*Rudi Adalah Cintaku*
Dengan wajah yang
merah dan pandangan agak sayu, Rudi menjalankan motornya keluar dari parkiran.
“Assalamu ‘alaikum!”
salam Rudi kepada satpam di pos untuk menunjukkan bahwa dia tidak sedang mabuk.
“Wa ‘alaikum salam!
Hati-hati bawa motornya. Konsentrasi!” jawab si satpam lalu mengingatkan Rudi.
Dia tahu sekali bahwa Rudi sedang mabuk, meski tidak banget.
“Aaah, palingan juga
nyungsep di got. Hahahak!” kata Rudi enteng, lalu tertawa.
Brem!
Setelah itu Rudi
menarik gas sepeda motornya. Motornya pun melaju dengan sedikit geol-geol dan
nyaris adu banteng dengan pengendara sepeda motor emak-emak.
“Anak setan jalanan!”
maki si emak-emak yang terkejut sambil melotot marah kepada Rudi yang terus
melaju di jalan gang itu.
Rudi kemudian melesat
tenang menuju jalan raya.
Sekeluarnya di jalan
raya besar, Rudi masih bisa mengendalikan laju motornya sesuai aturan jalan.
Hanya sesekali saja terlihat motornya meliuk.
Mendekati sebuah
pertigaan, Rudi melaju di belakang dua mobil. Polisi Cepek atau Pak Ogah yang
mengatur di pertigaan memberi tanda agar dua mobil itu berhenti karena mobil
dari arah lain diizinkan jalan.
Brak!
Ternyata, mengeremnya
kedua mobil tersebut membuat Rudi yang tidak mengerem menabrak bagian belakang
mobil di belakang. Rudi dan sepeda motornya jatuh terbanting di aspal. Suara
tabrakan itu mengejutkan pengendara dan orang sekitar, terutama pemilik mobil
yang ditabrak.
Dalam kondisi pelipis
berdarah karena luka, Rudi bangkit dengan ekspresi marah dan mata memerah.
Pengemudi mobil yang
adalah seorang lelaki berkumis tebal, juga turun dari kursi kemudinya dengan
wajah yang marah, tapi tidak segarang wajah mabuk Rudi.
“Mobil Setan
Jahannam! Kenapa berhenti enggak pakai klakson?! Kamu pikir jalanan ini jalan
binimu, hah?!” teriak Rudi marah sambil berjalan sempoyongan mendatangi
pengemudi yang sudah siap marah pula.
Namun, pengemudi
gemuk berkumis tebal cepat berlari mundur dan memutar ke seberang sisi
mobilnya. Dia menjauhi Rudi yang ternyata menggenggam batu besar di tangan
kanannya.
Karena lelaki
berkumis itu berlari menjauh, tiba-tiba Rudi menghantamkan batu di tangannya ke
kaca depan mobil.
Brek!
“Aak!” jerit wanita
di dalam mobil ketakutan dengan aksi pengrusakan Rudi.
Kaca mobil itu tidak
hancur, hanya retak. Hal itu membuat pemilik mobil kian marah, tetapi tetap
takut mendekati Rudi yang beringas.
“Kenapa kamu pecahkan
kaca mobil saya, Setan?! Saya berhenti karena mobil di depan berhenti!” teriak
lelaki berkumis lalu menunjuk mobil di depan.
“Mobil Setan
Jahannam!” maki Rudi lalu berjalan sempoyongan lebih ke depan lalu memukulkan
batu di tangannya ke bodi mobil di depan.
Dek!
“Keluar! Biar saya
pecahkan kepalamu!” teriak Rudi mengamuk.
Rudi tidak menyadari
bahwa mobil hitam yang dia pukul dengan batu berplat khusus, ada lambang
kepolisiannya.
Maka wajar saja jika
yang keluar dari kursi sopir adalah seorang lelaki berseragam polisi. Namun,
melihat lelaki berseragam itu, Rudi tidak ciut, dia justru menantang. Dari
pintu depan sisi kiri mobil juga keluar polisi yang lain.
Sementara itu,
kondisi sekitar sudah ramai oleh warga dan jalanan pada sisi itu menjadi macet.
Bahkan ada saja orang-orang yang memvideokan kejadian itu dengan ponselnya.
Lumayan buat konten di berbagai platform media digital.
Tanpa ragu, Rudi
menyerang si pak polisi yang masih terbilang muda. Namun, pak polisi yang di
dada bajunya ada nama Kuswanto, sigap menangkis tangan Rudi sambil mengelaki
hantaman batu. Tangkisan itu membuat batu lepas dan jatuh.
Deg!
Satu tinju keras
mendarat di dagu Rudi. Itu cukup membuat Rudi terhempas ke badan mobil polisi
lalu jatuh ke aspal.
“Anak mabuk ini mah.
Biar saya pegangin, Pak!” kata Pak Ogah yang telah datang mendekat.
Pak Ogah yang
bertampang sangar berusia kisaran empat puluhan, segera menendang Rudi dengan
keras. Dia lalu memaksa Rudi yang kesakitan agar berdiri dan mengunci kedua
lengannya.
“Ayo, Pak. Tiga
tonjokan saja, Pak!” kata Pak Ogah bersemangat.
“Kus, banyak kamera,”
kata polisi satunya dari seberang mobil. Dia mengingatkan rekannya.
Kuswanto melihat ke
sekeliling. Memang, ada sejumlah orang, pria dan wanita yang sedang merekam
kejadian tersebut.
“Borgol, Man!” pinta
Kuswanto kepada rekannya yang bernama Herman.
Herman melemparkan
sebuah borgol besi kepada rekannya, yang menangkap dengan tangan kiri.
“Sudah mabuk, malah
bawa motor. Cari penyakit!” omel Kuswanto lalu memborgol kedua tangan Rudi di
belakang punggung.
“Vinaaa, sakiiit!”
rintih Rudi setengah menangis, maksudnya menangis tanpa air mata manusia atau
buaya.
Kedua polisi itupun membawa
Rudi ke kantor polisi. Pemilik mobil di belakang diminta membuat laporan jika
merasa dirugikan oleh serangan Rudi.
Singkat cerita, video
Rudi yang mengamuk di jalanan dan menyerang polisi, viral di berbagai media
sosial pada hari itu juga.
Video viral itupun
ditonton oleh warga desa nelayan yang dalam waktu singkat menimbulkan
kehebohan.
Namun, sebelum ada
yang menyampaikan kabar tentang video itu kepada kedua orangtua Rudi, Pak RT Jaruddin
sudah lebih dulu mendatangi Daeng Tanri.
Pak RT membawakan
pemberitahuan dari kepolisian bahwa Rudi sekarang sedang dipenjara.
Seperti biasa, Daeng
Tanri menyikapinya tidak berlebihan. Dia memang terkejut, tetapi tidak amat.
Justru sang bundalah yang menangis mendengar kabar buruk itu.
Daeng Tanri dan
istrinya segera berpakaian rapi untuk pergi ke kantor polisi.
“Assalamu ‘alaikum,
Puang!” teriak Sandro kencang sambil menaiki tangga dengan berlari. Lalu
cerocosnya sebelum salamnya dijawab, “Puang, Rudi mabuk di jalanan dan
menyerang polisi!”
“Iya, sudah tahu,”
jawab Daeng Tanri dingin, mengecewakan Sandro.
Singkat cerita.
Di kantor polisi.
Daeng Tanri, Kamsiah dan Sandro hanya bisa bertemu Rudi berbatas terali besi. Wajah
Rudi sudah diperban.
Kamsiah hanya bisa bertangis
ria sambil memegangi tangan putranya lewat antara terali besi penjara.
Sementara Rudi hanya bersedih karena membuat ibunya menangis.
Di sisi lain, pria
berkumis yang mobilnya ditabrak dan dirusak oleh Rudi, siap menempuh jalur kekeluargaan
asalkan tuntutan ganti rugi materi dan psikis dibayar. Daeng Tanri selaku orang
kaya banyak duit, menyanggupi ganti rugi yang terbilang masih masuk akal.
Namun, Rudi tidak
bisa lolos begitu saja untuk urusan menyerang polisi. Mau tidak mau, pihak
keluarga harus mengikhlaskan Rudi mengikuti aturan hukum yang berlaku. Dan mau
tidak mau juga, Rudi harus melewati malam-malammya di sel tahanan.
Keesokannya, Daeng
Tanri dan istrinya kembali menjenguk Rudi. Kali ini mereka dikawal oleh Aziz
dan Sandro. Rudi dibawakan makanan dan minuman enak.
“Ambil hikmahnya
saja. Dengan tinggal di penjara, Rudi enggak minum lagi,” ucap Daeng Tanri
lembut kepada istrinya yang kemudian hanya mengangguk.
Pada hari kedua Rudi
ditahan di penjara kepolisian, ada seorang gadis cantik berjilbab, yang ketika
tersenyum ada lesung pipinya, mendatangi kantor polisi tersebut. Gadis itu yang
pernah muncul di Londo Cafe bersama rekan lelakinya. Dia adalah Barada.
Namun, kali ini
Barada datang seorang diri dengan sebuah mobil mewah warna kuning. Ia tampil
seperti gadis mewah biasa. Dan di mana ada dia, di situ para lelaki
memandanginya. Apalagi seulas senyum keramahannya sering diumbar ketika dia
berpapasan dengan siapa saja.
Bahkan ada satu orang
polisi yang harus tersandung undakan lantai karena matanya melekat pada sosok
anggun Barada, menimbulkan tertawaan dari rekan-rekannya.
Ternyata, Barada
bukan orang sembarangan. Yang ditemuinya di kantor polisi itu adalah Kapolsek langsung.
Uniknya, sang kapolsek yang lebih dulu berdiri dan menghormat kepada Barada.
Barada membalas
hormat lalu tersenyum lebar.
“Santai saja, Pak,”
kata Barada kemudian.
Barada tidak lama,
hanya berdurasi hitungan menit. Tidak lama setelah dia pulang, ternyata Rudi
dibebaskan.
Rudi tidak tahu alasan di balik pembebasannya. Pihak kepolisian pun pelit untuk memberi tahu. Namun, itu membuat Rudi senang. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar