6.000 Warga Palestina Terjebak di Luar Negeri


Ilustrasi: Pelajar pro-Palestina di York University di Toronto, Kanada. (Foto: Twitter)
Greater Palestine -- Ribuan orang Palestina telah terdampar di luar negeri, tidak dapat kembali ke rumah selama pandemi, karena tidak ada otoritas pemerintah yang dapat membantu mereka.

Seperti Hasheem (klik untuk tulisan sebelumnya), banyak dari mereka berada dalam situasi sulit, seperti kehabisan uang dan tidak mampu membayar makanan dan akomodasi.

Beberapa dari mereka telah menarik perhatian pada situasi bermasalahnya dengan mengunggah cerita mereka secara online dan menyebarkan informasi di halaman Facebook seperti Raj'ouna a Byoutna (Take Us Back Home), yang memiliki lebih dari 3.500 pengikut.

Bagi warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki, bepergian melalui Yordania adalah satu-satunya cara untuk pulang, tetapi penerbangan ke negara itu ditutup untuk non-warga negara.

Demikian pula Mesir telah menutup perbatasannya untuk non-nasional, yang mencegah warga Palestina dari Jalur Gaza untuk memasuki negara itu dan menyeberang ke kantong yang diblokade melalui perbatasan Rafah.

Menurut Ahmad Al-Deek, penasihat politik dari Kementerian Luar Negeri Otoritas Palestina (PA) yang berpusat di Ramallah, ada sekitar 6.000 warga Palestina terjebak di luar negeri.

Al-Deek mengatakan kepada Al Jazeera pada Selasa (19 Mei 2020) bahwa memulangkan warga Palestina kembali "tidak mudah" karena PA, yang mengelola urusan Palestina sehari-hari di bagian Tepi Barat, tidak mengontrol perbatasannya dan harus berkoordinasi dengan Yordania atau Mesir.

"Kami mengirim surat resmi ke Mesir dan Yordania untuk mengevakuasi warga Palestina bersama dengan orang-orang mereka dan kami belum mendapatkan jawaban dari negara-negara tetangga untuk menerima orang-orang kami sehingga mereka dapat melewati tanah mereka," kata Al-Deek awal pekan ini.

"Mungkin itu karena prioritas mereka adalah (untuk memulangkan) warganya. Tapi belum ada jawaban," kata Al-Deek.

Tetapi pada hari Jumat, 22 Mei 2020, ada indikasi bahwa penantian panjang mungkin akan segera berakhir untuk beberapa warga Palestina.

Menteri Luar Negeri Palestina Riyad Al-Maliki mengatakan dalam sebuah pernyataan, pihak berwenang Yordania telah setuju untuk membuka bandara di Ibu Kota, Amman, untuk orang-orang Palestina yang terjebak di luar negeri dan akan mengumumkan prosedur dan tanggalnya segera. (Palestiner/RudiHendrik)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar