![]() |
| Khalid Yasin (25) tinggal di Tepi Barat, Palestina tanpa ID keewarganegaraan. (Foto: Al Jazeera) |
Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency(MINA)
Khalid Yasin (25) adalah mahasiswa sekolah tinggi Palestina
yang lulus dengan peringkat tertinggi di kelasnya. Meski demikian, tidak ada
universitas yang akan menerimanya untuk kelanjutan pendidikannya.
Yasin telah tinggal tanpa kewarganegaraan atau tanpa
memiliki kartu ID selama tinggal di daerah yang dijajah oleh Israel, Tepi Barat.
Yasin hidup dalam ketergantungan kepada orang lain, bahkan sesuatu yang sederhana
seperti mendaftar saluran telepon, ia harus dibantu.
"Ini seperti saya tidak ada," kata Yasin sambil duduk
di belakang meja di dalam toko sepatu yang kecil. "Saya tidak bisa berbuat
apa-apa tanpa nomor ID. Bisnis saya bukan atas nama saya, saya tidak bisa pergi
ke universitas, saya tidak bisa memiliki sebuah apartemen (tempat tinggal),
saya bahkan tidak bisa menikah secara sah. Saya bukan warga negara mana pun. Ke
mana saja saya pergi, saya ilegal."
keluarga Yasin melakukan perjalanan ke distrik utara Tepi
Barat, Qalqilya, ketika ia berusia empat tahun. Orangtuanya melarikan diri dari
Kuwait pada 1991, selama Perang Teluk berlangsung. Mereka tinggal di Yordania
selama beberapa tahun sebelum mendapat izin dari pemerintah Israel untuk
memasuki Tepi Barat yang dijajah.
Keluarganya mengajukan permohonan kewarganegaraan Palestina,
permohonan yang bisa disetujui Israel jika usia 14 tahun ke bawah. Saat itu
Yasin yang berusia 18 tahun, ditolak. Pemerintah Israel mengatakan kepadanya bahwa
ia tidak lagi di bawah umur. Ia harus mengajukan sendiri. Yasin pun telah mengajukan
permohonan berkali-kali, tapi selalu ditolak.
"Saya hidup dalam ketakutan jika ditangkap," kata
Yasin. "Ada pos pemeriksaan di mana-mana, setiap malam ada penggerebekan.
Tentara Israel selalu memasuki kota dan saya selalu berisiko. Mereka mencari
tahu tentang saya."
Menurut Imad Shanan, Direktur Kementerian Dalam Negeri
Otoritas Palestina untuk Urusan Sipil Umum, sebanyak 576 warga Palestina di
Tepi Barat yang dijajah mengajukan permohonan nomor ID pada 2015, tapi semuanya
ditolak. Shanan tidak bisa mengetahui, berapa banyak dari mereka yang mengajukan
permohonan berulang.
"Ketika datang ke masalah ini, pemberian ID keluar dari
tangan kami," kata Shanan. "PA (Otoritas Palestina) dapat memberikan
ID hanya jika Israel setuju, dan masalah ini belum terlihat ada kemajuan. Kami
melakukan yang terbaik untuk memberikan hak-hak asasi manusia, tetapi pada
akhirnya, masalah ini sampai ke pihak Israel yang akan mengatakan 'ya' atau 'tidak '."
Koordinasi Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah Kesatuan
yang mengawasi Tepi Barat yang diduduki, mengatakan bahwa pemerintah Israel
tidak menyimpan catatan berapa banyak orang yang tinggal di sana secara ilegal.
Muak dengan birokrasi yang selalu gagal, Yasin akhirnya keluar
dari persembunyian dan mulai menceritakan kisahnya kepada media.
"Saya selalu takut ketahuan dan saya masih takut
ditangkap dan dibawa jauh dari keluarga saya, tapi saya tidak bisa hidup
seperti ini selamanya. Sehingga media adalah harapan terakhir saya,"
katanya kepada Al Jazeera.
Tiga tahun lalu, Yasin mengambil risiko lain. Di saat
teman-temannya lulus dari universitas, ia memutuskan untuk meninggalkan Tepi
Barat.
Di bawah hukum Yordania, warga Palestina di Tepi Barat bisa
mendapatkan lima tahun paspor Yordania sebagai dokumen perjalanan, meskipun
mereka masih belum diberikan nomor ID nasional.
Paman Yasin di Dubai telah menawarkannya pekerjaan sebagai
pramugara, dan ia memutuskan untuk menyeberang ke Yordania. Meskipun Yasin tidak
memiliki paspor lima tahun, ia memiliki akta kelahiran Yordania dan ia mengira
itu akan cukup sebagai surat untuk menyeberangi perbatasan.
"Saya tidak pernah diterbangkan dengan pesawat, atau
melihat laut," kata Yasin. "Itu adalah keputusan yang besar, saya
sangat takut bahwa setelah saya pergi, saya tidak akan diizinkan kembali masuk
Tepi Barat lagi, tapi saya harus melakukan sesuatu. Hidup saya di sini begitu
stagnan."
Keluarga pun pergi mengantar Yasin ke perbatasan Tepi
Barat-Yordania untuk melepasnya pergi, tapi hal-hal tidak berjalan seperti yang
dibayangkan.
"Ketika saya pergi untuk menyeberangi perbatasan
(Israel), petugas sangat bingung tentang kondisi saya," kata Yasin.
"Akhirnya mereka (petugas) memanggil seorang kaptennya. Saya menjelaskan
kondisi saya dan dia mengatakan kepada saya bahwa ia harus menangkap saya, tapi
dia merasa kasihan dan tidak ingin menangkap saya."
Sebaliknya, pejabat Israel mengatakan kepada Yasin untuk pulang
ke rumah, karena petugas Israel tidak bisa membiarkannya menigggalkan Israel
tanpa dokumen perjalanan untuk distempel.
Sejak itu, Yasin telah memikirkan berkali-kali tentang penyerahan
dirinya kepada pihak berwenang Israel.
"Aku sudah menghadapi banyak situasi yang akrab
dipanggil oleh pasukan Israel. Saya berpikir banyak tentang, akankah saya membiarkan
mereka menangkap saya untuk melihat apa yang akan terjadi, tapi saya tidak
pernah memiliki keberanian," katanya.
Untuk saat ini, Yasin sangat ingin menjalani kehidupan
normal. Karena ia masih muda, ia ingin belajar jurnalisme, dan ia
berangan-angan bisa ke Eropa untuk belajar dan kemudian pulang untuk membuat
cerita tentang Tepi Barat yang diduduki. Dia juga ingin menikah dan memiliki
anak. Namun, semuanya ia tahan hingga nanti akhirnya ia memiliki ID.
Amal, ibu dari Yasin, ia berharap bahwa anaknya suatu hari nanti
memiliki kehidupan yang lebih baik.
"Saya mencoba untuk berbicara kepadanya untuk menikah,
tapi dia tidak mau memikirkan hal itu, kecuali pernikahannya bisa diakui secara
hukum, karena dia tidak ingin menempatkan kesulitannya kepada isteri dan
anak-anaknya nanti," kata Amal. "Saya tidak pernah menyangka hal ini
bisa terjadi padanya. Ini situasi sulit."
Bahkan di dalam Tepi Barat yang diduduki, Yasin jarang
bepergian. Dalam 21 tahun, ia hanya pernah berkunjung ke Ramallah dua kali dan
Hebron sekali. Setiap perjalanannya menegangkan.
"Saya mencoba mencari secara daring (online) orang lain yang sama di posisi
saya, tapi saya menemukan, kebanyakan mereka tidak diberi ID karena isu
politik," kata Yasin. "Itu sangat jauh berbeda dari kasus saya. Tidak
ada seorang pun di keluarga saya adalah orang politik, terutama saya. Saya
tidak mengikuti (perkembangan politik)."


0 komentar:
Posting Komentar