![]() |
| (Foto Search) |
Tiba pada hari kematiannya, ketika mayatnya dimandikan oleh seorang wanita yang kerjanya memandikan mayat, tiba-tiba tangan si pemandi mayat itu terlekat pada batang tubuh jenazah wanita itu.
Semua penduduk dan ulama gempar akan hal itu. Bagaimana tidak, tangan si pemandi jenasah nenempel sendiri sehingga semua orang di tempat itu mati akal untuk melepaskan tangan pemandi jenasah dari tubuh mayit.
Mengemukalah berbagai cara dan pandangan untuk menyelesaikan masalah itu. Akhirnya ada dua pandangan yang dirasakan sesuai tetapi berat untuk dijalankan.
Pertama, memotong tangan wanita pemandi jenasah dan yang kedua, mengubur kedua-duanya, yaitu pemandijenasah dan jenazah itu sekaligus.
Karena kedua solusi tersebut masih dinilai kurang sesuai, salah seorang dari mereka memutuskan untuk meminta pendapat dari Imam Malik.
Setelah Imam Malik dipanggil dan sampai serta melihat apa yang terjadi, Imam Malik bertanya kepada wanita pemandi jenasah itu, "Apa yang kamu lakukan atau berkata apa kamu kepada si mati sewaktu memandikannya?"
Wanita pemandi jenasah tersebut bersungguh-sungguh menjawab bahwa dirinya tidak berbuat atau tidak berkata apa-apa pun ketika mengurus jenazah tersebut.
Selepas dicecar dengan berbagai pertanyaan dan takut tangannya akan dipotong atau dikubur beserta mayit, akhirnya wanita pemandi jenasah itu berkata bahwa dia, ketika memandikan jenasah bertanya, "Berapa kalikah tubuh ini telah melakukan zina?" kepada mayit sambil tangannya menampar-menampar dan memukul-mukul batang tubuh si mati.
Imam Malik berkata, "Kamu telah menjatuhkan Qazaf (tuduhan zina) pada wanita tersebut sedangkan kamu tidak mendatangkan 4 orang saksi. Dalam situasi begini, di mana kamu hendak mencari saksi? Maka kamu harus dijatuhkan hukuman hudud (cambuk) 80 kali sabetan kerana membuat pertuduhan zina tanpa mendatangkan 4 saksi."
Ketika wanita pemandi jenasah itu dikenakan hukuman, pada saat sabetan yang ke-80, maka dengan kuasa Allah Subhana Wa Ta'ala, terlepaslah tangannya dari tubuh mayit tersebut.
Hikmah:
Jagalah lidah jangan sebarkan fitnah. Jangan bersangka buruk dengan kuasa Allah Ta'ala. Kalau kita tahu dia itu seorang pelacur sekalipun, tapi kalau kita tak pernah lihat perbuatan zinanya, maka kita dilarang menuduhnya berzina. Diharapkan kisah Imam Malik dan Pemandi Jenasah ini bisa dijadikan sebagai tauladan dan ikhtibar.
(Sumber: Facebook)
Sebarkan! Semoga jadi amal shaleh!


Sungguh bermanfaat
BalasHapus