![]() |
| Ilustrasi |
Uang bisa dicari, ilmu bisa digali, tapi kesempatan untuk mengasihi orang
tua takkan terulang lagi. Ketika anak kita menemukan jodohnya dan mendapatkan
wanita cantik yang berhasil merebut seluruh hatinya, tidak jarang orang yang
pertama menjadi musuh si anak adalah orang tuanya sendiri.
Orang tua yang semula begitu mulia, mendadak terasa menjadi sangat cerewet,
dan menjadi sumber masalah rumah tangga. Apalagi bila si anak (laki-laki) tidak
berhasil menyatukan hati istrinya dengan ibundanya.
Anehnya, anak-anak yang merawat orang tuanya sampai wafat, kebanyakan
dicintai Allah, hal itu tercermin dalam karir hidupnya di dunia, dan mereka
cenderung menjadi orang yang sukses.
Mukjizat orang tua, dapat kita temukan dalam sejarah hidup seorang sahabat
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ketika ibu dari Iyas bin Muawiyah wafat, Iyas meneteskan air mata tanpa
meratap, lalu beliau ditanya seorang sahabat tentang sebab tangisannya.
Iyas menjawab, “Allah bukakan untukku beberapa pintu untuk masuk surga,
sekarang, satu pintu telah ditutup.”
Begitulah, orangtua adalah pintu surga, bahkan pintu yang paling tengah di
antara pintu-pintu yang lain.
Dari Abu Darda radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ
الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ
“Orang tua adalah pintu
surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa
menjaganya.” (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan
Syuaib al-Arnauth).
Al-Qadhi berkata, "Maksud pintu surga yang paling tengah adalah pintu
yang paling bagus dan paling tinggi. Dengan kata lain, sebaik-baik sarana yang
bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga dan meraih derajat yang tinggi
adalah dengan mentaati orangtua dan menjaganya.”
Bersyukurlah jika kita masih memiliki orangtua, karena di depan kita masih
ada pintu surga yang masih terbuka lebar.
Terlebih bila orangtua telah berusia lanjut.
Dalam kondisi tak berdaya, atau mungkin sudah pelupa, pikun dan terkesan
cerewet, atau tak mampu lagi merawat dan menjaga dirinya sendiri, persis
seperti bayi yang baru lahir.
Sungguh terlalu, orang yang mendapatkan orang tuanya berusia lanjut, tapi
ia tidak masuk surga, padahal kesempatan begitu mudah baginya.
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ قِيلَ
مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ
أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
Telah menceritakan kepada kami [Zuhair bin Harb]; Telah menceritakan kepada
kami [Jarir] dari [Suhail] dari [Bapaknya] dari [Abu Hurairah] dia berkata;
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dia celaka! Dia celaka! Dia
celaka!" lalu beliau ditanya, "Siapakah yang celaka, ya
Rasulullah?" Jawab Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
"Barang Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau
salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan
berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya)." (HR. Muslim)
Ia tidak masuk surga karena tak berbakti, tidak mentaati perintahnya, tidak
berusaha membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga
kata-katanya, dan tidak merawatnya saat mereka tak lagi mampu hidup mandiri.
Saatnya berkaca diri, sudahkah layak kita disebut sebagai anak yang
berbakti? Sudahkah layak kita memasuki pintu surga yang paling tengah?
Nasihat ini baik kita sampaikan kepada anak-anak kita.
Wallahu 'alam bishshawab.
(Sumber: WA)


0 komentar:
Posting Komentar