PKK12: Nyi Unyu


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*


Bendong sendiri yang menjamu Rugi Sabuntel karena dia memang hidup seorang diri. Dia membawa minuman dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya tidak bergerak selain terjuntai lurus.

“Jika aku ingin menjadi perampok budiman, Guru memberi beberapa syarat. Salah satunya adalah tidak sendiri, harus ada teman dalam merampok,” ujar Rugi Sabuntel kepada Bendong.

“Aku setuju dengan gurumu, Rugi. Sebab, aku sendiri mengalami posisi seorang diri ketika menjadi perampok. Ada saat-saat aku terpojok dan tidak berkutik, yang jalan keluarnya adalah jika punya teman,” kata Bendong.

“Nah, karena itu aku datang kembali kepadamu, Bendong. Aku ingin mengajakmu menjadi temanku dalam pekerjaan ini. Aku tidak melihat teman yang lebih tepat selain kau,” kata Rugi Sabuntel. “Aku tadi sudah melihat kondisi di Desa Anuspati di Kademangan Buto Cangkem. Aku terpaksa menghajar dua orang centeng Demang yang keterlaluan dalam memeras orang kecil, bahkan orang asing sepertiku mereka perlakukan seenak kecapnya. Semua uangku mereka ambil.”

“Lalu?” tanya Bendong.

“Aku pura-pura menjadi si gendut yang tidak berdaya. Setelah itu, mereka aku hajar dan aku ambil kembali uangku.”

“Apakah mereka melihat wajahmu?”

“Tidak. Aku memakai topeng daun pisang. Salah satu syarat dari Guru, aku tidak boleh memperlihatkan wajah dan tidak boleh meninggalkan bukti saat merampok,” jawab Rugi Sabuntel.

“Bagus itu,” kata Bendong.

“Tapi sepertinya mereka mengenali gendutku dan pakaianku,” kata Rugi Sabuntel.

“Tidak apa. Kau akan menanggungnya nanti,” kata Bendong enteng.

“Menanggung apa?” tanya Rugi Sabuntel.

“Karena ceroboh,” jawab Bendong. “Kecerobohan bisa berbahaya bagi nyawa. Setiap aksi perampokan dan penolongan dalam wujud bertopeng, harus dipikirkan sepuluh kali ulang.”

“Baik, akan aku ingat. Tapi, bagaimana? Apakah kau mau menjadi rekan kerjaku? Apalagi kau lebih berpengalaman. Aku butuh bimbingan. Hahaha!” kata Rugi Sabuntel lalu tertawa pendek.

“Baiklah. Lalu kapan kita mulai dan siapa yang akan menjadi korban pertamamu?” tanya Bendong.

“Kau lebih tahu. Aku minta saranmu.”

“Baiklah. Bagaimana jika malam ini juga kita merampok kediaman Juragan Gorong?”

“Siapa itu Juragan Gorong?” tanya Rugi Sabuntel.

“Dia juragan yang suka memberi pinjaman kepada orang kecil dengan anak kepeng yang mencekik. Banyak tanah warga yang dia sita karena tidak bisa membayar utang yang membengkak.”

“Aku setuju. Tapi ... jika kita merampok Juragan Gorong, dia akan tetap memiliki banyak tanah hasil sitaan.”

“Benar. Kita lakukan secara bertahap. Kita tidak mungkin sekali rampok menguras habis uang Juragan Gorong lalu dia langsung miskin. Nanti jika uangnya habis, dia tidak akan bisa memberi pinjaman lagi. Kita harus membuatnya miskin dulu dari kepeng. Untuk benar-benar menghancurkan seorang penguasa harta, tidak bisa lewat jalan singkat. Kita harus sabar dan punya siasat cerdas selain sekedar merampok. Aku pernah merampok rumah Juragan Gorong, jadi tidak terlalu sulit.”

“Baik, aku semakin bersemangat,” kata Rugi Sabuntel.

“Tapi kita harus pergi ke pasar dulu.”

“Untuk apa?”

“Kau butuh pakaian khusus. Untuk senjata aku punya. Aku akan meminjamkanmu. Nanti setelah keseringan merampok, kau akan tahu sendiri perlengkapan apa yang kau butuhkan untuk mempermudah aksi kita,” jelas Bendong.



Maka, sore itu mereka pergi ke daerah pasar di Desa Buangsial.

Jika sore hari, pasar desa tidak ramai, tidak seperti di kala pagi, ketika warga lebih banyak membeli bahan yang bisa langsung dikerjakan di rumah dan siangnya sudah siap eksekusi. Namun, masih ada lapak-lapak permanen satu dua tiga yang tetap buka. Biasanya lapak yang tetap buka sampai waktu berbuka puasa adalah pedagang yang barangnya tidak akan termakan basi atau busuk.

Jadi, masih ada lapak pedagang baju dan tukang buat baju. Bendong mengajak Rugi ke penjahit baju demi mendapatkan baju yang sesuai ukuran badan besar Rugi Sabuntel.

“Nyi Unyu, tolong buatkan pakaian tertutup yang nyaman untuk temanku ini,” kata Bendong kepada penjahit yang ternyata seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahun. Wanita penjahit itu berhidung mancung dengan bibir tipis bergincu ungu. Jadi kecantikannya agak terkesan horor dengan gincu warna demikian. Sepasang matanya tajam menggoda dengan maskara ungu yang tebal.

Wanita yang akrab disebut dengan nama Nyi Unyu itu sedang bekerja menjahit dengan kecepatan jari-jari yang tidak mungkin, kecuali dilakukan oleh seorang pendekar berkesaktian. Dia menjahit kain-kain yang digantung dengan tiga jarum sekaligus. Bisa dipikirkan sendiri bagaimana kerumitan menjahit tanpa mesin dengan tiga jarum sekaligus.

Rugi Sabuntel sampai terbeliak melihat keahlian jahit Nyi Unyu.

“Kau tidak akan bisa menemukan penjahit sehebat ini di manapun, apalagi yang secantik ini,” kata Bendong kepada Rugi Sabuntel dengan ekspresi datar, tanpa kesan genit.

Prakr!

Nyi Unyu berhenti sejenak dari aksi jahitnya. Dia mengambil tumpukan papan-papan tipis seperti triplek lalu dilempar begitu saja ke atas meja papan di depan. Papan-papan itu tidak berserakan karena mereka terkait oleh seutas tali. Jadi ada satu lubang kecil yang menjadi pasung para papan itu.

Ternyata, pada lembaran papan triplek itu ada gambar-gambar desain model-model baju untuk lelaki.

“Pilihlah model yang kau suka, Rugi!” suruh Bendong tanpa menyentuh papan itu. Sepertinya dia sudah akrab dengan situasi di lapak penjahit tersebut.

Rugi Sabuntel lalu maju dan melihat-lihat gambar pada papan-papan tersebut. Ia lihat satu per satu. Ada beberapa gambar baju, lengkap dengan celananya, yang modelnya tertutup, bahkan ada model ninja gurun pasir segala.

“Maaf, Nyi. Aku pilih yang ini,” ujar Rugi Sabuntel sambil memegangi satu papan dan mengeluarkannya dari tumpukan yang lain.

Tanpa berkata, Nyi Unyu lalu menghentikan pekerjaan menjahitnya. Dia mengambil sebilah kulit bambu kecil sepanjang dua jengkal dan selebar tiga jari.

Kali ini Nyi Unyu benar-benar melayani Rugi Sabuntel, tapi tanpa kata. Ia melihat gambar yang dipilih oleh pelanggan barunya itu. Dengan gerakan yang lincah dan enteng, Nyi Unyu menulis di kulit bambu menggunakan sebatang jarum yang agak besar.

Nyi Unyu lalu memanggil Rugi Sabuntel dengan gerakan jari, menyuruhnya masuk. Sementara dia mengambil seutas tali khusus.

“Masuklah. Kau akan diukur!” suruh Bendong.

Rugi Sabuntel melangkah masuk ke dalam. Semasuknya Rugi, Nyi Unyu langsung menghampiri si pemuda sangat dekat dan mengalungkan tangannya pada leher, sampai-sampai wajah cantik Nyi Unyu hanya berjarak dua jengkal dari wajahnya. Rugi Sabuntel bahkan mencium dengan jelas keharuman tubuh wanita berbibir ungu itu. Rugi tidak tahu aroma anggota tubuh yang mana, pokoknya harum.

Terkesiap Rugi Sabuntel diperlakukan seperti itu, sampai-sampai jantungnya berdetak panik, tapi dia tidak berani bergerak. Namun, ekspresi Nyi Unyu sangat dingin. Pandangan matanya pun tidak memerhatikan wajah bakpao Rugi Sabuntel, tetapi fokus kepada tali yang dia lingkarkan sebentar di leher si pemuda gendut.

Setelah mengukur leher, Nyi Unyu mengukur bahu, tangan, pinggang dan perut. Nyi Unyu sampai membungkuk-bungkuk dalam mengukur. Setelah itu, Nyi Unyu mencatat hasil ukurannya di kulit bambu dengan cepat.

Kemudian Nyi Unyu kembali mengukur bagian kaki Rugi Sabuntel. Panjang kaki, lingkar betis, lingkar paha dan panjang sudut selangkangan. Ketika mengukur sudut selangkangan, mau tidak mau tangan Nyi Unyu harus mendekat ke pusaka Rugi Sabuntel. Pemuda gendut itu terkejut dan buru-buru membekap burungnya.

Tak!

Karena pekerjaannya terhalangi oleh tangan Rugi Sabuntel, Nyi Unyu menyentil jari tangan Rugi Sabuntel, bukan menyentil yang lain. Sentilannya terbilang sakit, sehingga Rugi Sabuntel sontak menarik tangannya. Dengan demikian Nyi Unyu bisa menempatkan ukuran talinya.

Nyi Unyu kembali mencatat hasil ukurannya. Dia lalu memandang wajah Rugi Sabuntel dan kemudian menunjuk ke deretan kain warna-warni yang menjuntai berderet di atas palang bambu panjang.

Meski wanita itu tidak berkata sejak tadi, tapi Rugi Sabuntel memahami maksudnya.

“Warna merah gelap ini saja, Nyi,” kata Rugi Sabuntel sambil memegang lembaran kain warna merah gelap seperti warna darah kotor.

Setelah itu, Nyi Unyu menggerakkan tangannya lalu alisnya bergerak kepada si pemuda. Rugi Sabuntel tidak mengerti maksud Nyi Unyu. Dia menengok ke luar, bermaksud bertanya kepada Bendong, tapi Bendong tidak terlihat.

Melihat gerak gerik Rugi Sabuntel, Nyi Unyu lalu mengambil satu lembar kulit bambu dan menulis dengan jarumnya. Lembaran kulit bambu itu lalu diberikan kepada Rugi. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar