*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Para buruh gudang
jagung mengantre untuk menerima upah mereka, termasuk sang pendekar, Rugi
Sabuntel. Dia berbaris paling buntut, di belakang Blikik, musuh masa kecilnya,
tapi sahabat masa besarnya seperti sekarang ini.
Di meja upahan, Nyai
Demang membagikan upah kepada pekerjanya satu demi satu. Campani duduk bertugas
menghitung uang kepengnya.
Para pekerja lelaki
itu sungguh bahagia di hari pengupahan karena mereka mendapat bonus, yaitu
mencuri pandang belahan dada sang majikan yang duduk di belakang meja dan
mencuri pandang kecantikan Campani yang sesegar embun di kala terik.
Jika melihat
kecantikan Nyai Demang, itu sudah biasa. Berbeda dengan putrinya yang baru kali
ini diajak ke gudang jagung. Meski kecantikan ibu dan anak itu setara, tetapi
kecantikan yang baru dilihat jelas lebih memikat.
“Blikik, sekian lama
aku kerja di sini, aku baru tahu Demang punya putri secantik ibunya,” kata Rugi
Sabuntel yang berdiri rapat di belakang Blikik, sambil meletakkan kedua
tangannya di bahu sahabatnya itu.
“Hahaha! Jagoan
payah. Itulah jika kau mainnya di hutan melulu. Aku sudah lama tahu. Sayang,
aku sudah punya istri,” kata Blikik.
“Eh, setahuku kau
baru kemarin melamar Citayam,” kata Rugi Sabuntel sambil menepak sekali bahu
Blikik.
“Hahaha! Aku
keceplosan,” kata Blikik yang didahului oleh tawanya.
“Maksudmu, diam-diam
sebenarnya kau sudah punya istri?” tanya Rugi Sabuntel serius.
“Ssst! Jangan
keras-keras. Ini rahasia. Bahaya kalau ada yang mengadu ke Citayam,” kata
Blikik berbisik.
Blikik cepat
mengalihkan pembicaraan.
“Sebenarnya kau jatuh
hati kepada Campani atau kepada Nyai Demang? Aku lihat Nyai Demang menyukaimu.
Hahaha!”
“Bisa mati aku jika
suka dengan istri Demang. Tadi kata Kang Buntet, sudah ada lima lelaki yang
melamar Campani. Lagi pula, aku hanya pemanggul karung jagung,” kata Rugi
Sabuntel.
“Tapi kau seorang
pendekar, Rugi. Di Desa Buangsetan ini, tidak ada yang bisa mengalahkanmu,”
kata Blikik.
“Tetap saja kalau mau
menikah, lelaki harus punya uang yang banyak,” kata Rugi Sabuntel.
“Coba saja kau jadi
perampok,” bisik Blikik.
“Kurang ajar!” maki
Rugi Sabuntel sambil memukul kepala sahabatnya itu. “Kau mau menyuruhku makan
uang panas?”
“Bukan seperti itu
maksudku. Maksudku itu....”
“Blikik, maju! Kau
mau dibayar atau tidak?” panggil Nyai Demang agak berteriak.
Rupanya, saking
asiknya keduanya mengobrol, posisi antrean mereka tidak maju, padahal tinggal
mereka berdua yang mengantre.
“Pasti mau, Nyai!”
sahut Blikik. Dia segera berlari kecil maju ke depan meja.
Rugi Sabuntel ikut
berjalan maju.
Melihat tingkah kedua
lelaki berbadan besar itu, Campani tersenyum lebar.
“Terasa terbang
nyawaku melihat senyuman Campani,” kata Rugi Sabuntel, tetapi hanya di dalam
hati.
“Rugi,” panggil Nyai
Demang lembut.
Sambil menghitung
uang upahnya, Blikik melirik sikap Nyai Demang yang sangat berbeda kepada Rugi
Sabuntel.
“Iya, Nyai Demang?”
sahut Rugi Sabuntel senang.
“Upahmu aku tambah
dua puluh kepeng,” kata Nyai Demang, tetap lembut.
“Terima kasih, Nyai
Demang,” ucap Rugi Sabuntel semakin senang.
“Nyai, kenapa Rugi
diberi tambahan banyak? Aku dan Rugi hari kerjanya sama banyak,” protes Blikik.
“Rugi kerjanya lebih
semangat dibandingkan kau dan yang lain. Rugi juga sangat rajin jika aku
suruh-suruh,” jawab Nyai Demang bernada sewot.
“Besok-besok aku juga
mau disuruh-suruh oleh Nyai Demang,” kata Blikik.
“Tapi aku tidak suka
menyuruhmu!” ketus Nyai Demang.
“Hahaha!” tawa
kencang Rugi Sabuntel.
Rugi Sabuntel tertawa
sambil melirik Campani yang juga tertawa sambil menutup giginya dengan telapak
tangan, sepertinya dia sedang menutupi sesuatu di giginya.
Usai upahan per pekan
di gudang jagung Rugi Sabuntel tidak langsung pulang ke rumah. Tradisinya
adalah makan sambal kunyit di kedai Mak Gendong.
Masakan kedai Mak
Gendong sebenarnya biasa-biasa saja. Namun, karena ulekan sambal kunyitnya yang
pakai jurus “sepuluh gelombang kanan, sepuluh gelombang kiri”, semua makanan
berubah lezat dan nikmat setelah dicocol ke sambal.
“Tiga piring seperti
biasa, Mak. Sambalnya juga tiga batok, Mak,” pesan Rugi Sabuntel.
“Baik, Den Pendekar,”
jawab Mak Gendong.
Mak Gendong bisa
dibilang belum tua, usianya masih masa perak, yakni lima puluh lebih tiga tahun
enam puluh satu hari. Jika tersenyum masih memiliki jejak kecantikan seorang
wanita desa.
Rugi Sabuntel duduk
di batu pinggir irigasi kecil berair bening. Di depannya adalah meja kayu yang
masih kosong. Air mengalir melewati keempat kaki meja dan kedua kaki besar Rugi
Sabuntel yang direndam.
“Aduh, jadi selalu
ingat Campani. Jadi ingin cepat malam, supaya bisa mimpi bertemu Campani.” Rugi
Sabuntel bicara sendiri seperti akting bintang sinetron di negeri masa depan.
“Ketahuan!” teriak
seorang lelaki tiba-tiba di belakang Rugi.
“Ikan hamil!” pekik
Rugi Sabuntel terkejut, lalu cepat menengok.
Didapatinya Blikik
sedang berdiri sambil tertawa kencang.
“Hahaha! Ketahuan
kau, Rugi. Kau kepergok olehku sedang menghayalkan Campani. Hahaha!”
“Apakah kau melihat
di atas kepalaku ada bayangan Campani, hah?!” tanya Rugi Sabuntel sewot.
“Tadi aku mendengar
sendiri dari belakang, kau bicara sendiri seperti Ikan Hamil sedang jatuh
cinta. Hahaha!” jawab Blikik yang terus menertawakan sahabatnya itu.
“Jangan menyebutku
Ikan Hamil lagi, aku patahkan nanti hidungmu, Blikik!” ancam Rugi Sabuntel.
“Kau sendiri yang
tadi menyebut Ikan Hamil,” debat Blikik.
“Pergi kau! Aku mau
makan, jangan ganggu!” usir Rugi Sabuntel.
Mak Gendong datang
membawa tiga porsi pesanan Rugi Sabuntel.
“Silakan, Den
Pendekar,” ucap Mak Gendong.
“Terima kasih, Mak,”
ucap Rugi Sabuntel.
Mak Gendong lalu
kembali ke dalam kedainya.
Rugi Sabuntel lalu
mencuci jari-jari tangannya di air irigasi. Kedai Mak Gendong memang berada di
pinggir persawahan. Perlu diketahui bahwa irigasi itu dijamin bersih, karena warga
dilarang keras buang berbagai air di sepanjang jalur air.
“Sudah sana pergi,
jangan lihat aku makan!” usir Rugi Sabuntel kepada Blikik.
“Aku ingin
menjelaskan tentang pekerjaan rampok yang aku katakan kepadamu, Rugi,” ujar
Blikik.
“Aku tidak akan
pernah mau menjadi perampok!” tandas Rugi.
“Tapi ini bukan
sembarang perampok. Bendong pernah melakukannya,” kata Blikik.
Dia lalu duduk di
sisi Rugi, tapi menghadap kepada Rugi, bukan menghadap ke meja.
“Setahun yang lalu,
Bendong sering melakukan perampokan terhadap rumah orang kaya yang jahat di
desa-desa lain. Sebagian uang rampokannya dia ambil, sebagian lagi dia
bagi-bagikan kepada orang miskin dan yang pernah dianiaya oleh penguasa.
Bendong sempat dikenal dengan nama Malaikat Pagi oleh warga, karena setiap dia
bagi-bagi uang, selalu di pagi hari,” kisah Blikik. “Tapi sayang, itu tidak
mudah. Bendong bertemu dengan musuh yang lebih jago dari dirinya, sampai-sampai
dia terluka dan nyaris mati. Setelah itu Bendong tidak merampok lagi.
Sampai-sampai warga Desa Anuspati menunggu-nunggu kedatangan Bendong lagi yang
mereka anggap Malaikat Pagi.”
Rugi Sabuntel makan
dengan cepat. Memang seperti itu gaya makannya, yakni banyak dan cepat.
“Kau tidak
mendengarkan aku, Rugi?” tanya Blikik dengan wajah merengut.
“Dengar, tapi aku
sedang berpikir. Ternyata Bendong menjadi orang baik sekarang,” jawab Rugi
Sabuntel.
“Dia berubah menjadi
baik setelah ayahnya dibunuh oleh Kelompok Kapak Sunat. Dia bertekad akan
memberantas orang-orang jahat. Tapi sayang, keinginannya tinggal harapan,” kata
Blikik.
“Bendong sekarang
tinggal di mana?”
“Di desa Buangsial.”
“Antar aku besok pagi
ke rumahnya.”
Lalu bagaimana dengan
pekerjaan kita berdua di gudang jagung?”
“Nyai Demang punya
banyak pekerja. Gudang tidak akan tutup hanya karena kita berdua tidak bekerja
sehari dua hari.”
“Baiklah.” (RH)


0 komentar:
Posting Komentar