*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Bendong sendiri yang
menjamu Rugi Sabuntel karena dia memang hidup seorang diri. Dia membawa minuman
dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya tidak bergerak selain terjuntai
lurus.
“Jika aku ingin
menjadi perampok budiman, Guru memberi beberapa syarat. Salah satunya adalah
tidak sendiri, harus ada teman dalam merampok,” ujar Rugi Sabuntel kepada
Bendong.
“Aku setuju dengan
gurumu, Rugi. Sebab, aku sendiri mengalami posisi seorang diri ketika menjadi
perampok. Ada saat-saat aku terpojok dan tidak berkutik, yang jalan keluarnya
adalah jika punya teman,” kata Bendong.
“Nah, karena itu aku
datang kembali kepadamu, Bendong. Aku ingin mengajakmu menjadi temanku dalam
pekerjaan ini. Aku tidak melihat teman yang lebih tepat selain kau,” kata Rugi
Sabuntel. “Aku tadi sudah melihat kondisi di Desa Anuspati di Kademangan Buto
Cangkem. Aku terpaksa menghajar dua orang centeng Demang yang keterlaluan dalam
memeras orang kecil, bahkan orang asing sepertiku mereka perlakukan seenak
kecapnya. Semua uangku mereka ambil.”
“Lalu?” tanya
Bendong.
“Aku pura-pura
menjadi si gendut yang tidak berdaya. Setelah itu, mereka aku hajar dan aku
ambil kembali uangku.”
“Apakah mereka
melihat wajahmu?”
“Tidak. Aku memakai
topeng daun pisang. Salah satu syarat dari Guru, aku tidak boleh memperlihatkan
wajah dan tidak boleh meninggalkan bukti saat merampok,” jawab Rugi Sabuntel.
“Bagus itu,” kata
Bendong.
“Tapi sepertinya
mereka mengenali gendutku dan pakaianku,” kata Rugi Sabuntel.
“Tidak apa. Kau akan
menanggungnya nanti,” kata Bendong enteng.
“Menanggung apa?”
tanya Rugi Sabuntel.
“Karena ceroboh,”
jawab Bendong. “Kecerobohan bisa berbahaya bagi nyawa. Setiap aksi perampokan
dan penolongan dalam wujud bertopeng, harus dipikirkan sepuluh kali ulang.”
“Baik, akan aku
ingat. Tapi, bagaimana? Apakah kau mau menjadi rekan kerjaku? Apalagi kau lebih
berpengalaman. Aku butuh bimbingan. Hahaha!” kata Rugi Sabuntel lalu tertawa
pendek.
“Baiklah. Lalu kapan
kita mulai dan siapa yang akan menjadi korban pertamamu?” tanya Bendong.
“Kau lebih tahu. Aku
minta saranmu.”
“Baiklah. Bagaimana
jika malam ini juga kita merampok kediaman Juragan Gorong?”
“Siapa itu Juragan
Gorong?” tanya Rugi Sabuntel.
“Dia juragan yang
suka memberi pinjaman kepada orang kecil dengan anak kepeng yang mencekik.
Banyak tanah warga yang dia sita karena tidak bisa membayar utang yang
membengkak.”
“Aku setuju. Tapi ...
jika kita merampok Juragan Gorong, dia akan tetap memiliki banyak tanah hasil
sitaan.”
“Benar. Kita lakukan
secara bertahap. Kita tidak mungkin sekali rampok menguras habis uang Juragan
Gorong lalu dia langsung miskin. Nanti jika uangnya habis, dia tidak akan bisa
memberi pinjaman lagi. Kita harus membuatnya miskin dulu dari kepeng. Untuk
benar-benar menghancurkan seorang penguasa harta, tidak bisa lewat jalan
singkat. Kita harus sabar dan punya siasat cerdas selain sekedar merampok. Aku
pernah merampok rumah Juragan Gorong, jadi tidak terlalu sulit.”
“Baik, aku semakin
bersemangat,” kata Rugi Sabuntel.
“Tapi kita harus
pergi ke pasar dulu.”
“Untuk apa?”
“Kau butuh pakaian
khusus. Untuk senjata aku punya. Aku akan meminjamkanmu. Nanti setelah
keseringan merampok, kau akan tahu sendiri perlengkapan apa yang kau butuhkan
untuk mempermudah aksi kita,” jelas Bendong.
Maka, sore itu mereka
pergi ke daerah pasar di Desa Buangsial.
Jika sore hari, pasar
desa tidak ramai, tidak seperti di kala pagi, ketika warga lebih banyak membeli
bahan yang bisa langsung dikerjakan di rumah dan siangnya sudah siap eksekusi.
Namun, masih ada lapak-lapak permanen satu dua tiga yang tetap buka. Biasanya lapak
yang tetap buka sampai waktu berbuka puasa adalah pedagang yang barangnya tidak
akan termakan basi atau busuk.
Jadi, masih ada lapak
pedagang baju dan tukang buat baju. Bendong mengajak Rugi ke penjahit baju demi
mendapatkan baju yang sesuai ukuran badan besar Rugi Sabuntel.
“Nyi Unyu, tolong buatkan
pakaian tertutup yang nyaman untuk temanku ini,” kata Bendong kepada penjahit
yang ternyata seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahun. Wanita
penjahit itu berhidung mancung dengan bibir tipis bergincu ungu. Jadi
kecantikannya agak terkesan horor dengan gincu warna demikian. Sepasang matanya
tajam menggoda dengan maskara ungu yang tebal.
Wanita yang akrab
disebut dengan nama Nyi Unyu itu sedang bekerja menjahit dengan kecepatan jari-jari
yang tidak mungkin, kecuali dilakukan oleh seorang pendekar berkesaktian. Dia
menjahit kain-kain yang digantung dengan tiga jarum sekaligus. Bisa dipikirkan
sendiri bagaimana kerumitan menjahit tanpa mesin dengan tiga jarum sekaligus.
Rugi Sabuntel sampai
terbeliak melihat keahlian jahit Nyi Unyu.
“Kau tidak akan bisa
menemukan penjahit sehebat ini di manapun, apalagi yang secantik ini,” kata
Bendong kepada Rugi Sabuntel dengan ekspresi datar, tanpa kesan genit.
Prakr!
Nyi Unyu berhenti
sejenak dari aksi jahitnya. Dia mengambil tumpukan papan-papan tipis seperti
triplek lalu dilempar begitu saja ke atas meja papan di depan. Papan-papan itu
tidak berserakan karena mereka terkait oleh seutas tali. Jadi ada satu lubang
kecil yang menjadi pasung para papan itu.
Ternyata, pada
lembaran papan triplek itu ada gambar-gambar desain model-model baju untuk
lelaki.
“Pilihlah model yang
kau suka, Rugi!” suruh Bendong tanpa menyentuh papan itu. Sepertinya dia sudah
akrab dengan situasi di lapak penjahit tersebut.
Rugi Sabuntel lalu
maju dan melihat-lihat gambar pada papan-papan tersebut. Ia lihat satu per
satu. Ada beberapa gambar baju, lengkap dengan celananya, yang modelnya
tertutup, bahkan ada model ninja gurun pasir segala.
“Maaf, Nyi. Aku pilih
yang ini,” ujar Rugi Sabuntel sambil memegangi satu papan dan mengeluarkannya
dari tumpukan yang lain.
Tanpa berkata, Nyi
Unyu lalu menghentikan pekerjaan menjahitnya. Dia mengambil sebilah kulit bambu
kecil sepanjang dua jengkal dan selebar tiga jari.
Kali ini Nyi Unyu
benar-benar melayani Rugi Sabuntel, tapi tanpa kata. Ia melihat gambar yang
dipilih oleh pelanggan barunya itu. Dengan gerakan yang lincah dan enteng, Nyi
Unyu menulis di kulit bambu menggunakan sebatang jarum yang agak besar.
Nyi Unyu lalu
memanggil Rugi Sabuntel dengan gerakan jari, menyuruhnya masuk. Sementara dia
mengambil seutas tali khusus.
“Masuklah. Kau akan
diukur!” suruh Bendong.
Rugi Sabuntel
melangkah masuk ke dalam. Semasuknya Rugi, Nyi Unyu langsung menghampiri si
pemuda sangat dekat dan mengalungkan tangannya pada leher, sampai-sampai wajah
cantik Nyi Unyu hanya berjarak dua jengkal dari wajahnya. Rugi Sabuntel bahkan mencium
dengan jelas keharuman tubuh wanita berbibir ungu itu. Rugi tidak tahu aroma anggota
tubuh yang mana, pokoknya harum.
Terkesiap Rugi
Sabuntel diperlakukan seperti itu, sampai-sampai jantungnya berdetak panik,
tapi dia tidak berani bergerak. Namun, ekspresi Nyi Unyu sangat dingin.
Pandangan matanya pun tidak memerhatikan wajah bakpao Rugi Sabuntel, tetapi
fokus kepada tali yang dia lingkarkan sebentar di leher si pemuda gendut.
Setelah mengukur
leher, Nyi Unyu mengukur bahu, tangan, pinggang dan perut. Nyi Unyu sampai
membungkuk-bungkuk dalam mengukur. Setelah itu, Nyi Unyu mencatat hasil ukurannya
di kulit bambu dengan cepat.
Kemudian Nyi Unyu
kembali mengukur bagian kaki Rugi Sabuntel. Panjang kaki, lingkar betis,
lingkar paha dan panjang sudut selangkangan. Ketika mengukur sudut
selangkangan, mau tidak mau tangan Nyi Unyu harus mendekat ke pusaka Rugi
Sabuntel. Pemuda gendut itu terkejut dan buru-buru membekap burungnya.
Tak!
Karena pekerjaannya
terhalangi oleh tangan Rugi Sabuntel, Nyi Unyu menyentil jari tangan Rugi
Sabuntel, bukan menyentil yang lain. Sentilannya terbilang sakit, sehingga Rugi
Sabuntel sontak menarik tangannya. Dengan demikian Nyi Unyu bisa menempatkan
ukuran talinya.
Nyi Unyu kembali
mencatat hasil ukurannya. Dia lalu memandang wajah Rugi Sabuntel dan kemudian
menunjuk ke deretan kain warna-warni yang menjuntai berderet di atas palang
bambu panjang.
Meski wanita itu
tidak berkata sejak tadi, tapi Rugi Sabuntel memahami maksudnya.
“Warna merah gelap
ini saja, Nyi,” kata Rugi Sabuntel sambil memegang lembaran kain warna merah
gelap seperti warna darah kotor.
Setelah itu, Nyi Unyu
menggerakkan tangannya lalu alisnya bergerak kepada si pemuda. Rugi Sabuntel
tidak mengerti maksud Nyi Unyu. Dia menengok ke luar, bermaksud bertanya kepada
Bendong, tapi Bendong tidak terlihat.
Melihat gerak gerik Rugi Sabuntel, Nyi Unyu lalu mengambil satu lembar kulit bambu dan menulis dengan jarumnya. Lembaran kulit bambu itu lalu diberikan kepada Rugi. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar