*Rudi Adalah Cintaku*
“Daeng, motor saya
mana?” tanya Rudi kepada ibunya dengan wajah mengerenyit menahan sisa rasa
pusing di kepalanya.
Dia berdiri di ambang
pintu rumahnya dengan wajah kusut yang belum disetrika. Dia baru bangun
menjelang zuhur. Badan pun masih bau alkohol dan muntahan.
“Nak, berhentilah
minum-minuman seperti itu. Kasihan Puangmu yang menjadi omongan di sana sini,”
kata Kamsiah sambil mengelus rambut belakang Rudi.
“Biarkan saja orang
gibah tentang saya dan Puang, Daeng. Toh itu tidak memberi bahaya ke kita,
Daeng,” kata Rudi sambil menghindari belaian ibunya.
Ia merasa tidak
nyaman, padahal dulu dia seperti kucing, suka dibelai kepalanya oleh sang ibu
dan tentunya oleh Vina.
“Kata Ustaz Barzanji,
semua keburukan itu tidak akan terjadi tanpa izin Allah, Daeng. Paling juga
saya minum beberapa hari lagi. Anggap saja masa berkabung 14 hari. Saya janji
bakal berhenti minum kalau sudah 14 hari. Kalau saya enggak berhenti, suruh Aziz
sama Sandro gantung saya di pohon, biar enggak ke mana-mana,” kata Rudi. Lalu
tanyanya dengan nada agak tinggi, “Tapi motor saya di mana, Daeng?”
“Kata Aziz, motormu
ditinggal di kafe,” jawab Kamsiah.
“Oh, Aziz yang jemput
saya. Kalau ditinggal begitu, biasanya Aziz sendirian jemput saya. Dia memang
sahabat enggak ada kembarannya, kalau ada mau saya jual satu.”
“Mandi dulu sana, Di.
Sebentar lagi zuhur, salatlah dulu. Kalau kamu salat, setidaknya tidak terlalu
jelek orang menilaimu,” kata Kamsiah.
“Riya itu maksudnya,
Daeng. Enggak boleh itu. Biarlah enggak salat dulu, biar satu paket sama dosa
mabukku,” ketus Rudi seenaknya, lalu berjalan masuk. Langkahnya masih gontai.
“Mau ke mana kamu,
Di?” tanya Kamsiah.
“Mandi, Daeng. Motor
harus saya ambil,” jawab Rudi sambil terus berjalan masuk.
“Assalamu alaikum!”
salam Daeng Tanri sambil berjalan agak pincang, sepertinya luka di lututnya
lumayan memberi rasa. Dia datang dengan tas selempangan jenis crossbody bag
warna hitam. Biarpun muka model lawas, tetapi tas buat menyimpan duit harus
merek ternama.
“Wa ‘alaikum salam,”
jawab Kamsiah.
“Rudi sudah bangun?”
tanya Daeng Tanri.
“Baru mau mandi,”
jawab Kamsiah. “Tapi masih mabuk sedikit. Saya suruh salat, tapi ngomongnya
malah biar satu paket sama dosa mabuknya.”
Daeng Tanri lalu
menyerahkan tas duitnya kepada istrinya, kemudian dia berjalan masuk. Dia
berhenti di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Terdengar suara derasnya
kran air yang mengucur.
Tok tok tok!
“Rudi!” panggil Daeng
Tanri.
Terdengar bahwa kran
dimatikan.
“Iye, Puang?” sahut
Rudi dari dalam kamar mandi.
“Habis mandi pergilah
ke masjid salat zuhur, Nak!”
“Habis mandi pakai
baju dulu, Puang!” sahut Rudi, masih bisa berguyon.
“Pokoknya kamu salat
zuhur di masjid, Nak! Biar kalau ajalmu datang sesudah zuhur, kamu masih punya
bekal satu salat,” kata Daeng Tanri lagi.
“Iye, Puang!” sahut
Rudi.
Setelah tidak
mendengar suara ayahnya lagi, Rudi kembali menyalakan kran air dengan pool.
Ternyata, jika Rudi
masih bisa berkelit ketika disuruh ibunya, maka tidak jika ayahnya yang memberi
perintah. Terbukti, keduanya pergi bersama ke masjid untuk melaksanakan salat
zuhur.
Daeng Tanri tahu
bahwa sebenarnya Rudi masih dalam pengaruh alkohol.
Kemunculan Rudi jelas
menarik perhatian para jemaah yang jumlahnya tidak lebih dari dua puluh orang.
“Puang Haji,” sapa
seorang tetangga saat berjumpa di pintu pagar Masjid Al-Fatah. Kepada Daeng
Tanri dia tersenyum, tetapi tidak kepada Rudi yang berwajah dingin.
Singkat ceritanya.
Bersyukur Daeng
Tanri, tidak ada hal-hal aneh yang terjadi atau dilakukan oleh Rudi, kecuali
satu, yaitu pada sujud terakhir di rakaat terakhir, Rudi sujud lama. Ketika
semua jemaah salat zuhur bangun dari sujudnya, Rudi tidak bangun-bangun,
membuat kekusyuan makmun di kanan dan kirinya jadi terganggu. Barulah menjelang
salam, Rudi bangun dan tasyahud akhir.
Namun, tidak ada yang
berkomentar, tetapi jemaah yang terganggu hanya mendumel dan mengeluh di
belakang. Masih untung, saat itu Daeng Tanri ada di saf pertama, sedangkan Rudi
di saf kedua bersama empat jemaah lain. Jadi, Daeng Tanri tidak perlu tahu tindakan
aneh putranya di belakang.
Setelah pulang dari
masjid, Rudi langsung pamit pergi ke Londo Cafe untuk mengambil sepeda
motornya. Dia memilih naik ojek lokal untuk sampai ke kafe.
Saat siang biasanya
Aziz sibuk dengan orderannya. Sementara Sandro “tidak kenal” masjid dan salat,
sehingga dia bisa tidur sepulang melaut sampai waktu sebelum asar. Sebagai
nelayan yang masih jomblo, Sandro bisa melaut semaunya dia. Kalau butuh uang ya
melaut, kalau dompet lagi tebal yang libur dahulu.
Lagipula Rudi memang
tidak mau ditemani.
“Pagi sekali
datangnya,” tegur sekuriti yang berjaga siang di kafe yang belum buka.
“Mau ambil motor,
Bang,” jawab Rudi lalu berjalan menuju parkiran yang hanya ditempati oleh
beberapa sepeda motor, salah satunya adalah miliknya.
Namun, belum sampai
Rudi ke parkiran, pemuda tampan itu berbalik dan berjalan ke pos jaga yang
luasnya sesempit sangkar burung.
“Bang, bisa beli bir,
gak?” tanya Rudi.
“Jangan terlalu
banyak minum. Tiap malam minum banyak. Masih untung belum keracunan alkohol
kamu,” kata si satpam yang berbadan besar tapi berperut gendut. Selain
mengenakan celana cokelat gelap seperti celana aparat, dia mengenakan kaos
oblong warna hijau yang akrab dengan warna tentara.
“Enggaklah, saya
masih sehat. Lumayanlah buat uang tambahan Abang. Saya juga mengerti aturannya
kalau beli siang,” kata Rudi.
“Kamu yakin mau minum
siang-siang?” tanya si satpam yang beralih tertarik dengan tawaran Rudi.
“Dua kaleng saja
cukup. Saya enggak akan mabuk,” kata Rudi.
“Dua kaleng. Kalau
kamu mabuk, saya enggak tanggung jawab,” kata si satpam.
“Bereslah itu,” kata
Rudi santai.
“Tunggu sebentar di
sini,” kata si satpam.
Sekuriti itu lalu
berjalan meninggalkan pos dan Rudi. Dia pergi ke pintu belakang kafe. Di sisi
lain, ada seorang lelaki sedang mengepel lantai dengan peralatannya.
Tidak pakai L, si
satpam yang tidak mau disebutkan namanya itu sudah keluar membawa dua kaleng
bir. Jangan ditanya mereknya apa?
Transaksi pun
dilakukan. Si satpam pun untung besar. Mengeluarkan uang untuk minum, sudah
seperti mengeluarkan uang untuk hobi bagi Rudi. Ia pun minum dua kaleng bir di
tempat.
“Nama kamu siapa?”
tanya si satpam.
“Hahaha! Abang
langsung jatuh cinta kepada saya ya?” goda Rudi yang sedikit beraksen mabuk.
Wajahnya yang putih, sangat jelas terlihat mulai kemerahan.
“Anak Setan!” maki pelan
si satpam karena ditertawakan.
“Enggak, Bang. Hanya
gurauan beranak tawa, aku bercanda. Hahaha!” kata Rudi sambil angkat dua jari
simbol “V”. “Nama saya Rudi, Bang.”
“Kamu kenal dengan
cewek cantik berjilbab yang datang ke sini dua kali?” tanya si satpam.
“Ah, Abang halu
tingkat pocong nih. Mana ada cewek berjilbab datang ke tempat jualan lubang
seperti ini?” kata Rudi.
“Kamu enggak ingat?
Cewek aparat yang pernah tendang kaki kamu, pas kamu lagi mabuk,” kata si satpam.
“Mana ingatlah, Bang.
Kalau saya lagi mabuk seperti itu, jumlah jari tangan ada berapa pun saya
enggak ingat,” kata Rudi, lalu menenggak kembali minumannya. “Tapi, memangnya
ada, Bang? Ada cewek berjilbab datang main ke sini? Terus, yang dicari apa?
Bukannya di sini enggak ada yang jualan pisang? Hahaha!”
“Hahaha!” tawa si
satpan juga. “Ada. Cantik banget. Biar aparat, tapi ramah. Kayaknya datang ke
sini lagi ada misi pencarian. Cewek itu sempat bilang ke saya tentang kamu, ‘Tolong
awasi. Itu masih kerabat saya.’ Begitu katanya.”
“Hah! Kerabat? Saya memang punya banyak saudara perempuan yang pakai jilbab, tetapi enggak ada yang kerjanya jadi polisi,” bantah Rudi. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar