“Eh, Kakak Walung,” sapa Arda saat dia menengok dan bertemu pandang dengan gadis cantik yang memanggilnya.
Walung menghampiri Arda Handara dengan agak
tergesa-gesa dan wajahnya seperti sedang marah.
“Ayo ikut aku!” ajak Walung sambil mencekal
pergelangan tangan kiri Arda. Ia tanpa sungkan dan sepertinya sudah akrab,
menarik si pemuda agar keluar dari kedai.
Arda hanya menurut tanpa protes.
Walung terus menarik dan membawa Arda ke bawah sebuah
pohon di dekat kedai. Kelakuan Walung membuat Ayang dan kedua pelanggannya jadi
tahu bahwa teman Arda adalah Walung.
“Pasti kau yang menjadi dedemit di atas gunung!”
tuding Walung setelah melepaskan tangan Arda. Dia setengah berbisik agar
perkataannya tidak didengar oleh orang sekitar.
“Aku manusia. Bagaimana mungkin bisa jadi dedemit?”
sangkal Arda dengan suara juga ikut dibisikkan tanpa berbisik.
“Hanya kau yang mencurigakan. Kau pagi ini tiba-tiba
muncul di atas gunung tanpa jelas datangnya dari mana. Setelah kau muncul, di
hari yang sama orang-orang yang naik ke gunung bertemu dedemit juga,” tukas
Walung.
“Kakak Walung yang cantik,” ucap Arda dengan nada
seperti orang sabar. “Apakah Kakak melihatku melakukan itu? Atau melihatku
menjadi dedemit?”
Terdiam Walung. Dia langsung tahu ke mana arah
pertanyaan pemuda tampan di depannya itu.
“Ti-tidak,” jawab Walung tergagap.
“Tidak bisa jika hanya mengandalkan dugaan tanpa
melihat langsung atau ada saksinya,” kata Arda. “Justru dedemit sebenarnya
adalah seorang perempuan.”
“Perempuan siapa?” tanya Walung cepat. Kali ini tidak
pakai setengah berbisik.
“Perempuan itu bernama Walung Gigil,” jawab Arda
Handara seraya tersenyum menang.
Terbeliak Walung mendengar namanya disebut. Ia menjadi
marah.
“Kau jangan memfitnahku, Arda. Jika ada warga yang
mendengar dan mempercayainya….”
“Aku tidak memfitnah, tetapi aku menduga. Bukankah hal
yang aneh jika ada seorang gadis cantik berkeliaran tanpa rasa takut di atas
gunung?” kilah Arda sambil tersenyum lagi. Dia menggunakan cara Walung untuk
menyudutkan gadis itu sendiri.
“Aden! Kopinya sudah siap!” teriak Ayang dari dalam
kedai.
“Iya, Nyiii!” sahut Arda. Lalu katanya kepada Walung,
“Kakak Walung, jika kau suka memancing, kau juga pasti suka mengopi.”
“Tidak,” jawab Walung ketus. “Tapi aku sering juga
minum kopi.”
“Daripada berdua-dua di sini seperti pengantin baru,
ayo kita minum kopi bersama. Aku yang bayar,” ajak Arda.
Walung tidak langsung menjawab. Dia memandangi wajah
tampan pemuda belia itu.
“Lupakan perkara gunung dan dedemit. Aku lihat Kakak
Walung tidak ada pekerjaan selain mengejar-ngejar aku, jadi kita mengopi
bersama saja,” kata Arda.
Arda lalu berjalan bersama tongkatnya meninggalkan
Walung. Karena tidak bisa berdebat lagi, Walung akhirnya memilih ikut pergi ke
kedai.
Arda kembali ke kedai dan duduk di kursinya yang tadi.
“Mesra sekali. Pasti sudah lama tidak bertemu ya,
Walung?” kata Ayang saat Walung pun ikut duduk di sisi Arda.
Komentar itu membuat Walung tersenyum kuda.
“Nyi Ayang pandai saja. Usiaku masih semuda ini, tidak
mengerti perkara mesra-mesra. Hahaha!” kata Arda lalu tertawa pendek.
“Eeeh, kalau setampan Aden mah, seumur aku juga tidak
masalah. Setahun dua tahun bisa panen. Hihihi!” kata Ayang berseloroh lalu
tertawa nyaring sendiri.
“Hahaha!” tawa Arda pula di saat Walung hanya
tersenyum kecut dan memilih mencomot satu penganan, getuk gula aren.
“Walung mau dibuatkan kopi apa?” tanya Ayang.
“Kopi pahit seperti kopiku, Nyi.” Yang menjawab Arda.
“Aku tidak mau yang pahit. Yang manis saja, Nyi,”
sergah Walung cepat.
“Jangan yang manis. Kau sudah manis pula, nanti justru
kemanisan kopinya,” kata Arda.
Tercekat dan terdiam Walung mendengar gombalan Arda.
Dia jadi sedikit melototkan matanya memandang fokus ke wajah Arda.
“Anak bocah berani menggoda gadis dewasa!” rutuk
Walung, tapi di dalam hati saat ia melototi Arda.
Arda yang dipandangi seperti itu jadi agak terkejut,
tapi kemudian tertawa.
“Hahaha! Kau kenapa, Kakak? Jangan-jangan kau sedang berubah
jadi dedemit,” kata Arda.
“Mulutmu memang berbahaya sekali, Arda!” rutuk Walung
sambil mencubit dada dan pinggang Arda berulang kali.
“Eh eh! Hahaha!” pekik Arda kelabakan dengan badan
terhentak-hentak kecil saat dicubit, tapi sambil tertawa.
“Kalian benar-benar serasi, Walung,” kata Ayang yang
ikut tertawa melihat pertengkaran ringan keduanya. “Tunggu sebentar, Walung.
Aku buatkan kopinya.”
Ayang lalu ke dalam untuk membuat kopi. Ternyata dua
pelanggan lelaki sebelumnya sudah tidak ada. Mereka telah pergi.
“Kakak Walung juga sering minum kopi di sini, Nyi?”
tanya Arda.
“Tidak pernah. Baru kali ini,” jawab Ayang.
“Aku hampir tidak pernah memegang kepeng setiap hari.
Mana mungkin aku minum kopi di sini,” kata Walung jujur.
“Walung itu gadis baik, Aden. Selalu membantu
orangtuanya membawakan bekal makan siang ke sawah dan ladang di gunung,” kata
Ayang dari dapur kedai.
Arda Handara melirik Walung mendengar cerita baik
tentang gadis di sisinya yang sedang mengunyah itu.
“Ayah dan kakek Walung menggarap sawah dan kebun milik
Ki Petonggo, jadi jika sawah dan kebun itu panen, hasilnya tetap milik Ki
Petonggo. Hidup dari bekerja menggarap tanah orang lain itu berat, Aden,” kata
Ayang seperti yang paling tahu saja tentang keluarga Walung.
“Iya, Nyi. Kakak Walung memang gadis yang baik dan
berbakti. Dengar-dengar Kak Walung juga suka memancing di telaga untuk lauk di
rumahnya ya, Nyi?” tanya Arda meladeni cerita Ayang, sambil beradu pandang
dengan Walung.
“Benar itu. Selain berbakti, Walung juga gadis
pemberani,” kata Ayang sambil datang dan menyuguhkan kopi pahit ke depan Walung
yang hanya diam mendengarkan dirinya diceritakan di depannya sendiri. “Semua
warga Desa Peyek sudah tahu bahwa Walung suka pergi memancing ikan sendirian di
Telaga Bolong di atas Gunung Pekuk ini.”
“Oooh, kalau cerita ini, aku sepertinya kurang
lengkap, Nyi,” kata Arda.
“Nah, sekarang kalian sudah bertemu. Aden bisa tanya
sepuasnya kepada Walung,” kata Ayang.
“Iya, Nyi. Tapi nanti, kalau sudah berdua saja,” kata
Arda seraya tersenyum dan melirik Walung seperti seorang pemuda dewasa
penggoda.
Walung sebenarnya sudah tergoda oleh ketampanan Arda
gegara anak itu suka menggombal dan menggoda di dalam kata-katanya yang
terkadang membuat hati berbunga-bunga.
Arda lalu menyeruput kopi panas pahitnya.
“Aaah! Segar!” ucapnya saat merasakan pahitnya si kopi
yang lewat di tenggorokan.
Melihat lagak Arda, Walung lalu meminum kopinya dengan
meniupnya lebih dulu. Setelah meminumnya, seketika wajah cantik Walung
mengerenyit.
“Segar apanya?” rutuk Walung.
“Hahahak…!” tawa Arda terbahak-bahak melihat ekspresi
Walung.
Walung lalu menutupi rasa pahit itu dengan memakan kue
yang manis. Ia makan dengan tergesa-gesa.
“Kakak Walung jadi berubah gara-gara minum kopi pahit,
berubah dari cantik menjadi lucu. Hahaha!” kata Arda sambil tertawa-tawa.
Lagi-lagi, di dalam kata-kata Arda terselip kata
pujian yang secara tidak langsung membuat hati Walung jadi bersemi kembali.
“Lama kelamaan anak ini membuatku sering bahagia,”
kata Walung di dalam hati.
Walung jadi lebih sering melirik kepada Arda.
“Kalian saling kenal di mana?” tanya Ayang yang
sekarang duduk berseberangan meja dengan Arda dan Walung, tanpa sungkan atau
risih menyuguhkan belahan dadanya yang membusung putih lagi bersih. Itu karena
janda kembang itu tidak ada pekerjaan.
Namun, Arda dan Walung yang menjadi risih, tapi tidak
diungkapkan.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Ayang.
Walung lalu meraih kopinya dan meniup-niupnya
berulang-ulang, lalu meminumnya sedikit demi sedikit tanpa meletakkan gelasnya
lagi. Arda dan Ayang hanya memandangi tindakan Walung tersebut.
Arda tidak tertawa melihat Walung mengerenyit tanpa
henti pula menahan rasa pahit kopi.
“Aaah!” desah Walung akhirnya merasa lega, sambil
meletakkan gelasnya. Lalu katanya kepada Ayang, “Maaf, Nyi. Aku buru-buru mau
membawakan jahe ke Ibu. Aku makan getuk gula aren sepuluh. Semuanya dibayar
Arda.”
“Hah! Sepuluh?” kejut Arda tidak menyangka.
Walung lalu berdiri untuk pergi. Arda pun segera
menenggak kopinya sekali teguk, padahal masih panas. Ia segera membayar semua
kopi dan penganan yang dimakan.
Arda segera pergi menyusul Walung meninggalkan kedai.
Meski sempat meninggalkan Arda, Walung memutuskan berhenti, memberi kesempatan
kepada Arda untuk menyusulnya. (RH)

.webp)
0 komentar:
Posting Komentar