![]() |
| Muslim Republik Afrika Tengah diusir dari negerinya. |
(RajaDumay.com) --- Di ambang
kepunahan. Itulah keadaan yang dihadapi oleh agama umat Islam di Republik Afrika
Tengah (CAR), di mana ribuan Muslim dipaksa meninggalkan agamanya dan masuk
Kristen.
Amnesty
International menegaskan perkembangan ini dalam sebuah laporannya yang berjudul
"Identitas Terhapus: Etnis Muslim dibersihkan dari Republik Afrika Tengah".
Perang saudara yang
dimulai tahun 2013 itu dipicu karena perbedaan politik. Namun, setelah pemimpin
milisi Muslim yang menisbatkan dirinya sebagai presiden, Michel Djotodia, menyerahkan
kekuasaannya pada Januari 2014 karena tekanan internasional, justeru membuat
kelompok Kristen mayoritas semakin bertindak brutal. Kelompok milisi Kristen
anti-Balaka melakukan pembersihan agama terhadap umat Islam minoritas.
Banyak Muslim yang
mengalami gelombang kekerasan dan memaksa mereka mengungsi ke negara-negara
tetangga.
Sedangkan Muslim
yang tertinggal, tidak lebih aman, karena mereka telah dipaksa untuk
meninggalkan Islam sebagai agamanya dan menjadi Kristen.
Harga tertinggi yang
harus dibayar jika mereka gagal di-Kristenkan adalah mati.
"Kami tidak
punya pilihan selain bergabung dengan Gereja Katolik. Anti-Balaka akan membunuh
kami jika kami tidak mau," kata seorang Muslim 23 tahun di wilayah
Sangha-Mbaere kepada Amnesty International.
Anti-Balaka adalah
kelompok milisi Kristen yang banyak diikuti oleh penduduk lokal yang mayoritas
Kristen.
Muslim yang
diwawancarai oleh peneliti Transparency International menjelaskan bagaimana
mereka dipaksa menyerah dalam agama Kristen.
Seorang penambang
berlian, Omaru F, menjelaskan konversi paksa sekitar 10 orang di desa Bania, di
distrik Mambere Kadeï.
Dia mengatakan, milisi
anti-Balaka dari kota Carnot dan Bouar menyerang Bania pada bulan Februari
2014, menewaskan dua pemimpin Muslim dan menyebabkan umat Islam yang tersisa
melarikan diri ke hutan, bersembunyi dalam kelompok kecil.
Setelah beberapa pekan,
kepala desa dan seorang pendeta Protestan datang ke hutan untuk
menginformasikan kepada Muslim, jika mereka tidak kembali, milisi anti-Balaka
akan mengejar mereka dan membunuh mereka.
Tetapi untuk
kembali, mereka harus masuk Kristen.
Omaru mengatakan, setelah
orang-orang Muslim dibaptis di Gereja Apostolik dalam sebuah upacara yang dihadiri
oleh kepala desa, mereka harus menunjukkan kartu batpis kepada anti-Balaka agar
tidak dibunuh.
Meskipun Omaru
telah dibaptis, ia mengaku tidak menerima agama Kristen dalam hatinya, dan kemudian
dia melarikan diri ke Berberati beberapa bulan kemudian.
Di kota Bambio,
saudara Muslim yang lain mengatakan cerita yang sama.
Mereka mengatakan,
kota Bambio yang dihidupi lebih dari 120 orang Muslim menjadi pusat
perdagangan. Namun kota itu kini telah mereka tinggalkan bersama keluarga
mereka setelah anti-Balaka menyerang.
Ada empat Muslim
bersaudara dengan tiga saudara perempuan, mulai usia 15 sampai 23 tahun, adalah
satu-satunya anggota masyarakat Muslim yang tetap tinggal ketika umat Islam
lainnya pergi, karena ibu mereka adalah seorang Kristen.
Banyak sepupu
Kristen mereka yang menyembunyikan dan melindungi mereka. Meskipun mereka
diizinkan untuk tetap tinggal, tapi mereka tetap dipaksa masuk Katolik.
"Kami tidak
punya pilihan selain bergabung dengan Gereja Katolik," kata saudara tertua
kepada Amnesty International. "Anti-Balaka bersumpah akan membunuh kami
jika kami tidak mau."
Saudara yang lain
mengatakan, anggota keluarga harus menghadiri layanan gereja setiap Ahad.
"Kami harus mengkonfirmasi bahwa kami benar-benar Katolik," jelasnya.
Di kota kecil lainnya,
di Guen, laporan menyebutkan, sebagian Muslim telah menjadi Kristen. Milisi
anti-Balaka dengan sewenang-wenang menewaskan puluhan Muslim di sana pada
Februari 2014, dan mereka terus berkuasa di daerah itu.
"Ada tekanan
besar untuk masuk Kristen," kata Adum Y, seorang petani di Guen.
"Saya tahu, setidaknya delapan orang yang telah bertobat. Hanya ada satu Tuhan,
jadi saya tidak akan mengubah (agama), saya Muslim dan saya akan selalu menjadi
Muslim." (Rudi Hendrik)


0 komentar:
Posting Komentar