![]() |
| Ilustrasi |
Novel "Cinta Seleher Botol"
Oleh Rudi Hendrik
Bab Pertama: Cinta Botol Jamu
Bab Kedua: "San, Gua Hamil"
Bab Ketiga: Perjanjian di Depan Botol Bir
Pesan
singkat yang dibaca oleh Dedy Sirana di ponselnya membuat pengusaha perhotelan
itu pulang tiga jam lebih awal.
Sejak
ia membaca pesan kiriman isterinya, kemarahan bercokol di hati dan otaknya,
membuat wajahnya sangat tidak sedap dipandang. Wajah berkulit putih bersih itu
tampak menegang dengan sorot mata yang galak. Saraf-saraf senyumnya seakan
semuanya membeku.
“Rani
sudah hamil.”
Itulah
bunyi pesan dari Irma teruntuk suaminya. Hanya tiga kata, tapi membuat Dedy
merasa wajahnya tercoreng oleh arang penggorengan yang dibakar di atas kompor
minyak.
Kondisi
jiwa Dedy berpengaruh pada cara ia membawa mobil. Sering kali ia membunyikan
klakson kepada kendaraan di depannya yang dianggap menghalangi atau bergerak
lambat. Rasa tidak sabarnya begitu tinggi.
Teeet!
“Mau
mati lu!” maki Dedy saat sebuah sepeda motor menyalip lalu masuk ke depan
mobilnya, membuat ia harus sedikit tiba-tiba mengerem. Padahal makiannya pun
tidak terdengar hingga ke luar mobil.
Beruntung
hari itu adalah Minggu, hari libur bagi kebanyakan penduduk Jakarta, sehingga
kemacetan hanya terjadi di lampu merah ketika lampunya menyala merah.
Dedy
yang sehari-harinya lebih banyak diam dan bersikap dingin, kali ini benar-benar
seperti pecandu yang kehabisan stok narkoba.
Teet
teet teet teet!
Setibanya
di gerbang rumahnya yang mewah, klakson yang ia bunyikan melebihi porsi yang
biasa ia bunyikan. Biasanya hanya sekali tekan saja.
Jumlah
suara klakson yang tidak biasa itu membuat Iwan, pembantu lelaki di rumah itu
berlari lebih kencang ke gerbang, hingga-hingga sendal jepitnya putus di leher.
Semasuknya
mobil merek Rush biru tua itu ke depan garasi, Dedy langsung keluar dari mobil
tanpa membawa lagi tas kerjanya. Pria berkemeja putih itu tidak lagi melepas
sepatu kantornya masuk ke dalam rumah.
Kedatangan
Dedy langsung disambut oleh Irma, isterinya yang tetap tampil cantik dengan
dandanannya, meski di hari libur.
“Mana
anak itu?” tanya Dedy dengan ekspresi wajah yang keras, menunjukkan bahwa
kemarahannya tinggi.
“Papa!”
sebut Irma sambil berusaha menahan langkah suaminya yang langsung menuju ke
kamar Rani.
Dedy
justeru menepis tangan isterinya yang memegang tangannya mencoba menghentikannya.
Ternyata
pintu kamar Rani tidak dikunci, sehingga Dedy bisa langsung masuk. Hal itu
mengejutkan Rani yang sedang duduk daring (online)
di kasurnya menghadapi laptop.
Plak!
Langkah
Dedy yang cepat membuat Rani tidak bisa berkutik ketika tangan tua itu berkelebat
menampar wajah putihnya.
“Papa!”
pekik Irma melihat suaminya menampar putri mereka.
“Kamu
pikir, semua yang diberikan oleh Papa Mama selama ini hanya untuk kamu hamil di
luar nikah, hah?!” bentak Dedy dengan sepasang mata tuanya yang memerah. “Papa
pikir kamu sudah berpikiran dewasa. Pelacur saja yang setiap hari melayani
banyak lelaki, bisa tidak hamil. Papa tidak mau tahu, sebelum aib ini tersebar
jadi bau bangkai, gugurkan anak itu!”
“Enggak!
Rani enggak mau, apa lagi Sando sudah mau tanggung jawab!” teriak Rani yang
seketika menangis setelah mendapat tamparan dari ayahnya.
“Papa
maunya janin itu digugurkan dan Papa akan bunuh pemuda keparat itu!” tandas
Dedy.
“Lebih
baik Rani yang mati dari pada anak Rani dan ayahnya dibunuh!” teriak Rani.
Dengan
cukup mengerahkan tenaga, Irma berjuang menarik suaminya agar keluar dari
kamar. Seberhasilnya membawa suaminya hingga ke luar kamar, Irma berbisik
serius seraya menatap fokus ke wajah suaminya.
“Papa
tidak bisa berpikiran buta seperti itu. Bukankah ini yang dulu juga terjadi
pada kita berdua? Papa dulu yang membela mati-matian untuk tidak menggugurkan kandungan
Mama saat Rani dikandung di luar nikah. Bagaimana mungkin Papa bisa tidak
memahami ketika kondisi yang sama terjadi kepada Rani?” kata Irma.
Dedy
terdiam. Seketika itu juga ia teringat ke masa lalunya, saat ia harus
benar-benar dituntut menjadi seorang
pria yang bertanggung jawab karena telah menghamili Irma muda di luar ikatan
pernikahan. Bahkan ia harus menentang keinginan keras orang tuanya dan orang
tua Irma yang sepakat untuk menggugurkan janin di kandungan Irma. Hingga ia dan
Irma memutuskan untuk kabur ke Tangerang meninggalkan pulau Kalimantan.
“Biarkan
bayi itu lahir ya, Pa?” bujuk Irma. “Apa lagi Sando mau bertanggung jawab. Sore
ini Sando mau datang dan bicara kepada kita.”
Dedy
menghempaskan napas berat.
“Papa
enggak mau ketemu dengan pemuda berengsek itu. Bilang ke dia, kalau Papa enggak
mau ada pernikahan yang mengundang banyak tamu. Setelah itu pergi jauh dari
pandangan Papa!” ujar Dedy lalu melangkah pergi meninggalkan isterinya. Ia lalu
berteriak kepada pembantu perempuannya, “Lina! Bawakan bir ke kamar!”
Irma
segera menemui Rani dan memberitahukan keberhasilannya membujuk suaminya.
Berita itu bisa meredakan tangis Rani.
Rani
segera menelepon Sando, ayah dari janin di perutnya. Sementara Irma memilih
pergi untuk menemani suaminya di kamar mereka.
Beberapa
hari yang lalu, ketika Rani memberitahukan kehamilannya kepada Sando, pemuda
itu awalnya tidak percaya bahwa Rani mengandung anak hasil dari hubungan mereka
berdua. Setelah Rani tidak mengangkat teleponnya yang berulang-ulang, Sando
akhirnya mengirim pesan yang menyatakan siap bertanggung jawab dan akan
menikahi Rani sesegera mungkin.
“Ya,
Honey?” kata cinta langsung menjawab
telepon Rani.
“Di
mana, San?” tanya Rani.
“Suara
elu kok serak begitu? Lagi nangis ya?” Sando yang ada di ujung telepon balik
bertanya.
“Enggak,
sedikit sedih aja,” jawab Rani.
“Tenang,
Honey, gua nanti malam datang kok.
Ole-ole Sumbawa sudah siap untuk meluluhkan calon mertua, hahaha!” kata Sando.
Rani
merasa sedikit terhibur dengan rencana kekasihnya itu.
“Pokoknya
lu dandan yang cantik malam ini, yang perfect
for me. Habis bicara sama mama papa lu, kita dinner, special for you.
Oke?”
“Ee,”
jawab Rani.
“Lu
jangan mikir yang macam-macam. Gua akan datang sebagai pangeran berkuda elu
nanti malam. I love you, Honey,” kata
Sando untuk terakhir kalinya kepada Rani, setelah itu Sando menutup teleponnya.
Sando
yang dalam perjalanan pulang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kembali
duduk tenang di dalam mobil.
Sando
memang seorang pemuda tampan berambut pendek yang ujung-ujungnya mengumpul
membentuk duri-duri yang kaku oleh olesan putih telur, resep rambut anak-anak punk. Ia mengenakan T-Shirt kuning berpola salur hitam biru di bagian perut baju. Dari
perawakan ototnya, menunjukkan bahwa pemuda berkulit putih itu suka membentuk
ototnya di tempat fitness, meski ototnya tidak begitu kekar.
Sementara
itu, seorang pemuda yang terhitung tampan juga dengan sepasang alis tipis tapi
panjang, duduk di sisi kanan Sando. Sambil memegangi lingkaran stir mobil Honda
Rush hitam itu, pandangannya fokus ke jalan raya. Pemuda berkulit putih
tersebut memiliki rambut lurus yang lemas, tapi rambut di kedua sisi kepalanya
dicukur tipis. Ia hanya mengenakan kaos oblong merah yang di dada kanannya ada
sablonan bertulis “billabong”. Ia
mengenakan celana jeans hitam longgar yang ujungnya hanya lewat selutut dikit.
Ia adalah Fito, nama aslinya Khalid Abdulatif. Ia mendampingi Sando sama-sama
ke Sumbawa untuk melihat tanah dekat pantai yang perusahaan akan beli.
Tampak
di kursi belakang, menumpuk tas dan berbagai barang sebagai buah tangan
keduanya untuk keluarga.
“Jadi,
positif lu mau nikahin Rani?” tanya Fito.
“Yaaa,
walau masih ada keraguan kalau itu anak gua, tapi gua harus benar-benar
tanggung jawab. Gua cinta sama Rani,” jawab Sando. “To, mampir dulu di depan,
gua mau beli minuman!”
Fito lalu melambatkan mobilnya dan lampu sen
kiri dinyalakan. Mobil berbadan besar dan lebar itu memasuki area parkir sebuah
minimarket. Di parkiran hanya ada deretan beberapa jenis motor milik konsumen.
Sebuah plang seng menempel di tiang depan minimarket. Pesan yang tertulis di
plang itu berbunyi “Kunci kendaraan Anda! Kehilangan di luar tanggung jawab
kami!”. Plang peringatan seperti itu menunjukkan, di minimarket itu tidak ada
satpam dan tukang parkir. Parkiran memang terpantau jelas dari petugas minimarket
yang ada di dalam. Di sisi pinggir kanan parkiran ada pedagang jus buah dan
gorengan gerobak. Keamanan pun mengandalkan kamera cctv.
Sando bergerak turun dari mobil, sementara
Fito memilih menunggu. Seturunnya dari mobil, terlihatlah bahwa Sando seorang
pemuda yang memiliki tinggi tubuh agak pendek. Namun, otot tubuhnya yang berisi
membuatnya terlihat cukup gagah.
Ia langsung menuju pintu kaca. Seiring itu,
seorang ibu berjilbab hijau keluar dari minimarket sambil mengambil kunci motor
dari dompetnya yang baru diisi beberapa lembar uang ratusan. Ia tidak membawa
pelastik belanjaan, menunjukkan ia hanya mengambil uang di atm.
Baru saja Sando masuk ke minimarket, Sando
berhenti ketika melihat seorang lelaki berjaket hitam berlari dari pinggir
jalan ke parkiran minimarket mengarah ibu berjilbab itu.
Ibu bertubuh agak gemuk berjilbab hijau
sangat terkejut ketika tiba-tiba dari belakang seseorang merampas kunci
motornya dengan kasar. Ibu yang baru mau menaiki jok motornya tersebut,
didorong keras hingga terjengkang di lantai batu parkiran.
“Hei!” teriak Sando yang seketika mengejutkan
seluruh orang di dalam minimarket.
Sando langsung kembali bergerak keluar dari
minimarket dan langsung berlari ke arah lelaki berusia 30-an yang mencoba
merampas motor si ibu. Kejadian itu juga mengejutkan Fito yang berada di dalam
mobil dan sangat dekat dengan titik serangan. Namun, Fito hanya bereaksi di
tempat duduknya tanpa ada tindakan keluar dari zona amannya.
“Hei!” teriak Sando lagi.
Dor!
Baik orang-orang yang ada di dalam
minimarket, di parkiran, pedagang, hingga mereka yang sedang melintas di jalan
raya, terkejut mendengar suara satu tembakan. Bahkan beberapa orang sekitar
segera merunduk dan berlindung di balik sesuatu yang bisa dipakai berlindung.
Pelaku perampasan motor yang ternyata membawa
senjata api, dengan cekatan memutar balik posisi motor yang sudah ia kendalikan.
Sebelum melesat pergi meninggalkan parkiran, begal itu kembali todongkan
pistolnya.
Dor! Bremr!
Ibu berjilbab pemilik motor, tidak berdaya
dalam ketakutan bercampur keterkejutan. Posisinya tetap berbaring di lantai
parkiran yang berdebu tebal.
Seperginya begal yang berhasil mendapatkan
satu motor, Fito buru-buru keluar dari mobilnya. Ia langsung berlari mendapati
tubuh Sando yang terkapar bersimbah darah, darah yang keluar dari dua lubang
yang tercipta begitu cepat di sekitar dadanya.
“Sando! Sando!” teriak Fito panik bukan main
sambil memeluk tubuh Sando yang meregang nyawa oleh dua peluru dari begal itu.
“Tolong...!”
Di saat yang bersamaan, Rani sudah kembali
ceria, kesedihannya telah sirna di wajahnya, meski penyesalan dan duka itu
masih ada yang bercokol di sudut hatinya. Namun, nasib telah menjadi bubur, ia
harus menikah dalam kondisi hamil. Ia harus mengakui, ia dan Sando bukanlah
sepasang insan yang baik, terbukti mereka berhubungan badan beberapa kali
sebelum menikah.
“Jika waktu bisa kembali diulang, gua janji
akan mencari pria yang baik,” kata hati kecil Rani.
Namun, waktu tidak mungkin diputar ulang. Ia
harus terima kenyataannya bahwa hari ini seperti itulah keadaannya. Tiada jalan
lain, selain menikah dengan Sando. Tidak mungkin ia menikah dengann pria lain
yang bukan ayah dari bayinya, padahal Sando masih ada dan hidup.
Rani
menemui mamanya di dapur untuk memberi tahu tentang kepastian dari kedatangan
Sando nanti malam.
Di
sisi lain di dalam rumah itu, di dalam sebuah kamar besar nan mewah, seorang
Dedy duduk di kursi sofa menghadapi meja kaca yang di atasnya berdiri gagah dua
botol bir dan sebuah gelas putih ukuran sedang yang penuh oleh air bir.
Sementara
air bir tergenang diam di dalam gelas, Dedy pun diam termenung. Tidak ada
sedikit pun cahaya gairah di guratan wajah tuanya.
Setelah
belasan menit lamanya diam termenung dengan pikiran sekalut benang layangan,
mimik wajah Dedy tiba-tiba berganti mengekspresikan tangisan seorang ayah. Tidak
ada air mata yang meluncur di kulit wajah tuanya, air bening hanya sebatas
menggenang di pinggiran mata. Ekspresi tangis itu kemudian berubah sedih
belaka.
Kehamilan
Rani menjadi pukulan sangat keras baginya. Ia harus mengakui, hal itu juga
tidak lepas dari kesalahan dan kelalaiannya sebagai seorang ayah, yang
seharusnya bisa melindungi anak perempuannya hingga ke ijab kabul yang sangat
sakral dalam pernikahan.
“Ya
Allah....” ucap Dedy lirih.
Lama
sudah ia tidak menyebut nama suci itu. Lebih lama dari tidaknya ia meneguk bir.
Terakhir ia meneguk bir adalah empat bulan lalu. Entah, kapan ia terakhir
menyebut nama Zat Yang Mahaagung.
“Baru
saja Engkau membuatku gembira melihat Rina berubah baik dengan jilbabnya,
tiba-tiba hari ini Kau seolah menghukumku atas dosa masa laluku. Aku tidak rela
jika pemuda bajingan itu memiliki anakku, menjadi ayah dari cucuku, aku tidak
rela, ya Allah,” kata Dedy dalam hati.
Ia
lalu mengangkat tubuhnya dari sandaran sofa. Tangan kanannya meraih gelas
berisi minuman haram itu. Gelas itu ia angkat tinggi hingga sejajar dengan
wajahnya. Ditatapnya bir dalam gelas dengan tatapan yang tajam dan dingin.
Lalu
Dedy berkata dengan suara keras, “Aku bersumpah di depan bir ini, ya Allah!
Andaikan Engkau memberikan Rani suami yang salih, memberiku menantu yang baik
agamanya, maka aku akan membangun sebuah masjidmu!”
Bukannya
meminum bir yang sudah terlanjur ada di gelas, tetapi Dedy justeru menumpahkan
bir di gelas ke lantai, di antara kedua sepatu mengkilapnya yang masih ia
kenakan.
“Aaa!”
teriaknya seraya melempar keras gelas bir itu ke dinding kamar.
Prakr!
Gelas
hancur berantakan dan serpihan tajamnya bertebaran di lantai.
“Aaakr!””
teriak Dedy penuh emosi sambil melempar botol bir di atas meja ke cermin besar
lemari pakaian.
Botol
bir dan cermin bernasib sama, sama-sama pecah berantakan. Dan botol kedua pun
dilempar ke tempat yang sama.
Sembilan
jam kemudian, cukup jauh dari tempat kediaman Dedy, sama-sama di depan tegaknya
botol-botol bir.
Delapan
botol bir berdiri di atas meja di teras sebuah rumah yang halamannya bertaman.
Kedelapan botol bir itu dihadapi oleh dua pemuda yang sudah menghabiskan satu
botol bir untuk berdua. Salah satu pemuda itu adalah Fito, yang baru saja
kehilangan seorang teman akrabnya untuk selamanya.
Pemuda
yang bersamanya juga termasuk tampan dengan wajah yang dihiasi setitik tahi
lalat di bawah sudut kiri bibirnya. Ia memelihara kumis tipis. Rambutnya yang
gondrong ia ikat dengan karet gelang di belakang. Ia mengenakan kaos oblong
kuning dan bercelana jeans biru yang pada bagian kedua pahanya sudah
robek-robek, seperti memang sengaja dirobek. Ia bernama Gunawan, usianya 26
tahun, dua tahun lebih tua dari Fito.
“Lu
harus tahu, To,” kata Gunawan yang belum ada tanda-tanda mabuk, sama seperti
Fito. “Bukan elu doang yang cinta jatuh hati berat sama Rani, gua juga. Jadi,
gua kagak bakalan ngebiarin elu jalan tenang sendirian buat meminang Rani.”
“Wah!
Kejutan buat gua nih! Hahaha!” teriak Fito berlagak kaget. “Gua juga tahu elu
naksir berat sama Rani, makanya elu ngejauh dari Sando sejak dia orang jadian.
Tapi kita berdua, sebagai Sepasang Naga Pemabuk, harus fair. Apakah gua, atau elu, yang nantinya diterima oleh Rani,
enggak ada dendam di antara kita. Kita tetap akan satu meja dan satu botol
dalam menikmati nikmat minuman surga ini.”
Gunawan
lalu mengambil sebotol bir yang masih tertutup. Dengan giginya dia membuka
tutup botol itu.
“Ayo,
kita deklarasikan perjanjian antara kita berdua!” kata Gunawan seraya
mengangkat tinggi-tinggi botol di depan wajahnya.
Fito
lalu mengambil pula satu botol baru. Dengan giginya ia membuka tutup botol.
“Kita
sepakat, siapa pun yang berhasil mendapatkan Rani, enggak ada dendam di antara
kita. Dan dengan ini pula, kita berkabung atas meninggalnya Sando!” teriak
Fito.
Tang!
Keduanya
mengetos botol yang masing-masing mereka pegang. Setelah itu keduanya menyumbat
mulut mereka dengan mulut botol.
Glek
glek glek!
Air
bir mengalir turun non-stop melalui tenggorokan keduanya, seolah yang mereka
tenggak adalah air kelapa segar.
Kedua
sahabat ini memang terkenal jago mabuk. Di kalangan teman-teman sepergaulan,
mereka dikenal dengan julukan “Sepasang Naga Pemabuk”. Sebotol dua botol bir
tidak bisa membuat mereka mabuk.
“Hahaha...!”
Keduanya
tertawa panjang setelah masing-masing berhasil menghabiskan satu botol.
“Siapa
yang nanti pagi bangun di dalam ember, harus datang ke rumah Rani belakangan,”
kata Gunawan.
“Setuju!”
teriak Fito lalu kembali ambil botol baru.
Demikian
pula dengan Gunawan. (RH)
Bersambung: Kejutan di Sore Hari


0 komentar:
Posting Komentar