wujud keberadaan pemiliknya.

“Kau tahu cara masuk ke dalam Istana Raja Ular ini?” tanya Arda Handara dengan pandangan tetap ke dinding gerbang logam warna jingga seperti tembaga tersebut.

“Sangat tahu, Gusti Prabu,” jawab suara tersebut.

“Bagaimana?” tanya Arda.

“Mohon ampun, Gusti Prabu. Gusti adalah anak yang cerdas. Urusan membuka gerbang Istana Raja Ular adalah perkara mudah. Aku tidak mau memanjakan Gusti Prabu yang sakti ini,” kata suara wanita tanpa wujud itu.

Terbeliak Arda Handara mendengar penolakan suara wanita tersebut.

“Naga Jingga, beraninya kau menentang perintah tuanmu!” hardik Arda dengan mata mendelik kepada sembarang arah.

“Hihihi!” Suara wanita itu justru tertawa. Jelas-jelas dia menertawakan Arda Handara yang disebutnya “Gusti Prabu”.

Suara tawa wanita yang bernama Naga Jingga itu hilang. Arda tediam. Dia akhirnya lebih memerhatikan gerbang jingga tersebut.

Arda lalu mundur lagi. Dan ketika dia mundur, dia menemukan sesuatu yang menurut analisanya, itu berkemungkinan sebagai kunci pembuka gerbang tersebut.

Yang ditemukan oleh mata Arda adalah sebuah lubang batu yang ada tepat di depan ujung bawah garis tengah gerbang. Lubang itu selebar batok kelapa dewasa.

Arda maju lagi mendatangi lubang hitam tersebut. Arda mengintip lubang itu. Warnanya hitam karena cahaya tidak masuk ke dalamnya.

Tanpa takut akan ancaman patukan ular, Arda memasukkan tangan kanannya ke dalam lubang. Tangan itu terhenti hingga sebatas lengan.

Di dalam sana, jari-jari tangan Arda meraba dan memegang benda keras yang berlubang dan bisa digenggam dengan sempurna.

Arda mencoba menarik dengan kuat, sampai urat lehernya menegang. Arda merasakan bahwa benda yang digenggamnya tertarik sedikit, lalu tidak bisa lagi.

“Ini bisa ditarik keluar, tetapi perlu tenaga besar,” batin Arda. “Naga Jingga benar-benar mengerjaiku.”

Maka Arda menarik napas yang panjang, lalu menahannya, dan dia menyalurkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya. Ia pun menarik.

Sreeetr!

Benar saja, Arda berhasil menarik, bahkan sampai tertarik keluar dari lubang. Arda agak terkejut bahwa ia menarik rantai bersinar emas, padahal tadi di dalam lubang itu gelap.

Rantai itu tertarik sampai putus atau sampai habis.

Namun, Arda agak terkejut karena rantai besar bersinar emas itu tiba-tiba bergerak sendiri melilit tangan kanan Arda hingga ketiak. Rantai yang panjangnya dua kali panjang tangan Arda tersebut lalu lenyap seperti masuk tenggelam ke dalam tangan itu tanpa merusak tangan baju si pemuda. Kejadiannya cepat sekali.

Terdiam mematung Arda menyaksikan kejadian itu. Namun, dia tidak merasakan rasa sakit apa-apa, kecuali rasa kesemutan pada tangan kanannya.

“Apa yang terjadi? Apa maksud rantai emas itu masuk ke dalam tanganku?” tanya Arda kepada dirinya sendiri.

Jregereg!

Di saat Arda kebingungan seperti itu, tiba-tiba gerbang jingga itu bergerak membuka ke kanan dan ke kiri, membuka sebuah ruang yang dari dalamnya langsung memancarkan cahaya jingga. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar