*Siksa Dari Gunung*
Lisa: Perut gue
sakit, bentar dulu ya. Perut gue melilit.
Rina: Ya udah,
istirahat dulu.
Lisa lalu duduk
menjatuhkan tubuhnya di tanah berbatu.
Rina: Eh pelan-pelan!
Ini ‘kan bawahnya batu-batuan, enggak mungkin lu jatuhin badan kayak di kasur.
Lisa: Enggak tahu,
Rin. Gue udah capek.
Rina: Ya udah yuk
kita pulang aja. Dari pada lu capek, terus paksain naik, yang ada malah
kenapa-kenapa, risiko juga, yang ada kita juga yang disalahin.
Lisa: Tapi gue yakin,
kita bisa naik.
Tidak lama kemudian,
mereka kembali jalan dan melewati air terjun yang airnya panas. Jalannya
berbatu, licin dan setapak. Kemudian melewati kabut. Rina menggandeng Lisa.
Rina: Sa, lu di depan
aja, biar gue gandengnya enak.
Lisa: Enggak apa-apa,
Rin. Gue support lu dari belakang.
Rina: Apaan sih?
Ngomongnya aneh, lu!
Rina: Maksud gue, elu
‘kan lagi gak enak badan, pindah ke depan biar gue bisa ngelihat elu. Gue yang
harusnya support elu.
Lisa: Enggak apa-apa,
enggak apa-apa.
Kabut membuat
pandangan ke depan terbatas. Saat itu Lisa mengenakan kacamata. Kacamatanya
jadi berembun. Tiba-tiba Lisa terkejut.
Lisa:
Astaghfirullahal ‘azhim. Rina, itu ada anak kecil. Kasihan deh, di situ, di
situ tuh!
Lisa menunjuk arah
tebing.
Rina: Mungkin itu
dari kabut, yang elu lihat kayak anak kecil. Udah jalan, enggak apa-apa!
Lisa: Enggak, Rin.
Serius, serius. Anak kecil itu kasihan, dia berdarah-darah, Dia minta tolong.
Lisa benar-benar
seperti orang halusinasi. Sesekali dia menengok ke belakang melihat anak kecil
yang dimaksudnya.
Rina: Udah enggak
usah dilihatin, gue mintanya satu, itu aja.
Lisa: Tapi kasihan,
Rin.
Rina: Udah enggak
usah dilihatin.
Sultan yang kesal
dengan Lisa, mendorong punggung Lisa agar terus berjalan.
Sultan: Jalan, ‘gak!
Jalan, ‘gak!
Lisa: Iya, Bang,
bentar, bentar! Kasihan anaknya! Bawa-bawa boneka lagi!
Sultan: Eh, ini itu
tebing! (Marah)
Sultan sampai memukul
tebing tersebut.
Sultan: Itu tebing,
enggak mungkin anak kecil di situ!
Elang: Udah, jangan
pada kepancing. Ini mungkin ujian dari makhluk ini buat ngegoda kita. Udah
biarin aja, sabar aja. Enggak usah nimpalin dia, biarin.
Elang yang juga sudah
emosi lalu menarik Lisa dengan kencang.
Lisa: Sakit, Bang,
sakit!
Elang: Udah enggak
apa-apa. Enggak usah ngelihatin ke belakang, lihat aja ke depan!
Setelah jalan, hujan
kemudian turun.
Rombongan kemudian
mengenakan jas hujan, termasuk Lisa. Namun, tubuh Lisa sudah gemetaran.
Rina: Sa, elu kuat,
‘gak?
Lisa: Kuat.
Lisa tiba-tiba selalu
memeluki Rina.
Lina: Rina, nanti
kita naik gunung lagi kayak gini ya?
Rina: Iya, tapi
enggak usah kayak gitu.
Rina berkata kepada
kakaknya.
Rina: A’, enggak usah
lama-lama, takutnya kalau enggak ada pergerakan, tambah dingin di badan.
Sementara itu, alam
mulai gelap karena waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB.
Gito: Ayo cepatan, kita enggak bisa leha-leha. Kita sudah kena malam di track. Vegetasi sudah rapat. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar