Anak Kecil di Tebing, Bab10 Siksa Dari Gunung


*Siksa Dari Gunung*


Lisa: Perut gue sakit, bentar dulu ya. Perut gue melilit.

Rina: Ya udah, istirahat dulu.

Lisa lalu duduk menjatuhkan tubuhnya di tanah berbatu.

Rina: Eh pelan-pelan! Ini ‘kan bawahnya batu-batuan, enggak mungkin lu jatuhin badan kayak di kasur.

Lisa: Enggak tahu, Rin. Gue udah capek.

Rina: Ya udah yuk kita pulang aja. Dari pada lu capek, terus paksain naik, yang ada malah kenapa-kenapa, risiko juga, yang ada kita juga yang disalahin.

Lisa: Tapi gue yakin, kita bisa naik.

Tidak lama kemudian, mereka kembali jalan dan melewati air terjun yang airnya panas. Jalannya berbatu, licin dan setapak. Kemudian melewati kabut. Rina menggandeng Lisa.

Rina: Sa, lu di depan aja, biar gue gandengnya enak.

Lisa: Enggak apa-apa, Rin. Gue support lu dari belakang.

Rina: Apaan sih? Ngomongnya aneh, lu!

Rina: Maksud gue, elu ‘kan lagi gak enak badan, pindah ke depan biar gue bisa ngelihat elu. Gue yang harusnya support elu.

Lisa: Enggak apa-apa, enggak apa-apa.

Kabut membuat pandangan ke depan terbatas. Saat itu Lisa mengenakan kacamata. Kacamatanya jadi berembun. Tiba-tiba Lisa terkejut.

Lisa: Astaghfirullahal ‘azhim. Rina, itu ada anak kecil. Kasihan deh, di situ, di situ tuh!

Lisa menunjuk arah tebing.

Rina: Mungkin itu dari kabut, yang elu lihat kayak anak kecil. Udah jalan, enggak apa-apa!

Lisa: Enggak, Rin. Serius, serius. Anak kecil itu kasihan, dia berdarah-darah, Dia minta tolong.

Lisa benar-benar seperti orang halusinasi. Sesekali dia menengok ke belakang melihat anak kecil yang dimaksudnya.

Rina: Udah enggak usah dilihatin, gue mintanya satu, itu aja.

Lisa: Tapi kasihan, Rin.

Rina: Udah enggak usah dilihatin.

Sultan yang kesal dengan Lisa, mendorong punggung Lisa agar terus berjalan.

Sultan: Jalan, ‘gak! Jalan, ‘gak!

Lisa: Iya, Bang, bentar, bentar! Kasihan anaknya! Bawa-bawa boneka lagi!

Sultan: Eh, ini itu tebing! (Marah)

Sultan sampai memukul tebing tersebut.

Sultan: Itu tebing, enggak mungkin anak kecil di situ!

Elang: Udah, jangan pada kepancing. Ini mungkin ujian dari makhluk ini buat ngegoda kita. Udah biarin aja, sabar aja. Enggak usah nimpalin dia, biarin.

Elang yang juga sudah emosi lalu menarik Lisa dengan kencang.

Lisa: Sakit, Bang, sakit!

Elang: Udah enggak apa-apa. Enggak usah ngelihatin ke belakang, lihat aja ke depan!

Setelah jalan, hujan kemudian turun.

Rombongan kemudian mengenakan jas hujan, termasuk Lisa. Namun, tubuh Lisa sudah gemetaran.

Rina: Sa, elu kuat, ‘gak?

Lisa: Kuat.

Lisa tiba-tiba selalu memeluki Rina.

Lina: Rina, nanti kita naik gunung lagi kayak gini ya?

Rina: Iya, tapi enggak usah kayak gitu.

Rina berkata kepada kakaknya.

Rina: A’, enggak usah lama-lama, takutnya kalau enggak ada pergerakan, tambah dingin di badan.

Sementara itu, alam mulai gelap karena waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB.

Gito: Ayo cepatan, kita enggak bisa leha-leha. Kita sudah kena malam di track. Vegetasi sudah rapat. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar