PKK 6: Pendekar Miskin


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*


Para buruh gudang jagung mengantre untuk menerima upah mereka, termasuk sang pendekar, Rugi Sabuntel. Dia berbaris paling buntut, di belakang Blikik, musuh masa kecilnya, tapi sahabat masa besarnya seperti sekarang ini.

Di meja upahan, Nyai Demang membagikan upah kepada pekerjanya satu demi satu. Campani duduk bertugas menghitung uang kepengnya.

Para pekerja lelaki itu sungguh bahagia di hari pengupahan karena mereka mendapat bonus, yaitu mencuri pandang belahan dada sang majikan yang duduk di belakang meja dan mencuri pandang kecantikan Campani yang sesegar embun di kala terik.

Jika melihat kecantikan Nyai Demang, itu sudah biasa. Berbeda dengan putrinya yang baru kali ini diajak ke gudang jagung. Meski kecantikan ibu dan anak itu setara, tetapi kecantikan yang baru dilihat jelas lebih memikat.

“Blikik, sekian lama aku kerja di sini, aku baru tahu Demang punya putri secantik ibunya,” kata Rugi Sabuntel yang berdiri rapat di belakang Blikik, sambil meletakkan kedua tangannya di bahu sahabatnya itu.

“Hahaha! Jagoan payah. Itulah jika kau mainnya di hutan melulu. Aku sudah lama tahu. Sayang, aku sudah punya istri,” kata Blikik.

“Eh, setahuku kau baru kemarin melamar Citayam,” kata Rugi Sabuntel sambil menepak sekali bahu Blikik.

“Hahaha! Aku keceplosan,” kata Blikik yang didahului oleh tawanya.

“Maksudmu, diam-diam sebenarnya kau sudah punya istri?” tanya Rugi Sabuntel serius.

“Ssst! Jangan keras-keras. Ini rahasia. Bahaya kalau ada yang mengadu ke Citayam,” kata Blikik berbisik.

Blikik cepat mengalihkan pembicaraan.

“Sebenarnya kau jatuh hati kepada Campani atau kepada Nyai Demang? Aku lihat Nyai Demang menyukaimu. Hahaha!”

“Bisa mati aku jika suka dengan istri Demang. Tadi kata Kang Buntet, sudah ada lima lelaki yang melamar Campani. Lagi pula, aku hanya pemanggul karung jagung,” kata Rugi Sabuntel.

“Tapi kau seorang pendekar, Rugi. Di Desa Buangsetan ini, tidak ada yang bisa mengalahkanmu,” kata Blikik.

“Tetap saja kalau mau menikah, lelaki harus punya uang yang banyak,” kata Rugi Sabuntel.

“Coba saja kau jadi perampok,” bisik Blikik.

“Kurang ajar!” maki Rugi Sabuntel sambil memukul kepala sahabatnya itu. “Kau mau menyuruhku makan uang panas?”

“Bukan seperti itu maksudku. Maksudku itu....”

“Blikik, maju! Kau mau dibayar atau tidak?” panggil Nyai Demang agak berteriak.

Rupanya, saking asiknya keduanya mengobrol, posisi antrean mereka tidak maju, padahal tinggal mereka berdua yang mengantre.

“Pasti mau, Nyai!” sahut Blikik. Dia segera berlari kecil maju ke depan meja.

Rugi Sabuntel ikut berjalan maju.

Melihat tingkah kedua lelaki berbadan besar itu, Campani tersenyum lebar.

“Terasa terbang nyawaku melihat senyuman Campani,” kata Rugi Sabuntel, tetapi hanya di dalam hati.

“Rugi,” panggil Nyai Demang lembut.

Sambil menghitung uang upahnya, Blikik melirik sikap Nyai Demang yang sangat berbeda kepada Rugi Sabuntel.

“Iya, Nyai Demang?” sahut Rugi Sabuntel senang.

“Upahmu aku tambah dua puluh kepeng,” kata Nyai Demang, tetap lembut.

“Terima kasih, Nyai Demang,” ucap Rugi Sabuntel semakin senang.

“Nyai, kenapa Rugi diberi tambahan banyak? Aku dan Rugi hari kerjanya sama banyak,” protes Blikik.

“Rugi kerjanya lebih semangat dibandingkan kau dan yang lain. Rugi juga sangat rajin jika aku suruh-suruh,” jawab Nyai Demang bernada sewot.

“Besok-besok aku juga mau disuruh-suruh oleh Nyai Demang,” kata Blikik.

“Tapi aku tidak suka menyuruhmu!” ketus Nyai Demang.

“Hahaha!” tawa kencang Rugi Sabuntel.

Rugi Sabuntel tertawa sambil melirik Campani yang juga tertawa sambil menutup giginya dengan telapak tangan, sepertinya dia sedang menutupi sesuatu di giginya.

Usai upahan per pekan di gudang jagung Rugi Sabuntel tidak langsung pulang ke rumah. Tradisinya adalah makan sambal kunyit di kedai Mak Gendong.

Masakan kedai Mak Gendong sebenarnya biasa-biasa saja. Namun, karena ulekan sambal kunyitnya yang pakai jurus “sepuluh gelombang kanan, sepuluh gelombang kiri”, semua makanan berubah lezat dan nikmat setelah dicocol ke sambal.

“Tiga piring seperti biasa, Mak. Sambalnya juga tiga batok, Mak,” pesan Rugi Sabuntel.

“Baik, Den Pendekar,” jawab Mak Gendong.

Mak Gendong bisa dibilang belum tua, usianya masih masa perak, yakni lima puluh lebih tiga tahun enam puluh satu hari. Jika tersenyum masih memiliki jejak kecantikan seorang wanita desa.

Rugi Sabuntel duduk di batu pinggir irigasi kecil berair bening. Di depannya adalah meja kayu yang masih kosong. Air mengalir melewati keempat kaki meja dan kedua kaki besar Rugi Sabuntel yang direndam.

“Aduh, jadi selalu ingat Campani. Jadi ingin cepat malam, supaya bisa mimpi bertemu Campani.” Rugi Sabuntel bicara sendiri seperti akting bintang sinetron di negeri masa depan.

“Ketahuan!” teriak seorang lelaki tiba-tiba di belakang Rugi.

“Ikan hamil!” pekik Rugi Sabuntel terkejut, lalu cepat menengok.

Didapatinya Blikik sedang berdiri sambil tertawa kencang.

“Hahaha! Ketahuan kau, Rugi. Kau kepergok olehku sedang menghayalkan Campani. Hahaha!”

“Apakah kau melihat di atas kepalaku ada bayangan Campani, hah?!” tanya Rugi Sabuntel sewot.

“Tadi aku mendengar sendiri dari belakang, kau bicara sendiri seperti Ikan Hamil sedang jatuh cinta. Hahaha!” jawab Blikik yang terus menertawakan sahabatnya itu.

“Jangan menyebutku Ikan Hamil lagi, aku patahkan nanti hidungmu, Blikik!” ancam Rugi Sabuntel.

“Kau sendiri yang tadi menyebut Ikan Hamil,” debat Blikik.

“Pergi kau! Aku mau makan, jangan ganggu!” usir Rugi Sabuntel.

Mak Gendong datang membawa tiga porsi pesanan Rugi Sabuntel.

“Silakan, Den Pendekar,” ucap Mak Gendong.

“Terima kasih, Mak,” ucap Rugi Sabuntel.

Mak Gendong lalu kembali ke dalam kedainya.

Rugi Sabuntel lalu mencuci jari-jari tangannya di air irigasi. Kedai Mak Gendong memang berada di pinggir persawahan. Perlu diketahui bahwa irigasi itu dijamin bersih, karena warga dilarang keras buang berbagai air di sepanjang jalur air.

“Sudah sana pergi, jangan lihat aku makan!” usir Rugi Sabuntel kepada Blikik.

“Aku ingin menjelaskan tentang pekerjaan rampok yang aku katakan kepadamu, Rugi,” ujar Blikik.

“Aku tidak akan pernah mau menjadi perampok!” tandas Rugi.

“Tapi ini bukan sembarang perampok. Bendong pernah melakukannya,” kata Blikik.

Dia lalu duduk di sisi Rugi, tapi menghadap kepada Rugi, bukan menghadap ke meja.

“Setahun yang lalu, Bendong sering melakukan perampokan terhadap rumah orang kaya yang jahat di desa-desa lain. Sebagian uang rampokannya dia ambil, sebagian lagi dia bagi-bagikan kepada orang miskin dan yang pernah dianiaya oleh penguasa. Bendong sempat dikenal dengan nama Malaikat Pagi oleh warga, karena setiap dia bagi-bagi uang, selalu di pagi hari,” kisah Blikik. “Tapi sayang, itu tidak mudah. Bendong bertemu dengan musuh yang lebih jago dari dirinya, sampai-sampai dia terluka dan nyaris mati. Setelah itu Bendong tidak merampok lagi. Sampai-sampai warga Desa Anuspati menunggu-nunggu kedatangan Bendong lagi yang mereka anggap Malaikat Pagi.”

Rugi Sabuntel makan dengan cepat. Memang seperti itu gaya makannya, yakni banyak dan cepat.

“Kau tidak mendengarkan aku, Rugi?” tanya Blikik dengan wajah merengut.

“Dengar, tapi aku sedang berpikir. Ternyata Bendong menjadi orang baik sekarang,” jawab Rugi Sabuntel.

“Dia berubah menjadi baik setelah ayahnya dibunuh oleh Kelompok Kapak Sunat. Dia bertekad akan memberantas orang-orang jahat. Tapi sayang, keinginannya tinggal harapan,” kata Blikik.

“Bendong sekarang tinggal di mana?”

“Di desa Buangsial.”

“Antar aku besok pagi ke rumahnya.”

Lalu bagaimana dengan pekerjaan kita berdua di gudang jagung?”

“Nyai Demang punya banyak pekerja. Gudang tidak akan tutup hanya karena kita berdua tidak bekerja sehari dua hari.”

“Baiklah.” (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar