![]() |
| Dua anak pengungsi menangis terjebak dalam kerusuhan di perbatasan Macedonia. (Foto: Georgi Licovski/EPA) |
(RajaDumay.com) --- Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menyuarakan
penentangannya terhadap penggunaan kekuatan yang tidak proporsional di
perbatasan negara-negara Eropa yang dilalui gelombang pengungsi.
Sikap UNHCR itu dinyatakan setelah polisi Macedonia menggunakan
gas air mata dan granat kejut terhadap para pengungsi di perbatasan Yunani pada
Senin (29/2) lalu.
"UNHCR memperingatkan hari ini bahwa Eropa adalah titik
puncak dari krisis kemanusiaan," kata Juru Bicara UNHCR Adrian Edwards
dalam konferensi persnya di Jenewa, Selasa (1/3). Demikian Mi’raj Islamic News Agency (MINA) memberitakannya.
Secara cepat terjadi penumpukan manusia di Yunani yang
mengalir melalui Turki yang kemudian menyeberang ke Eropa.
Dia mengatakan, praktek tidak konsisten negara-negara Eropa
dalam melaksanakan kesepakatan tentang pengungsi, menyebabkan penderitaan yang
tidak perlu dan mempertaruhkan Uni Eropa adanya kemungkinan melanggar hukum
internasional.
Edward menambahkan, jumlah pengungsi yang membutuhkan
akomodasi di Yunani mencapai 22.000 orang hingga Senin malam.
Koordinator Pengungsi Regional UNHCR Vincent Cochetel
mengatakan, lebih 122.000 tiba di Yunani selama dua bulan pertama tahun ini,
dibandingkan dengan 120.000 orang untuk semester pertama tahun 2015.
"Itu memberi Anda gambaran tentang volume pergerakan ke
Yunani pada tahap ini," katanya.
Mayoritas pendatang adalah perempuan dan anak-anak yang banyak
melarikan diri dari kekerasan di Suriah.
Menurut UNHCR, sebanyak 410 pengungsi telah meninggal di
Mediterania sepanjang tahun ini.
PBB menyerukan perencanaan kontingensi di Yunani dan penambahan
penampungan untuk mencegah krisis baru. Ia memperingatkan bahwa skema relokasi
yang disepakati oleh para pemimpin Uni Eropa tahun lalu harus diprioritaskan.
Pada September tahun lalu, negara-negara anggota setuju
untuk merelokasi 160.000 pengungsi, terutama dari "garis depan" di
Yunani dan Italia.
(Sumber: MirajNews.com/id)


0 komentar:
Posting Komentar