Warga Desa Peyek lagi-lagi dibuat gempar oleh nasib yang menimpa tiga lelaki pemberani, yakni Jambong, Tebak Urut dan Sapehan. Terkhusus Sapehan yang sampai terkencing-kencing.
Cerita naik gunung mereka selain menjadi aib kelam
dalam sejarah hidup, juga menanamkan ketakutan bagi warga yang lain untuk naik
ke puncak Gunung Pekuk.
Sempat terjadi kesimpangsiuran cerita yang sebenarnya karena
ada dua versi. Cerita versi Jambong dkk. serta cerita versi Klimot dan Angkur. Cerita
dua versi ini sama-sama menyebar cepat seperti wabah.
“Berarti memang ada sesuatu di gunung. Namun, jika
sesuatu itu dedemit, kita bisa apa. Jalan keluarnya hanya satu, yaitu jangan
mengganggu mereka dan lingkungannya,” kata Kepala Desa Peteng Suro dalam
pertemuan tokoh-tokoh desa, seperti Juragan Sugarap Bondo, Ki Petonggo dan
beberapa tokoh lainnya yang dihormati oleh warga.
“Jika Juragan Sugarap masih penasaran, aku sarankan
membayar orang yang benar-benar berani dan berkemampuan. Jangan orang-orang
yang lari jika bertemu dedemit seperti Jambong,” kata Ki Petonggo, hartawan
Desa Peyek yang selevel dengan Juragan Sugarap.
“Bisa saja aku membayar beberapa pendekar dari luar
Desa Peyek karena aku sangat penasaran. Namun, jika aku seorang diri yang
keluar kepeng, aku juga keberatan. Toh hasilnya juga untuk kepentingan bersama,
sama-sama untuk warga Desa Peyek,” kata Juragan Sugarap selaku tuan rumah pertemuan.
“Hahaha!” tawa Ki Petonggo dengan santai.
Lelaki bertubuh jangkung itu lalu meletakkan sebuah
cincin di atas meja pertemuan. Cincin emas itu memiliki batu berwarna ungu yang
bening.
“Pegang cincinku sebagai sandera. Aku tidak akan pelit
jika untuk kepentingan warga Desa Peyek karena desa ini menjadi tempat hartaku.
Juragan Sugarap yang punya banyak kenalan orang hebat, jadi aku percayakan
kepada Juragan, asalkan benar-benar ada hasil,” kata Ki Petonggo.
“Apakah tidak sebaiknya kita hentikan saja? Biarkan
saja penghuni gunung itu dan kita hidup seperti hari-hari biasa,” saran Peteng
Suro.
“Jangan, Ki Peteng. Jika dua orang kaya Desa Peyek
sudah bersatu, itu harus didukung,” kata salah satu tokoh yang bernama Arit
Uban. Lelaki separuh baya itu adalah penanggung jawab pasar desa. Meski semua
tahu bahwa dia bukanlah seorang pendekar, tetapi dia disegani karena menguasai
pasar.
“Ya memang seharusnya didukung,” kata Peteng Suro
berbelok pendirian. “Memang harus jelas masalah ini, agar semua warga tidak
bertanya-tanya, apakah ada ancaman atau memang hanya sekedar ulah lelembut. Jadi
nantinya, jika pun warga takut, ketakutan itu jelas kepada siapa.”
“Baiklah, nanti aku akan mencoba minta bantuan
beberapa pendekar dari luar Desa Peyek,” kata Juragan Sugarap memutuskan.
“Iya,” ucap Peteng Suro.
Maka, setelah kesepakatan itu, pertemuan bubar.
Sementara itu, di kediaman Kepala Desa, Sumila cepat
berlari kecil keluar dari halaman rumahnya saat melihat Walung berjalan
melintas.
“Walung!” panggil Sumila.
Walung yang sudah agak jauh, jadi berhenti dan
menengok. Dilihatnya Sumila melambaikan tangan memanggil. Sumila tersenyum.
Walung yang sedang membawa bungkusan daun jati, lalu
berbalik dan pergi mendatangi putri Kepala Desa. Maka bertemulah dua gadis
cantik sebaya itu.
“Ada apa?” tanya Walung tanpa senyum.
“Aku dengar cerita bahwa kau bertemu dengan Kakang
Tebak Urut di atas sebelum kejadian mereka pulang dengan ketakutan?” tanya
Sumila.
“Benar. Aku pulang dari memancing di Telaga Bolong
saat bertemu mereka yang mau naik ke puncak,” jawab Walung.
“Di gunung kau tidak bertemu dedemit seperti mereka?”
tanya Sumila.
“Tidak. Tapi aku hanya memperingatkan mereka bahwa aku
melihat sesuatu yang aneh,” jawab Walung, lalu tersenyum saat mengingat
pertemuan di gunung dengan Jambong dan dua rekannya.
“Sesuatu aneh apa yang kau lihat?” tanya Sumila cepat.
“Hihihi!” tawa Walung. “Aku hanya menjahili mereka
bertiga. Aku tidak tahu-menahu tentang dedemit yang mereka ceritakan itu.”
“Kau tidak takut sering naik ke gunung memancing di
Telaga Bolong?” tanya Sumila.
“Tidak. Aku tidak pernah bertemu dedemit atau bertemu
hal-hal yang menakutkan,” jawab Walung, lalu tiba-tiba dia menengok memandang jauh
ke arah lain.
“Aku jadi penasaran, Walung. Apakah kau mau mengajakku
memancing di Telaga Bolong besok?” tanya Sumila seraya tersenyum antusias.
“Maaf, Sumila,” ucap Walung tiba-tiba, lalu dia
berlari kecil meninggalkan anak kepala desa itu.
Terbeliak Sumila melihat tindakan tiba-tiba Walung
itu. Dia hanya memandangi Walung yang sepertinya mengejar seseorang.
Walung memang mengejar seseorang. Tadi dia melihat
sosok pemuda berbaju merah, berambut gondrong sepunggung sedang berjalan sendirian
di tengah desa.
Sosok pemuda yang diduganya adalah Arda Handara itu
sempat hilang di belokan kebun pisang. Hal itu membuat Walung belari lebih
cepat.
Ketika Walung sampai di tikungan kebun pisang, dia
melihat sosok Arda Handara sedang masuk ke kedai Mak Kuwat.
Kedai itu sederhana, berlantaikan tanah keras, berdindingkan
geribik, beratapkan daun rumbia, dengan setingan meja di dalam dan di luar.
Saat itu, Arda membawa sebuah tongkat berkepala
tengkorak kerbau bertanduk warna merah. Meski masih belia, tetapi ketampanan Arda
dan cara berjalannya yang gagah, membuatnya menjadi pusat perhatian warga. Terlebih
wajahnya sangat baru di desa tersebut.
Saat Arda masuk ke kedai, ada dua pelanggan lelaki dewasa
yang sedang mengobrol sambil makan kacang rebus hangat di sisi dalam. Kehadiran
Arda seketika membuat mereka berhenti berbincang dan memandang agak lama kepada
anak asing itu.
“Permisi, Paman,” ucap Arda santun seraya tersenyum,
tapi Arda duduk di kursi luar yang lebih banyak anginnya.
“Selamat datang di Kedai Mak Kuwat, Aden,” ucap
seorang wanita cantik menggoda karena busungan dadanya yang memesona, tapi
usianya sudah empat puluh tahun. Wanita berkebaya hijau itulah satu-satunya
pelayan di kedai tersebut.
“Oh iya, selamat juga,” balas Arda agak kikuk karena
langsung disuguhkan pemandangan semi dewasa, padahal dia masih berusia belia. “Mak
Kuwat bisa buatkan aku….”
“Namaku Ayang, Aden. Mak Kuwat itu nama ibuku,” ralat
si wanita cepat memotong kata-kata Arda.
“Oh iya, Mak Ayang,” ucap Arda seraya tersenyum lebar.
“Jangan sebut Emak. Sebut saja Nyi Ayang,” ralat Ayang
lagi.
“Iya, iya, iya,” ucap Arda.
“Hahaha!” tawa dua lelaki di sisi dalam mendengar
perjuangan Ayang untuk perkara sebutan namanya.
“Ayang itu janda kembang, Nak. Jadi, harus benar untuk
urusan nama dan panggilan,” kata salah satu dari lelaki separuh baya di dalam.
“Siap, Paman,” ucap Arda santun.
“Mau pesan apa, Aden?” tanya Ayang.
“Wedang jeruk,” jawab Arda.
Terdiam Ayang dan kedua lelaki di dalam mendengar jenis
pesanan Arda.
“Hahaha!” tawa dua lelaki dewasa di dalam. Mereka
menertawakan pesanan Arda.
“Kenapa, Paman?” tanya Arda tanpa sungkan.
“Jangankan wedang jeruk, wedang jahe saja tidak ada di
Kedai Mak Kuwat ini. Adanya kopi manis, kopi pahit, dan air putih. Hahaha!”
jelas si paman.
“Oooh. Hehehe!” Arda jadi terkekeh. Lalu katanya, “Kopi
pahit saja, Nyi.”
“Kopi pahit? Kenapa bukan kopi manis, Aden?” tanya Ayang.
“Manisnya sudah kebanyakan, ada di mana-mana, Nyi,”
kata Arda yang membuat ketiga orang dewasa itu tidak mengerti. Lalu dia berkata
lagi, “Melihat Nyi Ayang sudah manis, melihat paman berdua sudah manis, apalagi
aku juga sudah terlalu manis.”
“Hahahak!” Meledaklah tawa kedua lelaki di meja dalam.
Mereka tertawa senang karena disebut “manis” oleh Arda.
“Hihihi!” tawa Ayang yang jadi tersipu malu. Lalu
tanyanya lagi, “Jadi, kopi pahit, ya?”
“Iya, Nyi,” jawab Arda.
Maka Ayang segera ke dapur untuk membuatkan kopi
pahit.
Arda mengulurkan tangannya mengambil penganan di wadah
anyaman kulit bambu berlapiskan selembar daun pisang.
“Aden, kau berasal dari mana? Kau bukan warga Desa
Peyek,” tanya si paman.
“Iya, Paman. Aku dari luar Desa Peyek. Aku datang ke
sini untuk bertemu teman,” jawab Arda.
“Oooh. Kau seorang pendekar?” terka si paman.
“Mungkin bisa disebut seperti itu. Tapi aku masih terlalu
muda, Paman,” jawab Arda merendah.
“Arda!” panggil satu suara wanita dari sisi belakang Arda.
Pemuda itu tidak langsung menengok seiring dia
mendengar langkah kaki berjalan mendekat. Dia sudah dapat menerka siapa yang
memanggilnya. Baru satu orang Desa Peyek yang tahu namanya. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar