*Rudi Adalah Cintaku*
Pak pak pak!
Pak pak pak!
Suara pukulan
berulang-ulang pada daun pintu rumah itu, lama kelamaan membangunkan Kamsiah.
Dilihatnya jam dinding, ternyata jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Ada sekelumit rasa takut yang melintas di pikiran dan hati Kamsiah.
Dia lalu merapikan
rambutnya yang berantakan. Dia ikat dengan selingkar ikat rambut.
Pak pak pak!
Suara tepakan pada
pintu itu membuat Kamsiah memutuskan membangunkan suaminya.
“Daeng, Daeng, bangun,
Daeng!” kata Kamsiah sambil menepak-nepak halus lengan suaminya yang masih
terlelap di sisinya. Meski sudah tua, mereka tetap setia satu ranjang.
“Hmm,” gumam Daeng
Tanri tanpa membuka matanya.
“Bangun, Daeng. Ada
yang pukul-pukul pintu rumah,” adu Kamsiah.
Kali ini perkataan
Kamsiah membuat Daeng Tanri membuka mata.
Pak pak pak!
Suara tepakan pada
daun pintu rumah itu terdengar kembali. Daeng Tanri juga mendengarnya. Daeng
Tanri menengok jam di dinding.
“Itu Rudi yang pulang
mabuk lagi,” ucap Daeng Tanri enteng.
Dia lalu bangun
sambil membersihkan matanya dengan gosokan jari telunjuk.
“Bagaimana ini,
Daeng? Rudi sudah seminggu lebih mabuk-mabukan terus,” kata Kamsiah sedih dan
dengan cepat meneteskan air mata.
Daeng Tanri bergerak
turun dari ranjang dan memperkuat balutan sarungnya di pinggang.
“Sabar-sabari dulu.
Kita berdoa kepada Allah supaya Rudi ditolong. Daeng enggak mau juga mengurung
anak kita itu seperti mengurung orang gila,” kata Daeng Tanri.
Daeng Tanri yang
tidak berbaju lebih dulu berjalan ke pintu, istrinya segera menyusul. Mereka
langsung menuju ke pintu depan.
Pak pak pak!
Kembali terdengar
tiga kali tepakan pada daun pintu sisi luar.
Ketika pintu depan
dibuka, pasangan suami istri itu melihat Rudi sedang tengkurap di tangga yang
hanya memiliki lima undakan. Sementara kepalanya tenggelam seperti orang tidur,
tangan kanan Rudi terulur bergerak menepak-nepak pintu. Namun, yang ditepak
kini justru kaki ayahnya.
Tampak di halaman,
sepeda motor Rudi terparkir. Bukan Rudi yang mengendarai sepeda motor biru itu
pulang, tetapi biasanya Aziz. Kalau sepeda motornya tidak ada di saat Rudi
pulang, kemungkinan sengaja ditinggal di Londo Cafe.
“Rudiii!” sebut
Kamsiah yang menangis melihat kondisi anaknya yang mabuk berat.
Dengan gerakan yang
lemah, Rudi menggerakkan kepalanya mendongak untuk melihat siapa yang menyebut
nama kerennya.
“Hehehe! Eh,
Vinoekh!”
Setelah cengengesan
dan hendak menyebut nama Vina, Rudi justru muntah di tangga.
“Ayo, biar Puang
bantu,” kata Daeng Tanri sambil mencekal lengan putranya.
“Eit, sebentar, Mas.
Pendekar Mabuk mau muntah dul hoekh!” kata Rudi melantur yang diakhiri dengan
muntahan lagi, membuat tangga tercemari.
Setelah itu, barulah
Rudi dibantu untuk masuk ke dalam rumah.
Sambil menangis tanpa
suara, Kamsiah bekerja membersihkan muntahan putranya di tangga.
Biasanya, Aziz yang
menurunkan Rudi di depan rumah tanpa membangunkan orang rumah. Memang, jika
Rudi tidak pulang, maka tinggallah Daeng Tanri dan Kamsiah yang ada di rumah.
Putra sulung mereka yang bernama Herman Saddila sudah menikah dan tidak tinggal
di daerah itu, tetapi di kabupaten lain bersama istri dan anaknya.
Di malam yang
berbeda.
“Setop setop setop!”
teriak Rudi dengan aksen yang kental sebagai orang mabuk.
“Kita belum sampai,
Pendekar Mabuk,” kata Aziz.
“Turun!” perintah
Rudi sambil memukuli kepala belakang Aziz.
“Iya iya iya!” teriak
Aziz kesal karena kepalanya dipukul seperti gendang.
Aziz lalu buru-buru
membuka simpul ikatan tali pada badannya. Dengan demikian, Rudi bisa melepas
diri darinya.
“Adduh!” aduh Rudi
yang terjatuh dari atas jok motor. “Beraninya kamu, Sandro!”
“Saya Aziz, bukan
Sandro!” ralat Aziz. Malam itu Aziz seaorang diri menjemput Rudi di Londo Cafe.
“Oooh! Aziz yang makannya
kaya babi itu? Hahahak!” kata Rudi yang jadi ingat.
“Beeeh! Kalau bukan
sahabat, sudah dari kemarin-kemarin saya buang kamu ke lubang belut!” gerutu
Aziz.
“Eh! Memangnya kamu
punya lubang belut, Sandro? Hahaha! Mana ada lelaki punya lubang belut. Hahaha!
Beleng-beleng (bego-bego)! Hahaha!” ledek Rudi.
“Hahaha! Alemu
labeleng (Dirimu si bodoh)!” balas Aziz yang jadi ikut tertawa. Dia mendorong
jidat Rudi dengan jari tangannya.
“Hei!” teriak satu
suara perempuan tiba-tiba.
Aziz lebih dulu
menengok karena terkejut. Sementara Rudi bergerak pelan untuk melihat ke sumber
suara yang ternyata berasal dari sebuah jendela rumah panggung. Mereka melihat
seraut wajah perempuan separuh baya.
“Apakah kalian enggak
lihat jam, hah?! Sudah jam dua malam! Kalau mau mabuk, pergi ke tengah laut
sana, biar mati sekalian!” teriak ibu yang rumahnya paling dekat dengan posisi
kedua pemuda itu.
“Eeh, Nenek Sisir!”
teriak Rudi membalas sambil menunjuk ke jendela rumah. “Saya sisir kamu jadi
Vina! Hahaha!”
Rudi kemudian
memungut sebuah batu lalu dia lempar ke arah jendela rumah itu. Buru-buru
perempuan itu menutup jendelanya. Dia takut kalau-kalau Rudi masih jago
melempar meski sedang mabuk.
Tak!
Batu tidak terlempar
jauh, tetapi jatuh di jalan itu juga.
“Hahahak! Dia kabur
seperti Dendi Bajing Loncat!” tawa Rudi.
Sambil tertawa-tawa
yang menimbulkan kebisingan bagi warga terdekat yang sedang tidur, Rudi
berjalan sempoyongan seperti orang mabuk.
“Rudi, mau ke mana
kamu?” tanya Aziz sambil menyambar pergelangan tangan kiri Rudi.
“Jangan pegang-pegang
Pendekar Mabuk, Babi Kaki Dua!” bentak Rudi tiba-tiba marah.
Deg!
Seperti hati yang
dihantam palu petir. Meski tidak seperti itu rasa sakit yang dirasakan oleh hati
Aziz ketika sahabatnya menyebutnya “Babi Kaki Dua”, tetapi tetap saja sangat
sakit bagi Aziz.
“Tega sekali kamu
sebut saya seperti itu, Sahabat,” ucap Aziz dengan mimik sedih, seolah-olah
ingin menangis. Meski dia tahu bahwa Rudi sedang hilang akal, tetapi sebutan
itu terlalu sakit baginya.
“Bodo buanget!”
teriak Rudi sambil mendelik dengan mata merah kepada Aziz. Cahaya lampu depan
rumah warga masih bisa memperlihatkan mata Rudi yang merah.
Sambil menahan rasa
sakit di hati, Aziz memutuskan menaiki motornya dan kemudian pergi meninggalkan
Rudi begitu saja.
“Pergilah kamu, Asu
Calabai!” teriak Rudi sambil melempar batu ke arah kepergian Aziz. Namun,
batunya lagi-lagi jatuh serong ke kanan dan mengenai tiang listrik.
Rudi melanjutkan
perjalanannya sebagai Pendekar Mabuk yang tidak tahu jurus mabuk.
Rupanya, kesadaran
Rudi masih ada yang tersisa di dalam kepalanya. Buktinya, dia berhenti di depan
pintu pagar rumah Suharja.
Ckrak!
Sambil sempoyongan,
Rudi mendorong pintu teralis itu. Ternyata terkunci oleh gembok besar.
Ckrak ckrak ckrak!
Akhirnya Rudi
memainkan pintu pagar itu dengan mendorongnya berulang-ulang, menimbulkan suara
berisik yang terdengar jelas di keheningan malam itu.
“Vina bencikuuu, saya
rinduuu!” ucap Rudi. Meski tidak berteriak, tetapi suaranya terdengar jelas
hingga ke dalam rumah Suharja dan rumah para tetangga.
Ckrak ckrak ckrak!
“Vina bencikuuu, saya
rinduuu!”
Suara berisik yang
dibuat Rudi pada tengah malam itu, membuat beberapa orang tetangga Haji Suharja
keluar dan membuka jendela untuk melihat siapa yang membuat kebisingan. Setelah
melihatnya, mereka hanya geleng-geleng kepala tanda perihatin.
Haji Suharja dan
istrinya juga keluar ke teras rumah untuk melihat siapa yang mebuat bising.
Satu wajah anak remaja lelaki juga muncul di jendela kamar. Dia adalah Ferdi
Seraja, adik lelaki Vina yang saat itu berusia 15 tahun.
“Vina bencikuuu, saya
rinduuu!” ucap Rudi.
“Ya Allah Rudi,” ucap
Sunirah lirih. Dia sedih melihat kondisi Rudi seperti itu. Apalagi Rudi selalu
menyebut nama Vina.
“Ambilkan kunci sama bajuku,
biar saya bawa pulang ke rumahnya!” perintah Suharja kepada istrinya. Memang,
saat itu Suharja hanya berkaos kutang. Kutang lelaki, bukan perempuan.
Sunirah segera masuk
untuk mengambilkan baju. Tidak pakai L, Sunirah kembali keluar membawa baju
kaos oblong.
Suharja segera
mengenakannya. Saat itu dia hanya mengenakan celana boxer. Tidak lupa dia
membawa kunci gembok pagar.
Namun, ketika Suharja
berjalan menuju pintu pagar, dari ujung jalan muncul Daeng Tanri yang setengah
berlari tanpa berbaju dan hanya bersarung saja.
Sekedar bocoran.
Ketika meninggalkan Rudi, Aziz pergi ke rumah Daeng Tanri untuk memberi tahu
posisi Rudi. Karena itulah, Daeng Tanri bergegas pergi mencari anaknya.
“Maafkan saya, Ji!
Maafkan saya!” ucap Daeng Tanri setengah berteriak kepada Suharja dan warga
lain yang menampakkan diri di rumah-rumahnya, padahal lelaki kurus itu belum
berhenti berjalan.
“Vina bencikuuu, saya
rinduuu!” celoteh Rudi yang tidak terpengaruh dengan kondisi di sekitarnya.
“Baru saja saya mau
antar pulang, Puang,” ujar Suharja dari balik pintu pagar.
“Biar saya saja, Ji,”
kata Daeng Tanri seraya tersenyum kecut.
Masih di bawah
pengamatan mata-mata warga, Daeng Tanri mendekati Rudi. Ayahnya itu tidak
langsung menyentuh Rudi. Berdasarkan pengalaman ketika Rudi baru-barunya mabuk,
dia suka marah kalau langsung disentuh.
“Rudi, ini Puang,”
sapa Daeng Tanri lembut.
“Oh, Puang ya?
Bapaknya Rudi, kan?” ucap Rudi.
“Iya. Puang gendong
ya? Kita pulang tidur, biar kamu bisa mimpi ketemu Vina,” bujuk Daeng Tanri
yang memang berkarakter lembut, meski perawakannya terlihat tegas dan keras.
“Iya iya iya. Hahaha!
Lebih baik mimpi ketemu Vina,” celoteh Rudi.
Daeng Tanri lalu
memberikan punggung alotnya untuk dinaiki oleh Rudi.
Sambil tertawa-tawa,
Rudi memeluk leher ayahnya. Daeng Tanri mulai berdiri dengan sedikit membungkuk
karena bebannya tidak ringan.
“Hea hea hea! Kudaku
lari kencang seperti Dendi!” teriak Rudi sambil menggenjot-genjot tubuhnya
dalam gendongan, sementara tangannya memukul-mukul kepala ayahnya.
Terkejut semua orang
melihat tingkah mabuk Rudi. Namun, dengan keteguhan hati, Daeng Tanri berusaha
sabar, meski hati kecilnya menangis. Tingginya kasih sayangnya kepada sang
anak, membuatnya ikhlas diperlakukan seperti itu di muka umum.
Dug!
Akibat dari ulah
Rudi, Daeng Tanri jatuh terlutut di jalan semen cor itu dan nyaris tersungkur
ditindih beban tubuh Rudi yang hanya tertawa-tawa.
“Puang Haji!” pekik
Suharja terkejut. Dia buru-buru membuka gembok pagar dan keluar untuk membantu
tokoh keturunan raja Bugis itu.
Di sisi lain, Sunirah
menangis melihat kejadian itu. Di sini mereka bisa melihat betapa sabarnya
Daeng Tanri sebagai seorang ayah dan betapa durhakanya Rudi sebagai seorang
anak.
Sementara di
kejauhan, Aziz menangis deras melihat kondisi ayah dan anak itu. Rupanya dia
masih memantau dari kejauhan. Dia tidak mau mendekat lagi karena hatinya kadung
tersakiti tadi.
Namun kemudian, Aziz
mengabaikan rasa tersinggungnya. Dia seka air matanya, lalu pergi membawa
motornya mendekat ke lokasi.
“Naikkan ke motorku,
Puang Haji,” kata Aziz yang tiba.
Sambil agak
terpincang karena lututnya berdarah, Daeng Tanri dan Suharja mengangkat Rudi
agar naik ke belakang Aziz. Daeng Tanri lalu naik di belakang Rudi, memegangi
agar tidak jatuh.
“Terima kasih, Ji,”
ucap Daeng Tanri kepada Suharja.
“Iye (iya), Puang,” ucap Suharja. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar