Pendekar Santai: Perkenalan di Telaga (4)


Seolah-olah takut diketahui keberadaannya, Walung meletakkan bambu kailnya di atas batu. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya.

Untuk bisa melihat ke area kanan dari pinggiran telaga, Walung harus pergi ke dahan pohon yang tumbuh menjorok dan menyibak dedaunannya.

Dari atas batu itu Walung bisa langsung naik ke atas dahan. Gerakannya pelan-pelan seperti pergerakan seorang pengintai.

Seberadanya di atas kayu dahan, dia pun menyibak daun dan mengintip. Seketika melebar sepasang mata cantik itu setelah melihat apa yang ada di dalam air telaga.

Di dalam air telaga, tepat di pinggiran sisi kanan, Walung melihat seorang lelaki sedang berenang sendirian. Meski rambut orang itu panjang seperti perempuan, tetapi Walung dapat memastikan bahwa itu lelaki karena tidak berbaju. Model lengannya yang berotot dan dadanya yang kekar tapi rata menjadi ciri kental kelelakian. Orang itu mandi dengan tetap memakai celana hitamnya.

“Tampan sekali.”

Itu kalimat pertama yang diucapkan Walung menggunakan suara. Sepertinya dia terpesona pada pandangan pertama ketika melihat jelas wajah lelaki itu.

“Tapi sangat muda,” ucap Walung lagi setelah menilai level kemudaan pemuda yang yang tidak lain adalah Arda Handara tersebut.

Memang, usia Harda Handara lebih muda dari Walung yang sudah dewasa dan usianya sudah layak menikah.

“Tapi siapa? Aku tidak pernah melihatnya,” pikir Walung. “Atau jangan-jangan bukan manusia.”

Di saat Walung melamun memikirkan Arda Handara yang sedang asik berenang, tanpa sengaja ujung mata si gadis melihat bambu kailnya bergerak-gerak.

“Ikan!” pekik Walung tapi pelan.

Dia buru-buru melompat kembali pulang ke atas batu tempat kailnya bergerak. Belum lagi Walung meraih kailnya, tiba-tiba kail itu tertarik jatuh oleh tarikan ikan.

“Akk!” pekik Walung keras sambil berusaha menangkap batang kailnya. Walung yang lupa akan keberadaan Arda, memekin cukup kencang.

Pada saat yang sama, ternyata Arda sedang timbul di permukaan air, sehingga ia mendengar pekikan Walung.

Ketika Arda menengok ke arah sumber suara, dia sudah melihat Walung menggantung di ujung batu. Walung gagal meraih kailnya dan justru oleng dan jatuh seperti itu. Dada dan badan atasnya masih menyangkut di pinggir batu, tetapi ia tetap kesulitan untuk naik. Kedua kakinya terjuntai nyaris menyentuh air.

Melihat ada makhluk lain di telaga itu, Arda pun memutuskan berenang mendekat ke posisi Walung.

Mendengar suara gerakan air, Walung langsung menengok dan teringat kembali tentang kebeeradaan remaja yang berenang.

Ketika Walung menengok, dia dan Arda langsung beradu pandang.

“Hahaha!”

Arda langsung menertawakan kondisi Walung. Karena posisi Walung tidak tinggi dari air, Arda dapat mendekat dengan sangat dekat.

Wajah Walung seketika menjadi panik dan pucat. Ia jelas ketakutan karena sempat terpintas dugaan bahwa Arda adalah jurig penunggu Telaga Bolong.

“Santai, santai, Nisanak,” kata Arda karena melihat rona ketakutan Walung. “Aku hanya tertawa, tidak bermaksud menyerangmu.”

“Kau si-si-siapa?” tanya Walung tergagap dengan suara yang bergetar.

“Nah, seperti itu. Daripada takut terhadapku, lebih baik kau mengajak aku berkenalan,” kata Arda yang mengambang di air dengan kepala timbul sebatas leher.

“Iya, tapi kau si-si-siapa?” tanya Walung lagi. Dia masih bertahan bergantung diri.

“Namaku Arda Handara. Namamu siapa, Nisanak?” jawab Arda.

“Walung Gigil,” jawab Walung.

“Apakah kau perlu bantuan?” tanya Arda.

“Jika aku minta dibantu, nanti dia akan mencakarku saat menyentuhku. Jika aku melompat ke air, nanti aku langsung dimangsa,” batin Walung. Lalu tanyanya kepada Arda, “Apakah kau manusia?”

“Jika aku jawab manusia, nanti kau tidak percaya. Jika aku jawab bukan, nanti kau ketakutan. Yang jelas kita beda jenis,” kata Arda mulai iseng.

Terkejut Walung mendengar kata “beda jenis”. Ia langsung menyimpulkan bahwa Arda bukan jenis manusia.

Walung lalu berusaha memanjat dengan mengangkat kakinya untuk mengaitkannya di batu itu. Gerakan tersebut membuat kain Walung tersingkap dan memperlihatkan pahanya dalam porsi yang banyak.

Kondisi itu membuat Arda terkejut dan cepat memandang ke arah lain. Walung tidak menyadari dampak dari upayanya itu.

Walung akhirnya gagal untuk naik. Ia kemudian berhenti untuk berusaha. Ia tetap dalam kondisi menggantung dengan badan atas dan tangan terjepit oleh dadanya.

Dia memandang kepada Arda.

“Hah! Hilang?” ucap Walung terkejut karena sudah tidak melihat Arda.

Walung menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Arda.

“Kau mencariku, Kakak Walung?” tanya Arda yang muncul berdiri di atas batu, di atas Walung. Air menetes dari rambut dan celananya.

Terkejut Walung melihat kemunculan Arda sudah ada di atas.

“Bagaimana? Apakah kau mau aku tarik, atau kau mau melompat ke air?” tanya Arda yang kini turun berjongkok tepat di depan wajah gadis cantik itu.

Walung sebenarnya sudah kelelahan menahan diri. Sebenarnya dia tidak masalah jatuh ke air, tetapi dia tidak mau basah kuyup.

“Tapi berjanjilah,” kata Walung.

“Eh, baru kenal tapi sudah minta aku berjanji,” kata Arda dengan mimik berpura-pura terkejut. “Kau memintaku berjanji apa? Jika cocok, aku berjanji.”

“Kau tidak akan mencakar atau mengigitku,” kata Walung.

“Siap, Kakak Walung!” pekik Arda seraya tersenyum.

“Tarik aku naik. Aku tidak mau basah!” pinta Walung.

“Baik.”

Maka, tanpa punya niatan menakuti si gadis atau menjahilinya, Arda lalu mengulurkan kedua tangannya untuk meraih tangan Walung yang terjepit oleh dadanya sendiri. Meski harus menatap sembulan dada yang aduhai, setidaknya cara atas itu lebih tidak seronok dibandingkan mendongaki paha yang tersingkap ke mana-mana.

Arda memiliki tenaga yang besar, jadi dia kuat untuk menarik Walung yang fisiknya lebih besar dari si pemuda.

Setelah berhasil naik, Walung segera menjaga jarak dari Arda. Si pemuda remaja lima belas tahun itu hanya memandangi sembari menahan senyum.

“Ini di gunung, tapi anehnya ada seorang gadis cantik memancing sendirian di telaga. Apakah kau manusia?” Arda balik bertanya yang membuat Walung terkejut.

“Aku manusia murni seutuhnya. Aku sering memancing di sini. Lalu kau, makhluk jenis apa?” kata Walung dengan menunjukkan gestur yang masih tegang dan tatapannya penuh waspada.

“Aku juga manusia,” jawab Arda santai dan tenang.

“Jangan dusta. Tadi kau mengatakan bahwa kita beda jenis,” kata Walung.

“Jelas kita berbeda jenis. Aku jantan dan kau betina. Hahaha!” jawab Arda lalu tertawa agak keras.

“Jadi kau manusia juga, bukan dedemit penunggu Telaga Bolong ini?”

Arda mengangguk.

“Tapi, apakah kau orang jahat?” tanya Walung.

“Kakak Walung, kau sudah berhasil naik dan tidak butuh pertolongan lagi. Aku pun sudah selesai mandi. Silakan lanjutkan memancingnya,” kata Arda tanpa menjawab pertanyaan Walung.

Setelah itu, Arda berbalik pergi meninggalkan Walung.

“Hei, Arda! Tapi kau belum menjawab pertanyaanku!” panggil Walung, dia bahkan berlari kecil mengejar Arda.

Namun, Arda berlari pergi, membuat Walung menahan langkah karena tidak mungkin mengejar. Walung hanya memandang kepergian Arda dengan menyimpan rasa penasaran.

Di tempat yang agak jauh, terlihat Arda mengambil bajunya lalu pergi lagi dan hilang di balik tetumbuhan.

Walung menarik kedua sudut bibirnya. Namun ketegangan, kepanikan dan katakutannya telah hilang.

Dia kemudian kembali ke batu. Ia menghempaskan napas masygul. Kailnya telah mengapung di air telaga.

Akhirnya si gadis memutuskan pergi karena dia tidak mau basah hanya untuk mengambil kailnya yang jatuh. Masih ada kail yang lain di rumah.

Walung pergi pulang dengan pikiran tidak lepas dari Arda dan kejadian yang terjadi di antara mereka berdua.

“Anak itu hampir saja menyentuh dadaku,” ucap Walung kepada dirinya sendiri. Sampai-sampai dia membekap dadanya. “Tadi dia menyebutku cantik. Dasar anak mata keranjang.” (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar