Kepsek Musang, Bab23 Petualangan Tina & Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*



Di saat rekan-rekannya tertawa sampai memeras air mata, Ayu memilih memeluk sahabatnya karena telah menyelesaikan tugas, meski banyak turbulence. Ia harus memaklumi Tina Cihuy, karena memang seperti itulah adanya.

“Ya Allah Gusti. Hahaha! Bu Cantik, izin ke toilet!” sahut Fitri sambil tunjuk tangan.

“Aduh! Keram perut saya. Hahaha!” kata Ilham pula.

“Bu Cantik, jawabannya salah semua. Ulang, Bu!” tuntut Ardiansyah.

“Jangan! Itu saja sudah bikin rusuh, apalagi diulang!” tentang Ausyana.

Plok plok plok...!

“Hebaaat!” teriak Somali sambil berdiri di kursi dan bertepuk tangan. Dialah satu-satunya orang yang menganggap jawaban Tina benar semua.

“Hebat apaan?” kata Gordon sambil menepak betis Somali. “Hancur begitu dibilang hebat.”

“Tapi bohong! Hahaha!” kata Somali.

“Anak-anak, tenang! Kita ada di kelas, bukan di tempat konser badut!” teriak Bu Yustina agak kencang. “Somali, turun dari kursi!”

“Siap, Ibu Cantik!”

Jika anak-anak sudah menyebutnya “Ibu Cantik”, Bu Yustina sudah tidak bisa marah lagi.

Seketika hening. Uniknya Kelas 2B terhadap Ibu Yustina, serusuh apa pun mereka, tapi sangat patuh kepada ucapan gurunya. Meski kemudian rusuh lagi.

“Tina Ayu silakan duduk kembali!” perintah Bu Yustina.

Alhamdulillah,” ucap Ayu lega.

Kedua sahabat sejati itu kembali pulang ke kursinya.

“Penampilan Tina dan Ayu kita anggap hiburan gratis. Jangan sampai dibawa mati,” kata Bu Yustina.

“Hahaha!” tawa seisi kelas.

“Bu Tina pintar melayat juga rupanya. Hehehe!” kata Tina.

“Melawak, bukan melayat, Tinaaa!” ralat mereka ramai-ramai.

“Tina, jangan ngomong lagi!” kata Ayu sambil menyekap mulut Tina. “Bikin rusuh saja.”

“Iiih, apaan sih?” kata Tina sewot sambil melepas tangan Ayu dari mulutnya. “Tangan kolor bekas korek upil.”

“Kotor, bukan kolormu, Tina!” ralat Ayu kian kesal.

“Hahaha!” tawa kembali rekan-rekan.

“Tenang! Selanjutnya!” seru Bu Yustina.

Suasana kelas berubah hening.

“Somali dan Guntur! Ayo maju!” sebut Bu Yustina.

“Gordon Tampan, Bu Cantik!” ralat Gordon.

“Iya. Somali dan Gordon. Silakan maju!” ulang Bu Yustina.

“Hahaha!” tawa Somali sambil berlari maju ke muka kelas.

“Senang banget,” ucap Ausyana.

Gordon pun maju menyerahkan kertas soal dan jawaban ke Ibu Yustina.

“Somali!” panggil Bu Yustina.

“Iya, Ibu Cantik?” sahut Somali sambil cengengesan.

“Umur kamu berapa?” tanya Bu Yustina curiga.

“Waduh cawat!” Tina berbisik ke Ayu.

“Gawat, bukan cawat,” bisik Ayu pula.

“Tiga puluh, Ibu Cantik,” jawab Somali, tetap senang.

“Hah! Tiga puluh?” Bu Yustina terkejut.

“Iya, tapi bohong! Hahaha!” kata Somali, lalu tertawa terpingkal-pingkal.

“Enggak sopan!” hardik Gordon sambil memukul kepala Somali, tapi tidak kencang.

“Eh eh eh! Jangan begitu, Gordon. Kasihan, nanti kena kepalanya,” kata Bu Yustina.

“Ini sudah kena, Bu Cantik,” kata Somali mewek, tapi tidak berair mata.

Cerdas jawab akhirnya dilakoni oleh Somali dan Gordon. Hasilnya kacau. Somali asal jawab, tidak sesuai jawaban yang telas ditulis oleh Gordon.

“Satu. Berapa usia kehamilan seorang calon ibu?” tanya Gordon kepada Somali.

“Selama masa tunggu musim jala ikan!” jawab Somali kencang dan penuh semangat.

“Hahaha!” tawa rekan-rekan kelas lainnya.

“Somali, kenapa jawabannya jauh ke planet kodok?” hardik Gordon kesal.

“Tapi bohong! Hahaha!” kata Somali, lalu tertawa terpingkal-pingkal.

“Terus jawaban benarnya apa?” tanya Gordon mendelik kesal sambil mengancam akan menonjok Somali, walau tidak serius, tapi kesalnya serius.

“Kabuuur!” teriak Somali yang tiba-tiba kabur ke belakang kelas.

“Hei, sini!” panggil Gordon dengan mata mendelik kepada Somali.

“Enggak mau, nanti saya dipukul!” teriak Somali.

“Enggak, tangan saya saya masukin ke saku,” bujuk Gordon, dia lalu memasukkan kedua tangannya ke kantung celana birunya.

“Ayo maju lagi, Somali. Ibu yang akan menjaga kamu dari tonjokan Guntur,” kata Bu Yustina.

“Ibu Cantik, nama saya Gordon, bukan Guntur,” ralat Gordon pelan, saking kesalnya karena Bu Yustina selalu lupa dengan namanya.

“Oh iya, maaf,” ucap Bu Yustina sembari tersenyum malu. Lalu katanya kepada Somali, “Ayo, Somali!”

“Baik, Bu Cantik!” sahut Somali.

Lelaki cebol itupun kembali maju ke depan kelas.

Ting! Ting!

Terdengar suara denting besi yang kencang dan nyaring. Bu Yustina dan semua murid mendengar. Itu suara bel tanda waktu istirahat.

“Somali dan Gordon silakan kembali ke tempat. Anak-anak, waktunya istirahat. Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuhu!” kata Bu Yustina.

Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu!” jawab anak-anak dengan semangat.

Anak-anak segera berhamburan keluar, bahkan mendahului gurunya. Mereka ingin berebut antrean di kantin.

Bu Yustina meninggalkan kelas dan pergi menuju ke kantor, tepatnya ke ruang guru.

Di tengah jalan.

Assalamu ‘alaikum, Bu Yustina!” salam Kepala Sekolah Rudi Hendrik sembari tersenyum legit dan dia segera merapikan posisi peci hitamnya yang sudah rapi.

Wa ‘alaikum salam, Pak!” jawab Bu Yustina sembari tersenyum pula semanis keju bertabur madu.

“Sudah jam istirahat, Bu?” tanya Kepsek Rudi basa basi, padahal tadi dia yang memukul lonceng besi tanda waktu istirahat telah tiba.

“Belum, Pak. Tapi masih jam istirahat,” jawab Bu Yustina, tetap tersenyum semanis keju lapis madu.

“Hahaha! Candaan Bu Yustina memang legit,” kata Kepsek Rudi sembari tertawa.

“Di mana, Pak?” tanya Gordon tiba-tiba saat dia sedang lewat.

“Apanya yang di mana?” tanya Kepsek Rudi dengan tatapan mengintimidasi kepada Gordon. Senyum genitnya mendadak buyar.

“Kue lapis legitnya, Pak,” jawab Gordon.

“Ini anak! Istirahat sana! Usil saja!” hardik Kepsek Rudi sembari merengut imut.

“Biasanya Bapak bawa kue buatan Ibu di rumah. Hehehe!” kata Gordon yang kemudian berlalu pergi.

“Hahaha! Anak-anak terlalu akrab dengan kepala sekolahnya,” kata Kepsek Rudi kepada Bu Yustina, untuk jaga imej. “Maklum, saya ini orangnya penyayang, Bu Yustina. Hahaha!”

Bu Yustina ikut tertawa demi keamanan honor.

“Oh ya, Pak. Saya mau tanya,” ujar Bu Yustina.

“Oh, silakan. Demi kepuasan Bu Yustina, jawaban apa pun akan saya berikan. Hahaha!” kata Kepsek Rudi tanpa berhenti tertawa, seolah-olah dia begitu bahagia saat itu.

“Ehhem!” dehem Bu Okky Sukma sambil lewat dan melirik.

“Eh, Bu Okky!” ucap Kepsek Rudi sembari tersenyum berwibawa.

“Salam buat Ibu di rumah ya, Pak,” kata Bu Okky sambil berhenti di sisi Bu Yustina.

“Oh, iya, iya. InsyaAllah saya sampaikan,” kata Kepsek Rudi sembari tersenyum kecut.

“Hati-hati, Bu. Di lingkungan sekolah kita ini masih banyak musang,” kata Bu Okky berbisik kepada Ibu Yustina.

“Oh ya?” Bu Yustina terkaget tanpa mengerti maksud Bu Okky.
“Iya. Musangnya suka keluyuran di sekitar sini.”

“Oooh,” desah Bu Yustina, seolah-olah baru tahu.

Bu Okky lalu melangkah pergi dengan mata melirik kepada Kepsek Rudi yang hanya tersenyum kecut.

Pak Rudi lalu segera kembali fokus kepada Bu Yustina.

“Apa tadi, Bu Yustina?” tanya Kepsek Rudi.

“Musang, Pak,” jawab Bu Yustina.

“Musang?” sebut ulang Kepsek Rudi tidak mengerti.

“Oh, maksud saya Kelas 2B, Pak,” kata Bu Yustina.

“Hahaha! Candaan Bu Yustina memang legit,” kata Kepsek Rudi kembali dalam mode tertawa. “Oh ya, kenapa dengan kelas itu?”

“Ada anak baru badannya bonsai, tapi kok usianya sudah tua ya, Pak?” tanya Bu Yustina.

“Anak baru? Tidak ada anak baru, Bu,” kata Kepsek Rudi. “Hahaha! Bu Yustina jangan menggoda saya dong. Meski jenggot saya sudah beruban, saya ini orangnya gampang tergoda loh, Bu. Hahaha!”

Bu Yustina jadi tersenyum malu. Malu punya kepsek model begini.

“Saya tidak bercanda atau menggoda, Pak. Katanya pindahan dari Lampung Timur. Namanya Somali,” tandas Bu Yustina.

“Ah, masa saya sebagai orang nomor satu di sini tidak tahu kalau ada murid baru,” kata Kepsek Rudi berubah serius. “Bu Yustina bisa antar saya ke 2B untuk melihat anaknya?”

Kepsek Rudi sepertinya pandai memanfaatkan momentum.

“Bisa. Mari saya antar, Pak,” kata Bu Yustina.

“Terima kasih. Ibu Yustina memang tipe wanita pengertian,” kata Kepsek Rudi dengan jantung yang berjoget-joget.

Kepala Sekolah Rudi Hendrik berjalan berdampingan dengan Bu Yustina Agustini yang cantik, manis dan masih muda.

“Kalau tidak ada anak baru, lalu anak itu bawaan siapa?” tanya Bu Yustina berpikir.

“Jangan-jangan Bu Yustina mau memberi kejutan buat saya. Hahaha!” Kepsek Rudi geer sendiri. “Bu Yustina perhatian sekali, walaupun ultah saya sebulan lagi. Saya jadi terharu, Bu.”

Bu Yustina hanya tersenyum tanpa komentar. Di dalam ulu hati, ingin muntah rasanya dia mendengar kegenitan atasannya itu. (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar